041011 Kebijakan Telematika : TKDN TIK Diredefinisi. Membangun Ekosistem Manufaktur TIK

Data yang disajikan  oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait nilai  ekspor dan impor barang-barang Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) Indonesia lumayan mengejutkan. Pada 2009, nilai ekspor TIK untuk komputer, notebook, dan bagiannya tercatat 747,8 juta dollar AS, namun pada 2010 mengalami penurunan menjadi 631,1 juta dollar AS.

Tren penurunan diperkirakan akan berlanjut jika melihat selama semester I 2010 nilai ekspor mencapai 347,8 juta dollar AS, sementara semester I 2011 hanya 244,1 juta dollar AS.
Namun kenaikan nilai ekspor terjadi pada  perangkat telepon dan telekomunikasi lainnya, serta serat optik.  Pada  2009 untuk perangkat telepon dan telekomunikasi nilai ekspor 105,2 juta dollar AS, dan 2010 (US$ 115,1 juta). Tren kenaikan diperkirakan akan berlanjut karena pada semester I 2011 nilai ekspor mencapai 83,8 juta dollar AS, sementara periode sama tahun lalu hanya 44,5 juta dollar AS.
Untuk serat optik pada 2009 nilai ekspor hanya 0,7 juta dollar AS, 2010 (US$ 6,1 juta). Diperkirakan pada tahun ini akan terjadi penurunan karena   pada semester I 2011 nilai ekspor mencapai 0,8 juta dollar AS dibanding periode sama tahun 2010 mencapai 5 juta dollar AS.
Dari data yang disajikan BPS terlihat tidak seimbang antara nilai ekspor dan impor. Terutama untuk perangkat telepon dan telekomunikasi lainnya, serta serat optik. Pada 2009 nilai impor perangkat telepon dan telekomunikasi lainnya 3.055,6 miliar dollar AS dan 2010 (US$ 3.759,5 miliar). Hingga semester I 2011 saja telah diimpor perangkat telepon senilai 2.044,4 miliar dollar AS, sementara pada periode sama tahun lalu hanya 1.745,2 miliar dollar AS.
Hal yang sama juga terjadi di impor serat optik pada 2009 yang mencapai 2.245,9 miliar dollar AS dan pada 2010 menjadi 5.520,1 miliar dollar AS. Sedangkan pada semester I 2011 nilai impor telah mencapai 3.036,2 miliar dollar AS. Sedangkan lembaga riset IDC memperkirakan investasi di sektor telematika negeri ini mencapai 35 triliun rupiah pada 2011.
Dirjen Alat Transportasi dan Telematika Kemenperin Budi Darmadi mengungkapkan, Indonesia memiliki ambisi ingin mengembangkan industri manufaktur dan komponen perangkat telematika guna  mendukung pembangunan infrastruktur telematika. “Kita punya target jangka menengah bisa lebih menguasai pasar regional dan jangka panjang berbicara banyak di global,” katanya di Jakarta, belum lama ini.
Dijelaskannya, tiga pokok kebijakan telah dilakukan yakni pengembangan program terkait berbasis telematika sebagai basis pengembangan industri dalam negeri, meningkatkan kemampuan industri manufaktur dan komponen perangkat telematika, serta meningkatkan kemampuan industri konten dan aplikasi telematika.
“Program pokok dari kebijakan ini adalah memfasilitasi pemodalan, evaluasi perhitungan Tingkat kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan pengembangan inovasi R&D,” katanya.
Perlu Redefinisi
Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo M.Budi Setyawan mengakui,  Konsep  TKDN di industri Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi perlu diredefinisi agar Indonesia bisa menciptakan ekosistem manufaktur yang sehat.
Redefinisi   mencakup  pengertian dari TKDN itu sendiri  dan cara penilaiannya agar tidak menjadi hambatan mengembangkan industri TIK Indonesia.
Dijelaskannya, tujuan dari meredefinisi TKDN adalah agar  menciptakan regulasi yang economically feasible untuk diimplementasikan.  Memberikan kesempatan bagi Industri Dalam Negeri  untuk lebih berperan serta dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia.  Tetap menjaga kontinuitas layanan telekomunikasi.
“Redefinisi TKDN itu harus  sesuai dengan ekosistem telekomunikasi yang ada saat ini dan mendorong pertumbuhan ekosistem ke depannya,” jelasnya.
Dijelaskannya, Kemenkominfo sendiri  dalam mendukung TKDN telah menerapkan penggunaan barang lokal untuk  Base Station dan  Subcriber Station di frekuensi  2,3 & 3,3 GHz dengan melihat  komponen elektronika, software, dan casing. Sementara untuk Antenna dilihat dari sisi  tower dan  sub antenna.
Insentif
Direktur Xirka Dama Persada Sylvia W Sumarlin mengungkapkan, dominasi asing dalam satu produksi perangkat masih kental. Untuk komponen TIK  seperti chipset, PCB design house, antenna, module, cabling, dan power dikuasai asing sebesar 60 persen. Sedangkan Indonesia hanya menguasai non komponen TIK seperti plastik, tembaga 95%0, assembly (5%), dan aplikasi design house dikuasai bersama sebesar 30 persen.
”TKDN dimulai dengan jenis perangkat yang pasarnya sudah terbentuk dan  diberikan kepada produsen lokal, bukan kepada mitra asingnya. Ini agar  terjadi kelangsungan dan kestabilan produksi. Hal yang sama juga berlaku untuk Type of Approval,” katanya.
Disarankannya, pendirian R&D harus diperbanyak  agar   manufaktur lokal tidak  hanya menjadi assembly oriented. Salah satu keseriusan dari hadirnya suatu R&D adalah dengan adanya keberhasilan mencetak patent teknologi lokal yang berkualitas internasional dan  menjadi aset nasional
Menurutnya, pemerintah harus menurunkan  nilai pajak impor hingga 0 persen atas komponen elektronik dan telekomunikasi. komponen tersebut merupakan bahan baku perangkat telekomunikasi. Saat ini dengan adanya beberapa perjanjian free-trade, maka pajak impor akan perangkat secara utuh sudah 0 persen, sehingga terjadi masuknya barang bekas atau kadaluarsa, dan  hampir kadaluarsa.
”Kami juga meminta adanya insentif bunga bagi manufaktur, seperti yang ditawarkan oleh negara lain hingga  3 persen . Pinjaman tersebut merupakan fasilitas dari dana PNBP yg telah disetorkan oleh sektor ICT,” tuturnya.
VP Teknologi Riset Global (TRG) Achmad Sariwijaya meminta jika penilaian TKDN direvisi, harus diperhatikan cara perhitungannya karena selama ini hanya manis di kertas tetapi rentan dimanipulasi. Apalagi pola perhitungan TKDN di TIK masih mengacu pada industri otomotif.
”Mau bicara besar atau kecil persentase TKDN tidak ada masalah asalkan penilainnya transparan. Selain itu kita butuh konsistensi terhadap satu kebijakan agar investasi tidak sia-sia,” tegasnya.
Ketua Bidang Teknologi Informasi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menyarankan, dalam melihat TKDN porsi untuk   software design diperbesar, bukan cuma biaya pegawai.  ”Indonesia berpotensi sebagai  pengekspor sistem yang sudah jadi. Nilai tambah dr suatu produk itu besar di desain bukan komponen. Kalau menunggu Indonesia bisa membuat komponen sendiri akan lama,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s