241011 Garuda Semakin Indonesia


PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) semakin menunjukkan jati dirinya sebagai duta bangsa di kancah industri penerbangan. Melalui tagline Garuda Experience. ciri khas budaya  Indonesia terasa kental  di dalam pesawat, ruang tunggu, dan kantor penjualan maskapai ini.
Garuda Indonesia Experience merupakan konsep layanan yang berakar pada kekayaan budaya bangsa yang tercermin dalam album Sound of Indonesia besutan komposer Addie MS dan Garuda Aromatic Fragrance  hasil racikan Mustika Ratu.
Sound of Indonesia merupakan koleksi lagu-lagu daerah dan tradisional dari seluruh penjuru Indonesia yang akan diperdengarkan selama penerbangan maupun di lounge dan kantor penjualan Garuda Indonesia. Beberapa lagu-lagu tradisional dalam Sound of Indonesia tersebut antara lain Rasa Sayange, Janger, Ayo Mama dan Tanah Airku.
Sementara Garuda Aromatic Fragrance  diciptakan secara khusus oleh Mustika Ratu yang menyajikan  wewangian aromaterapi khusus  berasal dari hasil campuran antara buah cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Nantinya  digunakan sebagai wewangian resmi di pesawat selama penerbangan maupun di executive lounge dan kantor-kantor penjualan Garuda Indonesia.
Tidak berhenti disitu, Garuda juga menyajikan masakan khas Indonesia seperti rendang yang telah diakui sebagai salah satu makanan terlezat di dunia.
Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto mengatakan jika ingin bersaing dengan maskapai asing, tidak bisa hanya mengandalkan pesawat baru. “Kita akan kalah jika hanya bermain di armada. Kita memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh pesaing yakni Indonesia dan budayanya. Karena itu ditawarkan pengalaman Indonesia kala bersama Garuda yang melibatkan seluruh panca indera penumpang,” jelasnya di Jakarta, kemarin.
Dikatakannya, ke depan Garuda akan mengutamakan pelayanan sesuai dengan program Quantum Leap yang telah dicanangkan oleh manajemen. Peningkatan pelayanan itu akan dimulai dari proses membeli tiket, check in, layanan selama penerbangan, hingga ground handling.
“Sekarang Garuda sedang meningkatkan kemampuan Passenger Service System (PSS) yang meliputi reservarsi system, departure control system, dan inventory control system. Jika ini sudah selesai, berbagai kenyamanan bisa dirasakan pelanggan,” katanya.
Diungkapkannya, dampak dari peningkatan kemampuan sistem Teknologi Informasi (TI) itu, maka pembelian tiket secara online akan lebih lancar, begitu juga dengan check in. Untuk check in direncanakan adanya  aplikasi  yang ditanamkan dalam telepon seluler agar penumpang bisa melakukan mobile check in.
Selain itu akan ada juga portable check in untuk memangkas antrian di loket. “Kita ingin memotong  waktu antri di loket yang biasanya 7 menit menjadi dua menit. Kalau bisa penumpang hanya menaruh bagasi saja di loket,” katanya.
Sementara untuk hiburan di atas pesawat tersedia audio video on demand (AVOD). Tidak hanya itu, rencananya untuk dikelas ekonomi kursi akan diganti untuk meningkatkan kenyamanan. Belum lagi nantinya bagi rute jarak jauh penumpang akan bisa memesan makanan sesuai keinginan disajikan  secara fresh from oven.
Nantinya, penumpang tinggal memesan makanan melalui layar monitor di kursi tanpa harus memanggil awak kabin. Masakan akan di masak di atas pesawat karena para juru masak akan disertakan dalam perjalanan.
“Biaya-biaya untuk meningkatkan kenyamanan itu hanya 15 persen. Jangan melihat ini sebagai bagian dari biaya yang memberatkan, tetapi lihatlah dampaknya  yang bisa memaksimalkan pendapatan,” katanya.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengaku   belum bisa memprediksi  potensi kenaikan pendapatan dari layanan Garuda Indonesia Experience mengingat sifatnya jangka panjang dan dari anggaran beberapa tahun kedepan, bukan hanya dari tahun ini.
“Layanan ini untuk jangka panjang, masuk dalam cost passanger services. Dimulai tahun ini untuk membangun brand yang kuat. Dengan ini diharapkan mampu mendongkrak load factor atau tingkat keterisian penumpang,” katanya.[dni]

241011 Maskapai Dukung Pembangunan Bandara Baru di Jabodetabek


JAKARTA—Maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) mendukung rencana pemerintah untuk membangun Bandar udara (Bandara) baru di Jabodetabek untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di masa depan.
“Saya rasa melihat pertumbuhan penumpang rata-rata antara 15 hingga  20 persen  per tahun dan  ekonomi Indonesia yang rata-rata 6 persen lebih dalam waktu yang  tidak lama Bandara Soekarno-Hatta  sudah tidak bisa menampung lagi lonjakan penumpang  meskipun sudah diadakan pengembangan. Sudah tepat  pemerintah merencanakan Bandara baru,” kata Sekjen Inaca Tengku Burhanuddin di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurutnya, rencana pemerintah tersebut mencerminkan adanya kemajuan dalam pola pikir karena biasanya selama ini menunggu dulu terjadi kelebihan kapasitas baru direncanakan pengembangan.
“Kota-kota  besar di dunia  seperti Tokyo , London, dan Shanghai sudah punya masing-masing dua bandara. Jakarta harusnya juga demikian.   Diharapkan pada  2020 sudah ada solusi menghadapi lonjakan penumpang itu  dengan adanya bandara baru tersebut,” katanya.
.
Diingatkannya, hal yang penting dalam membangun bandara baru adalah memperhatikan akses menuju lokasi seperti jalan toll dan kereta api harus paralel direncanakan.
“Pengalaman seperti Bandara  Lombok dan Kuala Namu dimana jalan tol  belum tersentuh jangan terulang. Perlu perencanaan matang tidak tambal sulam,” ingatnya.
Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto juga menyambut baik rencana pemerintah membangun bandara baru di sekitar Jabodetabek seperti di Karawang. “Karawang tepat dari sisi akses. Nanti akan dikaji Garuda  membuka hub disitu,” katanya.
Dikatakannya, dalam membangun bandara harus diperhatikan arus penumpang dan barang  keluar masuk, serta rencanan jangka panjang minimal untuk 50 tahun ke depan.
“Hal yang penting flow penumpang.  Kita belum punya bandara hub, yakni pengumpul seluruh penerbangan dari domestik atau regional, ke negara lebih jauh. Pembangunan Bandara di kerawang seharusnya memang di sana apalagi dikaitkan dengan pariwisata  dan ekonomi kreatif, tentu  harus di dukung kebaradaan bandara,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengungkapkan, Kementerian Perhubungan berencana membangun bandara baru di kawasan Jakarta bagian Timur yakni sekitar Cikarang-Karawang, Bekasi. Peletakan batu pertama ditarget pada 2013.
Diungkapkannyam bandara baru ini nantinya berdaya tampung lebih besar dari Bandara Soekarno-Hatta saat ini. “Soal pembangunan bandara baru di Timur Jakarta masih tahap pengkajian soal tepatnya dititik mana dari sekitar Cikarang-Karawang, namun soal akan dibangun, memang sudah pasti dibangun,” kata Bambang.
Dikatakannya, untuk lokasi membangun bandara baru ini, masih ada beberapa pertimbangan, yakni soal daya dukung lingkungan, lahan pertanian produktif, dan aksesibiltas.
Dipaparkannya, bandara baru ini nantinya akan berkapasitas lebih besar dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Diperuntukkan untuk seluruh segmen penerbangan termasuk untuk layanan penuh atau full services maupun tarif rendah atau low cost carier (LCC).
“Nantinya di Jakarta akan ada multi airport (beberapa bandara), terserah maskapai untuk memilihnya. Namun, antara Bandara Soekarno-Hatta yang berada di Cengkareng Banten, akan terhubung langsung dengan bandara baru ini melalui jaringan kereta api,” kata Bambang.
Dijelaskannya,  untuk pengerjaan proyek ini akan berbentuk kerjasama pemerintah dan swasta atau public private partnership (PPP). Pemerintah akan membangun prasarana dari sisi udara, sedangkan untuk swasta akan mengerjakan dari sisi darat.
“Skemanya nanti PPP. Pada 2013 akan mulai ditender, kalau lancar, proses tender akan selesai dalam 1-1,5 tahun. Studinya masih berjalan, harus dilihat juga dari sisi ruang udaranya,” katanya. [dni]