251011 Penguasa Mengejar Ketertinggalan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) melalui unit usahanya yang memegang lisensi  Fixed Wireless Access (FWA), Flexi, adalah penguasa pasar Code Division Multiple Access (CDMA) di Indonesia.
Tercatat, Flexi hingga semester I 2011 memiliki 18,7 juta pelanggan dengan Average Revenue Per User (ARPU) sekitar 9 ribu rupiah. Angka itu melorot dari sebelumnya 17 ribu rupiah.
Guna mengantisipasi penurunan ARPU yang dapat mengurangi profit margin dari Flexi, Telkom   meluncurkan layanan mobile broadband di 10 kota. Sepuluh kota yang akan menikmati   kecepatan akses data hingga  5 Mbps itu adalah 10 lokasi potensial di Indonesia antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang,  Jogjakarta, Banjarmasin, Pekanbaru, Makassar, Denpasar, dan  Medan.
Teknologi yang diusung adalah  Evolution Data Only Revision A (EVDO Rev A) dengan dukungan dana sekitar 200 miliar rupiah untuk menambah fitur dari penyedia jaringan Huawei dan ZTE itu  pada 6 ribu BTS milik Flexi.
Penggelaran EVDO Flexi direncanakan selesai pada  awal 2012.  Pada awal Oktober 2011, Telkom telah mengoperasikan 735 BTS EVDO dengan rincian 462 di Jakarta, disusul dengan Jawa Barat sebanyak 123 BTS, Medan dengan 6 BTS, Pekanbaru 28 BTS, Banjarmasin 33 BTS, Makasar 40 BTS, Denpasar 13 dan Surabaya 15 BTS EVDO.

Khusus di Bali, Telkom telah siap memberikan layanan Flexi Mobile broadband. Dari 145 BTS yang ada di Denpasar saat ini telah terpasang 13 BTS dengan teknologi EVDO Rev A dan sampai dengan akhir tahun akan terpasang 49 BTS.

Ditargetkan hingga akhir 2011 ada 50 ribu pelanggan menggunakan teknologi terbaru ini dan pada 2012 menjadi 500 ribu pelanggan. Saat ini sebanyak satu juta pelanggan Flexi aktif menggunakan data dan diharapkan  menjadi dua juta pengguna pada akhir tahun nanti. Telkom  sendiri berharap pelanggan Flexi pada akhir  2011   menjadi sekitar 20 juta pelanggan.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengakui, Flexi agak molor meluncurkan EVDO dari rencana semula Agustus 2011. “Rencananya memang EV-DO dari Flexi akan diluncurkan sekitar pertengahan Agustus lalu. Tetapi karena negosiasi harga dengan penyedia jaringan sedikit alot, maka penggelarannya agak terlambat,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.
 Menurutnya, hasil dari negosiasi dengan penyedia jaringan seperti ZTE atau Huawei lumayan menggembirakan dimana harga yang didapat oleh Flexi untuk penggelaran EVDO lumayan murah sehingga tarif yang diberikan ke pelanggan lebih terjangkau.
“Besaran investasinya bisa ditekan lebih rendah untuk EV-DO. Tidak masalah mundur sedikit, tetapi hasilnya lebih kompetitif  ,” katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, saat ini tren operator mengarah ke layanan data. Untuk bisa bertahan perseroan wajib mempunyai layanan data yang ditambah dengan pengembangan konten dan aplikasi.
“Kami ingin Flexi bisa bersaing dengan operator CDMA lainnya yang telah masuk ke mobile broadband. Strategi ini juga digunakan untuk melengkapi layanan Flexi dan memaksimalkan potensi grup,” katanya.
Menurutnya,  mainstream bisnis telekomunikasi memang mengarah kepada penyediaan layanan mobile data, dimana salah satu indikator yang paling sederhana adalah pertumbuhan pengguna smartphone yang dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan, kegiatan social networking (Facebook & Twitter) serta akses internet.
Diungkapkannya, dalam lima tahun terakhir bisnis telepon seluler menunjukan pertumbuhan jumlah pelanggan dan  ARPU  yang sangat tinggi, masing-masing sebesar  yakni antara 27 hingga  42 persen tetapi pada dua tahun terakhir ini justru mengalami pertumbuhan negatif.

Penurunan pertumbuhan ARPU yang berbanding terbalik dengan penambahan pelanggan tersebut terkait dengan  kecenderungan penurunan revenue voice. Apabila kondisi ini tidak diantisipasi dipastikan dapat mengurangi profit margin operator, mengingat kontribusi revenue voice masih sangat dominan.

Secara terpisah, menurut  Pengamat telematika Bayu Samudiyo tantangan yang dihadapi Flexi dalam menggelar EVDO adalah keterbatasan kanal yang dimilikinya sehingga kala jumlah pelanggan mencapai titik tertentu, dipastikan berpengaruh kepada kualitas layanan.
“Untuk menggelar mobile broadband di CDMA dibutuhkan dedicated canal. Jika tidak ada management bandwidth yang mumpuni, Flexi bisa kedodoran kualitas layanannya,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s