270911 Telkomsel Klaim “Bersinar” di Kuartal III

Periode kuartal III 2011 tak lama lagi usai. Kinerja operator telekomunikasi pada periode ini diperkirakan lebih baik dibanding semester I mengingat ada dua momentum pemasaran yang bisa menjadi pemicu datangnya pendapatan.

Dua peluang yang bisa dikonversi menjadi lumbung pendapatan adalah liburan sekolah dan bulan Ramadan dimana biasanya tingkat konsumsi masyarakat menjadi meningkat.

GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra optimistis selama kuartal III tahun ini  dapat mencatat performa bisnis yang mengesankan. ”Berkat inovasi program dan produk,  kami berhasil mengalami peningkatan trafik komunikasi saat lebaran,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dikatakannya, Telkomsel mengalami peningkatan trafik komunikasi saat lebaran dengan melonjaknya trafik data yang meningkat hingga 101 terabyte atau meningkat 33 persen dibandingkan trafik di hari normal.

Layanan pesan singkat atau SMS terlayani  1,2 miliar SMS atau meningkat 39 persen dari jumlah SMS di hari normal yang berkisar 864 juta SMS per hari. Tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap performansi Telkomsel secara keseluruhan mengingat periode 27 Agustus – 2 September 2011, skema bonus SMS bagi pengguna kartu prabayar simPATI dan As dihentikan dengan alasan mengamankan kualitas jaringan.

Masih Bagus

Menurut Direktur Center For Indonesian Telecommunication Regulation Study (CITRUS) Asmiati Rasyid kinerja dari manajemen Telkomsel di bawah kepemimpinan Sarwoto Atmosutarno masih menunjukkan prestasi yang bagus sehingga layak untuk dipertahankan.

Berdasarkan data yang dimiliki CITRUS,  hingga  Juli 2011 omset Telkomsel mencapai  27,469 triliun rupiah atau mengalami kenaikan   5,2 persen dibandingkan periode sama 2010. Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA)  margin 56.7 persen, laba bersih 7.155 triliun rupiah  dengan kenaikan 2.5 persen dibandingkan tahun lalu.

Sedangkan berdasarkan Info Memo keuangan Telkom hingga semester I 2011 pendapatan Telkomsel mencapai 23,2 triliun rupiah atau  tumbuh 4,8 persen dibanding periode sama 2010. Namun rasio  EBITDA hanya naik satu persen dari 12,99 triliun menjadi 13,12 triliun rupiah. Sedangkan laba bersih hanya tumbuh sekitar 1 persen menjadi 5,98 triliun dari 5,92 triliun rupiah.

“Pencapaian yang diraih oleh Telkomsel ini sangat bagus dibandingkan pertumbuhan rata-rata operator global yang hanya dalam kisaran 2-3 persen. Karena itu saya pikir dewan direksi yang ada sekarang tidak layak diganti,” katanya.

Diakuinya,  meskipun dari pencapaian omset hanya 94 persen dari target, tetapi harus dilihat secara obyektif dimana bisa jadi angka yang diberikan terlalu tinggi. “Hal yang harus diperhatikan adalah revenue terus naik meskipun EBITDA sempat turun. Ini normal karena EBITDA tergantung investasi,” jelasnya.

Disarankannya, agar bisa lebih bersaing di masa depan manajemen Telkomsel diberikan kebebasan untuk berkreasi terutama dalam menggunakan Operation Expenditure (Opex).

“Jangan seperti sekarang dimana 25 persen dari  Opex atau sekitar   5,25 trilliun rupiah  terdistribusi pada banyak anak perusahaan Telkom lainnya,  terutama  untuk operasional, maintenance, konsultansi, dan proyek-proyek pemasaran,” ungkapnya.

Reorganisasi

Pada kesempatan lain, Anggota Komisaris Telkom Rudiantara mengungkapkan, perombakan susunan direksi  Telkomsel dalam kerangka reorganisasi perusahaan memasuki tahap final.

“Perombakan direksi Telkomsel sudah difinalisasi tinggal eksekusinya yang dilakukan sesegera mungkin,” katanya.

Diungkapkannya,  implementasi reorganisasi di tubuh Telkomsel dengan menambah jumlah direksi dari sebelumnya berjumlah lima menjadi delapan orang merupakan keputusan pemegang saham.

“Namun penetapannya harus tetap memperhatikan aspek governance yang melibatkan stakeholder yaitu SingTel yang menguasai 35 persen saham, dan Telkom pemilik 65 persen saham,” kata Rudiantara.

Dijelaskannya, salah satu tujuan menambah atau memperbesar organisasi (enlarge organization) adalah agar perusahaan bisa lebih fokus baik dalam menyelenggarakan layanan, mengoperasikan jaringan maupun yanh pada akhirnya untuk menunjang kinerja keuangan.

Menurutnya,  industri seluler di Tanah Air sesungguhnya bisa disebut memasuki masa maturity atau kejenuhan namun tidak decline alias penurunan. “Industri masih naik namun pertumbuhan rata-rata operator pada level single digit. Ini juga dialami Telkomsel, ada kenaikan sejak awal tahun walaupun hanya kecil,” katanya.

Berdasarkan catatan, saat ini susunan direksi Telkomsel yaitu Direktur Utama Sarwoto Atmosutarno, Direktur Keuangan Triwahyusari, Direktur Perencanaan & Pengembangan Herfini Haryono, Direktur Operasi Ng Kwon Kee dan Direktur Niaga Leong Shin Loong.

Telkom sendiri telah menjaring  calon Dirut Telkomsel yang akan diumumkan tak lama lagi  yaitu  Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono, EVP Sales Operation Telkomsel Hendri Mulja Sjam,  Direktur Utama PT TelkomVision Elvizar KH, Direktur Utama PT Mutimedia Nusantara (Metra) Alex J Sinaga, Direktur Utama PT Sigma Cipta Caraka (Telkom Sigma) Rizkan Chandra. Tiga nama disebut-sebut menjadi kandidat kuat yakni Herfini Haryono, Elvizar KH, dan Alex Sinaga.

Sementara Kementrian Badan Usaha Milik Negara juga memiliki usulan agar Komisaris Utama diduduki oleh perwakilannya. Sosok yang dipersiapkan adalah Deputi Bidang Usaha Jasa Kementrian BUMN, Parikesit Suprapto. Untuk posisi Direktur Keuangan tengah dipersiapkan eksekutif dari Bank BNI atau BRI

Implementasi reorganisasi manajemen Telkomsel sendiri diperkirakan dimulai pada Januari 2012 mengingat   struktur organisasi baru telah diperkenalkan oleh dewan direksi pada Rapat Pimpinan (Rapim), di Jakarta belum lama ini.

Hasil reorganisasi adalah Direktur Utama dengan dukungan Direktorat Marketing, Sales, Network, Teknologi Informasi, Keuangan, Sumber Daya Manusia, Perencanaan dan Transformasi. Selain itu juga ada lembaga CEO Office yang mengurusi manajemen menara, new business seperti Digital Music and Content Management, Digital Money, dan lainnya. Sebagai konsekuesi reorganisasi akan ada pelantikan sekitar 54 pejabat baru untuk menduduki posisi Vice President  dan General Manager.[dni]

 

 

270911 TKDN TIK Perlu Diredefinisi

JAKARTA— Konsep Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di industri Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi perlu diredefinisi agar Indonesia bisa menciptakan ekosistem manufaktur yang sehat.

“Redefinisi itu harus mencakup  pengertian dari TKDN itu sendiri  dan cara penilaiannya agar tidak menjadi hambatan mengembangkan industri TIK Indonesia,” kata Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo M.Budi Setyawan di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, tujuan dari meredefinisi TKDN adalah agar  menciptakan regulasi yang economically feasible untuk diimplementasikan.  Memberikan kesempatan bagi Industri Dalam Negeri  untuk lebih berperan serta dalam ekosistem telekomunikasi di Indonesia.  Tetap menjaga kontinuitas layanan telekomunikasi.

“Redefinisi TKDN itu harus  sesuai dengan ekosistem telekomunikasi yang ada saat ini dan mendorong pertumbuhan ekosistem ke depannya,” jelasnya.

Dijelaskannya, Kemenkominfo dalam mendukung TKDN telah menerapkan penggunaan barang lokal untuk  Base Station dan  Subcriber Station di frekuensi  2,3 & 3,3 GHz dengan melihat  komponen elektronika, software, dan casing. Sementara untuk Antenna dilihat dari sisi  tower dan  sub antenna.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengingatkan, dalam memajukan TIK,  Indonesia tidak hanya berperan sebagai pembeli teknologi tetapi juga menjadi negara yang mampu menciptakan teknologi.

“Kalaupun belum mampu menyediakan sendiri teknologi secara utuh, setidaknya tidak hanya berpangku tangan menunggu,” katanya.

Diharapkannya,  Indonesia tidak terjebak dalam rezim internasional  membangun bisnis TIK. “Indonesia sebagai negara dengan wilayah luas dan berpenduduk besar sangat memerlukan TIK dalam upaya menciptakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Indonesia harus mengupayakan agar dalam hal TIK perusahaan nasional, tertutama BUMN, mendapatkan dukungan dan keleluasaan yang besar agar berkembang menjadi tuan di rumah sendiri,” tegasnya.

Berdasarkan catatan Kementrian Perindustrian investasi di sektor telematika pada 2011 sekitar 35 triliun rupiah. Indonesia sendiri untuk periode 2011-2015 memiliki target agar industri manufaktur bisa mendukung berkembangnya telematika dan pada periode 2021-2021 diharapkan manufaktur dan komponen perangkat telematika mampu bersiang di pasar ekspor.[dni]

 

 

 

 

270911 Xirka Bidik 30% Pasar BWA

JAKARTA—PT Xirka Dama Persada (Xirka) membidik 30 persen pasar manufaktur Broadband Wireless Access (BWA) yang menggunakan standar teknologi WiMax 16e dengan menganggarkan dana sebesar 40 miliar rupiah.

”Kami membidik 30 persen dari pangsa pasar manufaktur WiMax 16e karena optimistis teknologi ini akan banyak digunakan oleh operator BWA yang akan meluncurkan layanan secara komersial pada tahun depan. Selain itu ada kemungkinan perangkat kami juga diekspor,” ungkap Dirut Xirka Sylvia W Sumarlin di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, sejauh ini perangkat Xirka sudah terpasang di Berca dan First Media. Operator lainnya yang dibidik adalah Jasnita dan  IM2. “Enam bulan pertama kita memproduksi sekitar satu juta Consumer Premise Equipment (CPE). Jika operator ingin membidik 60 juta rumah tangga, setidaknya hingga 2014 harus ada 20 juta CPE yang kami sediakan. Untuk 18 bulan pertama kami sanggup produksi 3 juta CPE” jelasnya.

Sedangkan untuk BTS yang siap dipasang sebanyak lima ribu unit  yang diperkirakan cukup  untuk  melayani 5 juta pelanggan. Harga  satu BTS bervariasi dikisaran 30 ribu  dollar AS. Sedangkan harga CPE  dimulai dari  80 dollar AS. Harga itu di atas pasar dunia yang sekitar 60 dollar AS.

“Pabrik yang kami miliki masing-masing baru satu line untuk BTS dan CPE .  Rencananya akan ada 4 line yang cukup untuk pasar lokal dan regionaltk indonesia dan regional,” jelasnya.

Selanjutnya  diungkapkan, dalam rangka mensukseskan National Broadband Plan (NBP) yang digagas oleh Kantor Menko Perekonomian, Xirka siap menggelontorkan dana sebesar 350 miliar rupiah tidak hanya untuk mengembangkan chipset WiMax, tetapi juga Long Term Evolution (LTE).

”Kami akan berinvestasi lebih besar jika teknologi sudah ditentukan dan standarisasi perangkat sudah jelas,” tuturnya.

Sebelumnya, Kantor Menko Perekonomian dalam NBP mengungkapkan nilai investasi yang mampu dihasilkan sebesar 30,4 triliun rupiah.[dni]

270911 Pangkas Tarif Demi Target

Industri telekomunikasi yang memasuki masa saturasi tak pelak membuat banyak operator menerapkan strategi mengejar volume baik itu jumlah pelanggan atau kapasitas untuk mencapai target keuangan yang dicanangkan.

Operator yang mengedepankan volume strategy ini biasanya mengandalkan tarif murah untuk melakukan penetrasi pasar mengingat di era saturasi potensi berasal dari segmen C dan D. Contohnya,  PT XL Axiata Tbk (XL) yang berani memangkas tarif layanan datanya menjadi 49 ribu rupiah per bulan baik untuk pengguna BlackBerry Full Service atau internet unlimited.

Program yang dibalut  nama “Xmua 49” itu menawarkan paket berlangganan XL BlackBerry Full Service hanya  49 ribu rupiah per 30 hari selama 3 bulan pertama. Paket istimewa ini hanya berlaku untuk pelanggan baru, baik prabayar maupun pasca bayar. Program ini berlaku sejak  23 September 2011. Caranya sangat mudah, yaitu cukup hanya dengan mengirimkan SMS ke 568 dengan keyword BB(spasi)Bulan atau bisa melalui UMB di *123#. Pelanggan akan mendapatkan layanan unlimited email, chatting, social networking, dan browsing.

Paket berlangganan XL Internet Unlimited juga bisa didapatkan pelanggan dengan harga 49ribu rupiah per 30 hari.  Dengan berlangganan semurah itu, pelanggan akan mendapatkan layanan berkecepatan sampai to 512 Kbps. Caranya sangat mudah, pelanggan hanya perlu membeli kartu perdana XL Internet Unlimited dan mengaktifkannya. Sementara itu bagi pelanggan lama cukup dengan cara mengaktifkannya melalui *123*400#.

Selain itu, program “Xmua 49” juga menawarkan paket bundling BlackBerry Bold 9900 Smartphone dengan cicilan sangat menarik, yaitu sebesar  490 ribu rupiah per bulan selama 12 bulan.  Cicilan 12 bulan dengan kartu Kredit BCA, Mandiri, dan BNI. Keringanan laiannya Gratis Down Payment 999 ribu rupiah  untuk 1000 pre-order pertama. Paket ini sudah termasuk layanan XL BlackBerry Full Service selama 12 bulan dan   bonus Merchandise untuk 500 pertama. XL sendiri menargetkan hingga akhir tahun ini mampu menjual Dakota sebanyak 35 ribu unit.

Berdasarkan catatan, Average Revenue Per User (ARPU) dari 1,3 juta pelanggan BlackBerry XL sekitar 60-70 ribu rupiah, sementara untuk pengguna akss internet melalui dongle sebesar 50 ribu rupiah. Selama semester I 2011  pendapatan  dari  layanan data XL meningkat sebesar 47 persen jika dibandingkan periode sama 2010 dan memberikan kontribusi sebesar 21 persen terhadap total pendapatan atau sekitar 1,91 trilun rupiah.

GM Marketing Access XL Axiata Riza Rachmadsyah optimistis kontribusi layanan data bagi total omset perseroan tak akan berkurang pada akhir tahun nanti walaupun strategi banting harga dijalankan. “Kunci keberhasilan dari strategi ini adalah di volume yang ingin dicapai. Kami mengharapkan jumlah pengguna layanan data XL bisa melesat 30 juta dari 26 juta nomor yang ada saat ini,” katanya di Jakarta, Senin (26/9).

Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira menegaskan, walaupun banting tarif dilakukan, namun perseroan tak melupakan kualitas layanan. “Untuk besaran kapasitas bandwidth BlackBerry secara langsung ke Research In Motion (RIM) sebesar 2 Gbps, melalui dua penyedia layanan infrastruktur yang berbeda, sehingga menjamin jaringan XL untuk semakin handal. XL   satu-satunya operator di Indonesia yang terkoneksi ke  RIM,” tegasnya.

Diungkapkannya, selama 12 bulan terakhir, XL   telah menambah BTS sebanyak 4.084 BTS (2G/3G) di seluruh Indonesia, dimana 1.220 merupakan 3G BTS .  Total BTS (2G/3G)  pada akhir Jun’11 berjumlah 24.971 BTS. Pada tahun ini dianggarkan belanja modal sekitar 6 triliun rupiah.

“Kami juga baru saja selesai melakukan kualitas jaringan data  XL di Sumatera dan kepulauan di sekitarnya. Hasilnya sangat memuaskan,” katanya.

Vice President XL West Region, Agus Simorangkir menegaskan, di kota-kota besar di Sumatera, jaringan XL telah siap dan mampu melayani komunikasi data yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

Diungkapkannya, saat ini semua site XL di Kota Medan sudah menggunakan second carrier, yaitu dua 3G per BTS, sehingga jaminan kecepatan yang didapatkan pelanggan akan jauh lebih baik. Jumlah BTS XL di Medan ada 934 BTS (Base Transceiver Station) dan 252 BTS di antaranya sudah memiliki 3G. XL berharap seluruh BTS pada akhir tahun ini akan terpasang 3G.

“Khusus untuk Medan, target XL adalah menjadikan kota terbesar ke-3 di Indonesia ini sebagai The Broadband City. Syarat untuk predikat itu adalah di seluruh kota yang sudah tersedia jaringan infrastruktur telekomunikasi yang andal, dan berkualitas terutama untuk komunikasi mobile data. XL di Medan dan Batam menyediakan “jalan tol”,yang memungkinkan akses data berselancar dengan mulus,” katanya.[dni]

 

 

270911 Kemenkominfo Sertifikasi BB Buatan Malaysia

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) disinyalir telah mensertifikasi BlackBerry (BB) varian 9360 buatan pabrik Research in Motion (RIM) di Malaysia pada 16 Juni 2011.

“Data yang saya miliki menyatakan sertifikasi telah dikeluarkan oleh Kemenkominfo pada 16 Juni 2011 dan diumumkan di situs resmi pada 17 Juni 2011. Ini artinya, secara institusi Kemenkominfo sudah mengetahui adanya pabrik RIM di Malaysia, sehingga pernyataan dari Menkominfo Tifatul Sembiring yang mempertanyakan keberadaan pabrik di sana menjadi mentah,” ungkap Pengamat Telematika Abimanyu Wachjoewidajat di Jakarta, Kemarin.

Dijelaskannya, sesuai regulasi alat telekomunikasi yang resmi beredar di Indonesia harus memiliki sertifikat lulus uji, namun kenyataan di sentra-sentra ponsel beredar BB buatan Malaysia tipe  8520, 9300, 9810.  “Jika barang ini masuk sebelum Lebaran sudah jelas itu illegal. Hal ini harus diselidiki,” katanya.

Menurutnya, selayaknya suatu proses uji sertifikasi, secara prosedural Kemenkominfo akan memastikan dulu pabrik pembuat, perusahaan penanggung jawab, negara asal, distributor, jenis,  dan pengujian teknis telekomunikasi pasti melalui serangkaian proses dari uji ketahanan, keamanan, fitur, dan lainnya.

“Biasanya ini memakan waktu dua minggu. Jadi, jika sertifikasi untuk satu tipe BB sudah keluar alangkah anehnya jika Menkominfo malah mempertanyakan adanya pabrik RIM di Indonesia. Posisi Kemendag juga patut dipertanyakan, kenapa tidak vokal mengungkapkan keberadaan pabrik RIM ,” tukasnya.

Selanjutnya dikatakan,  dugaan  pabrik RIM di Malaysia sudah beroperasi sejak 1 juli 2011 juga tidak tepat.  Karena selayaknya pabrik ponsel pasti produksinya akan sangat masal dan bukan hanya membuat satu  contoh untuk kebutuhan sertifikasi di Kemenkominfo.  “Ingat bahwa produksi dari RIM Malaysia bukan hanya untuk pasar Indonesia tapi pasti pasar Asia. Itu berarti pabrik itu pasti sudah beroperasi sebelum 16 Juni 2011,” tegasnya.

Sebelumnya, Menkominfo Tifatul Sembiring mempertanyakan informasi beredarnya pabrik RIM di Malaysia walau sudah dilontarkan oleh Kepala BKPM Gita Wirjawan. Tifatul menegaskan, telah bertemu Dubes Kanada dan Perwakilan RIM dimana masalah pembangunan pabrik di Malaysia belum jelas.[dni]

 

 

270911 Kemenhub Tetap Buka Dialog Implementasi RA

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) tetap membuka pintu dialog bagi semua pemangku kepentingan untuk implementasi agen inspeksi (Regulated Agent/RA) baik di kargo domestik atau internasional.

”Kemenhub sejauh ini terbuka dan akomodatif terhadap masukan yang masih dapat diterima, namun diharapkan beberapa pihak juga mau memahami prinsip-prinsip yang secara ketentuan tidak dapat berubah karena memang sudah menjadi aturan. Pintu dialog masih terbuka untuk semua pihak,” kata Juru bicara Kemenhub Bambang S Ervan di Jakarta, Minggu (25/9).

Ditegaskannya, Kemenhub tetap konsisten untuk menerapkan RA  untuk kepentingan penerbangan nasional. Diharapkan semua pihak dapat melihat untuk kepentingan nasional karena jelas akan ada kepentingan-kepentingan  sepihak yang terkurangi. ”Sikap mau menang sendiri dan memaksakan kehendak harus dihilangkan,” tegansya.

Diingatkannya, jika Indonesia tidak menrapkan RA untuk kargo internasional, pesawat yang membawa kargo baik pesawat penumpang dan pesawat kargo tidak diijinkan terbang ke Uni Eropa.

”Tim EU European Union akan melakukan air cargo security visit ke Bandara Soekarno-Hatta  pertengahan Oktober ini. Kita harus menjalankan RA agar  tidak berdampak negatif bagi penerbangan Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Tim dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan pengusaha pemakai jasa RA melakukan aksi walk out dalam pertemuan regulated agent (RA)yang digelar di Kementerian Perhubungan, Jumat (23/9).

Belasan orang yang antara lain terdiri dari Wakil Ketua Kadin, Natsir Mansyur dan M Kadrial, pengusaha jasa ekspres M Syarifuddin dan anggota Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Mohan meninggalkan gedung tersebut karena menganggap materi rapat tidak sesuai dengan arahan Menhub Freddy Numberi.

Mereka kecewa karena yang datang dalam pertemuan itu dari pihak Kemenhub yang hadir  hanya kepala sub direktorat Keselamatan Udara yaitu Dwi Apriyanto. Padahal dalam undangan yang akan memimpin rapat adalah Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay.

Menurut Natsir, Kemenhub sangat lamban dalam penanganan RA sendiri, padahal Kadin dan pengusaha pemakai jasa RA telah mempersiapkan jauh hari sebelumnya. Kalau masalah ini berlarut-larut, maka pelaksanaan inspeksi barang kargo untuk pengiriman internasional juga terancam mundur dari rencana semula pada 3 Oktober 2011.

Menanggapi hal itu,  Bambang Ervan menjelaskan, kala   pertemuan di Hotel Millenium dijelaskan bahwa tim kecil akan membahas tentang komponen biaya sehingga dapat dihitung tarif yngg wajar.

Dikatakannyam Ditjen Hubud sudah kirim surat untuk minta nama-nama dari semua pihak yang terkait baik pemerintah maupun swasta. Karena sudah cukup lama tidak semua beri masukan nama maka diundang rapat untuk konfirmasi.

“Pihak Kadin  yang juga diwakili Asperindo inginnya langsung bahas tarif dan keberatan mengapa RA masuk tim. Ditjen hubud khan hrs bekerja sesuai prosedur,” jelasnya.[dni]

 

270911 Mandala Sepakati Transaksi dengan Investor

JAKARTA—PT Mandala Airlines  (Mandala) akhirnya menyepakati penandatangan perjanjian jual beli bersyarat serta berbagai dokumen legal dan komersial dengan Grup Saratoga dan Tiger Airways pada Jumaat (23/9) lalu.

Manajemen Mandala dalam siaran pers yang diterima akhir pekan lalu menyebutkan ditandatanganinya perjanjian tersebut menjadikan Grup Saratoga bertindak sebagai investor keuangan dan Tiger Airways selaku investor strategis perseroan.

Saratoga akan memiliki saham mayoritas di Mandala sebesar 51 persen, serta Tiger Airways akan memiliki saham sebesar 33 persen. Sedangkan sisanya akan dimiliki oleh kreditor konkuren dan pemegang saham lama. Ditandatanganinya kesepakatan tersebut, semua pihak telah mendekati penyelesaian restrukturisasi Mandala, yang masa uji tuntasnya telah berlangsung selama hampir lima bulan.

Tahap berikutnya yang dilalui Mandala adalah melengkapi persyaratan-persyaratan transaksi yang diperlukan, termasuk persetujuan pemerintah yang diperlukan agar Mandala dapat segera terbang kembali.  Semuanya diperkirakan akan memakan waktu sekitar 90 hari sebelum beroperasi.

Salah satu pendiri Saratoga Group Sandiaga Uno dan CEO Tiger Airways Holdings Limited, Chin Yau Seng, mengaku  senang telah menyelesaikan kesepakatan untuk transaksi ini, dan berharap Mandala ke depan dapat beroperasi dengan segera.

“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses ini dan atas dukungan penuh dari Pemerintah, terutama Dirjen Perhubungan Udara, sampai dengan proses ini selesai. Ini merupakan proses yang panjang,” ujarPresiden Direktur Mandala Airlines Diono Nurjadin.

Dijelaskannya, pascaberalihnya kepemilikan Mandala, maskapai baru ini akan menerapkan model bisnis Tiger Airways, yakni dengan menawarkan perjalanan biaya murah ke tujuan internasional dan domestik dalam jangkauan lima jam penerbangan dengan  mengoperasikan pesawat Airbus A320.

Secara terpisah, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Herry Bakti Singayudha Gumay meminta manajemen Mandala secepatnya  mengirimkan susunan manajemen baru mengingat tenggat waktu yang diberikan regulator bagi maskapai tersebut  tinggal beberapa bulan lagi untuk masa Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP).

Jika   melebihi 12 Januari 2012,  maka SIUP Mandala akan habis dengan sendirinya dan manajemen harus mengajukan rencana bisnis baru yang bakal memakan waktu lama lagi.

Juru Bicara Kementrian Perhubungan Bambang S Ervan menambahkan, biasanya mengurus Air Operation Certificate (AOC) bisa dieselesaikan dalam waktu dua bualn tergantung kesiapan maskapainya. ”Dalam kasus Mandala hanya menghidupkan AOC yang dibekukan. Kita tunggu saja kesiapan manajemennya,” katanya.

Sementara Sekjen INACA Tengku Burhanuddin mengingatkan, Mandala tidak akan mudah bersaing kembali di kancah industri penerbangan jika tidak memperbaiki kualitas dan mengembangkan armadanya.

”Pertumbuhan penumpang di Indonesia setiap tahun rata-rata  15 hingga  20 persen. Maskapai eksisting terus mengembangkan armada.  Manajemen baru Mandala harus paham budaya berbisnis di Indonesia jika ingin sukses,” katanya.

Diharapkannya, walau Mandala sebagian sahamnya dikuasai oleh pihak asing saat ini, merek Mandala Airlines tidak diganti mengikuti kemauan investor karena ini berkaitan dengan kebanggan bangsa. “Mandala punya sejarah di industri penerbangan. Namanya jangan diganti,” katanya.[dni]