081111 Maskapai Revisi Perjanjian dengan Pengelola Bandara

JAKARTA–Maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) berencana akan merevisi isi perjanjian dengan pengelola bandara, khususnya jika Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara diimplementasikan.

“Kami akan revisi semua perjanjian dengan mitra pendukung, baik itu ground handling, bandara, atau katering. Soalnya terkait delay sebenarnya tidak adil jika semua ditanggung oleh maskapai,” ungkap Ketua Inaca Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (7/11).

Seperti diketahui, regulasi yang semula dijadwalkan diimplementasikan pada 8 November 2011, tetapi ditunda hingga waktu yang belum ditentukan itu mengatur enam hal pokok, yakni pertama, penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap dan luka-luka. Kedua, hilang atau rusaknya bagasi kabin. Ketiga, hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat. Keempat, hilang, musnah, atau rusaknya kargo. Kelima, keterlambatan angkutan udara, dan keenam, kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Menurut Emirsyah, belajar dari kejadian Minggu (6/11) dimana lampu landasan di bandara Adisutjipto, Yogyakarta,  mati yang berujung pada ditutupnya bandara sehingga maskapai banyak membatalkan keberangkatan berujung pada kerugian diderita  angkutan penerbangan. Tidak hanya di sisi harus menanggung kewajiban terhadap penumpang, tetapi biaya operasional yang membengkak.

“Selama ini perjanjian dengan pihak bandara hanya hal teknis seperti parking fee, landing fee, dan lainnya. Masalah seperti di Yogyakarta tidak ada. Inilah kenapa kami minta direvisi Permenhub 77 agar  masalah seperti ini diperjelas.  Jangan semua dibebankan kepada maskapai,” katanya.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Capt. Ari Sapari mengungkapkan, dampak yang dirasakan akibat matinya lampu landasan bandara Adisutjipto adalah pada Senin (7/11), 6 penerbangan Garuda tertunda.

“Penundaan 6 penerbangan itu berdampak kepada jadwal penerbangan lainnya, khususnya rotasi pesawat. Satu penerbangan tertunda itu  dampaknya ke 4 penerbangan berikutnya. Belum lagi kami harus mengoperasikan pesawat badan besar tipe B747-400 untuk mengangkut penumpang karena ada dua frekuensi disatukan,” keluhnya.

Secara terpisah, juru bicara Kemenhub ‎​‎​Bambang S. Ervan mendorong adanya perjanjian yang mengatur  tentang pelayanan, hak dan kewjiban termasuk kompensasi bila terjadi gangguan penerbangan antara maskapai dengan pengelola bandara.

“Ini hubungan  bisnis antar dua badan usaha. Kami mendorong adanya perjanjian seperti itu,” katanya.

Terkait dengan kerusakan di Bandara Adisutjipto, Bambang mengatakan,  kerusakan itu pada jaringan lampu landasan. Kejadian ini baru pertama kali terjadi, bisa termasuk force major.

“Kemenhub minta kepada Angkasa Pura  I untuk mengevaluasi menyeluruh terhadap semua peralatan. Kemenhub juga minta agar bagi penerbangan yg divert pihak pengelola bandara berikan bantuan kepada maskapai untuk tangani penumpang,” katanya.

Ditegaskannya,  Kemenhub selama ini sudah menetapkan standar yang harus dipenuhi oleh operator bandara dan  melakukan pengawasan. “Pengawasan dilakukan melalui kalibrasi semua peralatan di bandara apakah sesuai dengan standar ketentuan yang ada,” katanya.

Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengungkapkan,  kerusakan lampu landasan di bandara yang dikelolanya karena hujan sehingga ada  gangguan di trafo dan ada kabel yang lepas sehingga menyebabkan lampu di runway (landasan pacu) mati.

Rusaknya lampu di landasan pacu bandara Yogyakarta ini menyebabkan bandara ditutup sejak Minggu (6/11)pukul 19.00 WIB hingga Senin (7/11) pukul 05.00 WIB.

Menurutnya, kerusakan lampu di runway ini sudah dapat diatasi pada Senin pagi. Penerbangan sudah kembali normal pada pukul 05.00 WIB karena bandara sudah dibuka lagi.

Tetapi pagi Senin (7/11) pagi, hujan deras sehingga masih banyak penerbangan yang terganggu akibat cuaca.

“Kerusakan lampu di landasan pacu ini merupakan yang pertama kali,” katanya.

Tommy menambahkan pihaknya sudah meminta kepada seluruh pengelola bandara di bawah naungannya (13 bandara) untuk antisipasi cuaca khususnya untuk masalah alat-alat elektronik di bandara.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s