111011 Telenovela Sedot Pulsa Belum Berakhir

Ibarat cerita telenovela yang bertele-tele, kasus sedot pulsa yang tengah marak di industri telekomunikasi diperkirakan belum akan berakhir. Pasalnya, hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Menkominfo Tifatul Sembiring dan para wakil rakyat dari Komisi I DPR mengeluarkan rekomendasi yang mengambang, sehingga dipastikan konsumen telekomunikasi kian tersiksa oleh fenomena sedot pulsa.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq menjelang penutupan RDP mengumumkan dua rekomendasi dalam kasus sedot pulsa. Pertama, meminta operator, Kemenkominfo, dan Penyedia Konten untuk lebih memperketat monitoring layanan SMS Premium. Kedua, membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk kasus sedot pulsa agar bisa lebih mendalami masalah seperti aturan, model bisnis, hingga sanksi.
“Kita mengambil rekomendasi ini karena tidak ingin industri kreatif yang  bersandar pada   layanan SMS Premium menjadi mati. Kita tidak mau karena segelintir bermasalah, semua kena,” katanya di Jakarta, Senin (10/10).
Rekomendasi ini bisa dikatakan lebih persuasif ketimbang yang disuarakan oleh para Anggota Komisi I DPR RI seperti Teguh Juwarno yang meminta adanya moratorium atau pemberhentian sementara layanan SMS Premium sambil dilakukan penindakan dan evaluasi dari model bisnis jasa tersebut.
“Momentum hangatnya isu sedot pulsa harus digunakan untuk membenahi semua layanan ini. Selain dibentuk Panja, tentu melakukan moratorium jasa SMS Premium akan lebih baik sembari melihat siapa saja yang bermasalah,” tegasnya.
Anggota Komisi I lainnya, Enggartiasto Lukita meminta Kemenkominfo, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), dan operator untuk bisa menindak secara tegas para penyedia konten yang bermasalah serta tidak segan-segan untuk mengumumkan pelaku usaha yang bermasalah.
“Jika benar dikatakan ada 60 penyedia konten yang bermasalah, diumumkan ke masyarakat. Jangan disembunyikan. Ini akan menjadi pembelajaran agar pelaku usahanya tidak bisa semena-mena,” ketusnya.
Menanggapi hal itu, Menkominfo Tifatul Sembiring meminta semua pihak untuk melihat secara jernih kasus ini karena tidak semua konten yang merugikan masyarakat. “Ini ibarat pedagang yang nakal di pasar. Jika ada yang bandel, pedagangnya ditindak, bukan pasarnya dibakar. Kasus sedot pulsa adalah kriminal dan itu melanggar undang-undang. Kami akan berkoordinasi dengan pihak berwajib untuk menindaknya,” katanya.
Anggota Komite BRTI Danrivanto Budhijanto menambahkan, dalam waktu dekat akan ada audit forensik yang dilakukan oleh regulator terhadap isi perjanjian antara operator dengan penyedia konten. “Audit forensik ini akan melihat perjalanan produk yang ditawarkan penyedia konten selama setahun terakhir, penggunaan shortcode, dan lainnya. Kita berfikir perlunya moratorium SMS Premium sembari audit forensik ini selesai dilaksanakan,” katanya.
Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, selama ini ada 20 ribu komplain yang ditangani setiap bulan terkait layanan SMS Premium dimana 300 juta rupiah setiap bulannya pulsa pelanggan dikembalikan. “Omset bisnis ini hanya 250 miliar rupiah setiap bulan dan menyumbang 7 persen bagi total pendapatan Telkomsel. Saat ini ada 460 penyedia konten yang menjadi mitra,” katanya.
Diingatkannya, bisnis kreatif ini merupakan salah satu pendorong perekonomian karena pemainnya mulai dari kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) hingga mahasiswa. “Kami menargetkan ada seribu penyedia konten yang nantinya bergabung dengan Telkomsel. Ini adalah salah satu bisnis yang diminati oleh anak-anak muda dan banyak yang menyenanginya,” jelasnya.
Direktur Utama Indosat Harry Sasongko mengungkapkan, telah melakukan revisi perjanjian dengan para penyedia konten dan  menerapkan sistem single server. “Kami dalam proses migrasi menjadi single server agar penyedia konten lebih mudah dikontrol. Sekarang prosesnya sudah berjalan hingga 60 persen. Diharapkan akhir tahun ini proses itu sudah selesai. Selain itu juga diterapkan stop keyword untuk semua layanan,” katanya.
Ketua umum Indonesia Mobile Content Associations (Imoca) A. Haryawirasma meminta semua pihak tidak menyamaratakan layanan SMS Premium karena terdapat konten yang diminati pelanggan seperti   layanan rohani atau  perbankan (phone/ sms banking). “Kuncinya  ada di operator dan BRTI, tinggal dipilih atau  diseleksi ulang mana layanan  yang boleh atau tidak,” katanya.
Menurutnya, pengawasan terhadap isi perjanjian antara penyedia konten dan operator mutlak dilakukan karena ketika diajukan isinya semua sangat ideal dan taat pada aturan. “Tetapi karena pengawasan lemah, ditengah jalan mulai terjadi kenakalan,” katanya.
Sebelumnya, terdapat dua kasus utama yang terjadi  yaitu  penipuan lewat SMS dan penyedotan pulsa tanpa seizin pengguna. Modus dari para ‘tuyul” di ponsel ini ada beberapa seperti mengirmkan pesan secara acak yang berisikan  minta pulsa atau minta transfer dana. Ada juga pengiriman SMS promosi yang redaksionalnya membingungkan sehingga tanpa sadar pengguna membalas dan dianggap telah melakukan registrasi.
Modus lainnya adalah teknik masking yang dilakukan dengan mengirimkan pesan seolah-olah dari  short code resmi  operator atau nomor biasa dimana kala dibalas SMS tersebut secara alogoritma dianggap sebagai konfirmasi berlangganan layanan SMS Premium. Para penerima SMS yang berisikan  minta transfer menyatakan hal ini terjadi pada diri mereka usai membalas isi pesan.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memprediksi dari 220 juta nomor telepon seluler yang aktif, ada sekitar 29 juta pengguna yang terjebak, dengan tarif konten berlangganan lima ribu rupiah per bulan, sehingga ada potensi kehilangan sekitar  147 miliar rupiah  per bulan.
Angka asumsi 29 juta muncul dari sekitar 30 persen dari total nomor aktif lalu sempat masuk ke layanan premium, ada 90 persen yang tidak membatalkan registrasi dan separuh di antaranya terpaksa.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s