Langit Indonesia Masih Cerah

Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini melansir data jumlah penumpang domestik periode Januari-Oktober 2011 yang mencapai 42,59 juta orang atau naik 20,37 persen dibandingkan periode yang sama 2010 sebanyak 35,38 juta penumpang.
Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara internasional periode Januari sampai Oktober 8,99 juta orang atau naik 13,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 7,93 juta orang.
Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penumpang yang diangkut oleh maskapai memang menunjukkan tren kenaikan lebih dari 10 persen. Pada 2010 total penumpang pesawat di Indonesia sebanyak 58,15 juta penumpag naik 19,22 persen dibanding realisasi jumlah penumpang 2009 sebesar 48,77 juta.
Jumlah penumpang pada 2009 mengalami pertumbuhan 17,51% disbanding realisasi jumlah penumpang sepanjang 2008 yang sebanyak 41,50 juta orang.
Masih Cerah
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, langit Indonesia masih cerah pada tahun depan alias pertumbuhan penumpang akan tetap tinggi di kisaran dobel digit.
“Jika dilihat secara konservatif, pertumbuhan penumpang tahun depan untuk domestik bisa mencapai 15%. Hal ini karena biasanya jumlah penumpang yang diangkut dua kali pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika optimistis bisa di angka 22%,” ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Diungkapkannya, jika pun ada ancaman terkait pertumbuhan penumpang, akan terjadi di penerbangan internasional karena adanya krisis global. Tetapi jika bicara rute domestik, tetap bergairah. ”Lion Air menargetkan mengangkut 27 juta penumpang pada 2012,” katanya.
Ketua Umum  Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Emirsyah Satar menegaskan, krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa belum berpengaruh terhadap bisnis penerbangan nasional. “Hingga kuartal ketiga 2011  pertumbuhan penerbangan dunia melambat hanya tumbuh 3,7 persen, sementara pertumbuhan nasional mencapai 15 persen,” ungkapnya.
Emir yang juga  Dirut Garuda Indonesia mengungkapkan, maskapai yang dipimpinnya  saat ini mengalami pertumbuhan pasar sebesar  39 persen untuk pasar domestik, meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 26 persen.
Sedangkan pasar internasional tumbuh sebesar 32 persen diatas maskapai lainnya yang sebesar 10 persen. Saat ini, Garuda menguasai pasar penerbangan nasional sebesar 23 persen, masih dibawah Lion Air yang mencapai hampir 50 persen.
“Walau ada krisis ekonomi global,  berbagai rencana maskapai lokal  untuk mengadakan pesawat terus berjalan dan tidak terpengaruh oleh krisis. Lion Air, Sriwijaya Air dan Garuda tetap terus menambah pesawat,” katanya.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menargetkan peningkatan jumlah penumpang pada 2012 sebesar 15 persen menjadi 19,55 juta orang dari target tahun ini  17 juta orang. ”Ekspansi rute domestik dan armada akan mempengaruhi jumlah penumpang yang diangku tahun depan,” katanya.
Berdasarkan catatan, hingga 30 September 2011 Garuda mengoperasikan 85 unit pesawat. Perseroan masih akanmenerima 7 unit pesawat hingga akhir 2011. Pada 2012, Garuda akan menerima sebanyak 6 pesawat.
Sementara itu, Direktur Komersial Batavia Air Sukirno Sukarna menargetkan jumlah penumpang yang diangkutnya pada 2012 sebanyak 7,7 juta penumpang naik dari target 2011 sekitar 7 juta penumpang. ”Tambahan pesawat dan daya beli masyarakat yang terus naik menjadi pertimbangan ditetapkan target tersebut,” katanya.
Dijelaskannya, untuk dapat mencapai target pertumbuhan jumlah penumpang, perseroan bernecana menambah tiga Airbus A320 dan tiga Airbus A321. Saat ini Batavia Air mengoperasikan 35 pesawat.
Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo mengungkapkan, pada 2012 maskapainya mematok target mengakut 10,40 juta penumpang, terdiri dari 10 juta penumpang rute domestik dan 400 ribu penumpang internasional.
Saat ini Siriwjaya Air mengoperasikan 30 unit pesawat, terdiri dari 12 Boeing 737-200, 12 Boeing 737-300, dan enam Boeing 737-400. pada Desember 2011, Sriwijaya masih akan mendatangkan satu unit Boeing 737-200 dan Boeing 737-400.
Toto mengungkapkan, maskapainya berencana mengakuisisi 12 unit pesawat milik Continental Airlines, maskapai asal Chicago, Amerika Serikat, secara bertahap mulai April-Desember 2012. Kedatangan pesawat tersebut untuk menggantikan 12 unit Boeing 737-200 yang akan di-phase out perseroan.
”Pengadaan pesawat dilakukan dengan skema lease to purchase dalam waktu 12 tahun. Harga per unit berkisar lima-tujuh juta dollar AS,” katanya.
Selain mendatangkan 12 Boeing 737-500, Sriwijaya juga berencana mendatangkan lima Boeing 737-800 NG dengan status sewa dan lima Embraer E195. Pengiriman lima pesawat Embraer yang dimulai Agustus 2012 merupakan bagian dari pemesanan 20 unit Embraer E175 dan Embraer E195 yang telah dipesan pada November 2010 dengan harga 40,50 juta dollar AS per unit.
Pada kesempatan lain, Sekjen Inaca Tengku Burhanudin mengatakan, bisnis penerbangan berbeda dengan jasa lainnya dimana jumlah penumpang yang diangkut seasonal. ”Biasanya bulan-bulan yang kosong itu ditutup oleh masa peak season seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru,” katanya.
Diharapkannya, pemerintah terus mendukung bisnis penerbangan dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti bandara yang nyaman dan akses yang mudah ke fasilitas tersebut.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan pemerintah akan menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan bandar udara (Bandara) di tanah air yang masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan nilai investasi mencapai 32 triliun rupiah. Peluang bagi swasta dibuka dalam bentuk tender dengan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP).
“Ada sejumlah bandara yang harus dikembangkan dan masuk dalam program MP3EI.  Pengembangannya butuh dana 32 triliun rupiah,” katanya.
Diungkapkannya,  dari total kebutuhan dana tersebut, pemerintah hanya mampu menyiapkan dana sebesar 20 persen atau 6,4 triliun rupiah. Sisanya akan dibuka kesempatan bagi investor berpartisipasi dengan menggunakan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau PPP.
“Nanti investor akan kembangkan atau bangun bandara dan mereka akan mendapat konsesi, setidaknya 30 tahun atau bisa diperpanjang,” jelasnya.
Dikatakannya, pola yang diadopsi untuk pengembangan dan pembangunan sejumlah bandara ini akan sama seperti yang diberlakukan untuk proyek di pelabuhan, yakni menggunakan pola PPP. Bagi operator, misalnya PT Angkasa Pura I atau II  yang sudah lebih dulu mengelola bandara terkait, dan berinisiatif untuk mengembangkan, akan mendapat hak keistimewaan.[dni]
Iklan

Ketat di Full Service

Pada tahun depan pasar full service diperkirakan akan kian ketat Segmen ini hanya menguasai 16,9 persen pangsa pasar penumpang dari total 51,3 juta orang yang diangkut pada tahun lalu, dengan Coumpund Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 7 persen untuk 2010-2015, namun peminatnya mulai bertambah.

Jika sebelumnya untuk rute domestik Garuda Indonesia bermain sendirian, tahun depan akan ada Pacific Royale dan awal 2013, Space Jet milik Lion Air akan menyusul.
Pacific Royale baru saja mengantongi Surat Izin Angkutan Udara (SIAU) atau Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan  berjanji akan membuka pasar baru di layanan full service agar bisa bersaing di industri penerbangan.
“Pacific Royale tidak akan mengambil rute-rute Garuda Indonesia selaku kompetitor di kelas full service (layanan penuh). Kami akan ambil rute yang tidak banyak didatangi Garuda Indonesia,” ungkap  Managing Director Pacific Royale Samudera Sukardi.
Dijelaskannya, langkah itu dilakukan perseroan karena ini porsi pasar full service  masih sedikit dibanding pasar low cost carier (LCC) atau tarif rendah. “Ini adalah alasan dibidik pasar full service. Kalau masuk kelas LCC, artinya kami nekat karena sudah banyak yang memasuki pasar ini,” jelasnya.
Ditargetkannya, armada  Pacific Royale menerbangi kota-kota di Indonesia mulai Februari 2012 setelah Air Operation Certificate (AOC) dikantongi.
Pacific Royale saat ini sudah memiliki 10 pesawat, terdiri dari lima milik yakni Fokker 50, dan lima sewa Airbus 320. Hal ini untuk memenuhi ketentuan dalam UU No.1/2009 tentang Penerbangan. Untuk key person  sudah memiliki pilot dari maskapai Mandala Airlines dan Riau Airlines.
Diungkapkannya,  biaya pendirian sebuah maskapai baru tergolong bermodal besar. Pihaknya sudah investasi 25 juta dollar AS sesuai dengan persyaratan dari Kementerian Perhubungan.
Dkatakannya,  dalam 1 tahun pertama akan mengoperasikan 10 pesawat, nantinya akan ditambah seiring waktu. Saat terbang perdana, kemungkinan akan mengoperasikan 4 pesawat.
Pada penerbangan awal nanti, pihaknya akan menerbangi rute-rute domestik terlebih dahulu dengan hub dari Jakarta. Kota-kota yang menjadi pilihan yakni Medan, Batam, dan Surabaya.
“Awalnya kami terbang ke rute domestik dahulu dengan hub dari Jakarta dan sub hub di Medan, Batam, dan Surabaya. Nantinya akan terbangi regional dan internasional,” katanya.
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, telah mengurus SIUP milik Space Jet.
“Awal 2013 akan dioperasikan. Kita akan ubah konfigurasi pesawat yang ada dimana nantinya ada layanan hiburan dan komunikasi yang canggih, serta tempat duduk lebih nyaman,” katanya.
Diungkapkannya, untuk menggarap segmen full service, perseroan akan mengalokasikan sekitar 12 pesawat tipe Boeing 737-900 ER yang telah dimodifikasi interiornya sesuai dengan segmen yang dilayani. “Kami sekarang telah memiliki 50 pesawat tipe Boeing 737-900 ER, hingga akhir tahun nanti akan menjadi 54 unit. Sedangkan pada 2016 nanti akan menjadi 178 unit,” katanya.
Sementara Sriwijaya Air yang tadinya berencana ikut menggarap segmen full service pada awal tahun depan menunda keinginannya. “Untuk rencana menggarap segmen full service terpaksa kami tunda karena ternyata membutuhkan investasi dan persiapan yang matang,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo.
Secara terpisah,  Direktur Keuangan Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan menyambut gembira hadirnya maskapai baru yang pasarnya sama dengan perseroan. “Industri penerbangan memang butuh tambahan kapasitas,” katanya.
Namun, diingatkannya,  pasar  full service sangat keras, justru di  LCC yang lebih menguntungkan. “Makanya maskapai sekelas Singapore Airlines  SQ mau masuk ke LCC, layaknya  kebanyakan maskapai  full service mau punya LCC,” jelasnya.
Menurutnya, untuk Full Service, investasi awalnya sangat besar, begitu juga dengan struktur biayanya. Sehingga harga jual menjadi lebih mahal.  “Harus punya modal kuat agar nafas panjang. Mustinya kalau baru mulai, lebih baik   ke LCC saja. Kalau Lion Air mau ke full service masih lebih rasional karena   bisa cross subsidy dari LCC-nya,” katanya.[dni]

Garuda Operasikan Simulator Baru

JAKARTA–Maskapai Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengoperasikan dua simulator penerbangan generasi terbaru masing-masing  untuk pesawat Airbus 330-200 dan Boeing  737-800 NG dengan investasi 26 juta dollar AS.

“Penggunaan kedua simulator penerbangan generasi termutakhir (kelas D) tersebut akan semakin melengkapi fasilitas dan infrastruktur Garuda Indonesia Training Center dalam mendukung upaya Garuda mencetak pilot-pilot baru yang handal,” kata Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Jumaat (16/12).

Dijelaskannya,  kedua simulator ini sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi peningkatan pangsa pasar di industri penerbangan yang pesat, seiring rencana Garuda melalui program Quantum Leap 2015 ingin mengoperasikan 154 pesawat termasuk A330-200 dan B737-800 NG.

“Kedua simulator ini juga akan semakin meningkatkan kualitas keamanan perusahaan, menurunkan biaya pelatihan pilot hingga 50 persen,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini Garuda Indonesia memiliki 1.000 pilot yang sebagian besar merupakan pilot Airbus 330 series dan Boeing 737-800 NG. Dengan pengembangan armada yang dilaksanakan, dan untuk memenuhi kebutuhan pilot hingga 2015, Garuda akan merekrut 400 pilot lagi.

Kedua simulator penerbangan ini, lanjutnya, merupakan Airbus 330-200 dan Boeing 737-800 NG yang disesuaikan dengan program penambahan armada Garuda kedepan, yakni sebagian besar armada Garuda merupakan pesawat jenis ini. Kedua simulator ini dibeli dari CAE, perusahaan internasional yang berkedudukan di Montreal Kanada yang begerak dibidang pembuatan peratan pelatihan penerbangan sipil maupun militer berbasis teknologi.

“Kedua simulator penerbangan ini merupakan jenis terbaru dari produk-produk CAE yang menggunakan system electric motion, menggantikan era hydraulic motion, sehingga efisiensi pengunaan listrik dapat ditekan hingga 40 persen,” katanya.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan investasi untuk membeli kedua simulator itu senilai 26 juta dollar AS yang menggunakan kas internal perusahaan.

Menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono terdapat  empat faktor yang harus dipenuhi agar mampu menjawab kebutuhan pelayanan maksimal di bidang penerbangan, yang setiap tahun menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Faktor-faktor tersebut, pertama, prasarana diantaranya bandara, trafic control dan lain sebagainya. Kedua, sarana yakni penyediaan pesawat yang laik dan prima.

Selanjutnya adalah manajeman maskapai, dimana seluruh operator harus memperhatikan piranti pendukung bersamaan dengan terus bertambahnya jumlah armada yang digunakan. Terakhir adalah sumber daya manusia (SDM) yang sangat penting untuk dipenuhi kualitasnya.

Ditegaskannya,  kemampuan pilot untuk menerbangkan pesawat harus terus ditingkatkan seiring dengan semakin tingginya teknologi dalam penerbangan.

“Pilot harus bisa menyeimbangkan antara manual flight dan digital flight, karena pesawat tidak mengenal siapa yang mengemudi, namun dengan penguasaan keduanya maka akan sangat penting sehingga bisa membawa pesawat dengan aman,” ujarnya.

Diharapkannya, ketersediaan simulator pesawat udara seperti yang dikembangkan Garuda Indonesia  dapat mendukung operasional penerbangan dan melaksanakan pengembangan kualitas SDM.[Dni]

Kemenhub Awasi Kinerja RA

JAKARTA–Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berjanji  akan mengawasi agen inspeksi (Regulated Agent/RA) terutama dalam melakukan pemeriksaan terhadap barang  untuk diangkut dalam kargo pesawat udara.

“Kinerja RA itu akan dievaluasi. Akan ada hukuman untuk RA nakal. Maskapai harusnya laporkan jika menemukan barang berbahaya, nanti diinvestigasi,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay, akhir pekan lalu.

Dikatakannya,  evaluasi terhadap perusahaan RA, misalnya,  pemeriksaan x-ray untuk kargonya tidak bagus, akan dihentikan operasinya.

Dikatakannya, untuk bisa memastikan bagus tidaknya pemeriksaan kargo oleh perusahaan RA,  maskapai penerbangan harus melapor jika menemukan ada barang berbahaya yang lolos dari pemeriksaan x-ray perusahaan RA.

Secara terpisah,  Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan pihaknya kembali melakukan pemeriksaan ulang untuk kargonya yang mau diangkut ke pesawat meski sudah melalui pemeriksaan RA.

“Kami lakukan random chek, ini sesuai peraturan bahwa maskapai berhak melakukan apapun demi keamanan penerbangan,” kata pria yang akrab dipanggil Edo itu..

Ditegaskannya,  pihaknya tidak segan-segan untuk menghentikan kerjasama dengan agen dan forwarder yang tidak bisa menjaga kemanan barang kargo. Misalnya, dalam dokumen isi kargo yang dicatat tidak sama dengan yang tertera didalamnya.

“Kami hentikan  kalau isinya tidak sama. Keamanan yang utama,” tegasnya.

Dijelaskannya,  maskapai tidak punya hubungan kontrak dengan perusahaan RA, tetapi maskapai hanya berurusan dengan agen kargo. Agen kargo ini yang menentukan menggunakan perusahaan RA yang mana, sehingga barang-barang kargo yang masuk pesawat bisa diperiksa oleh perusahaan RA mana saja.[Dni]

Kemenhub Uber Serapan DIPA 85%

JAKARTA— Kementerian Perhubungan menguber serapan  anggaran tahun Dipa 2011 menjadi 85 persen pada akhir tahun ini. Hingga per 28 November 2011, serapan Dipa Kemenhub baru 58,95 persen.

Menteri Perhubungan EE. Mangindaan mengatakan realisasi daya serap anggaran di Kementerian Perhubungan hingga sepanjang 2011 hingga 28 November masih 58,95 persen  atau 13,72 triliun rupiah  dari total 23,27 triliun rupiah.

“Kami targetkan pada 31 Desember 2011 anggaran yang terserap menjadi 85,34 persen atau 19,86 triliun rupiah. Sekarang saja sudah 80 persen, untuk dapat 85 persen akan dicapai, tender, sanggahan, revisi bisa jalan,” katanya di Jakarta, Senin (19/12).

Dikatakannya,  dari sisi fisik, penyerapan anggaran hingga 28 November 2011 masih tercatat sebesar 67,47 persen dan hingga 31 Desember diperkirakan menjadi 88,56 persen.

Menurutnya,   rendahnya penyerapan anggaran ini disebabkan sejumlah faktor, diantaranya faktor internal. “Kemenhub memang masih mengalami hambatan untuk proses penyerapan anggaran. Salah satunya faktor internal yang harus diperbaiki, yakni meningkatkan SDM pejabat yang bertanggung jawab, percepatan proses pengadaan barang. Langkah optimalisasi. Kami juga upaya menaikkan kompetensi untuk reformasi birokrasi,” katanya.

Diungkapaknnya, , pada 2010, laporan keuangan Kemenhub mendapat opini wajar dengan pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan.”Untuk mengejar opini wajar tanpa pengecualian, Kemenhub berusaha terkait penatausahaan piutang dan aset,” katanya.

Menurutnya,  perlu dilakukan reward dan punishment untuk pejabat yang menyalurkan anggaran Kemenhub. “Reward and punishment  akan ditingkatkan dalam rangka mencegah dan memberantas KKN,” katanya.

Sekjen Kemenhub M. Ikhsan Tatang mengatakan pelaporan penyerapan anggaran di jajaran Kemenhub dilakukan setiap harinya dari 700 unit kerja. “Perkembangan daya serap anggaran Kemenhub dari sistem hirarki, UPT dan unit diatasnya, kami mendapat data keseluruhan penyerapan anggaran up date per harinya, sehingga kami bisa tahu perkembangan hingga akhir tahun,” katanya.[dni]

Pelindo II Selesaikan Modernisasi Terminal Penumpang Nusantara Pura

JAKARTA– PT Pelindo II telah menyelesaikan  modernisasi terminal penumpang di area Pelabuhan Tanjung Priok  untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan layanan terminal penumpang yang memenuhi keinginan pelanggan pengguna jasa angkutan laut.

Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino mengharapkan, terminal Penumpang ‘Nusantara Pura   akan menjadi standar layanan pelabuhan untuk penumpang di Indonesia.

“Modernisasi terminal penumpang ini dimulai sejak dibangunnya Terminal Penumpang Nusantara Pura II pada tahun 2000 sebagai pengembangan terminal penumpang yang sudah tidak mampu lagi menampung arus pertambahan penumpang kapal laut,” katanya di Jakarta, Senin (19/12).

Diungkapkannya,  pada periode tahun1997 hingga  1999, arus penumpang tumbuh lebih dari 45 persen per tahun. Hal ini karena meningkatnya biaya angkutan udara selama masa krisis moneter saat itu, sehingga masyarakat memilih menggunakan angkutan kapal laut.

“Modernisasi sektor pengamanan pada masing-masing terminal penumpang Nusantara Pura I dan II telah dilengkapi dengan 2 (dua) Unit X-Ray Baggage Type 100100 T dengan 6040i Hitrax Series dan Walkthrough Gate Detector. Petugas pengamanan telah pula dilengkapi dengan mirror detector dan  metal detector sebagai atribut standar pengamanan di wilayah pelabuhan. Petugas pelayanan pun dengan sigap selalu

Garuda Bidik Omset Rp 26 triliun

JAKARTA—PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (Garuda)  membidik mendapatkan omset sebesar 26 triliun rupiah pada tahun ini seiring perolehan yang cerah untuk kinerja keuangan selama periode Januari-Novembber 2011 dimana untuk omset telah tercatat 22.971,5 triliun rupiah.

“Kita membidik omset pada tahun ini sekitar 26 triliun rupiah dengan penumpang yang diangkut sebanyak 17 juta orang dimana 13,5 juta diantaranya berasal dari rute domestik,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (19/12).

Diungkapkannya, selama periode Januari – November 2011, Garuda  membukukan laba periode berjalan (income current period) sebesar  725 miliar rupiah. “Angka untuk laba itu bisa berubah pada akhir tahun jika piutang kepada Merpati bisa ditagih. Jumlahnya lumayan signifikan dimana totalnya 330 miliar rupiah, tetapi potensi ditagih sekitar 225 miliar rupiah,” ungkapnya.
.
Dikatakannya, pada periode Januari – November 2011 Garuda Indonesia berhasil mengangkut sebanyak 15.45 juta penumpang atau meningkat sebesar 36,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 11.33 juta penumpang. Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) juga  meningkat  sebesar 26 persen menjadi 29.67 miliar dari 23.54 miliar seat kilometer pada tahun 2010. Selain itu, “yield” penumpang meningkat sebesar 13 persen menjadi  9.6 sen dollar AS dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 8,5 sen dollar AS.

Selama periode Januari – November 2011, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia (domestik dan internasional) juga mengalami peningkatan sebesar 25.51 persen menjadi 118.009 penerbangan, dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 94.022 penerbangan.

Selain itu Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan tingkat isian penumpang (Seat Load Factor/SLF) pada periode Januari – November 2011 ini sebesar 5.51 persen menjadi 75.27 persen, dari 71.34 persen pada periode yang sama tahun lalu. Utilisasi pesawat juga meningkat sebesar 1:17 menit menjadi 10:42 jam dari 9:22 jam pada periode yang sama tahun lalu. Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) juga meningkat menjadi 85 dari 79.40 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Pada periode Januari – September 2011 ini Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan market share-nya di pasar domestik menjadi 28.3 persen, meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 23.7 persen. Pasar penumpang pesawat udara domestik pada periode Januari – November 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 16 persen, namun pasar penumpang Garuda Indonesia pada periode tersebut meningkat signifikan sebesar 36 persen, lebih tinggi dari peningkatan maskapai lainnya yang rata – rata sebesar 9 persen.

Sementara penumpang pesawat udara internasional pada pariode Januari – September 2011 tumbuh sebesar 12 persen dimana pasar Garuda Indonesia berhasil tumbuh sebesar 29.5 persen diatas maskapai lainnya yang sebesar 8 persen.

“Berbagai peningkatan kinerja yang berhasil diraih Garuda tersebut memiliki arti yang penting ditengah masih tingginya harga fuel yaitu 0.90 dollar AS per liter  meningkat 36 persen dibanding periode yang sama tahun tahun lalu sebesar 0.66  dollar AS per liter , serta situasi perekonomian global yang masih kurang kondusif,” katanya.

Rencana 2012
Selanjutnya dikatakan,  pengembangan armada dan ekspansi prusahaan yang dilaksanakan, pada tahun 2011 ini Garuda menerima 11 pesawat baru terdiri dari 2 A330-200 dan 9 B737-800 Next Generation. Pada tahun 2012 mendatang, Garuda Indonesia akan mendatangkan sebanyak 20 pesawat yang terdiri dari 4 B737-800NG, 2 A330-200 dan 5 pesawat Sub-100 seater, serta 9 pesawat A320 untuk Citilink. Secara total, pada 2012, Garuda Indonesia Group akan mengoperasikan sebanyak 105 pesawat yang terdiri dari 88 pesawat Garuda Indonesia dan 20 pesawat oleh Citilink, dengan umur rata rata pesawat 6,5 tahun pada 2011 menjadi 5,8 tahun pada 2012.

Garuda Indonesia juga akan membuka 3 rute internasional pada Februari 2012 mendatang yaitu : Jakarta – Taipe menggunakan B737-800NG (Mei 2012), Denpasar – Haneda (Tokyo) menggunakan A330-200 (April 2012) dan rute Denpasar – Singapura – New Delhi menggunakan B737-800NG (kuartal 3-2012). Selain pembukaan rute – rute baru tersebut, seiring menguatnya pasar domestik dan meningkatnya permintaan di rute regional, Garuda Indonesia menambah frekuensi penerbangan dibeberapa rute domestik dan regional antara lain : Jakarta – Pekanbaru dari 5 penerbangan menjadi 6 penerbangan setiap hari, Jakarta Batam dari 3 kali menjadi 4 penerbangan tiap hari dan Jakarta – Kuala Lumpur dari 2 kali menjadi 3 kali penerbangan setiap hari.

Pada Q3/2012 Garuda Indonesia akan menempatkan pesawat – pesawat Sub-100 seater pada beberapa hub yaitu Makassar, Medan dan Denpasar. Di Makassar pesawat – pesawat Sub – 100 seater tersebut akan melayani rute – rute : Makasar – Singapura, Makasar – Ternate, Makasar – Balikpapan – Jogjakarta, Makasar – Surabaya dan Makasar Ambon.

Sementara di Medan, pesawat – pesawat sub-100 seater akan melayani Medan – Penang, Medan – Batam, Medan – Palembang, Medan – Surabaya (penerbangan langsung), dan Medan – Batam – Pekanbaru; serta Hub di Denpasar pesawat – pesawat tersebut akan melayani rute – rute : Denpasar – Ampenan, Denpasar – Makasar dan Denpasar – Balikpapan.

“Kami memperkirakan dengan agresifitas penambahan armada dan rute tersebut pada 2012 akan naik jumlah penumpang yang diangkut sebesar 20 persen dari target tahun ini atau sekitar 20,4 juta penumpang,” ungkap Emirsyah.

Sementara itu, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, untuk pemenuhan jumlah pesawat sesuai program Quantum Leap, perseroan membutuhkan dana sekitar 5,3 miliar dollar AS. “Tetapi jika bicara kebutuhan 2012 saja, kita alokasikan 1,4 triliun rupiah untuk kebutuhan nilai buku dan 400 juta dollar AS guna pesawat yang akan datang sepanjang tahun 2012,” katanya.[dni]