270911 TKDN TIK Perlu Diredefinisi

JAKARTA— Konsep Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di industri Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi perlu diredefinisi agar Indonesia bisa menciptakan ekosistem manufaktur yang sehat.

“Redefinisi itu harus mencakup  pengertian dari TKDN itu sendiri  dan cara penilaiannya agar tidak menjadi hambatan mengembangkan industri TIK Indonesia,” kata Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo M.Budi Setyawan di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, tujuan dari meredefinisi TKDN adalah agar  menciptakan regulasi yang economically feasible untuk diimplementasikan.  Memberikan kesempatan bagi Industri Dalam Negeri  untuk lebih berperan serta dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia.  Tetap menjaga kontinuitas layanan telekomunikasi.

“Redefinisi TKDN itu harus  sesuai dengan ekosistem telekomunikasi yang ada saat ini dan mendorong pertumbuhan ekosistem ke depannya,” jelasnya.

Dijelaskannya, Kemenkominfo dalam mendukung TKDN telah menerapkan penggunaan barang lokal untuk  Base Station dan  Subcriber Station di frekuensi  2,3 & 3,3 GHz dengan melihat  komponen elektronika, software, dan casing. Sementara untuk Antenna dilihat dari sisi  tower dan  sub antenna.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengingatkan, dalam memajukan TIK,  Indonesia tidak hanya berperan sebagai pembeli teknologi tetapi juga menjadi negara yang mampu menciptakan teknologi.

“Kalaupun belum mampu menyediakan sendiri teknologi secara utuh, setidaknya tidak hanya berpangku tangan menunggu,” katanya.

Diharapkannya,  Indonesia tidak terjebak dalam rezim internasional  membangun bisnis TIK. “Indonesia sebagai negara dengan wilayah luas dan berpenduduk besar sangat memerlukan TIK dalam upaya menciptakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Indonesia harus mengupayakan agar dalam hal TIK perusahaan nasional, tertutama BUMN, mendapatkan dukungan dan keleluasaan yang besar agar berkembang menjadi tuan di rumah sendiri,” tegasnya.

Berdasarkan catatan Kementrian Perindustrian investasi di sektor telematika pada 2011 sekitar 35 triliun rupiah. Indonesia sendiri untuk periode 2011-2015 memiliki target agar industri manufaktur bisa mendukung berkembangnya telematika dan pada periode 2021-2021 diharapkan manufaktur dan komponen perangkat telematika mampu bersiang di pasar ekspor.[dni]

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s