191111 Daily Deal Mulai Dilirik

Pada awal November ini, pasar bursa global tersentak dengan aksi penguasa layanan daily deal dari Amerika Serikat, Groupon. Perusahaan yang menawarkan berbagai kupon dan diskon itu kini bernilai hampir 13 miliar dollar AS.

Angka itu didapat setelah menjual 35 juta saham dengan nilai 20 dollar AS per lembar saham. Penawaran ini di atas harga awal kala Initial Public offering (IPO) yang sebelumnya ditetapkan 16 hingga 18 dollar AS per lembar saham. Diperkirakan dari hasil IPO perusahaan yang menghubungkan 150 juta konsumen setiap hari itu berhasil meraup keuntungan sekitar 700 juta dollar AS.

Sontak keberhasilan Groupon ini mengangkat gengsi dari bisnis daily deal yang baru hangat kembali dua tahun lalu secara global. Untuk diketahui, Daily Deal adalah bagian dari e-commerce. Daily deal memiliki kekuatan sebagai mediator dari merchant dengan konsumen yang menawarkan diskon sebagai alat dari pemasaran.

Laporan dari lembaga riset pemasaran Daily Finance belum lama ini mengungkapkan secara global pada tahun ini omset dari e-commerce bisa mencapai 680,6 juta dollar AS atau naik 19 persen dibandingkan tahun lalu. Pada 2015 diperkirakan bisa mencapai 1,4 triliun dollar AS. Negara Asia yang menjanjikan untuk pengembangan e-commerce adalah India, Arab Saudi, dan Indonesia. Di Asia sendiri diperkirakan pertumbuhan omset e-commerce mencapai 27 persen.

Business Stragetgy Director DealKeren Indonesia Sandra Tristiani menjelaskan, konsep bisnis dari daily deal itu ada 9 model. “Masing-masing model ada keunikan sendiri. Di dunia pemain daily deal ini naik sekitar 500 persen, tetapi banyak juga yang berguguran,” katanya di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, 9 tren dari daily deal itu adalah, produsen besar yang menawarkan daily deal, daily deal yang hanya menawarkan konser tiket, daily deal dengan waktu yang dibatasi, daily deal untuk orang yang ingin berbelanja, daily deal untuk hal yang dibutuhkan, daily deal dari par retailer, daily deal untuk special interest, daily deal agregator, dan daily deal untuk barang-barang yang dibeli dari hasil daily deal.

Managing Director DealKeren Adrian Suherman mengatakan, konsep daily deal masih baru di Indonesia yakni setahun lalu dengan jumlah pemain sekitar 30 perusahaan. DealKeren sendiri hadir di Indonesia pada Agustus lalu.

Setelah diakuisisi oleh LivingSocial dari Amerika Serikat, perusahaan ini kian maju dengan menguasai 40-50 persen pangsa pasar. Saat ini DealKeren memiliki 800-900 ribu member dengan 700 merchant yang menawarkan 10 deal per hari. Sekitar 100 ribu voucher terjual tiap bulannya dimana transaksi per orang mencapai 150-200 ribu rupiah.

Menurutnya, model bisnis daily deal membutuhkan waktu dan edukasi untuk berkembang terutama memberikan pemahaman bagi merchant bahwa ini bukan saluran distribusi tetapi pemasaran, sehingga bisa mengakuisisi segmen baru dan retensi pelenggan lama.

“Jika ini dilihat sebagai saluran pemasaran ada pergeseran dari tadinya menempatkan iklan di media ke daily deal. Jadinya, harga yang ditawarkan walau dibanting tidak dilihat sebagai suatu kerugian,” katanya.

Raksasa Bermain
Melihat gurihnya bisnis daily deal, raksasa telekomunikasi lokal, Telkom pun tertarik ikut bermain melalui anak usaha Infomedia yang meluncurkan soft launching http://www.goodizz.com sebagai situs diskon pada 1 November lalu. Grand launching akan dilakukan pada 17 Desember 2011.

Presiden Direktur Infomedia M. Awaluddin mengungkapkan, perseroan membenamkan investasi sebesar satu miliar rupiah untuk membangun situs tersebut. Ditargetkan hingga akhir tahun nanti 100 ribu member dan 100 merchant terdaftar. Posisi saat ini terjaring 5.000-an member dengan 26 merchant 26 merchant. Pada 2012 diharapkan adasatu juta member dan 1000 merchant terdaftar dengan omset sekitar 3 miliar rupiah.

“Merchant yang dijaring tidak dengan segmentasi khusus karena fokus kepada memperbesar komunitas merchant. Secara umum segmentasi merchant adalah kuliner, life style, gadget elektronik, kesehatan, fashion dan traveling package. Transaksi daily deal targetnya di angka 200 pieces per item produk, dengan transaksi per hari paling tidak harus laku 10 item produk,” katanya.

Awal optimistis, target merchant bisa tercapai mengingat Infomedia memiliki Yellow Pages dengan 200 ribu pelanggan, dimana identik dengan potensial merchant buat GooDizz. Kekuatan merchant existing buat Infomedia adalah karena merchant tersebut akan di Up Sell dengan produk produk digital services lainnya dari Infommedia, seperti yellowpages.co.id, yp trading.co.id, infojajan, dan call my name

“GooDizz secara prioritas akan menjadi media belanja diskon online untuk produk-produk dari Telkom group. Sejauh ini GooDizz sudah menawarkan handset dan gadget elektronik dari PINs (tablet, handset flexi, modem USB, dll). Saat ini GooDizz sedang menyiapkan kerja sama dengan Insing (anak usaha Singtel Digital Media) di Singapura untuk Cross selling berbeda territory antar merchant,” jelasnya.

Praktisi telematika Wvgen Wong mengingatkan, hingga sekarang daily deal belum bisa dianggap sebagai mesin uang. “Perusahaan lebih menganggap ini sebagai alat pemasaran karena jumlah pelanggannya yang besar. Perusahaan menggandeng daily deal agar mereknya dikenal dan sebagai alternatif media iklan. Jika IPO Groupon itu sukses lebih pada bublle,” katanya.

Menurutnya, tantangan terberat bagi pengelola daily deal adalah membuat merchant mau bekerjasama secara lama karena biasanya pelanggan hanya mau mencoba sebanyak dua hingga tiga kali. “Di Indonesia mengingat masyarakatnya sangat sosial, akan diminati. Tetapi tantangannya bagaimana membuat masyarakat terikat. Saya rasa jumlah pemain akan berkurang dan terkonsilidasi nantinya,’’ katanya.

Sedangkan menurut Praktisi telematika Mochammad James Falahuddin pasar daily deal di Indonesia mulai ramai dan banyak pemain yang kloning pemimpin pasar. ‘’Kuncinya jika ingin sukses adalah volume merchant, member, dan deal-nya. Infomedia memiliki kans besar karena memiliki data direktori,’’ katanya

Hal lainnya yang harus dilakukan oleh Infomedia adalah mendongkrak rating goodizz mengingat hingga sekarang belum tercatat di Alexa. ‘’Para pemimpin di Infomedia tidak bisa lagi menerapkan gaya pemasaran standar mengembangkan situs. Mereka harus mencoba sesuatu yang berbeda karena masuk ke bisnis yang sudah dikuasai oleh pemain internet dengan dukungan pemodal global,’’ katanya.

Sementara Adrian menyakini, para pemain daily deal akan berguguran nantinya kala menerjuni bisnis ini mengingat tidak mudah mengembangkannya. ‘’Terlihat dari luar ini bisnis yang mudah, tetapi sebenarnya tidak gampang. Di China dan Amerika Serikat setiap hari ada yang tutup. Saya yakin di Indonesia akan mengalami hal yang sama. Nantinya mereka yang serius akan bertahan,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s