GMF Kembangkan Perawatan Mesin Turbin dan Gas

JAKARTA— PT Garuda Maintenance Facilities (GMF)  AeroAsia mengembangkan  perbaikan dan perawatan mesin turbin gas industri dari sejumlah perusahaan, seperti Pertamina Perusahaan Listrik Negara, Indonesia Power, Medco, dan Pembangkit Jawa Bali.

“GMF melalui bisnis unit aeroderivatif  serius mengembangkan perawatan dan perbaikan mesin turbin gas industri di luar bisnis utama perawatan pesawat. Kita targetkan  meraup pendapatan 5 juta dollar AS pada tahun ini,” kata VP Sales & Marketing GMF AeroAsia Jemsly Hutabarat, di Jakarta,  Kamis (12/1).

Menurutnya,  bisnis aeroderivatif ini ternyata sangat menjanjikan dan dapat diandalkan untuk menyumbang pendapatan dari perusahaan selain dari perawatan pesawat. Untuk itu, pihaknya akan mengembangkan unit bisnis khusus diberinama Industrial Gas Turbine Engine (IGTE).

“Bisnis GTE  sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tetapi belum kami kembangkan secara unit tersendiri. Pada tahun ini kami targetkan sudah berdiri sehingga akan seriusi pengembangan usaha untuk aeroderivatif,” katanya.

Diungkapkannya,  pihaknya sudah mendapat kontrak dari sejumlah perusahaan untuk perawatan dan perbaikan mesin turbin gas industri. Untuk skala kategori heavy industrial turbin, ada Perusahaan Listrik Negara (PLN), Pembangkit Jawa Bali (PJB), Indonesia Power, Pusri, dan Semen Gresik.

Untuk kategori light industrial turbin, jelas Jemsly, ada Pertamina, Medco Energy, Pupuk Kaltim, dan Petrocina.

“Untuk mesin-mesin ukuran besar, kami hanya melakukan perbaikan di tempat masing-masing, tidak dibawa ke bengkel GMF karena keterbatasan tempat, sedangkan untuk mesin-mesin kecil dapat kami tangani untuk overhaull,” katanya.

Dijelaskannya,   perawatan mesin turbin gas industri ini tak jauh berbeda dari perawatan pesawat. Bahkan, spesifikasi pengerjaannya lebih rendah ketimbang perawatan pesawat. “Jadi, secara teknologi, perawatan mesin turbin gas industri ini mampu dikerjakan di GMF, dan sudah lama kami lakukan namun belum berkontribusi signifikan karena belum digarap maksimal,” tuturnya.

Selama ini, lanjutnya, perawatan mesin turbin gas industri dilakukan secara monopoli oleh perusahaan dari luar negeri. “Namun setelah keberadaan GMF, sejumlah perusahaan mulai mengalihkan perawatan ke GMF,” katanya.

Selanjutnya diungkapkan, perseroan  menargetkan pendapatan GMF tahun ini sebesar 205 juta dollar AS, dan mengikis ketergantungan dari induknya, Garuda Indonesia. Hal ini membuat   rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) dapat segera terlaksana setelah pendapatan dari non afiliasi kurang dari 50 persen. Saat ini Garuda masih menyumbang 70 persen dari total pendapatan GMF.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengatakan saat ini anak perusahaannya tersebut dalam waktu dekat belum dapat melepas sahamnya ke publik karena domain pendapatan dari perusahaan induk masih diatas 50 persen yaitu sebesar 70 persen. Namun,  secara perkembangan bisnis maupun operasional perusahaan, GMF telah memenuhi untuk dilakukan IPO.

“Dominan pendapatan GMF dari perusahaan induk masih sekitar 70 persen, jika dilakukan IPO maka pendapatan tersebut akan tereliminasi, intuk itu GMF masih belum bisa dilepas sahamnya ke publik pada tahun ini,” kata Elisa.(dni)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s