181011 Mengantisipasi Lonjakan Trafik Data

Pada tahun ini di Indonesia diperkirakan terjual lima hingga enam juta unit ponsel pintar (Smartphone). Ponsel tipe ini memiliki kemampuan tidak hanya untuk teleponi dasar (Suara dan SMS), tetapi juga menjalankan fungsi multimedia dengan dukungan akses internet.

Diperkirakan sejumlah 650 unit smartphone terkoneksi ke internet setiap jamnya dan sebanyak 290 aplikasi diunduh setiap detiknya. “Di masa depan kebutuhan trafik data kian tinggi dengan kondisi keinginan mendapatkan kecepatan yang tinggi dari pengguna. Guna mengantisipasi fenomena ini, operator mulai mengantisipasi dengan uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE),” ungkap Division Head Data Product Portfolio Indosat Bernadus Erry Nugroho.

Menurutnya, secara teknologi LTE mampu menekan tingkat jeda pengiriman data (Latency) hingga 10 milisecond dengan performansi yang stabil. Selain itu LTE menawarkan efisiensi penggunaan bandwidth dan biaya mencapai 50 persen per bit.

“LTE juga ramah dengan smartphone karena ketika terkoneksi internet, akses LTE menjadi pilihan utama, setelah itu baru turun ke High Speed packet Access (HSPA), dan 3G,” jelasnya. Diungkapkannya, kondisi yang terjadi saat ini walaupun trafik data melonjak tinggi, tetapi omset yang dihasilkan belum signifikan mengingat biaya operasional untuk menghadirkan data kecepatan tinggi masih mahal.

Director and Chief Wholesale & Infrastructure Officer Indosat Fadzri Sentosa mengungkapkan, Indosat telah melakukan uji coba jaringan LTE yang diimplementasikan di frekuensi 1800 MHz sebagai alternatif solusi implementasi LTE.

Ditegaskannya, kesiapan itu ditunjukkan melalui ujicoba LTE pertama kali dengan re-farming frekuensi 1800 MHz bersama dengan Nokia Siemens Networks (NSN) yang berlangsung di Surabaya dan Bali. Sebelumnya, Indosat juga telah melakukan ujicoba di Jakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan menggandeng penyedia jaringan ZTE dan Ericsson

“Ujicoba dengan re-farming ini sekaligus menunjukkan bahwa LTE bisa dijalankan dengan memanfaatkan frekuensi yang telah dimiliki Indosat, sekaligus memberikan efisiensi penggunaan spektrum serta efisiensi energi.

Diharapkan hal ini akan semakin mempercepat implementasi LTE di Indonesia, untuk menjawab pertumbuhan penggunaan layanan data, aplikasi dan multimedia di masa depan,” katanya.

Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo M. Budi Setyawan mengatakan, pemerintah mengizinkan operator melakukan ujicoba teknologi LTE dengan pembatasan daya pancar. “Kami memandang ujicoba LTE ini sesuatu hal yang penting dilakukan karena kemajuan teknologi itu tidak bisa dibendung. Sekarang tinggal masalah regulasinya disiapkan,” katanya.

Diakuinya, hingga saat ini pemerintah belum menentukan spektrum frekuensi yang digunakan untuk LTE. “Ujicoba di frekuensi refarming 1.800 MHz ini sesuatu hal yang bagus dan bisa menjadi strategi transisi menuju penetapan golden frequency seperti 700 MHz yang sedang ditata. Pada prinsipnya untuk teknologi berbasis pita lebar regulasinya akan netral teknologi dimana pemerintah hanya mengatur hal-hal yang prinsip seperti masalah kualitas layanan atau kecepatan akses data minimum,” katanya.

Dijelaskannya, penggunaan refarming frekuensi 1.800 MHz untuk ujicoba LTE akan positif bagi operator karena bisa mengoptimalkan asset yang dimiliki oleh teknologi GSM atau Wide Code Division Multiple Access (WCDMA).

“Untuk di Indonesia, pita 1.800 MHz ini sudah mencukupi karena rata-rata memiliki dua kanal atau 10 MHz dan sudah ada ekosistem pengguna perangkat sehingga skala ekonomis lebih cepat tercapai. Selain itu tentunya untuk mengetahui model bisnis yang ideal dijalankan,” jelasnya.

Ditegaskannya, hal yang lebih penting dari maraknya ujicoba LTE dilakukan oleh operator adalah untuk mengetahui konten-konten yang akan menjadi primadona dan bisa dihantarkan oleh teknologi ini seperti e-doctor, e-education, 3D Movie Streaming, dan online game.

“Kami menginginkan Indonesia tidak hanya sebagai pasar dari perkembangan suatu teknologi. Masalah konten yang dapat dikembangkan itu sangat penting agar kehadiran akses pita lebar itu benar-benar memberikan dampak bagi kemajuan perekonomian. Kita harus membuktikan kajian beragam lembaga riset yang menyatakan penetrasi 10 persen pita lebar itu bisa memberikan dampak bagi pendapatan domsetik bruto suatu negara sebesar 0,5-1,5 persen,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s