101111 Meretas Jalan ke Lantai Bursa

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin baik telah memicu berkembangnya bisnis sektor telekomunikasi. Banyak perusahaan yang tidak hanya mengandalkan jasa teleponi dasar mulai menggeliat. Salah satunya adalah anak usaha Telkom, Infomedia Nusantara (Infomedia).

Infomedia yang semula memiliki tiga portofolio bisnis yaitu Digital Media & Rich Content (DMRC), Contact Center & Outsourcing Services (CCOS) dan Printing & Publishing, kini telah berkembang memiliki tujuh portofolio bisnis, dimana dua diantaranya adalah portofolio bisnis baru yakni Research & Consulting Services dan Commerce.

Presiden Direktur Infomedia M. Awaluddin mengungkapkan, hingga kuartal III/2011, Infomedia berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar 771 miliar rupiah atau mengalami pertumbuhan sebesar 24,5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu sebesar 619 miliar rupia. Pencapaian selama 9 bulan ini telah membukukan sekitar 77 persen dari total target tahun 2011, yaitu satu triliun rupiah.

Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) sampai dengan Triwulan III/2011 tercapai 181 miliar rupiah atau tumbuh sebesar 30,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Sedangkan laba bersih Triwulan III/2011 tercapai sebesar 100 miliar rupiah atau tumbuh 28,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yaitu sebesar 78 miliar rupiah.

Sampai dengan triwulan III-2011, total asset Infomedia tumbuh 15,3 persen dari 626 miliar rupiah menjadi 722 miliar rupiah . Total ekuitas Infomedia juga tumbuh sebesar 19.3 persen dari 381 miliar rupiah menjadi 455 miliar rupiah di tahun 2011.

Menurut Awaluddin, Infomedia juga menunjukan kinerja operasional yang luar biasa, yang ditandai dengan pertumbuhan jumlah customer yang signifikan dari beberapa portofolio produk yang dikelola.

Untuk portofolio Advertising & Directory, jumlah customer Online Advertising yang dikelola telah mencapai 581 customer atau tumbuh 141 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Customer Mobile Content mencapai 378 customer atau tumbuh sebesar 7460 persen customer jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu. Jumlah customer Direktori Printing/BPT yang dikelola oleh Infomedia sampai dengan Triwulan III-2011, telah mencapai sekitar 15.375 customer atau tumbuh 3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Pada portofolio CRM services, sampai dengan Triwulan III-2011, Infomedia telah membukukan total call production sekitar 213 juta call untuk jasa contact center yang telah diberikan dengan total customer untuk portofolio ini berjumlah 88 customer.

Pendapatan yang dicapai melalui portofolio Printing dan Publishing triwulan III-2011 juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa, yaitu sebesar 57 miliar rupiah atau tumbuh 43 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Untuk terus memperluas pasar di tahun 2012, beberapa produk/layanan baru telah dipersiapkan oleh Infomedia. Beberapa layanan yang telah dipersiapkan tersebut diantaranya adalah melalui portofolio bisnis CRM services dan Media Directory & Advertising.

Untuk portofolio CRM services, layanan Hosted Call Center akan dikembangkan dengan menggarap pasar Small Medium Enterprise (SME). Sedangkan untuk portofolio Media Directory & Advertising, Infomedia akan memperluas pasar Digital Advertising melalui produk/layanan digital signage.

“Kami juga baru melakukan soft launching http://www.goodizz.com sebagai situs diskon pada 1 November lalu. Grand launching akan dilakukan pada 17 Desember 2011. Kita targetkan omsetnya tahun depan mencapai tiga miliar rupiah,” katanya.

Diungkapkannya, agresifnya perseroan mengembangkan lini bisnis tak bisa dilepaskan dari ambisi ingin melantai di pasar modal pada 2013 nanti. “Kami harus menembus omset satu triliun rupiah tahun ini, selain itu portofolio bisnis harus beragam agar nafas bermain di industri ini menjadi panjang,” katanya.[dni]

101111 Telkom Dukung KTT Asean

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) mendukung penuh kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean atau 19th ASEAN Summit 2011 yang berlangsung di Nusa Dua Bali, 9-19 November nanti dengan mempersiapkan seluruh fasilitas telekomunikasi untuk kesuksesan acara.

”Telkom sebagai telecommunication partner bertanggungjawab mempersiapkan seluruh fasilitas telekomunikasi, berupa penyediaan layanan komunikasi suara (voice) serta data sesuai kebutuhan panitia penyelenggara, para peserta maupun media,” ungkap Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, Telkom menyediakan berbagai layanan dan solusi telekomunikasi secara terintegrasi meliputi link dari Media Center dan ruang konferensi di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) untuk siaran TV broadcasting ke dalam dan luar negeri (Telecast) melalui jaringan satelit Telkom. Selain dukungan solusi teknologi informasi di BNDCC, dukungan teknologi informasi yang difasilitasi Telkom juga tersebar di berbagai lokasi lain, antara lain Bandara Ngurah Rai, Paspampres, kepolisian dan hotel tempat para delegasi menginap.

Khusus untuk keperluan media, Telkom menempatkan menempatkan 2 Satelite News Gathering (SNG), masing-masing di Bandara Internasional Ngurah Rai dan di Hotel Westin.

”Sebagai salah satu operator telekomunikasi yang telah berpengalaman secara global, Telkom berkomitmen penuh mendukung kesuksesan acara 19th ASEAN Summit 2011 ini dengan memberikan pelayanan dan solusi komunikasi serta teknologi informasi terbaik bagi seluruh delegasi dan panitia serta rekan-rekan media yang juga didukung oleh kesiapan petugas lapangan yang akan memastikan kehandalan layanan Telkom,” katanya.

Diungkapkanya, dalam kegiatan ini Telkom juga mendapat kepercayaan untuk memberikan dukungan layanan dan solusi telekomunikasi di kedutaan besar Amerika Serikat dan Kedutaan Besar India. “Kami memandang penting kepercayaan yang diberikan negara kepada Telkom untuk memberikan dukungan dan solusi teknologi informasi dalam event yang sangat penting ini, apalagi selain para kepala negara ASEAN, akan hadir juga para pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama,” ungkapnya.[dni]

101111 CP Tak Berijin Diminta Kembalikan Uang Konsumen

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) meminta penyedia konten (Content Provider/CP) yang tidak memiliki ijin dari regulator untuk mengembalikan uang konsumen.

”Dari hasil evaluasi sementara terhadap pemanggilan empat CP, ditemukenali ada yang tidak memiliki ijin dari BRTI. Kami minta CP tersebut mengembalikan uang konsumen yang diambilnya sejak layanan pertama digelar,” ungkap Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Rabu (9/11).

Dijelaskannya, selain meminta pengembalian uang konsumen, dalam waktu 1×24 jam juga diminta untuk menghentikan layanan ke pelanggan. ”Sedangkan untuk operator yang bekerjasama dengan CP tak berijin tersebut sedang diputuskan bentuk hukumannya dalam pleno minggu ini,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, BRTI menargetkan dapat menginvestigasi sekitar 200-an CP dari 205 yang terdaftar di regulator. BRTI telah memanggil empat CP yakni Extend Media, Kreatif Bersama, Colibri, dan Mobilink.

Colibri adalah CP yang banyak dikeluhkan pelanggan hingga ada yang mengadukan ke pihak berwajib. Sementara Extend Media bermain di layanan mobile advertising yang memanfaatkan platform pop screen milik Celtick. Platform ini ditanam di 3 juta kartu prabayar milik Telkomsel. Omset dari kedua CP konon mencapai 50 miliar rupiah setiap bulannya diluar angka normal yakni sekitar 2-3 miliar rupiah.

GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengatakan, perseroan telah menyempurnakan cara berlangganan SMS Premium dengan menerapkan konfirmasi berlapis dalam sistem registrasi bagi pelanggan yang ingin melakukan aktivasi layanan.

”Mekanisme tiga tahapan dalam sistem registrasi tersebut akan lebih memudahkan pelanggan Telkomsel dalam melakukan kontrol sendiri terhadap pilihan layanan konten yang diinginkannya,” katanya.

Dijelaskannya, ketiga mekanisme sistem registrasi yang diimplementasikan Telkomsel saal ini adalah Opt-In, Dual Click Principle, dan Time Sensitive Services. Opt-In yaitu registrasi dilakukan hanya jika pelanggan melakukan tindakan secara sukarela atau sadar. Dual Click Principle, yaitu proses konfirmasi dan rekonfirmasi melalui dua tahapan pemberitahuan kepada pelanggan sebelum layanan benar-benar diaktifkan. Sedangkan Time Sensitive Service, yaitu mekanisme pemberitahuan melalui notifikasi kepada pelanggan sebelum perpanjangan layanan.[dni]

101111 Manfaatkan Momentum Berjualan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada sektor pengangkutan dan komunikasi pada kuartal III/2011 sebesar 112,85. ITB menjadi indikator kepercayaan pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya. Semakin tinggi ITB, maka pelaku usaha kian optimistis terhadap kondisi sektor yang digelutinya.

Secara mikro, tingginya kepercayaan pelaku usaha kepada sektor komunikasi dapat dilihat dari ajang Indocomtech 2011 yang usai digelar pekan lalu. Pameran tersebut berhasil meraup transaksi senilai 630 miliar rupiah atau naik 5 persen dibandingkan kegiatan serupa pada 2010 sebesar 600 miliar rupiah.

Total pengunjung yang datang ke pameran Teknologi Informasi (TI) terbesar di Tanah Air itu sekitar 210 ribu pengunjung atau naik 5 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 200 ribu pengunjung.

Ajang Strategis
Product Development Division Head Smartfren Sukaca Purwokardjono mengakui Indocomtech merupakan ajang strategis untuk mengenalkan produk dan layanan, monitoring tren pasar, dan selera konsumen.

“Produk Smartfren laris hamper 10 ribu unit di Indocomtech lalu, terutama dongle dan ponsel X-Stre@am,” katanya di Jakarta, kemarin.

Deputy Chief Executive Officer Smartfren Djoko Tata Ibrahim mengakui, Indocomtech salah satu momentum yang dapat dimanfaatkan menjelang tutup tahun untuk meningkatkan penjualan. ”Di Indocomtech kami menargetkan semua modem Smartfren laris 3 ribu unit,” katanya.

GM MDS Channel Development XL Axiata Handono Warih mengungkapkan, penjualan yang paling tinggi selama ajang Indocomtech adalah perangkat berbasis android baik itu ponsel pintar atau tablet. “Produk dari Nexian yang dibundling dengan paket internet XL ramai peminat. Untuk paket dengan Nexian ada gratis data 3 bulan dan 6 bulan gratis bicara ke sesama XL. Paket internetnya seharga 99 ribu rupiah, terjual hampir lima ribu unit,” ungkapnya.

Nexian mengandalkan produk tabletnya, yaitu Genius Tab 7. Bekerja sama dengan XL, tablet ini didiskon cukup besar menjadi seharga 1.5 juta rupiah dari dari harga resmi sekitar 2.250 juta rupiah. Selain tablet, Nexian juga melakukan diskon untuk produk ponsel Ultra Journey dan modem Wi Fi router Mi Fi.

Menurut Warih, ajang Indocomtech salah satu pendorong menyegarkan pasar dala kondisi industri yang sedang jenuh. ”Kita akui ini sebagai ajang jualan. Untuk pamer teknologi ada Indonesia Cellular Show (ICS),” katanya.

Presiden Direktur Bakrie Connectivity Erik Meijer mengungkapkan, secara total semual lini produk yang dimilikinya terjual sebanyak 4 ribu unit. Produk yang dijual dengan paket internet berlangganan harga khusus adalah BlackBerry, tablet, dan modem.

Modem dilepas mulai 99 ribu rupiah, BlackBerry (Rp 499 ribu), AHAtouch (Rp 999 ribu), dan tablet terbaru AHA Coolpad (Rp 2.2 juta).

”Indocomtech ajang penting karena selalu menghasilkan nominal yang atraktif untuk penjualan,” katanya.

Sementara VP Channel Management Telkomsel Gideon Edi Purnomo mengatakan, perseroan tidak ikut dalam ajang Indocomtech karena sedang fokus melakukan penjualan ke beberapa daerah untuk meningkatkan akuisisi pelanggan. ”Kami tidak ikut Indocomtech, hanya mendukung mitra MLW Telecom melalui produk Speed Up yang menawarkan Smart TV dan Modem,” katanya.

Dijelaskannya, alasan lain tidak mengikuti ajang tersebut karena pada dua pameran sebelumnya yakni ICS dan Pekan Raya Jakarta (PRJ) sudah habis-habisan. ”Lagipula Indocomtech lebih identik dengan komputer,” kilahnya.

Konsep Diubah
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Suhanda Wijaya menyarankan agar stigma Indocomtech sebagai ajang berjualan ditepis maka frekuensinya diatur dan lebih mengedepankan knowledge dan teknologi.

“Sekarang Indocomtech dianggap hanya sebagai momentum berjualan. Ini harus diwaspadai karena bisa menimbulkan kontraproduktif secara vertikal maupun horizontal,” katanya.

Untuk diketahui, ajang Indocomtech diambil alih oleh Yayasan Apkomindo Indonesia (YAI) sejak 2007 dari Apkomindo. Bahkan, pengurus DPP Apkomindo pada 19 September 2011 telah dibekukan oleh Dewan Pertimbangan Asosiasi (DPA) Apkomindo dan tidak diperkenankan melakukan kegiatan apapun, serta menyerahkan keuangan dan aset.

Polemik antara YAI dan Apkomindo bermula dari diambilalihnya hak penyelenggaraan Indocomtech oleh YAI dari Apkomindo sejak 2007 yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan pameran serupa di daerah seperti Yogyakarta dan Surabaya.

Sebelum 2007, selama 15 tahun penyelenggaraan Indocomtech dilakukan oleh Apkomindo yang memosisikan diri sebagai asosiasi, tetapi sejak 2007 mereka menyebut sebagai Yayasan Apkomindo. Kehadiran YAI pada awalnya ditujukan untuk kegiatan bakti sosial. Hanya saja untuk pendanaan aktivitasnya diperlukan kegiatan sebagai sumber omset. Selain Indocomtech, YAI juga menggelar Festival Komputer Indonesia (FKI).

Dyandra Promosindo yang menjadi pelaksana terikat kontrak kerja sama dengan Apkomindo hingga 2015 untuk menyelenggarakan pameran Indocomtech.

Apkomindo sendiri sejak 2007 juga menyelenggarakan kegiatan pameran komputer tahunan bernama National IT eXpo (NIX) yang diadakan di beberapa kota besar termasuk Jakarta.

Ketua Umum YAI Hidayat Tjokrodjojo menjelaskan, jenis pameran teknologi itu terbagi dua. Pertama business to community, yakni sebuah pameran yang memang dibuat untuk berjualan.

Sedangkan jenis pameran kedua adalah business to business. Sebuah pameran yang memang menghadirkan sejumlah produk baru dari masing-masing vendor, seperti Computex di Taiwan.

“Indocomtech sudah mengarah ke business to business. Saat ini sudah banyak vendor yang mulai memperkenalkan produk hanya pada acara Indocomtech,” bantahnya.[dni]

101111 Kemenkominfo Terbitkan Aturan Penataan 3G

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) segera mengeluarkan aturan penataan kanal frekuensi 3G dalam bentuk Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) pada Desember 2011.

Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, pemerintah memberikan tenggat waktu sampai akhir tahun ini kepada Telkomsel untuk berpindah kanal agar penataan berjalan mulus sebelum aturan resmi ditandatangani.

“Penataan frekuensi 3G, berupa penambahan satu kanal tambahan kepada operator dan kemudian dilanjutkan dengan penambahan kedua sebesar 5 MHz adalah dimaksudkan untuk merapikan spektrum,” ujarnya di Jakarta, Rabu (9/11).

Diungkapkannya, pemerintah sudah memutuskan bahwa kanal 1 dan kedua dialokasikan untuk Hutchison CP (Tri), kanal k3-3 dan ke-4 untuk Axis, kanal ke-5 dan ke-6 untuk Telkomsel dan seterusnya.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika M Budi Setiawan menambahkan, sejak Maret 2011 telah mengeluarkan surat mengenai penataan pita Frekuensi 2.1 Ghz yang dibuat berdasarkan hasil rapat pleno BRTI tentang pembahasan Second Carrier 3G, yang mengharuskan Telkomsel melakukan migrasi mengingat kanal ditempati Telkomsel akan dialokasikan kepada operator lain.

Dalam surat tersebut juga dituliskan secara jelas bahwa keseluruhan proses migrasi akan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan dan akan dimulai sejak Menkominfo mengeluarkan keputusan terkait penataan pita frekuensi 2.1 GHz.

Pengalokasian kanal kedua 3G ini juga sebenarnya telah selesai dibahas dan telah ditetapkan oleh Keputusan Menkominfo No 268 Tahun 2009, tentang Penetapan Alokasi Tambahan Blok Pita Frekuensi Radio bagi Penyelenggara jaringan Bergerak Selular pada Pita 2,1 Ghz.

Menurut Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi makin cepat regulasi itu diputuskan maka akan semakin baik bagi industri.

”Saat ini kepastiannya adalah ketidakpastian itu sendiri. Lambatnya penetapan Permenkominfo bisa jadi ada pertimbangan lain, misalnya, ada bargaining tertentu, atau buying time sampai publik capai sendiri, atau karena tidak mau tahu bahwa semakin cepat semakin baik, dan masih banyak alasan lain, saya hanya menebak saja,” tuturnya.

Direktur Layanan Korporasi Three Sidarta Sidik mengatakan, jika aturan makin lambat keluar, ada potensi setoran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang akan hilang.

Sementara Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno meminta penataan ulang secara keseluruhan karena masa depan spektrum frekuensi mengarah kepada teknologi yang konvergen, yaitu Long Term Evolution. [dni]