220911 Plasa.com (Kembali) Direvitalisasi

Tak mau menyerah. Inilah kalimat yang pantas diberikan pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dalam menggarap bisnis internet.

Tak percaya? Telkom pada awal 2000-an pernah membuat proyek business to business (B2B) internet. Proyek ini gagal total karena dianggap mendahului zaman dan pada 2004 ditutup.

Tak putus asa, pada 2008,  Telkom  mendorong situs plasa.com untuk menjadi Yahoo-nya Indonesia dengan harapan bisa mendapatkan pendapatan dari iklan.  Tetapi percobaan ini kembali gagal  karena  tidak jelasnya  mau fokus di layanan yang mana dari sekian banyak kanal di plasa.com itu.

Lantas pada akhir 2009, Plasa.com direvitalisasi dan didorong menggarap bisnis e-commerce. Harapan yang digantungkan pada situs ini lumayan tinggi, yakni menjadi salah satu pemain besar di  e-commerce dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Pasalnya, Telkom melihat e-commerce sebagai  salah satu masa depan dari bisnis internet. Alasannya, baru enam persen dari sekitar 41 juta pengguna internet di Indonesia yang akrab dengan e-commerce, sehingga peluang menggarap pasar lebih besar.

Situs yang menelan investasi sekitar dua juta dollar AS tersebut memiliki tiga lini bisnis yaitu e-commerce, komunikasi, dan pusat konten (Content Agregator). Sinyal positif sempat muncul kala Plasa.com menggandeng e-bay dari Amerika Serikat dimana pada November 2010 sempat ada 400 ribu pengguna aktif di situs tersebut.

Sayangnya, belum berjalan setahun, badai menerpa Plasa.com. Dua penggawanya yakni Shinta Danuwardoyo (CEO) dan Andi S Boediman (CIO) hengkang dari portal tersebut. Rating Plasa.com yang berada di kisaran 300-an di Alexa pun kian melorot ke angka 400.

Telkom pun tak ketinggalan diam. Sejumlah langkah penyelamatan dilakukan. Salah satunya  mengganti platform dengan Magento dan darah baru pun disuntikkan yakni Iriana Muadz sebagai CEO dan Widi Nugroho sebagai COO.

Dua situs baru pun diluncurkan belum lama ini  yaitu homepage plasa.com dan Plasa Ticket, untuk melengkapi layanan Plasa Trade Center yang telah ada sebelumnya.

Plasa Trade Center adalah situs layanan khusus untuk Usaha Kecil dan Menengah, sementara homepage Plasa.com saat ini difungsikan sebagai tempat yang menyediakan barang high end dengan pangsa pasar kalangan menengah ke atas. Saat ini sudah ada sekitar 2500 merchant yang tergabung dengan Plasa.com dan Plasa Trade Center

Sedangkan  Plasa Ticketing merupakan situs yang melayani penjualan tiket konser dan pertunjukkan. Saat ini Plasa Ticketing melayani penjualan tiket Maher Zein, 50 Cent, Sendratari Mahakarya Borobudur, Sami Yusuf, dan Zona Memory 80. Kedepan akan masuk ke  tiket theme parks,  termasuk fitur mobile ticketing

Terus Dievaluasi
Direktur IT & Supply Telkom  Indra Utoyo menjelaskan, perseroan terus melakukan evaluasi terhadap Plasa.com, khususnya berkaitan letak  diferensiasinya, strategi,  dan implementasi yang sinkron di industri.

”Kalau layanannya belum bagus pasti terefleksi di penerimaan pasar. Saat ini kami mencoba memperbaiki brand positioning, melengkapi infrastruktur,  memperkaya ekosistem yang  ujungnya adalah user experience harus lebih nyaman, mudah, aman, dan pasti. Yang jelas Plasa.com harus tumbuh CAGR diatas 25 persen,” katanya di Jakarta, Rabu (21/9).

Dijelaskannya, dari sisi positioning Plasa.com masuk menjadi multi-store platform dengan kehandalan logistik dan kemudahan payment. ”e-commerce secara teori adalah bisnis yg menguntungkan, tapi sebaliknya sulit untuk dapat diterima pasar. Plasa.com masuk  ke branded item dan ticketing   untuk menguji sistem, platform, value chain yang berkualitas, trusted, safe, dan mudah,” jelasnya.

CEO PT Metranet Iriana Muadz,   menjelaskan salah satu keunggulaan Plasa.com dibanding pesaing adalah adanya Search Optimization yang memudahkan calon pembeli memilih barang, mulai dari jenis hingga warnanya.

Selain itu juga ada teknologi CRM Engine yang memungkinkan sistem mengenali perilaku pengguna saat berbelanja, dan memberi umpan balik. “Misalnya, ketika seseorang membeli baju untuk bayi berumur 3 bulan, mesin bisa memperkirakan kapan bayi tersebut berumur 4-6 bulan, lalu mengirimi notifikasi pada pembeli, mengenai penawaran pakaian anak untuk usia tersebut,” ujarnya.

Menurutnya,  salah satu hambatan e-commerce di Indonesia adalah kepercayaan dari pengguna internet. “Masih banyak yang kurang yakin dengan keamanan bertransaksi secara online,” tambahnya.

Secara terpisah, menurut Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin langkah Plasa.com masuk ke penjualan tiket sudah tepat, namun mengingat pasar di komoditi itu sudah crowded maka persaingan akan keras.

”Komoditi yang dijual di e-commerce Indonesia tak banyak ragamnya. Kondisi ini menjadikan harus ada pintar-pintar deal dengan merchant, sehingga akhirnya pricing jadi menarik. Kunci kemenangan nantinya adalah bagaimana mengelola inventory dari merchant,” jelasnya.

Disarankannya, para penggawa Plasa.com jika ingin membangkitkan situs ini dari keterpurukan langkah pertama yang harus dilakukan adalah gencar melakukan komunikasi pemasaran. “Ini sudah terbukti, kala Plasa.com memasang iklan minggu lalu, rangking di Alexa bergeser dari 412 ke 409. Di bisnis e-commerce ini apapun gampang ditiru oleh pesaing. Jika ingin bertahan, harus memiliki ranking yang tinggi agar pangsa pasar tidak hilang,” tegasnya.

Hal lain yang harus dilakukan oleh Plasa.com adalah memperkuat platform yang dimiliki baik dari sisi kapasitas atau daya tahan. “Pesaing ada yang pake platform   IBM Websphere Commerce atau  Sharepoint Commerce dari Microsoft. Sementara Plasa.com menggunakan Magento yang merupakan platform umum untuk e-commerce yang diletakkan di cloud,” katanya.

Sementara Senior Manager Service Operation Multiply Indonesia Dolly Surya Wisaka mengaku tidak khawatir dengan aksi dari Plasa.com karena bisnis e-commerce di Indonesia baru dalam tahap permulaan.

”Kami santai saja dan fokus kepada rencana bisnis. Multiply sendiri sedang menyiapkan inovasi tersendiri yang bagus untuk pasar. Selain itu kami gecar melakukan edukasi agar e-commerce kian berkembang,” katanya.

Diakuinya, salah satu segmen dari e-commerce  yang terbuka peluangnya untuk digarap adalah penjualan tiket secara online. Namun, tantangannya adalah  meng-online-kan pembayaran dan  database dari  promotor. ”Sistemnya masih   setengah online dan setengah offline karena banyak hal harus diselaraskan.  Tapi menawarkan tiket secara online ini bagu sebagai  langkah mengedukasi   dunia e-commerce,” katanya.[dni]

Iklan

1 Komentar

  1. Ralat. Bukan hengkang, tapi manajemen lama dianggap tidak perform dan hanya menghambur2kan uang, sehingga diminta mundur oleh pemegang saham.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s