271011 Isu Keamanan dan Privasi Hantui Komputasi Awan

Industri komputasi tengah mengalami pergeseran paradigma dalam hal pengoperasiannya di seluruh dunia. Terdapat peningkatan kesadaran di kalangan konsumen dan perusahaan untuk mengakses sumber daya Teknologi Informasi (TI)  secara ekstensif melalui sebuah model utilitas atau  lebih dikenal  komputasi awan (Cloud Computing/Cloud).

Layanan Cloud terutama segmen Infrastructure as a Service (IaaS) diyakini akan  tumbuh 53.4 persen  selama periode 2010 – 2014 karena industri semakin sadar manfaat efisiensi biaya yang ditawarkan jasa ini.
Di Indonesia, sektor  Banking, Financial Services & Insurance (BFSI), Manufaktur, dan Telco/IT akan berkontribusi sebesar  65 persen  dari pasar data center di industri.
Namun masih banyak perusahaan yang menunjukkan sikap skeptis terhadap penerapan sistem Cloud karena adanya kekhawatiran atas keamanan (Security) dan privasi (Privacy). Hal ini, diperparah dengan rendahnya konektivitas internet broadband yang handal di Indonesia.
Diyakini pasar Cloud  Indonesia tengah berada dalam kurva pertumbuhan pesat dan semakin banyak perusahaan yang akan menjadikan Cloud sebagai prioritas   dalam tahun-tahun mendatang. Hal itu ditunjukkan adanya peningkatan permintaan dari perusahaan-perusahaan lokal yang   mulai memahami lebih banyak aplikasi model dan adanya kesempatan untuk mengurangi biaya dan mendorong terciptanya efektivitas.
Penggagas Komunitas Indonesia Cloud Forum (@idcloudforum) Teguh Prasetya mengungkapkan,  angka serangan lewat DOS attack di Indonesia saja mendapat porsi 5 persen dari total yang dirangkum vendor keamanan jaringan Kaspersky pada Q2-2011.
“Industri yang paling sering diserang tentunya industri yang berhubungan dengan transaksi keuangan,” ungkapnya di Jakarta,   (Rabu 26/10).
Direktur IT & Supply Telkom Indra Utoyo mengatakan, terdapat  tujuh risiko yang mengemuka soal keamanan  di Cloud Computing yang tahun ini pasarnya diperkirakan mencapai  2,1 triliun rupiah di Indonesia.
Ketuju risiko itu adalah Privilege User Access, Regulatory Compliance, Data allocation, Data Secure, Recovery, Investigative support, dan terakhir Longterm Viability.
Tak Perlu Khawatir
“Jeleknya pengetahuan orang tentang keamanan di Internet yang menghantui adopsi Cloud Computing. Selain itu juga orang merasa lebih aman menyimpan data di komputer sendiri daripada di cloud. Padahal kenyataannya, data di cloud bisa jadi jauh lebih aman daripada data tersimpan di komputer sendiri,” kata  National Technology Officer di PT Microsoft Indonesia, Tony Seno Hartono.
Ditegaskannya,   industri tak perlu khawatir  karena data bisa dipastikan lebih aman karena ada aturan yang mengharuskan setiap penyelenggara layanan Cloud Computing untuk patuh terhadap regulasi dan aturan yang terkait.
Sebagai contoh, ISO 27002 yang merupakan standar praktik terbaik pada keamanan informasi yang bisa juga digunakan untuk menilai tingkat keamanan di suatu penyedia jasa layanan Cloud Computing.
Selain kekhawatiran akan faktor keamanan, privasi juga menjadi isu yang menjadi perhatian Microsoft. “Era social media mengubah kebiasaan orang dalam menangani privasi. Privasi menjadi sangat penting di Cloud Computing, karena tingkat privasi yang diinginkan setiap orang berbeda-beda. Dengan kemampuan privasi data, maka setiap orang bisa menentukan siapa yang berhak mengakses atau mengubah suatu informasi berdasarkan identifikasi digital,” papar Tony.
Menurut Country Manager Cloud Computing Services IBM Indonesia  Kurnia Wahyudi   tingginya perhatian pengguna terhadap isu keamanan di dunia cloud computing, justru bisa dijadikan lahan bisnis baru bagi para penyedia layanan tersebut.
“Melihat hal ini, kami melihat bahwa isu keamanan justru bisa dijadikan nilai lebih dari tiap-tiap perusahaan dalam persaingan mereka dalam dunia layanan cloud computing,” ujarnya.
Dijelaskannya, jika para cloud provider  jeli melihat peluang,  sebenarnya isu tersebut bisa dijadikan  celah’ faktor penentu kompetisi dalam dunia layanan cloud. “Para konsumen nantinya jadi bisa memilih provider mana yang sungguh-sungguh peduli akan isu ini, sehingga pengguna jadi percaya terhadap mereka,” ungkap Kurnia.
Dikatakannya, hal yang patut dipertanyakan sedari awal ialah standarisasi aman itu sendiri. “Masalah keamanan itu sebenarnya yang menetukan pengguna sendiri. Cloud provider hanya menyesuaikan,” jelasnya.
VP Engagement Practice Ericsson Indoensia Rustam Effendie mengungkapkan, masalah  keamanan bisa dimulai dari   sisi jaringan penghantar, namun pengguna akan diminta untuk membayar tarif premium untuk layanan ini. “Keterbatasan infrastuktur dasar seperti listrik sangat memberatkan perusahaan telekomunikasi memberikan akses broadband yang murah,” katanya.
Siapkan Aturan
Sementara Kepala Sub Teknologi dan Infrastruktur Ditjen Aptika Kominfo, Nooriza, mengatakan, pemerintah tengah  menyiapkan aturan melalui Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (PITE) tentang isu keamanan dan privasi di cloud computing.
“Ini peluang usaha nasional. Apapun layanan yang ditempatkan di Indonesia akan mendorong tumbuhnya industri layanan yang dimaksud, begitu juga dengan cloud computing. Di dalam RPP PITE menyebutkan bahwa Data Center perusahaan layanan transaksi elektronik di Indonesia harus berada di dalam wilayah teritori Indonesia. Hal ini akan mendukung peluang bisnis cloud computing di Indonesia,” katanya.
Dijelaskannya,  kebijakan ini diterbitkan demi keamanan data nasional, data kepemerintahan, dan transaksi antarpemerintah selaku sektor publik dengan masyarakat. “Agar data tersebut juga tidak disalahgunakan oleh pihak lain yang berada di luar dan dalam teritori Indonesia,” tegasnya.
Direktur Strategic Business Development Intel Indonesia Harry K Nugraha menyarankan adanya  standar dan kriteria spesifik dari penyelenggaraan layanan cloud computing di Indonesia. “Sebaiknya para pemangku kepentingan di cloud itu yang mengusulkan ke pemerintah hal-hal yang harus diregulasi atau tidak, karena mereka yang tahu kebutuhannya,” katanya.
Praktisi telematika Mochammad James Falahuddin  menyarankan, diperlukan pihak ketiga yang berdiri di atas semua platform untuk melakukan autentifikasi dari standar layanan cloud computing. “Cloud di masa depan akan bisa berinterperobilitas antar pemain. Harus segera dibuat pihak ketiga yang melakukan standarisasi,” katanya.[dni]

271011 Microsoft Siapkan Model Bisnis Komputasi Awan

JAKARTA—Microsoft menyatakan kesiapannya dalam menyediakan layanan Cloud Computing atau komputasi awan yang lengkap untuk segala kebutuhan pengguna di Indonesia dengan menyiapkan beberapa skema model bisnis.

“Komputasi awan bukanlah solusi untuk semua masalah Teknologi Informasi (TI), tetapi merupakan satu komponen dari satu solusi TI yang lengkap, yang biasanya merupakan gabungan dari layanan awan ditambah dengan aplikasi yang terpasang di server milik sendiri. Kami telah menyiapkan beberapa  model bisnis untuk solusi ini,” ungkap  National Technology Officer PT Microsoft Indonesia, Tony Seno Hartono di Jakarta, Rabu (26/10).
Diungkapkannya, beberapa skema bisnis yang disiapkan bagi perusahaan ingin mengadopsi komputasi awan, pertama   Pay As you Grow  atau  Pay As You Use, dimana  pembayaran dialakukan per bulan, subscription base dan sesuai dengan apa yang digunakan bulan tersebut.
Kedua, Start anytime, Stop Anytime. Model ini mengurangi resiko investasi IT, karena bisa membayar sesuai yang dibutuhkan, dan dapat mulai atau berhenti subscription process kapan saja sesuai kebutuhan.
Ketiga,  menggeser  belanja modal menjadi biaya operasi   dimana cara pembiayaan TI melalui Operating Expenses dan tidak di claim menjadi aset perusahaan, sehingga lebih meringankan pengusaha.
Keempat  Outsourced complexity dimana sebagian besar maintenance akan di lakukan oleh pihak partner yang memberikan jasa hosting dan menjalankan semua aplikasi. Kelima Get The Latest Technology Automatically yang memungkinkan pelanggan selalu mendapatkan teknologi terbaru dari Microsoft.
 Sedangkan produk dan fitur terkait cloud computing yang ditawarkan adalah Microsoft Exchange Online,  Microsoft SharePoint Online,  Microsoft Office Communications, dan Microsoft Office Live Meeting.
“Komputasi awan bukan teknologi baru tapi satu tahapan evolusi komputasi yang natural. Microsoft akan menjadikan Indonesia sebagai Knowledge Base Society dengan cara 1. mendorong industri kreatif, entrepreunership, transformasi pendidikan, dan transparansi di pemerintahan, dimana implementasi komputasi awan salah satu strateginya,” katanya.[dni]

271011 Indonesian Cloud Gandeng DELL

JAKARTA—PT Indonesian Cloud  menggandeng DELL guna menyediakan layanan cloud computing (Komputasi awan) untuk menggarap pasar Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
“Kami menggandeng DELL untuk menyediakan layanan Public Cloud dan Private Cloud bagi UKM. Sebentar lagi kerjasama akan diumumkan dan pada tahun depan mulai komersial. Ditargetkan ada 150 ribu UKM yang bisa digaet,” ungkap Direktur Utama Indonesian Cloud Teguh Prasetya di Jakarta, Rabu (27/10).
Indonesian Cloud adalah perusahaan yang dimiliki oleh TRG Investama.  Sebelumnya, perusahaan ini  menggandeng Institut Teknologi Bandung untuk melakukan riset tentang konten-konten spesifik berkaitan dengan cloud computing. Dana 10 miliar rupiah digelontorkan untuk program tersebut.
Diungkapkannya, pasar komputasi awan untuk untuk UKM sangat terbuka lebar karena biasanya memiliki dua hingga tiga orang karyawan untuk mengurusi sistem Teknologi Informasi (TI).
“Mereka tidak ada waktu untuk mengurusi TI secara maksimal. Nantinya kita akan tawarkan Platform as Services, Software as services, dan Infrastructure as service untuk meningkatkan daya saingnya,” katanya.
Untuk diketahui, dari sisi jenis layanan,  Cloud Computing, terbagi dalam 3   yaitu  Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS) dan Infrastructure as a Service (IaaS). Sementara dari sifat jangkauan layanan, terbagi menjadi Public Cloud, Private Cloud dan Hybrid Cloud.
Service Engagement Manager DELL Indonesia Arwinto Nugroho mengungkapkan betuk kerjasama dengan penyedia layanan cloud (Cloud Provider) lokal ini adalah dalam bentuk konsultasi, penyediaan hardware, dan software.
“DELL telah beraliansi dengan banyak Cloud Provider. Kami bukan pemain baru di bisnis ini. Bahkan tak lama lagi ada mini cloud hasil kerjasama dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang emudahkan pencari kerja meng-update portfolio kerja melalui balai-balai kerja yang ada di Indonesia,” katanya.
Marketing Director DELL Indonesia Arif Darmawan mengatakan, pasar private cloud di Indonesia akan tumbuh pesat dalam kurun waktu satu hingga dua tahun mendatang, sedangkan public cloud baru aka tumbuh pesat lima tahun mendatang.
“Hal ini karena momentum dan adopsi virtualisasi sangat cepat di perusahaan-perusahaan besar di  Indonesia. Bagi perusahaan, komputasi awan harus dijalankan karena ini suatu perjalanan dari evolusi. DELL siap memaksimalkan kesempatan ini bagi layanan komputasi awan yang dimilikinya,” tegasnya.[dni]

271011 Skype Hadir di Telkomsel

JAKARTA—PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menggandeng  penyedia layanan perangkat lunak internet terkemuka di dunia, Skype, guna menghadirkan jasa yang bisa berkomunikasi dengan murah berbasis data bagi pelanggan.
“Kami bangga dapat menghadirkan layanan Skype ke pelanggan Telkomsel, sebagai sebuah terobosan untuk memberikan kenyamanan bagi 105 juta pelanggan Telkomsel dalam menikmati pilihan komunikasi global tanpa batas dengan menghubungkan kepada ratusan juta pengguna Skype di seluruh dunia. Hal ini sekaligus membuktikan kepeloporan Telkomsel sebagai penyedia mobile broadband terbaik di Indonesia“ ungkap Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel, Herfini Haryono di Jakarta, Rabu (27/10).
Dijelaskannya, melalui kerjasama ini memungkinkan perangkat lunak Skype dipergunakan pada berbagai smartphone multiplatform, seperti Symbian, Android dan Blackberry.
Menurutnya, kehadiran Skype akan memperkuat layanan data bagi pengguna Telkomsel dengan menawarkan cara baru melakukan panggilan melalui telepon seluler ke seluruh dunia. Di sisi lain, menghadirkan kesempatan bagi jutaan pengguna Skype untuk berkomunikasi dengan teman, keluarga maupun mitra bisnis di Indonesia menggunakan jaringan luas dan berkualitas milik Telkomsel.
Pada awal peluncurannya, Skype tersedia pada 24 smartphone seperti dari Samsung, BlackBerry, Nokia dan LG dengan rencana untuk memperluas layanan ke ponsel berbasis J2ME lain dalam waktu dekat.
Dikatakannya,  pelanggan dapat membeli paket data seharga  25 ribu rupiah per  bulan dari Telkomsel untuk  dapat menikmati fitur-fitur Skype, seperti: panggilan Skype-to-Skype secara unlimited tanpa dikenakan biaya tambahan pemakaian pulsa.
Bebas mengirimkan dan menerima pesan instan (instant messages) ke seluruh teman, baik secara personal (1 to 1) maupun melalui grup, berpartisipasi dalam conference calls, melakukan panggilan internasional dari Skype ke saluran telepon tetap dan bergerak dengan tarif kompetitif dari Skype, serta memiliki aplikasi Skype app “always on“  dan dapat melihat status online kontak pengguna Skype lain setiap saat
Bagi pelanggan Telkomsel yang mengaktifkan paket data Telkomsel khusus Skype sebelum tanggal 31 Januari 2012 dapat menikmati layanan Skype selama dua minggu tanpa dipungut biaya. Aktivasi layanan dapat dilakukan dengan mengakses *363# yang juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi layanan, mengecek kompatibilitas dengan ponsel dan menu pendukung lain.
Vice President & General Manager of International Skype Dean Neary, mengaku pengguna ponsel di Indonesia tumbuh pesat. Hal itu terlihat dari  47 persen pengguna internet di Indonesia  menggunakan ponsel. “Itulah mengapa kami mulai fokus ke layanan smartphone dan menggandeng Telkomsel,” katanya.[dni]

261011 Insa Bidik Angkutan Migas

JAKARTA – Para pengusaha kapal yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Kapal Nasional atau Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) membidik pelayanan angkutan muatan barang minyak dan gas (migas) yang akan tumbuh mencapai 1 miliar ton pada 2015.

“Kita optimis meskipun ada kekhawatiran terhadap dampak krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, pertumbuhan muatan migas akan naik. Para pengusaha lokal siap melayani ,” kata Ketua Umum INSA Carmelita Hartato di Jakarta, Selasa (25/10).

Dikatakannya, untuk memenuhi harapan tersebut, dibutuhkan kebijakan dari pemerintah yaitu melalui insentif dan kebijakan agar kapal-kapal berbendera Merah Putih mampu bersaing dengan kapal asing dalam melayani angkutan muatang barang migas yang terus tumbuh hingga beberapa tahun mendatang.

Diungkapkannya, berdasarkan data 2010, dari total muatan barang migas sebanyak 876 juta ton, yang menggunakan kapal nasional hanya sekitar 300 juta ton, sedangkan selebihnya masih menggunakan kapal asing.

Diharapkannya, pemerintah dapat menciptakan kebijakan yang dapat mewujudkan perlakuan yang sama antara kapal nasional dengan luar negeri. Hal ini diperlukan supaya kapal-kapal nasional dapat bersaing dengan kapal luar negeri dalam kegiatan pengangkutan produk ekspor dan impor.

“Kapal berbendera Merah Putih dikenakan pajak pertambahan nilai (ppn) sebesar 10 persen dari total ongkos angkut kapal, sedangkan untuk kapal asing tidak dikenakan, sehingga perusahaan migas lebih memilih menggunakan kapal asing yang lebih murah,” ungkapnya.

Ditegaskannya, pemerintah harus. menghapuskan ppn sebesar 10 persen tersebut, sehingga persaingan bisnis antara kapal asing dan nasional menjadi seimbang. Sedangkan opesi kedua yang ditawarkan asosiasinya yaitu pemerintah harus memberikan pajak yang sama kepada kapal-kapal berbendera asing yang melakukan pelayaran di Tanah Air.

Lebih lanjut, dia mengajak para operator pelayaran nasional untuk meningkatkan daya saing di sektor angkutan luar negeri karena hingga kini kapal nasional baru mengangkut 9 persen muatan ekspor-impor. Padahal, sektor ini sangat terbuka untuk investor.

“Sekarang kita ditantang untuk bisa bersaing pada sektor angkutan luar negeri dengan potensi muatan mencapai 600 juta ton per tahun,” katanya.

Sementara itu Sekjen INSA Paulis Djohan menambahkan, tantangan yang saat ini masih dirasakan perusahaan kapal nasional yaitu kekurangan sumber daya manusia khususnya pelaut dan minimnya kapal nasional yang mengisi kegiatan angkutan luar negeri atau beyond cabotage, maupun penyediaan kapal-kapal khusus di sektor hulu migas.

“Kami optimis setidaknya pada 2020 akan meningkatkan market share kapal nasional disektor angkutan luar negeri menjadi 20 persen sesuai dengan target yang sudah dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan,” kata Paulis.[Dni]