Gairah Indonesia di Angkasa

Ajang pameran dirgantara Singapore Airshow 2012 baru saja usai digelar di  Changi Exhibition Centre. Kegiatan yang diklaim sebagai salah satu pameran prestisius di sektor dirgantara itu berhasil mencatat nilai transaksi  31 miliar dollar AS selama enam hari. Angka itu melesat dari posisi 2010 yang hanya 10 miliar dollar AS.

Pabrikan besar di bidang dirgantara seperti  Boeing, Airbus, Pratt & Whitney, CFM dan ATR, menjadi pemain dominan dari transaksi yang dihasilkan itu.

Melesatnya transaksi yang terjadi di ajang ini tentu menyemburkan optimisme bagi industri dirgantara global. Sebelumnya,  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA)  melihat kondisi kurang menguntungkan, di mana penerbangan sipil hanya akan menghasilkan margin keuntungan 0,6 persen tahun ini.

Artinya penerbangan sipil hanya menyumbang sekitar 3,5 miliar dollar AS dari pendapatan industri yang besarnya 600 miliar dollar AS. Itu pun masih tergantung pada bagaimana Eropa bisa menyelesaikan krisis utangnya.

Eropa masih berfikir keluar dari kesulitan,  tapi  di kawasan Asia Pasifik ada suasana cerah. Tahun 2010, sepertiga penumpang pesawat bepergian ke, dari, atau di lingkungan Asia Pasifik. Angka itu seimbang dengan ukuran pasar Amerika Utara dan Eropa.

Pada  2015 diyakini  pusat gravitasi industri penerbangan akan berpindah ke timur. Pada tahun itu, rute Asia Pasifik akan mencapai 37 persen, melewati Amerika Utara dan Eropa yang 29 persen.

Gairah Indonesia
Pada ajang kali ini, nama Indonesia melalui Garuda Indonesia dan Lion Air menjadi dua maskapai yang hangat dibicarakan.

Lion Air mencatat nilai transaksi terbesar dalam ajang Singapore Airshow 2012. Pasalnya, pada hari pertama pameran, Lion Air telah menggebrak dengan menandatangani kontrak pembelian 230 pesawat Boeing 737 Max dan 737-900 ER senilai  22,4 miliar dollar AS.

Pada hari pertama itu total transaksi  secara keseluruhan mencapai  26 miliar dollar AS. Selain Lion, yang melakukan transaksi adalah  Sikorsky Aircraft Corporation dengan Japan Coast Guard untuk pembelian empat unit helikopter S-76D.

Honeywell membuat perjanjian dengan Air China terkait avionic, wheels dan brakes. ICBC Leasing China dan BOC Aviation Singapura memilih mesin avionic dari Rockwell Collins untuk 30 pesawat Airbus A320. Avionica Inc juga menandatangani kesepakatan Singaporean SME Miltrade Technologies Pte Ltd, perusahaan bengkel pesawat, untuk perawatan anak usahanya Quick Access Recorders dan Iridium Satcom.

Pada hari kedua, giliran  PT Garuda Indonesia (persero) Tbk (GIAA) yang unjuk gigi. Maskapai pelat merah ini   mengeluarkan dana sekitar dua miliar dollar AS demi mendatangkan sekitar 36 unit armada CRJ 1000 NextGen besutan  Bombardier Aerospace,  Kanada, untuk menggarap segmen penumpang Sub-100 dan memperkuat posisi di pasar regional dan domestik.

“Kami membeli sebanyak 18 unit armada  CRJ 1000 NextGen dan 18 unit lagi optional tambahan. Rencananya lima pesawat akan datang mulai Oktober hingga akhir tahun nanti untuk dioperasikan,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

Bombardier   merupakan sebuah perusahaan Kanada yang bergerak dalam bidang produksi alat dan perlengkapan transportasi, mulai pesawat komersial, jet, serta berbagai perlengkapan transportasi lainnya. Produk produk Bombardier ini antara lain CRJ NextGen Family, NextGen Q400, pesawat jet C-series, dan pesawat pesawat berkapasitas 100-149 kursi (single aisle).

Lion Air di hari yang sama juga  menandatangani kontrak pembelian 4 pesawat jet pribadi Hawker 900 XP senilai 64 juta dollar AS untuk anak usaha Lion Charter. Tidak berhenti disitu, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan  tengah melakukan negosiasi dengan pihak Boeing untuk membeli pesawat B 787 Dreamliner.

“Saat ini masih kami lakukan negosiasi pembelian pesawat B 787 Dreamliner, masih nego soal harga. Kalau memang pihak Boeing menyetujui penawaran kami, bisa jadi kami beli 3 unit B 787 Dreamliner,” katanya.

Sementara pada hari ketiga Garuda mengumumkan kerjasamanya dengan  RBS Aviation Capital (perusahaan lessor pesawat) untuk memperkuat pengadaan armada unit bisnis strategisnya, Citilink.

“Kami menggandeng RBS Aviation untuk pengadaan 4 pesawat baru tipe Airbus A320-200 yang akan dikirim mulai November 2012 hingga Februari 2013,” ungkap  Vice President Citilink Con Korfiatis.

Diungkapkannya,  nilai kontrak pesawat tersebut senilai  300 ribu dollar AS per bulan untuk satu pesawat. Jika meminjam 300 ribu dollar AS per bulan, maka Citilink harus mengeluarkan  15 juta dollar AS per bulan atau sekitar  135 miliar rupiah.

Di hari yang sama, Lion Air mengikat kerjasama dengan pabrikan ATR asal Prancis senilai 610 juta dollar AS untuk  membeli 27 pesawat ATR 72-600s. Sebelumnya  maskapai ini  sudah memborong 33 ATR, sehingga genap menjadi 60 unit hingga akhir 2014.

Masih Butuh
Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengungkapkan, Merpati Nusantara Airlines juga turut memesan pesawat ARJ dari China sebanyak 40 unit di  Singapore Airshow.

“Merpati pesan 40 unit pesawat ARJ asal China, mereka bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia  untuk pemesanan ini,” katanya.

Menurut Herry, maskapai asal Tanah Air paling agresif memanfaatkan ajang pameran kedirgantaraan di Singapore Airshow tahun ini. Sejumlah maskapai melakukan kontrak pembelian pesawat berbadan besar maupun kecil jenis propeller.

Masih menurutnya,  maskapai Tanah Air berbondong-bondong membeli pesawat untuk menjawab tingginya permintaan yang disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi.

“Pertumbuhan industri penerbangan itu dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga diperkirakan industri berkembang 15-20,” tuturnya.

Herry menjanjikan, untuk mengantisipasi tingginya pertumbuhan jumlah pesawat, pemerintah akan mengejar pembangunan bandara-bandara di Tanah Air. “Kita kan sudah ada MP3EI. Nah, dengan ini, kita bisa percepat pembangunan bandara untuk menjawab tingginya pertumbuhan pesawat,” tuturnya.

Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana mengatakan pasar penerbangan domestik masih butuh banyak pesawat, setidaknya hingga 1.000 unit mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, sedangkan dari sisi jumlah pesawat masih kalah dengan India, China, bahkan Singapura.

“Kami tidak perlu takut berkompetisi dengan maskapai lain, apalagi Garuda. Kami niatnya berasama-sama membangun negara, ekonomi, politik bagus. Sama seperti media, semakin bagus ekonomi, banyak yang beli. Penduduk Indonesia banyak. Kita masih lebih sedikit jumlah pesawat ketimbang Singapura, sehingga peluang bertumbuhnya tinggi,” tuturnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s