091111 Pacific Royale Janji Buka Pasar Baru

JAKARTA–Maskapai Pacific Royale yang baru saja mengantongi Surat Izin Angkutan Udara (SIAU) atau Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) berjanji akan membuka pasar baru di layanan full service agar bisa bersaing di industri penerbangan.

“Pacific Royale tidak akan mengambil rute-rute Garuda Indonesia selaku kompetitor di kelas full service (layanan penuh). Kami akan ambil rute yang tidak banyak didatangi Garuda Indonesia,” ungkap Managing Director Pacific Royale Samudera Sukardi di Jakarta, Selasa (8/11).

Dijelaskannya, langkah itu dilakukan perseroan karena ini porsi pasar full service masih sedikit dibanding pasar low cost carier (LCC) atau tarif rendah. “Ini adalah alasan dibidik pasar full service. Kalau masuk kelas LCC, artinya kami nekat karena sudah banyak yang memasuki pasar ini,” jelasnya.

Ditargetkannya, armada Pacific Royale menerbangi kota-kota di Indonesia mulai Februari 2012 setelah Air Operation Certificate (AOC) dikantongi.

Pacific Royale saat ini sudah memiliki 10 pesawat, terdiri dari lima milik yakni Fokker 50, dan lima sewa Airbus 320. Hal ini untuk memenuhi ketentuan dalam UU No.1/2009 tentang Penerbangan.

“Kami targetkan semuanya datang pada akhir November atau awal Desember. Saat ini masih mengurus AOC, yakni terkait lisensi untuk key personal seperti direktur utama, pilot dan pengelola bandara. Untuk key personal ini harus mengikuti tes dari Kemenhub,” katanya.

Dikatakannya, untuk key person sudah memiliki pilot dari maskapai Mandala Airlines dan Riau Airlines. “Kami sudah memiliki 30 orang pilot mantan pilot Mandala dan Riau Airlines. Mereka sudah kami pekerjakan sejak 6 bulan lalu dan terus digaji meski belum terbangkan pesawat kami. Ini kami lakukan untuk antisipasi begitu terbang langsung memiliki pilot,” jelasnya.

Diungkapkannya, biaya pendirian sebuah maskapai baru tergolong bermodal besar. Pihaknya sudah investasi 25 juta dollar AS sesuai dengan persyaratan dari Kementerian Perhubungan.

Untuk pengurusan SIUP telah dikeluarkan dana lumayan besar yakni 25 juta rupiah. Angka ini lebih besar dibanding maskapai lokal mengingat ada investor asing di Pacific Royale.

“Kami satu-satunya maskapai yang ada pemegang saham asingnya, sehingga lebih banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi,” katanya.

Dkatakannya, dalam 1 tahun pertama akan mengoperasikan 10 pesawat, nantinya akan ditambah seiring waktu. Saat terbang perdana, kemungkinan akan mengoperasikan 4 pesawat.

Pada penerbangan awal nanti, pihaknya akan menerbangi rute-rute domestik terlebih dahulu dengan hub dari Jakarta. Kota-kota yang menjadi pilihan yakni Medan, Batam, dan Surabaya.

“Awalnya kami terbang ke rute domestik dahulu dengan hub dari Jakarta dan sub hub di Medan, Batam, dan Surabaya. Nantinya akan terbangi regional dan internasional,” katanya.

Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan Bambang S. Ervan mengatakan untuk mengurus AOC hanya butuh waktu sebentar, paling lama 2 bulan. “Jika mereka menargetkan terbang Februari, bisa jadi terwujud, yang pentingnya AOC nya sudah selesai,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan menyambut gembira hadirnya maskapai baru yang pasarnya sama dengan perseroan. “Industri penerbangan memang butuh tambahan kapasitas,” katanya.

Namun, diingatkannya, pasar full service sangat keras, justru di LCC yang lebih menguntungkan. “Makanya maskapai sekelas Singapore Airlines SQ mau masuk ke LCC, layaknya kebanyakan maskapai full service mau punya LCC,” jelasnya.

Menurutnya, untuk Full Service, investasi awalnya sangat besar, begitu juga dengan struktur biayanya. Sehingga harga jual menjadi lebih mahal. “Harus punya modal kuat agar nafas panjang. Mustinya kalau baru mulai, lebih baik ke LCC saja. Kalau Lion Air mau ke full service masih lebih rasional karena bisa cross subsidy dari LCC-nya,” katanya.[Dni]

091111 Dotcom Lokal Minim Dukungan

Kala situs berita Detikcom diakuisisi oleh Para Group senilai 60 juta dollar AS, banyak kalangan pelaku usaha dotcom yang kecewa. Bagaimana tidak, detik.com yang ditaksir memiliki omset sekitar 25 miliar rupiah setiap tahunnya, tadinya diharapkan akan melantai ke bursa untuk mencari pendanaan.

Namun, realita berbicara lain. Para penjamin emisi yang didekati mengatakan nilai omset sebesar itu terlalu kecil. Minimal 10 kali lipat dari angka diatas jika ingin ditawarkan ke bursa. Belum lagi syarat untuk Initial Public offering (IPO) yang berat dimana konon harus mengeluarkan dana hingga 15 miliar rupiah. Akhirnya manajemen detik.com mengambil langkah realistis yakni menjual kepemilikan ke konglemerasi.

Cerita seperti detik.com juga dialami oleh disdus.com yang dibeli oleh Groupon. Yahoo mengakuisisi Koprol.com, atau sebagian saham Kaskus yang diakuisisi oleh anak usaha Djarum, Global Digital Prima (GDP).

Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (Mikti) Indra Utoyo mengatakan, pasar capital di Indonesia masing menganut mazhab aset fisik, belum berbasis aset kreatifitas dan inovasi dalam menilai satu perusahaan, sehingga ini menyulitkan bagi pemain dotco untuk melantai di bursa.

“Modal venture capital untuk start up dotcom di Indonesia belum jadi pola. Sementara di Amerika Serikat, sudah menjadi praktek biasa. Apalagi disana markasnya perusahaan dotcom,” katanya.

Hal lain yang menjadi kendala bagi dotcom lokal adalah masalah kesiapan industri dan ekosistem bisnis berbasis internet yang memang masih tahap embrionic, sementara digital company seperti Groupon, Google, Yahoo, sudah memiliki kekuatan ekosistem yang baru agar bisa berbeda dan kompetitif.

Anggota Dewan Investasi Komite Nusantara Incubation Fund Erik Meijer mengatakan, jika perusahaan dotcom ingin melantai di bursa, maka harus memiliki valuasi dan konvergen dengan bisnis lainnya. Hal ini yang terjadi dengan langkah Visi Media Grup dimana di dalamnya yang di-IPO-kan tidak hanya portal berita Viva News, tetapi stasiun Televisi milik Bakrie Group seperti TV One dan ANTV.

“Model ini yang sudah terbukti diterima pasar. Sayangnya di Indonesia situs lokal masih fokus ke pemberitaan, forum public, dan lainnya. Ini belum menarik. Mestinya tahun depan banyak ide baru yang mungkin relevan akan muncul karena bisnis internet ini sangat cepat berkembang dan kreatifitas di Indonesia sangat tinggi,” katanya.

Menurutnya, munculnya fenomena dijualnya kepemilikan di tengah jalan tak bisa dilepaskan dari keinginan mengembalikan investasi dan mencari dana pertumbuhan ke depan, sehingga akhirnya menyerah di tengah jalan dan membiarkan perusahaan diakuisisi oleh pemain besar.

Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin mengungkapkan, para venture capitalist yang masuk ke dunia TI Indonesia hanya mau menginvestasikan uang ke para pebisnis start up yang sudah mempunyai mekanisme monetizing yang sudah menghasilkan.

”Kalau investor yang masuk seperti itu namanya bukan angel investor, tetapi kelompok yang takut kehilangan duit. Beda dengan di Amerika Serikat dimana yang masuk angel investor dimana tertarik pada prospek dan potensi pendapatan sehingga bermunculan yang seperti Facebook, Twitter dan lainnya,” katanya.

Praktisi telematika lainnya, Sapto A Anggoro menyarankan, perusahaan dotcom lokal harus pintar-pintar menaikkan value dengan menambah portofolio layaknya yang dilakukan oleh Groupon.

Sementara penggagas Bubu Award Shinta Dhanuwardoyo mengakui dotcom lokal belum bisa menghasilkan uang yang layak untuk dibawa melantai ke bursa. ”Indonesia masih mencari bentuk yang ideal pola bisnis dotcom-nya. Karena itu perlu dukungan dari venture capitalist untuk mentoring,” katanya. [dni]