011111 Seluler Indosat Andalkan Jasa Suara

JAKARTA—Jasa seluler milik PT Indosat Tbk (Indosat) mengandalkan layanan suara sebagai pemasok pendapatan utama, disusul Short Messages Services (SMS), data, dan Value Added Services (Vas).

Jasa seluler hingga kuartal III/2011 milik anak usaha Qatar Telecom (Qtel) ini memiliki omset 12.587 triliun rupiah atau naik 4,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 12.015,19 triliun rupiah. Kontribusi jasa suara bagi omset seluler sekitar 53 persen, SMS (19%), data (18%), dan Vas (10%).
Total omset Indosat pada kuartal II/2011 adalah 15,360,5 triliun rupiah atau naik 3,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 14.843,1 triliun rupiah. Kontributor lain bagi omset Indosat adalah non seluler yang hanya 2.773,4 triliun rupiah atau turun 1,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 2.827,2 triliun rupiah.
Pertumbuhan top line seluler Indosat ini  terendah dibandingkan dua operator besar lainnya (Telkomsel dan XL) selama kuartal III/2011. Omset XL hingga kuartal III/2011  sebesar 13,96 triliun rupiah atau tumbuh 8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar  13,96 triliun rupiah, sementara  Telkomsel hanya pada kuartal III/2011 memiliki omset  12,8 triliun rupiah atau naik 7,5 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 11,9 triliun rupiah.
“Kami akui pada kuartal III kinerja Indosat, khususnya seluler melambat. Hal ini karena dua operator besar usai semester I membanting harga di suara, sementara kami lebih memilih jalur konservatif. Kinerja yang masih positif di kuartal III ini tertolong oleh kuatnya pertumbuhan Indosat selama semester I lalu, “ungkap Presiden Direktur dan CEO Indosat Harry Sasongko di Jakarta, Senin (31/10).
Dijelaskannya, langkah konservatif yang diambil oleh Indosat mengakibatkan rata-rata menit pemakaian (Minute of Usage/MOU) per pelanggan turun menjadi 95 menit turun 17,8 persen dibandingkan kuartal II/2010, walaupun Revenue Per Minute (RPM) menjadi 164 rupiah per menit atau naik 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat adanya kenaikan trafik selama Lebaran.
Diungkapkannya, perseroan sebenarnya juga berkeinginan untuk menggeber layanan data di jasa seluler , namun terkendala dengan optimasi jaringan yang belum selesai. “Kami sudah membeli peralatan tahun lalu, namun belum bisa langsung dipasang. Optimasi baru selesai pada tahun depan. Selain itu kita juga akan merestruktrisasi anak usaha Indosat Mega Media (IM2) agar layanan retail data dikelola oleh Indosat. Ini akan mengefektifkan biaya operasi, jaringan, dan reposisi produknya,” katanya.
Dikatakannya, saat ini pelanggan yang mengakses data melalui ponsel baru sekitar 10-12 persen dari total 51,5 juta pengguna. Sementara pengakses melalui dongle justru mengalami penurunan 21,3 persen alias 538,4 ribu pelanggan dari 684,3 ribu pelanggan pada kuartal III/2010.
Chief Commercial  Officer Indosat Lazlo Imre Barta mengaku kondisi pasar Indonesia dimana peluang akuisisi lebih banyak di segmen menengah bawah yang menjadikan Indosat masih fokus menggarap jasa suara. “Kami tidak khawatir dengan Average Revenue Per User (ARPU) yang turun dari 35.310 menjadi 29.439 rupiah. Kami masih akan tetap fokus ke jasa lainnya untuk menaikkan ARPU tersebut,” katanya.
Kinerja Bottom Line
Lebih lanjut Harry mengungkapkan, untuk kinerja bottom line pada kuartal III/2011 laba bersih dibukukan sebesar 992 miliar rupiah atau naik 86,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sementara laba usaha sebesar 2.306,7 triliun rupiah atau turun 9,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 2.541,7 triliun rupiah.
 Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) sebesar 7.148,1 triliun rupiah atau naik 0,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesaqr 7.107,3 triliun rupiah. EBITDA marjin hanya 46,5 persen atau turun 1,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 47,9 persen.
“Pertumbuhan laba ditopang oleh pengurangan financing cost, amortisasi, dan keadaan nilai tukar uang yang lebih baik. Sementara penurunan marjin EBITDA karena one off charge berkaitan dengan pensiun dini. Jika one off charge tidak ada marjin EBITDA sebesar 49,3 persen,” jelasnya.
Diperkirakannya, untuk kinerja kuartal IV nantinya tantangan akan lebih berat seiring penyetopan layanan SMS Premium dimana menjadi salah satu pemasok pendapatan Vas. “Setiap tahunnya layanan ini menghasilkan omset sekitar 180 miliar rupiah. Kita sedang mencoba 50 persen pelanggan yang hilang akibat disetop kemarin kembali lagi. Selain itu kami akan mencoba mengefisiensi kan biaya lainnya agar bottom line tidak tertekan,” katanya.
Terkait dengan pelunasan hutang, Harry mengungkapkan, pada tahun depan akan dialokasikan dana 30 persen lebih besar ketimbang tahun ini untuk membayarnya. “Jika pada tahun ini kita alokasikan sebesar 200 juta dollar AS dari free cash flow, maka tahun depan lebih besar 30 persen dari angka itu. Total hutang Indosat sendiri per September sekitar 21.643,4 triliun rupiah atau turun 10,1 persen dibandingkan periode sama  tahun  lalu sebesar 24.063,2 triliun rupiah,” katanya.
Berkaitan dengan aksi korporasi untuk menjual 4 ribu menara yang diestimasi menghasilkan uang sekitar 500 juta dollar AS bagi perseroan, Harry mengatakan, pengkajian baru difinalisasi pada akhir tahun ini untuk nasib asset tersebut. “Akhir tahun ini baru ditentukan dijual atau tidak. Jika di luar ada yang bicara sudah tahap akhir membeli atau ingin membeli, itu hak mereka,” tuturnya.
Secara terpisah, Praktisi Telematika Teguh Prasetya menilai, jika Indosat bersikeras dengan strategi akusisi pelanggan mengandalkan tariff murah, dalam jangka panjang akan menderita dengan rendahnya ARPU dan belanja modal yang tinggi per pelanggan untuk investasinya. “Indosat harus geber layanan data seperti yang dilakukan XL dan Telkomsel. Jika tidak, akan menderita di masa mendatang,” katanya.

Praktisi lainnya, Guntur S Siboro menyarankan Indosat menaikkan kualitas layanannya jika tidak ingin ditinggalkan oleh pelanggan dengan menyelesaikan secepatnya optimasi jaringan. “Pendapatan tidak akan naik, jika kualitas layanan terus turun. Ini teori lama di telekomunikasi. Melihat MOU yang turun, sementara RPM justru naik ini bisa berarti Indosat menaikkan tarif selama kuartal III. Tarif yang tinggi seharusnya diimbangi oleh kualitas layanan yang lebih baik,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s