041011 Penipuan Via Ponsel Kian Marak

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mensinyalir penipuan menggunakan  telepon seluler (Ponsel) untuk menipu masyarakat kian marak selama Oktober lalu.
“Saking derasnya pengaduan masyarakat tentang  kasus penipuan lewat SMS serta penyedotan pulsa, BRTI menjadikan bulan Oktober ini sebagai bulan pengaduan konsumen untuk dua kasus tersebut,” sesal Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Senin (3/10).
Dikatakannya,  BRTI dalam waktu dekat akan melakukan pertemuan dengan semua stakeholder industri, mulai dari operator, konsumen, regulator termasuk kepolisian, sektor perbankan, agar masalah ini dapat diselesaikan.
“Para korban atau yang mendapat SMS penipuan serta tersedot pulsanya bisa mengontak BRTI center di nomor singkat 159. Sedangkan pertemuan dengan para pihak terkait akan digelar  dua minggu ke depan,” ungkapnya.
Diungkapkannya, berdasarkan  penelusuran BRTI, salah satu pemicu  bocornya data yang dirangkum dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) adalah dalam klausula baku jika konsumen mengikat perjanjian dengan perbankan, dimungkin adanya data nasabah  yang dapat diberikan pada pihak ketiga.
“Kalau kasus penyedotan pulsa, meski bukan dilakukan operator, tapi operator menjadi turut serta (terlibat) karena pengawasan yang kurang,” jelasnya.
Untuk diketahui, saat ini salah satu kasus penyedotan pulsa yang tengah disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah  Telkomsel digugat oleh pelanggannya,  David Tobing.
David yang mengaku sebagai pelanggan kartu HALO merasa dirugikan karena pulsanya terpotong sepihak, akibat berlangganan konten Opera Mini. Padahal, David mengaku tak pernah mendaftar (REG) untuk layanan Opera Mini di BlackBerry miliknya.
David mengaku telah menderita kerugian materil sebesar 90 ribu rupiah  dari sembilan kali transaksi registrasi konten Opera Mini. Karena itu David mengajukan gugatan ganti rugi materil sebesar 90 ribu rupiah  dan kerugian imateril sebesar 10 ribu rupiah  atau total senilai 100 ribu rupiah.
Dalam gugatannya David menuntut pengadilan  menghukum  Telkomsel untuk tidak melakukan penawaran, pengikatan secara sepihak dan perpanjangan otomatis fasilitas layanan tambahan dalam bentuk apapun tanpa persetujuan Pelanggan dan  tidak melakukan penawaran fasilitas layanan tambahan dengan metode “Negative Option” yang membebankan pelanggan melakukan konfirmasi untuk menolak atau berhenti berlangganan.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s