Kaleidoskop Transportasi 2011

Sektor transportasi selama tahun 2011 mendapatkan beberapa kejadian penting yang patut dicatat. Pada  kuartal I/2011, di sektor penerbangan terjadi dua hal yang sangat bertolak belakang.
Maskapai pelat merah, Garuda Indonesia, berhasil melantai di bursa saham walaupun korbannya dua penjamin emisi yang ditunjuk karena daya serap dari publik kurang. Sementara Mandala Airlines justru dinyatakan bangkrut.
Mandala menghentikan operasionalnya mulai Kamis (13/1) untuk melakukan restrukturisasi perusahaan seiring hutang yang membelitnya. Maskapai ini baru mendapatkan investor baru jelang kuartal III/2011 yakni Saratoga Capital dan Tiger Airways. Saat ini Mandala tengah mencari pesawat untuk memenuhi regulasi penerbangan yakni lima milik sendiri dan lima sewa. Diperkirakan pada Februari 2012, Mandala kembali mengangkasa.
Sementara Garuda Indonesia walau harga sahamnya terseok-seok, namun kinerjanya makin kinclong sejak melantai di bursa saham.  Selama periode Januari-November 2011, Garuda  meraup omset   22.971,5 triliun rupiah. Sedangkan laba periode berjalan (income current period) sebesar  725 miliar rupiah.
Pada periode Januari – November 2011 Garuda Indonesia berhasil mengangkut sebanyak 15.45 juta penumpang atau meningkat sebesar 36,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 11.33 juta penumpang. Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) juga  meningkat  sebesar 26 persen menjadi 29.67 miliar dari 23.54 miliar seat kilometer pada tahun 2010. Selain itu, “yield” penumpang meningkat sebesar 13 persen menjadi  9.6 sen dollar AS dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 8,5 sen dollar AS.
Tak tangung-tanggung, jika pasar saham kondusif pada tahun depan, Garuda ingin melakukan buy back dari saham yang telah dilepas ke publik.
Berbanding terbalik dengan Garuda, Indonesia Air Asia (IAA) akhirnya menunda rencana melantai di bursa pada kuartal IV 2011 karena menilai kondisi pasar belum kondusif. Sebelumnya, , perseroan akan melepas sekitar 15-20 persen saham ke pasar yang memiliki konsekuensi terdilusinya secara proporsional kepemilikan saham lama. Target dana yang diharapkan dari IPO itu sekitar 150-200 juta dollar AS
Masih dari sektor penerbangan, Kemenhub akhirnya mengeluarkan Surat Izin Angkutan Udara (SIAU) atau Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) bagi maskapai Pacific Royale yang akan bermain di  layanan full service.
Sementara  Lion Air, menambah pesawat baru dari pabrikan Boeing Company sebanyak  230 unit, terdiri dari 29 pesawat Boeing 737 – 900 ER dan 201 Boeing 737 MAX.
Berbicara kecelakaan di penerbangan, tentu jatuhnya MA-60  milik Merpati Nusantara Airlines di  Kaimana salah satu yang patut dicatat. Jatuhnya pesawat tersebut tidak hanya membawa banyaknya jatuh korban, tetapi membuka masalah pengadaan armada di Merpati yang dinilai banyak diintervensi pihak-pihak berkuasa dan keadaan keuangan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu sendiri yang tidak kunjung positif.
Kecelakaan lain dialami oleh PT Nusantara Buana Air (NBA) di Aceh yang berujung  dibekukan  sementara (suspend) lisensi terbang (air operator certificate/AOC) 135 maskapai  terhitung sejak Selasa (4/10).
NBA adalah salah satu operator penerbangan perintis di Tanah Air. Maskapai itu melayani 38 rute perintis di sembilan provinsi, di antaranya Sumatera 20 rute, Sulawesi lima rute, dan sisanya di Kalimantan, NTT, dan Maluku. Dengan berhentinya operasional NBA,  layanan terbang perintis di Indonesia akan berkurang
Sementara Susi Air juga mengalami dua kecelakaaan dalam waktu berdekatan di Papua . Walau korban minim, tetapi menjadi pukulan bagi perusahaan tersebut   karena selama ini tidak pernah mengalami kecelakaan.
Hal lain yang menarik selama 2011 adalah masalah penerapan Regulated Agent (Agen Inspeksi) yang terus menuai pro kontra bagi pelaku industri. Bahkan demo pun pernah dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta.
Di sektor Kereta Api terdapat dua hal yang menarik selama 2011 yakni masalah ditundanya kenaikan tarif kereta ekonomi dan disahkannya subsidi BBM bagi angkutan barang kereta api. Hal lainnya adalah kepastian pembangunan Kereta Bandara yang akan didukung oleh peraturan presiden dan dimulainya tender MRT sebentar lagi.
Di sektor laut sepanjang 2011 pada semester I sibuk dengan masalah wacana merevisi UU Pelayaran khususnya tentang Cabotage. Akhirnya , solusi dari tarik menarik tersebut diterbitkanlah keputusan menteri perhubungan yang memberikan batas waktu khusus cabotage bagi kapal spesifikasi off shore.

Menteri perhubungan pun pada 19 Oktober mengalami pergantian dari Freddy Numberi ke EE Mangindaan. Sesama kader Partai Demokrat ini berjanji untuk meneruskan pekerjaan pendahulunya terutama membangun konektivitas transportasi.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s