Masih Berfikir Kebutuhan Pokok

Singapore Airshow merupakan kegiatan yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Ajang ini diikuti  900 exhibitors  dari  50 negara dan  266 delegasi dari  80 negara. Sedangkan pengunjung yang datang sebanyak  38.000 orang dari  119 negara selama tiga hari pertama pameran dibuka. Experia Events adalah perusahaan yang dipercaya untuk mengorganisir perhelatan akbar ini.

Sekitar 65 pesawat ditampilkan dalam area 100.000 meter persegi di luar ruangan, termasuk pesawat militer, pesawat penumpang mewah seperti Boeing 787 Dreamliner dan jet bisnis seperti Haker 900 XP. Bahkan, pesawat pribadi milik aktor terkenal Jackie Chan pun dipamerkan oleh pabrikan pesawat Embraer.

Pemerintah Singapura sepertinya sangat sadar mengutilisasi ajang ini tidak hanya sebagai tempat berpameran, tetapi membangun ekosistem perdagangan dari sektor ini. Semua sarana pendukung dipersiapkan, mulai dari hotel, transportasi, hingga tempat pameran.

Bayangkan, untuk delegasi khusus, disiapkan ratusan mobil keluaran pabrikan terkenal dari Jerman. Jadi, walaupun tempat pameran lumayan jauh dari pusat kota, tetapi tidak menganggu kenyamanan para delegasi.

Terakhir, tentunya uang yang berputar di Singapura tidak hanya seputar transaksi dirgantara, tetapi uang yang dibelanjakan oleh para delegasi di pusat perbelanjaan dan tempat hiburan lainnya. Dari sinilah roda perekonomian negara yang mengandalkan jasa sebagai sumber mata pencaharian itu berputar.

Indonesia sebenarnya sebelum krisis ekonomi 1998  memiliki ajang bergengsi seperti ini yakni Indonesia Air Show. Sayang, setelah krisis tidak ada lagi ajang ini bisa dibuat oleh Indonesia.

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S Sunoko mengatakan, saat ini pihaknya sebagai pengelola Bandara Soekarno-Hatta (BSH) lebih berkonsentrasi memenuhi kebutuhan pokok pengguna jasa yakni menghadirkan kenyamanan dengan meningkatkan kapasitas bandara.

“Membuat pameran seperti ini tidak gampang. Changi bisa seperti ini karena memiliki kapasitas yang  besar. BSH dibanding Changi memiliki frekuensi penerbangan dan jumlah penumpang lebih besar. Kondisi BSH sekarang kapasitas dibawah jumlah frekuensi dan penumpang,” ungkapnya.

Menurutnya, jika pun Indonesia ingin membuat pameran seperti Singapore Air Show, maka lokasi yang bisa dipilih adalah Halim Perdana Kusumah. “Kalau BSH itu sedangk dalam pengembangan. Kita konsentrasi melayani pengguna jasa saja,” katanya.

Sepanjang tahun 2011, total pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta mencapai 358 ribu pergerakan take-off dan landing. Pada 2010, penumpang Soekarno-Hatta tercatat telah mencapai 44,3 juta pergerakan. Kemudian pada akhir 2011 meningkat menjadi 51,5 juta pergerakan. Kapasitas dari BSH sendiri sekitar  22 juta penumpang per tahun.

Diungkapkannya, AP II  mulai melakukan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta (BSH)  pada pertengahan tahun ini dengan kebutuhan investasi sekitar 11,7 triliun rupiah.

“Kami akan membangun Terminal 3 penumpang, runway (landasan pacu) ketiga, terminal kargo, dan lainnya,” kata Tri.

Dikatakannya, pengembangan Soekarno-Hatta tersebut adalah bagian dari program jangka pendek perealisasian grand design yang dilakukan perseroan pada tahun 2011 dan 2012, yaitu membangun sarana-sarana penunjang pelaksanaan pengembangan Soekarno-Hatta.

“Bisa dikatakan, ini program pendahuluan atau persiapan sebelum pengembangan infrastruktur jangka panjang secara total dilakukan,” ungkap Tri.

Pengembangan infrastruktur tahap jangka panjang yang dimaksudkan adalah melakukan optimalisasi dua landasan pacu dan revitalisasi tiga bangunan terminal penumpang yang ada untuk meningkatkan kapasitas baik pergerakan pesawat maupun penumpang. Optimalisasi landasan pacu akan mendongkrak kemampuan pelayanan sisi udara dari 52 pergerakan per jam menjadi 72 pergerakan per jam.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah membuat high speed exit taxiway dan taxiway penghubung (east cross connection taxiway) antara Runway 1 dan Runway 2 pada sisi timur bandara. Kemudian untuk meningkatkan kapasitas parkir dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat, dilakukan pembangunan apron tambahan.

”Kapasitas pelayanan hingga 623.420 pergerakan per tahun akan dicapai jika Soekarno-Hatta memiliki tiga runway, dan itu akan bisa mengantisipasi pertumbuhan setidaknya hingga tahun 2030,” ungkapnya.

Sementara itu, optimalisasi dan revitalisasi terminal penumpang akan menambah kapasitas dari 22 juta penumpang per tahun (JPT) menjadi 62 JPT. Upaya yang akan dilakukan adalah dengan memaksimalisasi kapasitas Terminal 1 dan 2 dari 18 juta penumpang saat ini menjadi 37 juta penumpang dengan memperluas area terminal dan mendirikan bangunan penghubung (integrated building) di antara keduanya. Disusul kemudian mengembangkan Terminal 3 dari kapasitas 4 juta menjadi 25 juta penumpang.

Sedangkan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menilai Indonesia perlu mengadakan ajang pameran seperti Singapore Airshow. “Pada akhirnya Indonesia perlu membuat pameran pesawat seperti Singapore Airshow ini,” katanya.

Menurutnya, BUMN seperti Garuda Indonesia, GMF Aero Asia (anak usaha Garuda), dan Merpati Nusantara Airlines patut memanfaatkan ajang pameran seperti ini. Begitu juga perusahaan swasta seperti Lion Air.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s