Dibutuhkan Konsorsium Dukung Standar Uang Digital Transportasi

JAKARTA—Pemberlakuan standarisasi uang digital di sektor transportasi membutuhkan berdirinya konsorsium yang berisikan semua pemain  agar investasi dapat ditekan dan skala ekonomi untuk mencapai titik impas modal dapat dicapai.

“Standarisasi uang digital untuk sektor transportasi tidak dapat dihindari karena pada tahun lalu Bank Indonesia, Kementrian perhubungan, dan Kementrian Komunikasi dan Informatika telah menandatangani MoU membahas hal tersebut. Para pelaku usaha di sektor ini harus menyikapinya dengan bijak,” ungkap Sr General Manager m-Finance Strategic Business & Innovation XL Yessie D. Yosetya di Jakarta, Selasa (31/1).

Diungkapkannya, pembentukan konsorsium jika standarisasi mendesak dibentuk karena agar investasi bisa dihemat dan pemain bisa fokus mengembangkan ekosistem less cash society. “ Investasi satu Electronic Data Capture (EDC) itu sekitar 150-200 dollar AS, bayangkan jika semua titik stasiun harus disediakan EDC oleh masing-masing pemain, ini tentu akan memboroskan investasi. Apalagi ekosistem dari uang digital belum matang,” jelasnya.

Dikatakannya, XL yang memiliki sekitar 47 jutaan pelanggan hanya lima ribuan orang yang aktif melakukan transaksi dengan uang digital. “Itu jumlah transaksi sekitar tiga ribu per bulan dengan isi ulang sekitar 50 ribu rupiah per orang. Kita mau genjot menjadi 300 ribu pelanggan yang aktif menggunakan uang digital 12 bulan ke depan,” katanya.

Dirjen Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kemkominfo Ashwin Sasongko mengakui, tantangan standarisasi  uang digital  di sektor transportasi   pada proses bisnis antarpemain, terutama masalah settlement.

”Jika bicara standarisasi teknis, itu tidak ada masalah. Hal yang akan menjadi masalah itu nantinya perihal proses bisnis antarpemain, terutama masalah settlement,” ungkapnya.

Dijelaskannya, saat ini semua lembaga yang menandatangani MoU pada medio November 2011 bekerja keras untuk menyelesaikan standarisasi. ”Masalah chip dan teknologi yang dipakai juga dibicarakan,” katanya.

Diungkapkannya, ranah yang akan diatur oleh instansinya terkait standar teknis perangkat, chip dan pancaran frekuensi, kartu,  dan reader.

Direktur Komersial PT KAI Sulistyo Wimbo Hardjito mengakui untuk mengembangkan uang digital harus melibatkan semua pihak. Hal ini seperti yang dilakukan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ)  yang akan  bekerja sama dengan lima bank untuk menyediakan tiket elektronik (e-ticketing) bagi penumpang KRL Commuter Line. ”Infrastrukturnya jangan masing-masing bank yang investasi tapi dikembangkan bersama,”ujarnya.

Lima bank yang dimaksud adalah Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI, dan Bank DKI.  Untuk tahap awal Februari– April perangkat keras akan di pasang di 35 stasiun dengan pengeluaran jumlah ecard sebanyak 15.000 kartu.

Selanjutnya April hingga Juni ada penambahan perangkat keras di 16 stasiun lainnya sehingga total dengan pemegang kartu berjumlah 30.000 orang. Kemudian pada Juli, KCJ menargetkan pengguna eticketsebanyak 100.000 orang. Selain itu,PT KCJ juga akan mengeluarkan kartu elektronik yang bisa di-topupdi stasiun yang ditunjuk.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s