Langit Indonesia Masih Cerah

Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini melansir data jumlah penumpang domestik periode Januari-Oktober 2011 yang mencapai 42,59 juta orang atau naik 20,37 persen dibandingkan periode yang sama 2010 sebanyak 35,38 juta penumpang.
Sedangkan jumlah penumpang angkutan udara internasional periode Januari sampai Oktober 8,99 juta orang atau naik 13,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 7,93 juta orang.
Jika merujuk pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah penumpang yang diangkut oleh maskapai memang menunjukkan tren kenaikan lebih dari 10 persen. Pada 2010 total penumpang pesawat di Indonesia sebanyak 58,15 juta penumpag naik 19,22 persen dibanding realisasi jumlah penumpang 2009 sebesar 48,77 juta.
Jumlah penumpang pada 2009 mengalami pertumbuhan 17,51% disbanding realisasi jumlah penumpang sepanjang 2008 yang sebanyak 41,50 juta orang.
Masih Cerah
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengungkapkan, langit Indonesia masih cerah pada tahun depan alias pertumbuhan penumpang akan tetap tinggi di kisaran dobel digit.
“Jika dilihat secara konservatif, pertumbuhan penumpang tahun depan untuk domestik bisa mencapai 15%. Hal ini karena biasanya jumlah penumpang yang diangkut dua kali pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika optimistis bisa di angka 22%,” ungkapnya di Jakarta, kemarin.
Diungkapkannya, jika pun ada ancaman terkait pertumbuhan penumpang, akan terjadi di penerbangan internasional karena adanya krisis global. Tetapi jika bicara rute domestik, tetap bergairah. ”Lion Air menargetkan mengangkut 27 juta penumpang pada 2012,” katanya.
Ketua Umum  Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Emirsyah Satar menegaskan, krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa belum berpengaruh terhadap bisnis penerbangan nasional. “Hingga kuartal ketiga 2011  pertumbuhan penerbangan dunia melambat hanya tumbuh 3,7 persen, sementara pertumbuhan nasional mencapai 15 persen,” ungkapnya.
Emir yang juga  Dirut Garuda Indonesia mengungkapkan, maskapai yang dipimpinnya  saat ini mengalami pertumbuhan pasar sebesar  39 persen untuk pasar domestik, meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 26 persen.
Sedangkan pasar internasional tumbuh sebesar 32 persen diatas maskapai lainnya yang sebesar 10 persen. Saat ini, Garuda menguasai pasar penerbangan nasional sebesar 23 persen, masih dibawah Lion Air yang mencapai hampir 50 persen.
“Walau ada krisis ekonomi global,  berbagai rencana maskapai lokal  untuk mengadakan pesawat terus berjalan dan tidak terpengaruh oleh krisis. Lion Air, Sriwijaya Air dan Garuda tetap terus menambah pesawat,” katanya.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menargetkan peningkatan jumlah penumpang pada 2012 sebesar 15 persen menjadi 19,55 juta orang dari target tahun ini  17 juta orang. ”Ekspansi rute domestik dan armada akan mempengaruhi jumlah penumpang yang diangku tahun depan,” katanya.
Berdasarkan catatan, hingga 30 September 2011 Garuda mengoperasikan 85 unit pesawat. Perseroan masih akanmenerima 7 unit pesawat hingga akhir 2011. Pada 2012, Garuda akan menerima sebanyak 6 pesawat.
Sementara itu, Direktur Komersial Batavia Air Sukirno Sukarna menargetkan jumlah penumpang yang diangkutnya pada 2012 sebanyak 7,7 juta penumpang naik dari target 2011 sekitar 7 juta penumpang. ”Tambahan pesawat dan daya beli masyarakat yang terus naik menjadi pertimbangan ditetapkan target tersebut,” katanya.
Dijelaskannya, untuk dapat mencapai target pertumbuhan jumlah penumpang, perseroan bernecana menambah tiga Airbus A320 dan tiga Airbus A321. Saat ini Batavia Air mengoperasikan 35 pesawat.
Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo mengungkapkan, pada 2012 maskapainya mematok target mengakut 10,40 juta penumpang, terdiri dari 10 juta penumpang rute domestik dan 400 ribu penumpang internasional.
Saat ini Siriwjaya Air mengoperasikan 30 unit pesawat, terdiri dari 12 Boeing 737-200, 12 Boeing 737-300, dan enam Boeing 737-400. pada Desember 2011, Sriwijaya masih akan mendatangkan satu unit Boeing 737-200 dan Boeing 737-400.
Toto mengungkapkan, maskapainya berencana mengakuisisi 12 unit pesawat milik Continental Airlines, maskapai asal Chicago, Amerika Serikat, secara bertahap mulai April-Desember 2012. Kedatangan pesawat tersebut untuk menggantikan 12 unit Boeing 737-200 yang akan di-phase out perseroan.
”Pengadaan pesawat dilakukan dengan skema lease to purchase dalam waktu 12 tahun. Harga per unit berkisar lima-tujuh juta dollar AS,” katanya.
Selain mendatangkan 12 Boeing 737-500, Sriwijaya juga berencana mendatangkan lima Boeing 737-800 NG dengan status sewa dan lima Embraer E195. Pengiriman lima pesawat Embraer yang dimulai Agustus 2012 merupakan bagian dari pemesanan 20 unit Embraer E175 dan Embraer E195 yang telah dipesan pada November 2010 dengan harga 40,50 juta dollar AS per unit.
Pada kesempatan lain, Sekjen Inaca Tengku Burhanudin mengatakan, bisnis penerbangan berbeda dengan jasa lainnya dimana jumlah penumpang yang diangkut seasonal. ”Biasanya bulan-bulan yang kosong itu ditutup oleh masa peak season seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru,” katanya.
Diharapkannya, pemerintah terus mendukung bisnis penerbangan dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti bandara yang nyaman dan akses yang mudah ke fasilitas tersebut.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan pemerintah akan menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan bandar udara (Bandara) di tanah air yang masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan nilai investasi mencapai 32 triliun rupiah. Peluang bagi swasta dibuka dalam bentuk tender dengan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP).
“Ada sejumlah bandara yang harus dikembangkan dan masuk dalam program MP3EI.  Pengembangannya butuh dana 32 triliun rupiah,” katanya.
Diungkapkannya,  dari total kebutuhan dana tersebut, pemerintah hanya mampu menyiapkan dana sebesar 20 persen atau 6,4 triliun rupiah. Sisanya akan dibuka kesempatan bagi investor berpartisipasi dengan menggunakan pola kerjasama pemerintah dan swasta atau PPP.
“Nanti investor akan kembangkan atau bangun bandara dan mereka akan mendapat konsesi, setidaknya 30 tahun atau bisa diperpanjang,” jelasnya.
Dikatakannya, pola yang diadopsi untuk pengembangan dan pembangunan sejumlah bandara ini akan sama seperti yang diberlakukan untuk proyek di pelabuhan, yakni menggunakan pola PPP. Bagi operator, misalnya PT Angkasa Pura I atau II  yang sudah lebih dulu mengelola bandara terkait, dan berinisiatif untuk mengembangkan, akan mendapat hak keistimewaan.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s