221011 Kemenhub akan Bangun Jalur Kereta Api Terkoneksi ke Bandara

JAKARTA–Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan  membangun jalur kereta api perkotaan di sejumlah daerah yang terkoneksi langsung dengan bandar udara (Bandara).

Bandara yang dibidik diantaranya seperti di Jabodetabek ke Bandara Soekarno-Hatta, Yogyakarta ke Bandara Adi Sucipto, Solo ke Bandara Adi Sumarmo, Surabaya ke Juanda dan Medan ke Bandara Kuala Namu.

“Kami berkomitmen mengembangkan angkutan  kereta api di dalam kota besar yang terhubung ke bandara agar arus perpindahan penumpang kian lancar,” kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di Jakarta, Jumat (21/10).

Menurutnya,  ada beberapa kota satelit yang biasanya memiliki kereta perkotaan dan dapat terus dikembangkan seperti di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Gerbang Kertasusila (Gresik, Bangkalan Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan), Joglo Semar (Yogyakarta, Solo dan Semarang), Mebidangro (Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Tanah Karo).

“Kereta api ini akan menghubungkan kota-kota setelit di sejumlah daerah, termasuk bandara juga terhubung langsung. Sama seperti Yogyakarta yang sudah ada, sedangkan Surabaya sudah mulai dibangun ke Bandara Juanda. Untuk Bandara Kuala Namu Medan akan ada akses kereta bandaranya pada 2013, begitu bandaranya jadi,” katanya.

Dikatakannya,  selesainya rel jalur ganda lintas Pantai Utara Jawa, yakni dari Jakarta sampai Surabaya yang ditarget 2013, akan mempermudah jalur kereta api di kawasan Jawa Timur yakni ke Sidoarjo, Lamongan, dan Bojonegoro. “Nantinya dari kota-kota sekitar Surabaya ini, kereta api akan terhubung langsung ke Bandara Juanda,” jelasnya.

Sedangkan  untuk jalur kereta api di Solo, sedang di pelajari perlu tidaknya kereta masuk ke bandara, begitu juga dengan Semarang sedang di studi. Di Medan, Bandara Kuala Namu, begitu selesai pembangunan 2013, langsung terkoneksi dengan kereta api. Bahkan dari stasiun di tengah kota bisa langsung chek in penerbangan.

Diungkapkannya,  untuk pembangunan jalur kereta ini, sebagai langkah awal akan ditawarkan ke operator yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Tundjung Inderawan menambahkan,  pengerjaan proyek kereta api Bandara Soekarno-Hatta Jakarta untuk jalur komuter saat ini sudah berjalan dan ditargetkan selesai pada 2013.

“Untuk jalur komuter ini sudah ada perpresnya yang menunjuk PT KAI untuk mengerjakannya,” katanya.

Dikatakannya,  untuk pengerjaan tergantung PT KAI memulai pembebasan tanah, menghitung  detail engineering desain atau DED.

“Mereka ajukan proposal proyek ke Kemenhub untuk dievaluasi berapa lama pemberian konsesi, misalnya 30 tahun. Kalau investasi 2,2 triliun rupiah. kita belum tahu berapa tahun masa konsesinya,” kata Tundjung.

Pembangunan jalur kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta terdiri dari dua jalur. Jalur pertama dinamakan ekspress line yang melalui rute Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit-Bandara Soekarno Hatta. Rute ini menggunakan pola kemitraan pemerintah dengan swasta atau public private partnership (PPP).

Jalur kedua yakni untuk rute kereta komuter yang melalui Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah Tinggi-Bandara Soekarno Hatta. Jalur yang satu ini mengikuti jalur kereta komuter yang sudah ada, tinggal menambah double track sepanjang rute dan 7 km dari Tanah Tinggi-Bandara Soekarno Hatta.

Jalur ganda ini sudah mulai dibangun pada 2010 yakni masih tahap pembangunan badan jalan kereta sepanjang 8 km dan pada 2011 ditargetkan dibangun 11 km lagi. Biaya pembangunan badan jalan ini mencapai 20 miliar rupiah untuk 2010 dan 28,16 miliar rupiah untuk 2011.[Dni]

211011 PT KAI Layak Pakai BBM Bersubsidi

JAKARTA—PT Kereta Api Indonesia (KAI) dinilai layak mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dari pemerintah karena sesuai dengan Perpres No.9/2006  tentang Harga Jual BBM Dalam Negeri.

Anggota Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim menilai harga BBM untuk kereta api sebesar 9 ribu rupiah per lliter dinilai melanggar Perpres No. 9/2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No.55/2005 tentang Harga Jual BBM dalam Negeri.

“Kami meminta pemerintah untuk segera memberikan subsidi BBM bagi PT KA. Sebagai moda transportasi public, kereta api jelas harus mendapatkan subsidi sehingga PT KA apalagi hal itu sudah diatur  dalam Perpres No.9/2006. Namun, mengapa sejak Maret tahun lalu, kereta api tidak lagi mendapat subsidi,” katanya di Jakarta,  Kamis (20/10).

Menurutnya,  dalam lampiran perpres No.9/2006 ditegaskan bahwa untuk sektor transportasi subsidi premium dan minyak solar diberikan kepada semua sarana transportasi darat (kendaraan bermotor, kereta
api) yang digunakan untuk angkutan umum dan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP),  kapal berbendera nasional dengan trayek dalam negeri, kendaraan bermotor milik InstansiPemerintah/Swasta, Kapal milik Pemerintah atau kendaraan bermotor milik pribadi.

Disesalkannya, kebijakan pemerintah yang selama ini menganaktirikan sektor perkeretaapian.  Kebijakan yang diambil pemerintah untuk menggiatkan sektor transportasi salah sasaran. kebijakan subsidi BBM selama ini tidak memihak pada transportasi publik seperti kereta api.

Dari besaran subsidi BBM pada APBN 2011 sebesar  187,6 triliun rupiah sebanyak 89 persen dinikmati angkutan darat. Dan, khusus untuk premium, 53 persen dinikmati mobil pribadi. Sementara kereta api tidak mendapatkan subsidi.

“Jika pemerintah ingin memindahkan angkutan penumpang dan barang dari jalan raya ke kereta api, maka kebijakan yang diambil harus menjadikan kereta api lebih kompetitif dibandingkan moda lain, termasuk memberikan subsidi BBM sesuai dengan perpres No.9/2006,” katanya.

Disayangkannya,  hal yang dilakukan pemerintah sebaliknya. Subsidi BBM untuk kereta dicabut, kereta dikenakan PPn sementara moda transportasi lain seperti truk barang tidak dikenakan. Ini kan jelas bahwa pemerintah tidak serius untuk mengembangkan kereta api yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi massal khususnya untuk angkutan penumpang.

Seperti diketahui, sebab sejak Maret tahun lalu, PT Kereta Api harus membeli BBM solar non subsidi seharga 9 ribu rupiah perliter untuk mengoperasikan kereta ekonomi, Akibatnya setahun ini PT KAI merugi hingga setengah triliun rupiah.

Jika subsidi diberikan pada kereta api, kata Hakim, pengelola kereta api tidak perlu merugi dan dapat berinvestasi untuk pembangunan jaringan rel baru, pengadaan rangkaian-rangkaian gerbong, serta membuat tarif yang terjangkau oleh masyarakat.

“Semua itu berdampak langsung pada peningkatan layanan transportasi publik menjadi lebih baik. Jika layanan transportasi publik jauh lebih baik, maka penggunaan kendaraan pribadi akan jauh berkurang sehingga solusi atas kemacetan dengan sendirinya teratasi,” kata Hakim.[Dni]

211011 Garuda Indonesia Tambah Armada Boeing 737

JAKARTA–PT Garuda Indonesia (GIAA) menambah armada seri Boeing 737 dengan mendatangkan pesawat terbaru B737-800NG ke-48 yang juga merupakan pesawat B737 series ke-123 yang telah diserahkan ke maskapai itu.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar menjelaskan, kedatangan armada baru sebagai wujud strategi perseroan meremajakan usia pesawat.

“Sekarang pesawat yang dimiliki Garuda berkisar 7,8 tahun. Kita harapkan tiga tahun mendatang bisa lebih muda,” katanya di Jakarta, Kamis (20/10).

Dijelaskannya,  pesawat B738-800NG baru ini dilengkapi dengan teknologi Boeing Sky Interior yaitu teknologi terbaru dari Boeing pada pola pencahayaannya.

Menurutnya, para penumpang akan merasakan perbedaan nuansa melalui lampu penerang yang dapat menghasilkan berbagai suasana warna (colour schemes) seperti warna biru angkasa yang lembut, suasana matahari terbenam yang membuat rileks dan  suasana matahari terbit.

“Dengan teknologi terbaru ini maka penumpang Garuda Indonesia akan semakin nyaman terbang dengan Garuda Indonesia,” jelasnya.

Ditambahkannya, seperti pesawat – pesawat baru lainnya yang diterima Garuda, pesawat ini juga dilengkapi dengan State – of – the – art inflight entertainment  yaitu Audio & Video on Demand (AVOD)  pada setiap seatnya.

Sejalan dengan konsep layanan Garuda Indonesia Experience, interior pesawat baru ini juga ditata dengan sentuhan ke-Indonesiaan yaitu penggunaan kain bercorak batik pada setiap seatnya serta penggunaan motif bambu (gedek) pada setiap partisi dalam pesawat.

Diungkapkannya, Garuda Indonesia saat ini mengoperasikan sebanyak 67 B737 series yang terdiri 48 B-737-800NG dan 19 B737-300/400/500. Secara bertahap Garuda akan melakukan phase-out B-737 klasik tersebut dan menggantikannya dengan B737-800NG untuk rute–rute penerbangan di domestik dan regional.

Pengadaan pesawat B737-800NG ini merupakan bagian dari program pengembangan dan revitalisasi armada yang dilaksanakan oleh Garuda Indonesia dalam rangka memodernisasi armada pesawatnya. Melalui program “Quantum Leap”, hingga tahun 2015 Garuda Indonesia merencanakan akan menambah armada dari yang saat ini  berjumlah sebanyak 89 pesawat menjadi 154 pesawat yang terdiri dari B737-800NG untuk domestik dan regional, A330-300/200 untuk jarak menengah dan sedang, dan B777-300ER untuk jarak jauh (longhaul) dengan rata – rata usia pesawat 5 tahun.

Saat ini Garuda Indonesia juga sedang melaksanakan proses pengadaan untuk pesawat berjenis sub-100 (pesawat dengan jumlah seat dibawah 100) untuk melayani penerbangan ke kota – kota lebih kecil dan penerbangan langsung tanpa persinggahan di Jakarta.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyambut baik kedatangan pesawat baru tersebut.

”Garuda saat ini sedang melaksanakan program quantum leap dan pengembangan dan revitalisasi armada menjadi salah satu fokus utamanya”, kata Bambang.

Diharapkannya, melihat perkembangan Garuda yang semakin baik, maka maskapai ini lebih cepat berkembang dan mampu berkompetisi dengan maskapai besar dunia.

“Potensi pasar angkutan udara Indonesia lumayan besar. Tercatat, 167 juta penumpang teregistrasi dan ada 60 juta orang menggunakan pesawat. Itu belum 10 persen dari total populasi, sehingga banyak peluang bagi maskapai,” katanya.

GandengCFM International
Pada kesempatan sama, VP Corporate Communication Garuda Pujobroto mengatakan, sejalan dengan semakin berkembangnya penggunaan pesawat jenis B737-800NG dalam armada pesawatnya, maka Garuda Indonesia baru-baru ini juga telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) dengan CFM International dalam bidang perawatan mesin CFM56-7B, yaitu jenis mesin yang digunakan pesawat Boeing 737-800NG  Garuda Indonesia.

Diungkapkannya, melalui kerjasama tersebut, CFM akan menyediakan layanan perawatan mesin secara komprehensif dengan system Rate Per Flight Hour (RPFH) dalam kontrak hingga 15 tahun.

CFM dan GMFAeroAsia juga akan bekerjasama mengembangkan kemampuan GMFAeroAsia untuk melaksanakan layanan perawatan overhaul bagi mesin CFM56-7B, sehingga nantinya pelaksanaan overhaul mesin CFM56-7B Garuda dapat dilaksanakan di GMFAeroAsia.[Dni]