Tarif Angkutan Umum Bisa Naik

JAKARTA–Rencana pemerintah untuk menaikkan  bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai 1 April nanti diperkirakan bisa berdampak pada kenaikan tarif angkutan umum sebesar 30-35 persen.

“Jika BBM bersubsidi disesuaikan tarifnya, tentu akan berdampak kepada tarif angkutan umum,” ungkap Ketua Umum Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Eka Sari Lorena Soerbakti di Jakarta, Jumaat (24/2).

Diungkapkannya, para pelaku usaha angkutan umum  bersiap menaikkan tarif angkutan umum 30-35 persen jika rencana itu direalisasikan pemerintah karena biaya operasional akan terpengaruh.

“Penggunaan BBM memakan porsi 30-40 persen dari biaya operasional angkutan umum. Belum lagi angkutan umum juga tengah mengalami kenaikan suku cadang juga kenaikan pembelian unit kendaraan akibat tidak adanya insentif fiskal dari sisi perpajakan oleh pemerintah. Wajar dilakukan penyesuaian tarif,” katanya.

Diungkapkannya, sampai saat ini tidak ada kontrol mendalam pada pengadaan spare part kendaraan umum darat untuk revitalisasi angkutan umum jalan raya sehingga kenaikan BBM bagi angkutan umum akan menyebabkan terpaksa harus ada kenaikan 30-35 persen.

Menurutnya,  biaya operasi kendaraan (BOK) angkutan umum sudah 18,37 persen  di atas tarif saat ini, sehingga seharusnya angkutan kota dan angkutan umum jarak pendek, menengah, harusnya minimum tarif naik 18,37 persen.

“Itu tanpa memasukkan hitungan ketidaknormalan infrastruktur dan kenaikan BBM. Di sisi lain, jika ada kenaikan BBM sampai  1.500 rupiah per liter berarti ada tambahan kenaikan 15-17 persen,” jelasnya.

Masih menurutnya, secara jangka pendek jika BBM premium naik, yang akan goyang duluan adalah angkutan perkotaan dan jarak pendek karena saat ini angkutan inilah yang tarifnya paling rendah.

Dikatakannya,  pihaknya  cukup menyesalkan rencana kenaikan BBM premium tersebut. “Organda sudah lebih dari setahun ikut aktif dalam rapat-rapat tentang subsidi BBM yang mana Kementerian ESDM menjadi tuan rumah. Kebijakan itu juga akan semakin membuat masyarakat beralih ke sepeda motor dan memundurkan transportasi publik,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini angkutan umum hanya menggunakan 3 persen  dari total kuota premium yang disubsidi atau mengambil subsidi  6 triliun rupiah.

“Kami cukup menyesalkan kebijakan ini, ini sama saja membunuh transportasi umum,” katanya.

Ditegaskannya,  seharusnya angkutan umum tetap mendapatkan BBM subsidi. Untuk memastikan subsidi jatuh di tangan angkutan umum, pemerintah bisa menunjuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang melayani khusus angkutan umum. [Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s