Pelaku Usaha Penyeberangan Minta Penyesuaian Tarif

JAKARTA–Para pelaku usaha angkutan sungai, danau, dan penyeberangan meminta adanya penyesuaian tarif untuk memaksimalkan layanan dan merawat armada secara optimal.

“Kita minta tarif disesuaikan di lintasan komersial antarprovinsi menjadi  1500- 1600 rupiah  per mil, naik dibandingkan sekarang dengan tarif tertinggi sekitar  800 rupiah  per mil,” ungkap Wakil Ketua  Gabungan Pengusaha Nasional  Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Bidang Usaha dan Tarif  Bambang Harjo di Jakarta, Kamis (23/2).

Diungkapkannya,  kondisi tarif penyeberangan saat ini jauh dari ideal sehingga  operator kesulitan melakukan perawatan kapal secara rutin.

“Untuk perawatan saja susah, apalagi peremajaan. Karena itu kita minta tarif dinaikkan,” jelasnya.

Menurutnya,  kondisi tarif saat ini seharusnya naik menjadi 1.500- 1.600 rupiah per mil untuk lintasan komersial antarprovinsi agar bisa menutupi biaya operasional, perawatan, peremajaan dan marjin 12 persen.

Diungkapkannya,  pelayanan oleh kapal penyeberangan di Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan di Jepang, Thailand dan Fhilipina, tetapi kondisi tarifnya lebih rendah dibandingkan di ketiga negara itu.

Dimintanya,  pemerintah  tidak main-main dalam menghitung dan menerapkan tarif angkutan publik karena sangat berkaitan erat dengan keselamatan dan jaminan keamanan nyawa masyarakat pengguna jasa.

Menurutnya, tarif penyeberangan masih ditetapkan dengan pertimbangan politis, bukan dihitung berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

“Gapasdap sudah mengajukan penaikan, tetapi pemerintah belum menaikkannya,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, terakhir kali pemerintah menaikkan tarif penyeberangan antarprovinsi pada Desember 2010 sesuai dengan Permenhub No.KM 71/2010 tentang Tarif Angkutan Penyeberangan Lintas Antar Provinsi.

Sesuai dengan Permenhub itu, tarif penyeberangan antarprovinsi nonsubsidi naik 20 persen, sedangkan bersubsidi naik 15 persen, tetapi  kondisi tarif yang berlaku tersebut baru mencapai rata-rata 57,73 persen dari total biaya pokok yang dikeluarkan untuk operasional kapal.

Kondiri tarif penyeberangan pada lima lintasan komersial terbesar di Indonesia masih menjadi yang terendah dibandingkan dengan kondisi tarif penyeberangan yang diberlakukan di sejumlah negara di Benua Asia.

Kelima lintas penyeberangan komersial. terbesar di Indonesia tersebut adalah lintasan Merak—Bakauheni, Padangbai—Lembar, Bajoe—Kolaka, Ketapang—Gilimanuk dan Sape—Labuhan Bajo.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s