111011 BRTI Optimistis Sedot Pulsa Dapat Ditertibkan

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) optimistis kasus sedot pulsa yang marak di industri telekomunikasi dapat ditertibkan dalam waktu tiga bulan kedepan.

“Kita optimistis kasus sedot pulsa melalui layanan SMS Premium yang nakal  bisa ditertibkan secepatnya karena sejumlah langkah telah disiapkan,” tegas Anggota Komite BRTI Adiseno di Jakarta, Selasa (11/10).
Dijelaskan, langkah-langkah yang dipersiapkan selama tiga bulan ke depan dimana telah disetujui oleh para pemangku kepentingan di industry telekomunikasi adalah pertama, BRTI akan menyampaikan data yang diduga telah merugikan konsumen berdasarkan masukan public terkait penyedotan pulsa melalui SMS penipuan layanan pesan premium kepada polisi untuk ditindak secara hukum.
Kedua, BRTI akan melakukan pengawasan secara ketat untuk mendalami hubungan bisnis antara penyedia konten dan operator telekomunikasi dalam memberikan jasa pesan premium. Ketiga, BRTI bersama operator akan merancang sistem aplikasi yang memungkinkan jika konsumen tidak menginginkan jasa pesan premium.
Keempat, jika ada penyedia konten yang ditemukenali melakukan pelanggaran, BRTI akan menginstruksikan operator telekomunikasi untuk menghentikan jasa pesan premium dan mengawasi pemberian ganti rugi sesuai ketentuan yang hasilnya akan dipublikasikan kepada publik.
Terakhir, BRTI dan operator secara bersama-sama akan melakukan iklan layanan masyarakat secara massif mengenai nomor pengaduan yang dapat dihubungi konsumen dan cara pengaduan.
Ketua BRTI Syukri Batubara mengatakan, sesuai dengan Permenkominfo No 1/2009 tentang Jasa SMS/MMS Premium dalam pasal 20 penyelenggara konten dapat dikenakan sanksi administrasi, pidana, hingga pencabutan ijin. “Itu bisa dilakukan. Kita tunggu saja hasilnya nanti dari pendalaman data,” katanya.
Sementara Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menilai sikap regulator dalam menyelesaikan kasus sedot pulsa masih mengambang dan tidak memuaskan kebutuhan publik.
“Pengguna itu butuh aksi nyata sehingga rasa keadilan itu terbayar. Kalau melihat yang dipaparkan oleh BRTI, semua masih mengambang. Apalagi mengingat birokrasi yang membelitnya, tidak mungkin tiga bulan semua aksi tiu bisa dituntaskan. Terlebih, sekarang masa seleksi anggota Komite BRTI baru sehingga konsentrasi akan terpecah,” katanya.
Perwakilan konsumen, David Tobing juga kecewa dengan hasil pertemuan antara BRTI, Kemenkominfo, dan semua pemangku kepentingan di industry telekomunikasi yang digelar pada Selasa (11/10). “kami kecewa karena tidak ada yang kongkrit dihasilkan. Konsumen diundang ke pertemuan ini hanya untuk dicari legistimasinya,” katanya.
Menurutnya, jika regulator memiliki keinginan yang kuat untuk menyelesaikan kasus ini, bisa dimulai dengan melakukan moratorium layanan SMS Premium dan menindak penyelenggara yang nakal mengingat laporan dari publik sudah banyak. “Konsumen akan bersama-sama menggalang kekuatan. Kami akan loprkan beramai-ramai masalah ini ke polisi,” katanya.
Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR, Zaki Iskandar meminta BRTI dibubarkan apabila sampai pada tanggal 1 Januari 2012 mendatang masih tetap ada kasus pencurian pulsa. “Kalau sampai 1 Januari masih ada kasus-kasus pencurian lebih baik BRTI dibubarkan,”tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s