011111 Mencari Celah untuk Bangkit

Keluarnya perintah dari regulator untuk menghentikan penawaran konten melalui SMS broadcast, pop screen, atau voice broadcast mulai Selasa (18/10) sampai dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian, tak pelak memukul industri konten, khususnya musik digital.
Pasalnya, dalam perintah tersebut  operator harus melakukan deaktivasi/unregistrasi  untuk semua layanan Jasa Pesan Premium tidak terbatas pada SMS/MMS Premium berlangganan tetapi juga   nada dering, games atau wallpaper.
Bagi pemilik konten musik digital, ini seperti lonceng kematian yang berdentang di tengah kepungan semakin mengguritanya musik digital ilegal.
Untuk diketahui, nilai bisnis dari industri musik sebesar 6,5 triliun rupiah, Tetapi   tidak semuanya dinikmati oleh pelaku legal di industri musik. Sekitar 69 persen atau 4,5 triliun rupiah  dikuasai oleh para pembajak. Para pelaku usaha legal berusaha bertahan dengan mengandalkan Ring Back Tone (RBT) atau Full track download. Di bisnis konten komersial sendiri, RBT menjadi pemasok dominan dari total nilai bisnis yang mencapai 7 triliun rupiah.
CFO  Melon Indonesia Budi Setyawan mengungkapkan, dilakukannya deaktivasi layanan membuat omsetnya anjlok 80-90 persen karena selama ini untuk mengakuisisi pelanggan sangat mengandalkan pola broadcast (REG) melalui UMB dengan pemotongan pulsa.
”Tadinya omset setiap bulan mencapai 900 juta rupiah dengan pertumbuhan 30 persen setiap bulannya. Pada September turun menjadi 700 juta rupiah, dan sekarang anjlok sekitar 80-90 persen. Ini karena kami sangat mengandalkan akusisi pelanggan melalui sistem REG tersebut karena pembayaran melalui pulsa lebih mudah,” jelasnya.
Melon adalah perusahaan patungan Telkom dan SK Telecom yang bergerak di bidang DCEH. Ini  adalah jenis baru hub untuk mendistribusikan konten digital, seperti file musik, permainan dan klip video yang  dapat diakses  tidak hanya oleh konsumen tetapi juga toko musik online dan operator telepon baik yang berbasis kabel maupun selular.
Investasi untuk membangun anak usaha ini sebesar 100 miliar rupiah pada tahun lalu dimana Telkom memiliki saham sebesar 51 persen di anak usaha ini dan sisanya ditalangi SK Telecom.
Melon sebagai Master Lisence Bank (MLB)  memiliki 500 ribu lagu dengan jumlah member sekitar 140 ribu orang. Namun, yang aktif melakukan pembelian lagu hanya 50-60 ribu orang.
Mencari Celah
Budi mengungkapkan, sejak diberlakukannya sistem dobel konfirmasi untuk berlangganan konten komersial, pelanggan menjadi menurun minatnya. ” Dulu jika broadcast SMS dilakukan terhadap satu juta pelanggan, biasanya sekitar 1 persen atau 10 ribu terjerat menjadi pengguna. Sekarang angka akuisisinya drop menjadi 70 persen,  ini kemungkinan  karena pelanggan  sadar berbayar, lantas  dibatalkan atau  ada masalah di jaringan operator,” katanya.
Dijelaskannya, untuk mencari celah agar bisa bangkit kembali ditengah miringnya sorotan masyarakat terhadap konten komersial, Melon mulai  mengagresifkan sistem pembayaran lainnya yakni melalui klik BCA, kartu kredit, i-pay, M-cash, T-cash, i-Vas, dan kupon.
Langkah lain yang dilakukan adalah   meluncurkan aplikasi untuk pengguna  BlackBerry dan  Android. Aplikasi ini bisa diunduh melalui BlackBerry Aplikasi World,   SMS, dan UMB.
Untuk pelanggan Telkomsel Blackberry Unlimited, dapat menikmati layanan ini hanya dengan membayar biaya berlangganan sebesar .20 ribu rupiah  setiap bulannya tanpa dikenakan biaya tambahan GPRS untuk akses aplikasi. Sedangkan untuk  pelanggan lainnya dikenakan tarif  berlangganan normal senilai 15 ribu rupiah   per 2 minggu.
”Tarif yang dianggap terjangkau untuk musik digital di Indonesia adalah dibawah 15 ribu rupiah dan mengunduh sepuasnya. Biasanya sebulan itu hanya diunduh 15-20 lagu,” ungkapnya.
Dijelaskannya, untuk menggeber aplikasi mobile ini diunduh oleh sekitar 6 juta pemilik handset BlackBerry akan diajak operator dan toko-toko penjual handset untuk melakukan Virtual Preload (VPL) kala menawari BlackBerry ke pelangganya. Selain itu secondary market juga akan digarap bagi yang menjual BlackBerry bekas.
”Untuk toko-toko akan ditawari insentif. Ini harus dilakukan karena di BlackBerry Apps World itu hanya 300 ribu aplikasi yang eksis. Sisannya hanya mampir sebentar. Kita targetkan hingga pertengahan tahun depan ada 200 ribu pengguna BlackBerry menggunakan aplikasi ini,” katanya.
Sementara untuk smartphone berbasis Android akan digarap melalui Android market dan mendekati 4 pabrikan ponsel. ”Kita sudah berbicara dengan dua pabrikan ponsel Korea dan China,” katanya.
Diharapkannya, dengan langkah ini jumlah pengguna produk Melon secara keseluruhan mencapai 150 ribu orang dan pada 2012 mencapai 500 ribu pengguna. ”Kita tidak mau lagi berbicara target omset tahun ini karena sepertinya sulit tercapai jika kondisinya sedang tidak menguntungkan,” jelasnya.
Secara terpisah, Praktisi telematika Mochammad James Falahuddin menyarankan Melon  bergerak ke layanan cloud seperti itunes match ketimbang mempertahankan model bisnis yang ada saat ini.
”Saya akui smartphone pada tahun ini di Indonesia akan terjual sekitar 36,32 juta unit yang akan didominasi oleh BlackBerry dan Android. Namun, melihat  telah dimilikinya perjanjian antara Melon dengan  perusahaan rekaman, rasanya upaya yang dilakukan sia-sia dan menjadikan target mengembalikan investasi dalam waktu tiga tahun sulit terealisasi,” katanya.
Disarankannya, Melon  membuat  player sekaligus library musik yang bisa di sinkronisasi   ke cloud karena sifatnya  musik adalah  harus dibikin portable lintas perangkat  tidak dibatasi pada handset tertentu.
“Jangan lagi kukuh mengandalkan Digital Right Management (DRM) untuk mengontrol lagu dan membatasi pengguna. Konsep ini   sudah ditinggalkan sejak 2008. Selain itu, Melon harus lebih gencar mempromosikan situsnya karena di digital marketing, rating adalah segala-galanya,” katanya.
Menurutnya, ke depan model bisnis berjualan musik digital secara retail atau berlangganan via streaming tak akan mampu bersaing karena sekarang arahnya ke   streaming unlimited music for free.
Dalam konsep ini pelanggan tidak perlu membayar, tapi nanti ada iklan di selipkan. Ada juga mendengarkan musik tanpa iklan, tetapi untuk itu pelanggan harus membayar. Player mobile pun tengah disiapkan untuk semua platform agar konsep ini berjalan.
Model ini diusung oleh  spotify.com yang akan bekerjasama dengan Facebook  meluncurkan  streaming musik via situs sosial tersebut secara gratis.
”Jika konsep spotify.com ini terealisasi, model bisnis seperti Melon akan terlindas. Saat ini spotify sudah ada di Eropa dan Amerika Serikat, sebelum mereka masuk Indonesia, ada baiknya Melon mengubah model bisnis secepatnya,” katanya.
Sementara Praktisi musik digital Gerd Leonhard mengakui, penerapan skema tarif flat atau unlimited dalam membeli lagu sebagai sesuatu yang tak bisa ditolak di era  musik yang bukan lagi sebagai produk tetapi layanan.
Disarankannya, kunci untuk menawarkan tarif unlimited yang bisa mendongkrak pendapatan dari musik digital adalah membuat pelanggan merasa bebas untuk membeli sesuatu tanpa merasa mengeluarkan uang dalam jumlah banyak.
“Membundel dengan layanan telekomunikasi itu sudah tepat karena ada nilai lain yang diterimanya selain membeli musik,” jelasnya.
Diingatkannya, kunci sukses dari penjualan musik digital adalah kerjasama yang erat antar semua ekosistem mulai dari operator, perusahaan rekaman, dan artis agar mendapatkan ekspose yang luas sehingga masyarakat ingin memiliki
sebuah lagu.
Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menyatakan pemilik konten tidak perlu khawatir ditinggalkan pengguna jika produknya dibutuhkan.
”Selama ini ada yang mengeluh RBT-nya otomatis diperpanjang atau merasa tidak berlangganan. Jika direset, dan benar-benar ada yang ingin berlangganan dipersilahkan. Itu akan fair bagi semua pihak. Kalau produknya bagus tentu dicari masyarakat,” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s