091111 Dotcom Lokal Minim Dukungan

Kala situs berita Detikcom diakuisisi oleh Para Group senilai 60 juta dollar AS, banyak kalangan pelaku usaha dotcom yang kecewa. Bagaimana tidak, detik.com yang ditaksir memiliki omset sekitar 25 miliar rupiah setiap tahunnya, tadinya diharapkan akan melantai ke bursa untuk mencari pendanaan.

Namun, realita berbicara lain. Para penjamin emisi yang didekati mengatakan nilai omset sebesar itu terlalu kecil. Minimal 10 kali lipat dari angka diatas jika ingin ditawarkan ke bursa. Belum lagi syarat untuk Initial Public offering (IPO) yang berat dimana konon harus mengeluarkan dana hingga 15 miliar rupiah. Akhirnya manajemen detik.com mengambil langkah realistis yakni menjual kepemilikan ke konglemerasi.

Cerita seperti detik.com juga dialami oleh disdus.com yang dibeli oleh Groupon. Yahoo mengakuisisi Koprol.com, atau sebagian saham Kaskus yang diakuisisi oleh anak usaha Djarum, Global Digital Prima (GDP).

Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (Mikti) Indra Utoyo mengatakan, pasar capital di Indonesia masing menganut mazhab aset fisik, belum berbasis aset kreatifitas dan inovasi dalam menilai satu perusahaan, sehingga ini menyulitkan bagi pemain dotco untuk melantai di bursa.

“Modal venture capital untuk start up dotcom di Indonesia belum jadi pola. Sementara di Amerika Serikat, sudah menjadi praktek biasa. Apalagi disana markasnya perusahaan dotcom,” katanya.

Hal lain yang menjadi kendala bagi dotcom lokal adalah masalah kesiapan industri dan ekosistem bisnis berbasis internet yang memang masih tahap embrionic, sementara digital company seperti Groupon, Google, Yahoo, sudah memiliki kekuatan ekosistem yang baru agar bisa berbeda dan kompetitif.

Anggota Dewan Investasi Komite Nusantara Incubation Fund Erik Meijer mengatakan, jika perusahaan dotcom ingin melantai di bursa, maka harus memiliki valuasi dan konvergen dengan bisnis lainnya. Hal ini yang terjadi dengan langkah Visi Media Grup dimana di dalamnya yang di-IPO-kan tidak hanya portal berita Viva News, tetapi stasiun Televisi milik Bakrie Group seperti TV One dan ANTV.

“Model ini yang sudah terbukti diterima pasar. Sayangnya di Indonesia situs lokal masih fokus ke pemberitaan, forum public, dan lainnya. Ini belum menarik. Mestinya tahun depan banyak ide baru yang mungkin relevan akan muncul karena bisnis internet ini sangat cepat berkembang dan kreatifitas di Indonesia sangat tinggi,” katanya.

Menurutnya, munculnya fenomena dijualnya kepemilikan di tengah jalan tak bisa dilepaskan dari keinginan mengembalikan investasi dan mencari dana pertumbuhan ke depan, sehingga akhirnya menyerah di tengah jalan dan membiarkan perusahaan diakuisisi oleh pemain besar.

Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin mengungkapkan, para venture capitalist yang masuk ke dunia TI Indonesia hanya mau menginvestasikan uang ke para pebisnis start up yang sudah mempunyai mekanisme monetizing yang sudah menghasilkan.

”Kalau investor yang masuk seperti itu namanya bukan angel investor, tetapi kelompok yang takut kehilangan duit. Beda dengan di Amerika Serikat dimana yang masuk angel investor dimana tertarik pada prospek dan potensi pendapatan sehingga bermunculan yang seperti Facebook, Twitter dan lainnya,” katanya.

Praktisi telematika lainnya, Sapto A Anggoro menyarankan, perusahaan dotcom lokal harus pintar-pintar menaikkan value dengan menambah portofolio layaknya yang dilakukan oleh Groupon.

Sementara penggagas Bubu Award Shinta Dhanuwardoyo mengakui dotcom lokal belum bisa menghasilkan uang yang layak untuk dibawa melantai ke bursa. ”Indonesia masih mencari bentuk yang ideal pola bisnis dotcom-nya. Karena itu perlu dukungan dari venture capitalist untuk mentoring,” katanya. [dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s