011111 Sinyal Lemah Pemberantasan Konten Komersial

Tak terasa  Surat Edaran (SE) No. 177/BRTI/2011 dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) ke 10 operator telekomunikasi telah memasuki minggu kedua. SE tersebut berisikan himbauan  menghentikan penawaran konten melalui SMS broadcast, pop screen, atau voice broadcast sampai dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian.
BRTI pun melakukan evaluasi penerapan  SE  177 pada Kamis (27/10)  dan menghasilkan temuan  operator sudah menyelesaikan proses deaktivasi/penarikan layanan broadcast SMS.
Selanjutnya akan mengevaluasi content provider (CP) tak berijin BRTI yang bekerjasama  dengan operator. Sejauh ini ada 205 CP yang terdaftar di BRTI. Lembaga ini juga  akan melakukan Sidak atau verifikasi terhadap himbauan SE 177. Terakhir, melakukan penyempurnaan terhadap Peraturan Kominfo no.1 tahun 2009.
Sedangkan soal sanksi terhadap para penyedia konten yang terbukti nakal, pengumuman nama 60 CP nakal, atau masih berlangsungnya penawaran voice broadcast RBT kala menghubungi nomor pelanggan, dan angka pengembalian pulsa (refund) kepada pelanggan atau jumlah pelanggan yang dihentikan layanan konten komersialnya masih gelap.
”Para operator mengatakan mayoritas dari mereka sudah dan sedang menyelesaikan pengembalian pulsa ke pelanggan. Teknis pengembalian pulsa diserahkan ke masing-masing operator,” ungkap Wakl Ketua BRTI M. Budi Setiawan di Jakarta, belum lama ini.
Namun, Budi tidak mampu memaparkan data   jumlah total refund yang harus dikembalikan atau jumlah pelanggan yang disetop layanannya oleh para operator. ”Kami terus menagih hal itu ke operator dan setiap hari Rabu akan diklarifikasi semuanya,” tegasnya.
Berkaitan dengan sanksi terhadap CP nakal, Budi mengaku, jika mengacu pada regulasi  tidak bisa digolongkan dalam tindak pidana. ”Kewenangan kita hanya bisa menghentikan operasinya dan memberikan sanksi administratif saja, bukan memenjarakannya. Rencana ke depan aturan akan direvisi, terutama terkait sanksi tidak sekadar administratif,” katanya.
Anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya  menuntut keberanian dari BRTI membuka nama-nama pelaku sedot pulsa dan   melakukan penuntutan. ”Ini kejahatan terorganisasi yang melibatkan oknum-oknum  di pemerintah, operator dan CP sebagai pelaksana. Karena itu dibentuk panitia kerja (panja) Mafia Pulsa dan Perlindungan Pelanggan Telepon Seluler yang akan bekerja taka lama lagi,” tegasnya.
Sekjen Indonesia Mobile and Online Content Provider Association (IMOCA)  Ferrij Lumoring mengungkapkan, sejauh ini yang terjadi adalah pembayaran dari operator ke para CP ditahan. ”Pembagian keuntungan belum dilakukan oleh operator sejak isu ini mencuat. Sepertinya langkah ini dilakukan untuk antisipasi refund ke pelanggan,” katanya.
Diungkapkannya, kondisi yang ada sekarang memukul para CP yang berbisnis dengan jujur karena operator menghapus database begitu saja sesuai himbauan SE 177. ”Para CP yang jujur susah payang mengumpulkan pelanggan, tiba-tiba dihapus begitu saja, sehingga   revenue mereka hampir nol. Saya khawatir nantinya yang tersisa CP dengan  revenue besar/raksasa dan akan makin tidak sehat iklim bisnis CP, karena pemain  semakin sedikit dan konten semakin tidak beragam,” keluhnya.
Diakuinya,  sangat sulit mendapatkan kembali para pelanggan yang terhapus  karena biasanya mereka   sudah lupa cara berlangganan. ”Mereka ini yang kemungkinan besar tidak akan   balik menjadi pelanggan. Dulu mereka tertarik pada konten  karena waktu itu lagi mood atau   butuh,” katanya.
Secara terpisah, Direktur   Lembaga  Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Infromasi (LPPMI) Kamilov Sagala menyarankan, Menkominfo Tifatul Sembiring mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri untuk memperkuat SE 177. ”Surat edaran itu di tata negara lemah dan bisa dituntut balik oleh operator atau CP secara hukum. Terbitkan SK Menkominfo karena situasinya memang sudah darurat,” katanya.
Dimintanya, jika aturan tentang SMS premium akan direvisi, salah satu yang dikriritsi adalah tentang memasukkan daftar hitam para pengusaha bukan hanya perusahaanya dalam bisnis konten.
”Pemainnya dari dulu itu-itu saja. BRTI pernah dulu memanggil pengusaha yang menawarkan SMS Selebritis dan ditegur. Sekarang, pengusaha itu berganti perusahaan dan menjalankan usahanya lagi. Ternyata, sekarang salah satu layanannya kembali dikeluhkan pelanggan,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s