081111 Telkomsel Pangkas Tarif SLI

JAKARTA—Telkomsel memberikan diskon 50 persen  untuk tarif panggilan ke luar negeri melalui akses Sambungan Langsung Internasional (SLI) 007 bagi para pengguna pascabayar, kartuHALO hingga akhir tahun 2011 setiap hari Sabtu dan Minggu.

“Program ini  apresiasi bagi para pelanggan kartuHALO untuk menjawab tingginya kebutuhan pelanggan dalam berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat yang ada di luar negeri,” kata  Deputi VP Product Lifecycle Management Telkomsel Ririn Widaryani di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, pelanggan kartuHALO yang berjumlah 2,213 juta nomor dapat menikmati tarif hemat di setiap akhir pekan hingga dua ribu rupiah  per menit untuk menelepon ke negara-negara Asia, Australia, dan Oceania,  2.250 rupiah per menit untuk percakapan ke zona negara di benua Amerika, 2.500 rupiah per menit untuk panggilan ke negara-negara Timur Tengah dan Afrika, serta  2.750 rupiah per menit untuk sambungan ke seluruh negara Eropa. Caranya, cukup tekan 007<kode negara><nomor tujuan>.

Sebelumnya, Telkomsel  bekerja sama dengan operator On Waves menawarkan tarif hema hingga 75 persen bagi ribuan masyarakat Indonesia yang bekerja di kapal dan off shore yang berada di tengah samudra.
On-Wavess sendiri adalah operator terbesar nomor satu yang beroperasi di pelayaran dan laut (maritim) yang melayani coverage telekomunikasi di lebih dari 500 kapal yang berlayar ke seluruh dunia.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno  menjelaskan, langkah bekerjasama dengan On Waves karena  sekitar 30 ribu Warga Negara Indonesia bekerja di kapal-kapal pesiar, komersial maupun rig di tengah laut yang beroperasi di seluruh dunia.

“Jika  menggunakan produk Telkomsel pada jaringan On Waves, pelanggan bisa menelpon  ke mana saja baik ke Indonesia maupun negara lain dengan 1 tarif yaitu 9 ribu rupiah per menitnya,  untuk SMS dikenakan biaya 2.000 rupiah per sms. Sedangkan untuk menerima panggilan, pelanggan hanya dikenakan biaya 11.000 rupiah per menit. Apabila memakai layanan data, pelanggan cukup mengeluarkan 165 rupiah per 10 kb,” katanya.

VP Roaming International, Synergi and Partnership Telkomsel Irfan A. Tachrir mengungkapkan, dari jasa roaming internasional perseroan menargetkan teraup omset sekitar 1,2 triliun rupiah hingga akhir tahun nanti.[dni]

081111 Smart Cloud IBM Gaet 200 Juta Pengguna

JAKARTA— IBM memperkirakan sebanyak 200 juta pengguna akan memanfaatkan layanan smart cloud besutannya pada 2012 nanti mengingat platform yang ditawarkan sangat cocok untuk segmen enterprise.

“Guna mengantisipasi perpindahan ke Smart Cloud milik IBM, kami  menyediakan Cloud Migration Service untuk hosting dan application on demand, sambil meminimalkan resiko perpindahan ke awan,” ungkap  Cloud Computing Leader  IBM Indonesia Kurnia Wahyudi di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, Smart Cloud adalah  piranti lunak dan layanan awan paling canggih di industri yang dirancang khusus untuk segmen enterprise.  IBM SmartCloud ini menawarkan berbagai pilihan, fitur keamanan  dan portabilitas baru sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan yang ingin memindahkan kegiatan penting mereka ke lingkungan awan dan menggunakannya sebagai platform bisnis.

Smart Cloud terdiri atas  IBM SmartCloud Application Services ,  IBM SmartCloud Foundation,  dan  IBM SmartCloud Ecosystem . Keunggulan platform tersebut adalah pada  daur hidup aplikasi,  sumber daya aplikasi, lingkungan aplikasi,  pengelolaan aplikasi, dan  mengintegrasikan aplikasi-aplikasi yang dihantarkan di awan dengan aplikasi atau sumber daya lain di lokasi perusahaan atau di awan. Selain itu, SmartCloud dapat mengotomatisasikan pekerjaan paling padat karya yang terkait dengan pengelolaan lingkungan SAP di awan.

Diungkapkannya,  survei IBM terhadap para CIO tahun ini, sekitar 60 persen perusahaan di kawasan Asia Tenggara siap menerapkan komputasi awan dalam kurun waktu lima tahun mendatang untuk membantu meningkatkan pertumbuhan bisnis mereka. Survei ini juga memperlihatkan bahwa para CIO (ASEAN 23%) juga mengatakan bahwa layanan awan adalah salah satu kegiatan penting yang mereka rencanakan untuk mengendalikan dan mengurangi biaya. Dibandingkan Midmarket CIO Study yang dilakukan pada tahun  2009, jumlah perusahaan di ASEAN yang berencana untuk mengadopsi koputasi awan meningkat 50 persen.

Menurutnya, pelanggan kelas enterprise lebih konservatif karena pendapatan, reputasi dan rantai suplai mereka sangat bergantung pada performa dan keamanan infrastrukturnya.

“Fokus kami pada SmartCloud akan memberi manfaat nyata karena akan mendukung enterprise level service, memanfaatkan investasi yang ada, serta membuka peluang baru untuk meningkatkan produktifitas dan inovasi.” Katanya.[dni]

081111 Tabulet Ambisi Kuasai 30% Pasar Tablet

JAKARTA— PT Erasa Mandiri Teknosis (Erasa) berambisi menguasai 30 persen dari perkiraan total 63.070 unit  komputer tablet  yang akan terjual di Indonesia tahun ini melalui  dua produk yang dimilikinya yakni Troy dan Octa.

“Kami optimistis melalui produk   Tabulet  Troy yang memliki layar 7 inchi  untuk segmen pasar pecinta game dan Octa dengan layar 8 inchi bagi pengakses  internet,” ungkap Direktur Penjualan Erasa Raymond Tanujaya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya,  segmen pasar yang disasarnya adalah   pengguna yang menginginkan piranti digital mumpuni tapi dengan harga yang murah.  “Tabulet  bisa menjadi pilihan.
Ini lebih kepada pengganti netbook sehingga segmen mahasiswa atau pebisnis pemula banyak yang berminat dengan Tabulet,” katanya.

Diyakininya, produsen tablet lokal mampu mengambil ceruk fitur yang tidak bisa ditampilkan oleh vendor ternama. Misalnya, mayoritas tablet masih berukuran 7 inch, 8,9 inci maupun 10 inci.

Untuk menyasar segmen lain, Tabulet Octa dengan layar  berukuran 8 inci. Alasannya, belum ada vendor ternama yang membuat produk dengan ukuran layar tersebut. Selain itu, pasar pebisnis juga menyukai tablet dengan layar yang tidak terlalu kecil maupun tidak terlalu besar.

Diklaimnya, Tabulet Octa yang baru dikeluarkan selama dua minggu terakhir ini diklaim sudah terjual 2.000 unit di seluruh Indonesia.   Khusus penjualan Tabulet Troy yang telah diluncurkan Mei lalu sudah terjual 10.000 unit hingga akhir Oktober lalu. Bahkan,  Tabulet Troy ditargetkan  bisa terjual 12.000 unit hingga akhir tahun.

Tabulet Octa yang dirakit di China ini memiliki kapasitas prosesor Cortex A8 (1 Ghz) yang sudah setara dengan prosesor milik Samsung Galaxy Tab. Layar sentuh 8 inci ini mendukung lima poin multi touch, beda dengan produk lokal lain yang hanya bisa memakai dua jari.

Tablet dengan ketipisan 0,5 mm ini juga dipersenjatai dengan OS Android Gingerbread 2.3, dual kamera (VGA dan 2MP), GPS, 3G, Wifi, HDMI output, internal memory 4GB, mendukung external memory hingga 32 GB dan dapat membaca USB flash disk dan hard disk eksternal.

Banderol  Tabulet Octa  2,599 juta rupiah, jika mau menambah  100 ribu rupiah  lagi,  akan mendapat bonus free Internet dari Telkomsel Flash selama enam bulan.

Secara terpisah,  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia Suhanda Wijaya mengungkapkan, potensi pasar tablet di Indonesia semakin besar. Tahun lalu, pasar tablet kurang dari 5 persen terhadap pasar komputer. Tahun ini, total pasar komputer sebanyak 5,3 juta unit, dari jumlah itu 70 persen  berupa komputer jinjing, termasuk tablet. “Dari 70 persen itu, tablet bakal menyumbang 17 persen,” jelasnya.[dni]

081111 Mencerdaskan Layar Informasi

Jika dulu informasi menyebar dari layar bioskop, TV, dan komputer, sekarang bergeser ke layar keempat yaitu mobile phone atau komputer tablet. Fenomena mengakses informasi melalui small screen tak bisa dilepaskan dari hadirnya konektivitas internet sehingga pengguna lebih merasa terpersonalisasi untuk memilih berita.

Namun, sekarang mengakses internet pun tak hanya sebatas melalui ponsel atau tablet. Perangkat televisi yang sebelumnya menyalurkan informasi dari penyedia konten  sekarang  lebih interaktif berkat diadopsinya koneksi internet.

Perangkat yang disebut Smart TV diyakini akan menjadi salah satu primadona di ruang keluarga di masa depan seiring harga yang kian terjangkau dan konten semakin beragam.

”Saat ini pengguna internet ada sebanyak 45 juta, diperkirakan  pada 2014  akan mencapai 153 juta pengguna.  Tren ini membuat kebutuhan akan akses komunikasi berkembang dengan cepat di semua segmen, sehingga menciptakan peluang bagi penyedia perangkat  memberikan  solusi komunikasi sesuai dengan kebutuhan pengguna,” ungkap  Direktur Penjualan SpeedUp  MLW Telecom Taufan Wijaya Sakti di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, untuk mengantisipasi momentum tersebut, perseroan meluncurkan  produk TV interaktif dan komputer tablet dengan nama  SpeedUp TV dan komputer tablet atau SpeedUp Pad.

SpeedUp TV memungkinkan  televisi dapat digunakan untuk berselancar di dunia maya dan bermain game. Produk yang mengandalkan koneksi internet dari  Telkomsel ini hanya menyambungkan piranti Smart Box ke televisi baik konvensional maupun digital. Secara langsung, televisi tersebut bisa menikmati layanan dunia maya seperti akses Internet, streaming video, musik, dan radio, games, jejaring sosial, hingga e-book, layaknya komputer pribadi.

SpeedUP TV juga dilengkapi dengan “smart motion remote” yang dapat mendeteksi gerakan sehingga membuat pengalaman bermain games dan bernavigasi semakin seru. Kemampuan lain yang dimiliki oleh SpeedUp TV adalah streaming video, musik, radio, games, jejaring sosial dan buku elektronik.

Terdapat dua jenis  SpeedUp TV  yakni Euphoria dan  Exploria. Euphoria  mendukung Wifi, 3.5 G modem, dan kualitas gambar HDMI. Sedangkan jenis yang kedua mendukung gambar HDMI, 3.5 G modem dan hanya LAN version. Euphoria TV dibanderol 1,39 juta rupiah sementara Exploria  TV   999 ribu rupiah.

Sementara SpeedUp Pad yang dibanderol 2,5 juta rupiah  merupakan solusi alternatif atas kebutuhan masyarakat untuk mengakses Internet di mana pun dan kapan pun yang dilengkapi dengan berbagai aplikasi seperti musik, e-book, video player, browsing, GPS, dual camera dan juga dilengkapi dengan teknologi 3G. SpeedUp Pad dilengkapi dengan fasilitas chipset Snapdragon dari Qualcomm.

Direktur Produk dan Marketing  MLW Telecom Rahmad Widjaya Sakti mengatakan, perseroan telah mengambil langkah maju yakni tidak hanya berjualan modem yang berhasil menjaring tiga juta pelanggan broadband Telkomsel.

”Untuk produk Speed Up Pad kita optimistis   bisa menguasai 10 persen dari pangsa pasar tablet. Sementara Speed Up TV akan meraup 30 persen dari sekitar 50 juta rumah tangga yang memiliki TV. Akses internet dari Telkomsel salah satu nilai jual MLW Telecom,” katanya.

Diungkapkannya, perangkat modem pun sekarang diperkaya dengan sistem operasi (OS) Studio 9 yang memungkinkan pengguna  mendengarkan lebih dari 500.000 judul lagu, bermain ribuan games, membaca ribuan buku, dan mengikuti berita teraktual. Selain itu juga ada  fitur SpeedUp  Apps Store di mana para pengguna bebas men-download ribuan aplikasi untuk PC.

VP Channel Management Telkomsel Gideon Edi Purnomo mengungkapkan, selama ini masyarakat Indonesia membeli perangkat broadband hanya sebatas melihat alatnya tanpa mencari lebih jauh manfaat atau ekosistemnya.

”Kami ingin masyarakat itu membeli manfaat atau ekosistem dari perangkat tersebut seperti yang ditawarkan produk-produk Speed Up. Ini akan membuat program retensi bisa berjalan, dan jaringan operator dalam menghantarkan data tidak tereksplorasi secara membabi-buta,” katanya.[dni]

081111 Menelisik Persaingan TV Berbayar

Lembaga analis Media Partners Asia (MPA) dalam  laporannya tentang  pasar TV Berbayar dan Pitalebar Asia Pasifik 2011 yang diterbitkan  belum lama ini mengatakan  dinamisme ekonomi dan persaingan multi platform telah meningkatkan konsumsi TV berbayar dan pitalebar di Asia Pasifik.

Dari laporan tersebut, terungkap bahwa pada 2010 lalu, jumlah rumah tangga yang menjadi pelanggan layanan TV digital di kawasan ini telah mencapai 148 juta rumah tangga .

Angka ini diprediksi akan mencapai 362 juta empat tahun mendatang dan pada 2020 akan mencapai  483 juta rumah tangga yang  dipicu oleh adopsi digital   oleh jutaan rumah tangga di China dan India serta proses digitalisasi di negara lain.

Hal ini berarti,  penetrasi digital rumah tangga pengguna TV berbayar tumbuh dari 20 persen di  2010  mejadi 42 persen  pada 2015, dan 52 persen  pada 2020.

Di Indonesia, perkembangan TV kabel digital juga akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan internet broadband di Indonesia. Di Singapura, saat ini 60 persen  warganya sudah memiliki broadband Internet, sementara di Indonesia baru 2 persen.

Pada tahun ini, jasa TV berbayar di Indonesia   diproyeksikan tumbuh 30 persen atau mencapai 1,69 juta pelanggan. Sedangkan pada tahun lalu penetrasi TV berbayar hanya mencapai 1,3 juta sambungan.

Angka ini adalah yang terendah di kawasan Asia Tenggara  mengingat potensi pasar yang dimiliki Indonesia  adalah 40 juta rumah tangga pemilik TV. Seharusnya,  pengguna TV berbayar diestimasikan sebesar 12 juta pelanggan atau sekitar 30 persen dari total populasi TV nasional.

Di Indonesia pemain TV berbayar ada beberapa pemain seperti Indovision, Telkom Vision, Aora TV, First Media, Mega Vision, dan IM2. Tiga pemain menguasai pasar dengan jumlah pelanggan yang signifikan yakni Indovision (700 ribu pengguna), TelkomVision (300 ribu pelanggan),  dan  First Media (150 ribu pelanggan). Belum lama ini dua pendatang baru meramaikan persaingan yakni Skynindo dan Orange TV.

Skynindo merupakan operator televisi berbayar menggunakan akses satelit Palapa D milik Indosat sebesar 2 transponder (72 MHz) pada pita C-band yang mendapatkan izin operasional sejak pertengahan tahun lalu. Saat ini Skynindo memiliki 30 ribu pelanggan dan membidik menjadi 70-100 ribu pelanggan pada akhir tahun nanti.

Sementara  PT Mega Media Indonesia sebagai pemegang merek   Orange TV    bakal menyasar pasar di daerah seperti di Sumatera dan Kalimantan selain tentunya menyasar pasar kota-kota besar.

Pasar Besar
Direktur Marketing and Sales Aora TV Guntur S. Siboro mengungkapkan pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan persaingan karena pasar yang masih sangat besar.

”Tidak perlu rebutan pelanggan. Dengan pemilik televisi lebih dari 40 juta rumah tangga, sementara pasar yang tergarap baru 2,5 persen,  kami optimistis bisa menciptakan pangsa pasar baru,” katanya.

Diungkapkannya, saat ini pelanggan Aora TV sudah di atas  100.000 rumah tangga berkat strategi pemasaran ala operator seluler yang menawarkan produk sesuai kebutuhan segmen.

”Untuk  konten tidak banyak bedanya,  kuncinya adalah  menjadikan  penawaran  sesuai dengan segmen pelanggan yang mau dituju. Ruang utk inovasi memang lebih terbatas dibanding telco tapi tingkat pindah pelanggan (churn) di pay TV lebih susah dibanding telco karena ada proses instalasi perangkat   yang tidak gampang,” katanya.

Direktur Pengembangan Usaha Skynindo Widodo Mardijono mengungkapkan, pasar yang potensial digarap adalah  rumah tangga yang menggunakan parabola dimana jumlahnya ada sekitar  4juta rumah tangga dan umumnya pointing diarahkan ke Satelit Palapa D milik Indosat.

”Inilah alasan adanya  Skynindo Box . Harga perangkat  dengan kualitas High Definition (HD) ini resminya sekitar satu juta rupiah. Kami memangkasnya menjadi 600 ribu rupiah diluar bonus-bonus siaran gratis demi menggarap segmen pengguna parabola,” katanya.

Direktur Utama Telkom Vision Elvizar KH melihat adanya sejumlah faktor yang membuat penjualan TV berbayar di Indonesia masih belum bergairah yakni masalah  tarif berlangganan  yang  belum menarik dan dukungan dari penyedia konten lokal yang relatif masih lemah.

”Konten di TV berlangganan itu didominasi oleh investor asing. Hampir 50 persen biaya operasional disedot untuk belanja konten. Ini sangat mempengaruhi biaya berlangganan,” katanya.

Diungkapkannya, saat ini perseroan memiliki 750 ribu pelanggan yang terdiri atas pengguna pascabayar melalui satelit sebanyak 55 persen, prabayar (30%), dan kabel lima persen. Pada akhir 2011, ditaregtkan ada satu juta pelanggan Telkom Vision.

“Kami ingin mengubah komposisi itu menjadi 50 persen pasca bayar, 40 persen prabayar, lima persen kabel, dan lima persen atau sekitar 50 ribu dari target satu juta pelanggan dari jasa baru, Internet Protocol TV (IPTV), “ungkapnya.

Ubah Pola Pemasaran
Lebih lanjut Elvizar mengungkapkan, untuk menggenjot  penjualan IPTV yang diusung dengan merek Groovia TV, telah diubah pola pemasaran dengan mengedepankan fitur TV ketimbang broadband internet.

IPTV adalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP). Layanan ini didefinisikan sebagai Interactive Personalize TV menggunakan kabel untuk bisa diakses pelanggan dan dijamin tingkat kerahasiaannya sehingga pelanggan bisa mereview menggunakan jaringan kabel telepon dan kabel broadband dalam satu waktu.

Layanan ini   memiliki keunikan dimana pelanggan pemegang kontrol terhadap konten yang disiarkan berkat adanya  berbagai fitur yang memungkinkan pelanggan untuk record, pause, dan rewind tayangan TV favoritnya dalam jangka waktu tiga hari. Selain itu juga  ada fasilitas video on demand  (VoD), game on line  bahkan karaoke.

“Keahlian TelkomVision memang dalam menjual layanan TV. Kami optimistis target meraih 50 ribu pelanggan itu tercapai dan pada 2012, khusus IPTV akan digunakan 250 ribu pelanggan,” katanya.

Dijelaskannya, strategi yang dipersiapkan adalah dengan mengedepankan fitur unggulan dari IPTV yakni Video On Demand (VoD) hasil kerjasama dengan HBO. “VoD yang dimiliki TelkomVision sesuai dengan standar yang ada yakni berjalan di kabel melalui akses internet sehingga terjadi interaktif menonton TV. Ini berbeda dengan milik competitor,” tegasnya.

Dikatakannya, IPTV tak lama lagi akan dipasarkan ke   Medan, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta hingga tahun depan. Sedangkan untuk akses melalui PC dan mobile ditunda dulu.

Menurut Praktisi telematika Bayu Samudiyo para penyedia TV berlangganan sudah tepat mengadopsi strategi pemasaran ala operator telekomunikasi untuk meningkatkan penetrasi pasar mengingat stigma di masyarakat berlangganan produknya mahal.

“Mengingat konten yang ditawarkan  hampir sama, level persaingan ada di pelayanan. Bagi operator yang didukung oleh jasa telekomunikasi tentu akan lebih lama bertahan mengingat era ke depan adalah konvergensi layanan,” katanya.[dni]

081111 Maskapai Revisi Perjanjian dengan Pengelola Bandara

JAKARTA–Maskapai yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) berencana akan merevisi isi perjanjian dengan pengelola bandara, khususnya jika Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara diimplementasikan.

“Kami akan revisi semua perjanjian dengan mitra pendukung, baik itu ground handling, bandara, atau katering. Soalnya terkait delay sebenarnya tidak adil jika semua ditanggung oleh maskapai,” ungkap Ketua Inaca Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (7/11).

Seperti diketahui, regulasi yang semula dijadwalkan diimplementasikan pada 8 November 2011, tetapi ditunda hingga waktu yang belum ditentukan itu mengatur enam hal pokok, yakni pertama, penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap dan luka-luka. Kedua, hilang atau rusaknya bagasi kabin. Ketiga, hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat. Keempat, hilang, musnah, atau rusaknya kargo. Kelima, keterlambatan angkutan udara, dan keenam, kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Menurut Emirsyah, belajar dari kejadian Minggu (6/11) dimana lampu landasan di bandara Adisutjipto, Yogyakarta,  mati yang berujung pada ditutupnya bandara sehingga maskapai banyak membatalkan keberangkatan berujung pada kerugian diderita  angkutan penerbangan. Tidak hanya di sisi harus menanggung kewajiban terhadap penumpang, tetapi biaya operasional yang membengkak.

“Selama ini perjanjian dengan pihak bandara hanya hal teknis seperti parking fee, landing fee, dan lainnya. Masalah seperti di Yogyakarta tidak ada. Inilah kenapa kami minta direvisi Permenhub 77 agar  masalah seperti ini diperjelas.  Jangan semua dibebankan kepada maskapai,” katanya.

Direktur Operasi Garuda Indonesia Capt. Ari Sapari mengungkapkan, dampak yang dirasakan akibat matinya lampu landasan bandara Adisutjipto adalah pada Senin (7/11), 6 penerbangan Garuda tertunda.

“Penundaan 6 penerbangan itu berdampak kepada jadwal penerbangan lainnya, khususnya rotasi pesawat. Satu penerbangan tertunda itu  dampaknya ke 4 penerbangan berikutnya. Belum lagi kami harus mengoperasikan pesawat badan besar tipe B747-400 untuk mengangkut penumpang karena ada dua frekuensi disatukan,” keluhnya.

Secara terpisah, juru bicara Kemenhub ‎​‎​Bambang S. Ervan mendorong adanya perjanjian yang mengatur  tentang pelayanan, hak dan kewjiban termasuk kompensasi bila terjadi gangguan penerbangan antara maskapai dengan pengelola bandara.

“Ini hubungan  bisnis antar dua badan usaha. Kami mendorong adanya perjanjian seperti itu,” katanya.

Terkait dengan kerusakan di Bandara Adisutjipto, Bambang mengatakan,  kerusakan itu pada jaringan lampu landasan. Kejadian ini baru pertama kali terjadi, bisa termasuk force major.

“Kemenhub minta kepada Angkasa Pura  I untuk mengevaluasi menyeluruh terhadap semua peralatan. Kemenhub juga minta agar bagi penerbangan yg divert pihak pengelola bandara berikan bantuan kepada maskapai untuk tangani penumpang,” katanya.

Ditegaskannya,  Kemenhub selama ini sudah menetapkan standar yang harus dipenuhi oleh operator bandara dan  melakukan pengawasan. “Pengawasan dilakukan melalui kalibrasi semua peralatan di bandara apakah sesuai dengan standar ketentuan yang ada,” katanya.

Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengungkapkan,  kerusakan lampu landasan di bandara yang dikelolanya karena hujan sehingga ada  gangguan di trafo dan ada kabel yang lepas sehingga menyebabkan lampu di runway (landasan pacu) mati.

Rusaknya lampu di landasan pacu bandara Yogyakarta ini menyebabkan bandara ditutup sejak Minggu (6/11)pukul 19.00 WIB hingga Senin (7/11) pukul 05.00 WIB.

Menurutnya, kerusakan lampu di runway ini sudah dapat diatasi pada Senin pagi. Penerbangan sudah kembali normal pada pukul 05.00 WIB karena bandara sudah dibuka lagi.

Tetapi pagi Senin (7/11) pagi, hujan deras sehingga masih banyak penerbangan yang terganggu akibat cuaca.

“Kerusakan lampu di landasan pacu ini merupakan yang pertama kali,” katanya.

Tommy menambahkan pihaknya sudah meminta kepada seluruh pengelola bandara di bawah naungannya (13 bandara) untuk antisipasi cuaca khususnya untuk masalah alat-alat elektronik di bandara.[dni]

081111 Garuda Siapkan Rp 100 Miliar untuk Citilink

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyiapkan dana sebesar 100 miliar rupiah untuk membuat unit bisnis yang menggarap segmen Low Cost Carrier (LCC) menjadi mandiri mulai tahun depan.

“Citilink mulai kuartal pertama  atau paling lambat kuartal kedua 2012 akan menjadi anak usaha. Namanya PT Citilink Indonesia,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (7/11).

Diungkapkannya, saat ini perseroan tengah mengurus Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan Air Operation Certificate (AOC) ke otoritas penerbangan sipil. “Semua permintaan untuk mendapatkan izin sudah dipenuhi. Baik soal  kepemilikan pesawat atau perencanaan bisnis,” katanya.

Diungkapkannya, pada akhir tahun ini Citilink akan memiliki 10 pesawat yang terdiri atas  4 Airbus dan 6 Boeing, sedankan pada  akhir 2012 akan berjumlah 20 unit. “Tahun ini Garuda menargetkan mengangkut 17 juta penumpang. Sumbangan dari Citilink masih kecil,” katanya.

Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, setelah pembentukan Citilink Indonesia selesai akan segera digelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menetapkan jajaran direksi.

“Penetapan bisa lebih cepat karena sesuai arahan Menneg BUMN, anak usaha ditetapkan oleh induk usaha jajaran direksinya,” katanya.

Selanjutnya Elisa mengungkapkan, nantinya semua armada Citilink akan terdiri atas  A-320 dimana  25 pesawat sudah dipesan beberapa bulan lalu dan kedatangannya bertahap.

Dijelaskannya, dipilihnya tipe A-320 mengingat di pasar LCC yang berbicara adalah kuantitas.  “Boeing klasik itu rata-rata mengangkut 180 penumpang, sedangkan A 320 bisa membawa 215 penumpang. Karena itu kita lebih memilih A 320 untuk Citilink,” katanya.

Garuda sendiri pada tahun ini akan menerima 11 pesawat baru terdiri dari 2 A330-200 dan 9 B737-800NG. Saat ini Garuda memiliki 86 pesawat. Sedangkan  penumpang yang diterbangkan sampai kuartal III 2011 sebanyak 8,71 juta jiwa.[dni]