061111 XL Revisi Target Pertumbuhan Pendapatan

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) merevisi target pertumbuhan pendapatannya pada tahun ini setelah kinerja perseroan pada kuartal III menunjukkan pelambatan.
“Melihat hasil yang diperoleh pada kuartal III/2011, kami mengharapkan pertumbuhan pendapatan untuk tahun ini sekitar 7-8 persen atau sama dengan rata-rata industri,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Jumaat (4/11).
Sebelumnya, pada periode kuartal III/2011 XL  meraup omset sebesar 13,96 triliun rupiah atau naik 8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu  sekitar 13 triliun rupiah. Kala hasil kuartal I/2011 keluar, manajemen XL masih optimistis mencatat pertumbuhan pendapatan   hingga akhir tahun nanti di atas rata-rata industri. Sektor telekomunikasi sendiri pada awal 2011 diprediksi akan tumbuh sekitar 9-10 persen, tetapi pada semester I/2011 dikoreksi menjadi 7-8 persen.
Diakuinya, kondisi bisnis telekomunikasi telah memasuki masa saturasi. Hal itu bisa dilihat dari jasa suara yang mengalami minus pertumbuhan sekitar 8 persen, sementara SMS tumbuh 17 persen, dan data naik 50 persen. “Suara itu berkontribusi 53 persen bagi total omset XL. Penurunan yang dialami oleh sektor tersebut berpengaruh bagi total omset,” katanya.
Belum lagi kondisi makin berat karena adanya perubahan aturan main dalam menawarkan Value Added Services (VAS) karena adanya isu sedot pulsa beberapa waktu lalu. “Vas selama ini berkontribusi sebesar 6-8 persen bagi total omset. Penyetopan layanan beberapa waktu lalu menurunkan omset 80-90 persen. Kami prediksi butuh waktu setahun mengembalikan 30-40 persen pelanggan Vas yang hilang,” katanya
Sementara untuk target jumlah pelanggan yang akan dicapai hingga akhir tahun nanti, Hasnul optimistis, mampu meraih sekitar 44-45 juta pelanggan dengan mengandalkan kartu perdana Ampuh dan paket internet 49 ribu rupiah.
“Kami akan terus menggeber jasa data. Pada tahun depan akan dibangun sekitar 7-8 ribu Node B (BTS 3G). Belanja modal untuk tahun depan diperkirakan sama dengan tahun ini, tetapi angka pastinya belu keluar. Kalau tahun ini kita siapkan belanja modal 6 triliun rupiah dimana 50 persen dialokasikan membangun 3G,” katanya.
Praktisi telematika Bayu Samudiyo memperkirakan, secara keseluruhan pertumbuhan industri akan terkoreksi dari sebelumnya sekitar 9 persen turun menjadi 7-8 persen. ”Kuartal III biasanya mencerminkan pertumbuhan industri keseluruhan. Pada kuartal IV akan lebih berat mengingat salah satu andalan  VAS seperti SMS Premium disetop sehingga bisa mempengaruhi omset,” katanya.
Ajukan Tambahan
Lebih lanjut Hasnul mengungkapkan,  salah satu kendala dalam menggeber jasa data adalah masalah keterbatasan frekuensi yang dimiliki XL, terutama di spektrum 1.800 MHz yang hanya memiliki lebar pita 7,5 MHz untuk melayani sekitar 43,4 juta pelanggan. Sementara trafik data sudah sebesar  6,5 Petabyte  dimana pengguna layanan data  mencapai 24,1 juta.
“Pengguna banyak mengakses melalui ponsel 2G, sementara dengan ponsel 3G hanya 13 persen dari total pengguna data karena harganya masih di atas satu juta rupiah. Jika  mengakses 3G sudah bisa diatasi karena XL menerapkan point to multi point yang memungkinkan pooling akses lebih dinamis,” katanya.
Dijelaskannya, guna mengatasi kendala keterbatasan frekuensi di 2G tersebut, perseroan sudah mengajukan tambahan alokasi di 1.800 MHz dua bulan lalu ke Kemenkominfo. “Idealnya kami mendapatkan lebar pita 12,5-15 MHz di spektrum 2G,” katanya.
Sebelumnya, Kemenkominfo sempat menggulirkan ide penataan ulang (refarming) frekuensi untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam terbatas tersebut. Di spektrum 1.800 MHz sendiri Telkomsel memiliki lebar pita 22,5 MHz dengan 105 juta pelanggan, Indosat 20 Mhz dengan 51,5 juta pelanggan, Three 10 MHz dengan 16 juta pelanggan, dan Axis 15 Mhz dengan 15 juta pelanggan.
Direktur Center for Indonesian Telecommunication Regulation Study (Citrus) Asmiati Rasyid menyarankan pemerintah berani melakukan audit frekuensi dan menarik kembali spektrum yang belum juga dipakai sama sekali oleh operator, serta mengenakan denda bagi operator yang terbukti tidak memaksimalkan sumber daya alam terbatas tersebut.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s