220911 Menanti Netralitas Pilihan Teknologi

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) optimistis hadirnya teknologi baru untuk akses internet mulai tahun depan akan mampu mendongkrak penetrasi penggunaan internet.

Saat ini penetrasi internet di Indonesia untuk mobile broadband sekitar 6,41 persen dari total populasi, fixed broadband (0,74%), dan di rumah tangga (3,3%). Hadirnya teknologi baru  diharapkan angka penetrasi melonjak menjadi 20 persen.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo M.Budi Setyawan mengungkapkan pada Oktober nanti akan keluar peraturan setingkat Dirjen yang mengatur masalah pengunaan teknologi di frekuensi 2,3 GHz yang selama ini belum berjalan walau tender telah memiliki pemenang sejak beberapa tahun lalu.

Kabar beredar mengatakan, walau Kemenkominfo mengapungkan wacana teknologi netral di 2,3 GHz, namun diskusi dalam menyiapkan aturan mengarah ke  WiMax 16e. Hal itu terlihat dari pembahasan di kalangan internal SDPPI yang tengah mengatur tentang lebar kanal dan interferensi antar dua teknologi yakni wiMax 16d dan wiMax 16 e.

Rencananya, definisi frekuensi tengah (center frequency) atau titik tengah frekuensi dalam sau channel bandwitdh untuk lebar kanal 3,5 MHz dan 7 MHz menjadi hanya menyebutkan lebar kanalnya saja (3,5 MHz, 5 MHz, 7 MHz, dan 10 MHz) tanpa mengatur lebih lanjut frekuensi tengahnya.

Bahkan, Rancangan Peraturan Dirjen yang akan keluar juga akan mengatur persyaratan teknis alat dan perangkat ke pelanggan, serta BTS. Tentunya, jika ini diteruskan, berlawanan dengan prinsip dari teknologi netral yang digadang-gadang oleh Kemenkominfo untuk frekuensi 2,3 GHz.
Dalam pengertian dunia internasional teknologi netral seharusnya tidak ada diskriminasi dalam pemilihan teknologi.  Peran dari pemerintah lebih kepada menetapkan obyektif yang akan dicapai, Servicel Level Agreement (SLA), dan kualitas layanan.

Jika demikian, kenapa Kemenkominfo dalam menyiapkan aturan untuk frekuensi 2,3 GHz condong ke Wimax 16e, selain Wimax 16d? Bukankah di frekuensi ini bisa digunakan juga untuk   Time Duplex  Long Term Evolution (TD-LTE) yang juga dikategorikan standar   Broadband Wirless Access (BWA)? Seandainya Kemenkominfo memang ingin memberikan jalan bagi wiMax 16e, seharusnya dengan tegas disebutkan standar tersebut tanpa membawa-bawa ide teknologi netral.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono membantah adanya keberpihakan pemilihan teknologi di frekuensi 2,3 GHz.  “Kami  fokus pada fungsi teknologi bukan  mereknya. Data yang beredar di masyarakat itu baru sebatas usulan  dan diskusi terus berlanjut karena internal inter-direktorat juga perlu disamakan presepsinya,” katanya.

Diungkapkannya, draft terakhir yang disiapkan adalah regulator memastikan dala teknologi netral  setiap operator  tidak memancarkan sinyal melampaui pita yang telah dialokasikan, tanpa melihat teknologi yang digunakan (Wimax 16 d, 16 e, atau TD-LTE). “Pita yang dialokasikan adalah 15 MHz. Silahkan dikelola kanalisasinya sesuai strategi penggelaran masing-masing pemain,” tegasnya

Anggota Komite lainnya, Heru Sutadi mengungkapkan, definisi teknologi netral tidak ada di UU Telekomunikkasi tetapi di UU ITE.  ”Di UU ITE bicara soal   teknologi netral artinya konsumen bisa pakai teknologi apa saja untuk akses internet. Saya rasa kita memang perlu ada terminologi bersama tentang teknologi netral. Satu hal yang pasti pilihan bagi operator di 2,3 GHz adalah wimax 16d atau 16e, sedangkan untuk TD-LTE masih dievaluasi” katanya.

Sementara Ketua Wimax Forum Indonesia Sylvia W Sumarlin meminta pemerintah untuk berpegang pada prinsip dari teknologi netral dengan tidak mengikat operator melalui standar atau pilihan teknologi. ”Jika memang bicara teknologi netral, diserahkan saja pada industri pilihan teknologi yang dipilihnya. Saya terbuka saja di 2,3 GHz itu untuk WiMax, TD-LTE, atau Offload WiFi sekalipun,” tegasnya.[dni]

220911 Plasa.com (Kembali) Direvitalisasi

Tak mau menyerah. Inilah kalimat yang pantas diberikan pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dalam menggarap bisnis internet.

Tak percaya? Telkom pada awal 2000-an pernah membuat proyek business to business (B2B) internet. Proyek ini gagal total karena dianggap mendahului zaman dan pada 2004 ditutup.

Tak putus asa, pada 2008,  Telkom  mendorong situs plasa.com untuk menjadi Yahoo-nya Indonesia dengan harapan bisa mendapatkan pendapatan dari iklan.  Tetapi percobaan ini kembali gagal  karena  tidak jelasnya  mau fokus di layanan yang mana dari sekian banyak kanal di plasa.com itu.

Lantas pada akhir 2009, Plasa.com direvitalisasi dan didorong menggarap bisnis e-commerce. Harapan yang digantungkan pada situs ini lumayan tinggi, yakni menjadi salah satu pemain besar di  e-commerce dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Pasalnya, Telkom melihat e-commerce sebagai  salah satu masa depan dari bisnis internet. Alasannya, baru enam persen dari sekitar 41 juta pengguna internet di Indonesia yang akrab dengan e-commerce, sehingga peluang menggarap pasar lebih besar.

Situs yang menelan investasi sekitar dua juta dollar AS tersebut memiliki tiga lini bisnis yaitu e-commerce, komunikasi, dan pusat konten (Content Agregator). Sinyal positif sempat muncul kala Plasa.com menggandeng e-bay dari Amerika Serikat dimana pada November 2010 sempat ada 400 ribu pengguna aktif di situs tersebut.

Sayangnya, belum berjalan setahun, badai menerpa Plasa.com. Dua penggawanya yakni Shinta Danuwardoyo (CEO) dan Andi S Boediman (CIO) hengkang dari portal tersebut. Rating Plasa.com yang berada di kisaran 300-an di Alexa pun kian melorot ke angka 400.

Telkom pun tak ketinggalan diam. Sejumlah langkah penyelamatan dilakukan. Salah satunya  mengganti platform dengan Magento dan darah baru pun disuntikkan yakni Iriana Muadz sebagai CEO dan Widi Nugroho sebagai COO.

Dua situs baru pun diluncurkan belum lama ini  yaitu homepage plasa.com dan Plasa Ticket, untuk melengkapi layanan Plasa Trade Center yang telah ada sebelumnya.

Plasa Trade Center adalah situs layanan khusus untuk Usaha Kecil dan Menengah, sementara homepage Plasa.com saat ini difungsikan sebagai tempat yang menyediakan barang high end dengan pangsa pasar kalangan menengah ke atas. Saat ini sudah ada sekitar 2500 merchant yang tergabung dengan Plasa.com dan Plasa Trade Center

Sedangkan  Plasa Ticketing merupakan situs yang melayani penjualan tiket konser dan pertunjukkan. Saat ini Plasa Ticketing melayani penjualan tiket Maher Zein, 50 Cent, Sendratari Mahakarya Borobudur, Sami Yusuf, dan Zona Memory 80. Kedepan akan masuk ke  tiket theme parks,  termasuk fitur mobile ticketing

Terus Dievaluasi
Direktur IT & Supply Telkom  Indra Utoyo menjelaskan, perseroan terus melakukan evaluasi terhadap Plasa.com, khususnya berkaitan letak  diferensiasinya, strategi,  dan implementasi yang sinkron di industri.

”Kalau layanannya belum bagus pasti terefleksi di penerimaan pasar. Saat ini kami mencoba memperbaiki brand positioning, melengkapi infrastruktur,  memperkaya ekosistem yang  ujungnya adalah user experience harus lebih nyaman, mudah, aman, dan pasti. Yang jelas Plasa.com harus tumbuh CAGR diatas 25 persen,” katanya di Jakarta, Rabu (21/9).

Dijelaskannya, dari sisi positioning Plasa.com masuk menjadi multi-store platform dengan kehandalan logistik dan kemudahan payment. ”e-commerce secara teori adalah bisnis yg menguntungkan, tapi sebaliknya sulit untuk dapat diterima pasar. Plasa.com masuk  ke branded item dan ticketing   untuk menguji sistem, platform, value chain yang berkualitas, trusted, safe, dan mudah,” jelasnya.

CEO PT Metranet Iriana Muadz,   menjelaskan salah satu keunggulaan Plasa.com dibanding pesaing adalah adanya Search Optimization yang memudahkan calon pembeli memilih barang, mulai dari jenis hingga warnanya.

Selain itu juga ada teknologi CRM Engine yang memungkinkan sistem mengenali perilaku pengguna saat berbelanja, dan memberi umpan balik. “Misalnya, ketika seseorang membeli baju untuk bayi berumur 3 bulan, mesin bisa memperkirakan kapan bayi tersebut berumur 4-6 bulan, lalu mengirimi notifikasi pada pembeli, mengenai penawaran pakaian anak untuk usia tersebut,” ujarnya.

Menurutnya,  salah satu hambatan e-commerce di Indonesia adalah kepercayaan dari pengguna internet. “Masih banyak yang kurang yakin dengan keamanan bertransaksi secara online,” tambahnya.

Secara terpisah, menurut Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin langkah Plasa.com masuk ke penjualan tiket sudah tepat, namun mengingat pasar di komoditi itu sudah crowded maka persaingan akan keras.

”Komoditi yang dijual di e-commerce Indonesia tak banyak ragamnya. Kondisi ini menjadikan harus ada pintar-pintar deal dengan merchant, sehingga akhirnya pricing jadi menarik. Kunci kemenangan nantinya adalah bagaimana mengelola inventory dari merchant,” jelasnya.

Disarankannya, para penggawa Plasa.com jika ingin membangkitkan situs ini dari keterpurukan langkah pertama yang harus dilakukan adalah gencar melakukan komunikasi pemasaran. “Ini sudah terbukti, kala Plasa.com memasang iklan minggu lalu, rangking di Alexa bergeser dari 412 ke 409. Di bisnis e-commerce ini apapun gampang ditiru oleh pesaing. Jika ingin bertahan, harus memiliki ranking yang tinggi agar pangsa pasar tidak hilang,” tegasnya.

Hal lain yang harus dilakukan oleh Plasa.com adalah memperkuat platform yang dimiliki baik dari sisi kapasitas atau daya tahan. “Pesaing ada yang pake platform   IBM Websphere Commerce atau  Sharepoint Commerce dari Microsoft. Sementara Plasa.com menggunakan Magento yang merupakan platform umum untuk e-commerce yang diletakkan di cloud,” katanya.

Sementara Senior Manager Service Operation Multiply Indonesia Dolly Surya Wisaka mengaku tidak khawatir dengan aksi dari Plasa.com karena bisnis e-commerce di Indonesia baru dalam tahap permulaan.

”Kami santai saja dan fokus kepada rencana bisnis. Multiply sendiri sedang menyiapkan inovasi tersendiri yang bagus untuk pasar. Selain itu kami gecar melakukan edukasi agar e-commerce kian berkembang,” katanya.

Diakuinya, salah satu segmen dari e-commerce  yang terbuka peluangnya untuk digarap adalah penjualan tiket secara online. Namun, tantangannya adalah  meng-online-kan pembayaran dan  database dari  promotor. ”Sistemnya masih   setengah online dan setengah offline karena banyak hal harus diselaraskan.  Tapi menawarkan tiket secara online ini bagu sebagai  langkah mengedukasi   dunia e-commerce,” katanya.[dni]

220911 Implementasi Reorganisasi Telkomsel Segera Dilaksanakan

JAKARTA—Implementasi reorganisasi manajemen Telkomsel diperkirakan dimulai pada Januari 2012 walaupun struktur organisasi baru telah diperkenalkan oleh dewan direksi pada Rapat Pimpinan (Rapim), di Jakarta, Rabu (21/9).

Rapim yang dipimpin oleh Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno tersebut memperkenalkan kepada para pegawainya struktur terbaru dari organisasi menghadapi kurva berikutnya dari seluler yakni Beyond Telco.

“Rapim berjalan normatif. Dirut banyak membicarakan performa dari perseroan dimana migrasi Operating System Software, Billing Software System (OSS, BSS) untuk 103 juta pelanggan prabayar telah selesai dilaksanakan dan pencapaiaan keuangan selama Agustus 2011,” ungkap seorang peserta Rapim yang enggan disebutkan namanya di Jakarta, Rabu (21/9).

Saat ini struktur manajemen Telkomsel terdiri atas Direktur Utama dengan dukungan Direktorat  Keuangan, Perencanaan & Pengembangan, Operasi, dan   Niaga.

Hasil reorganisasi adalah Direktur Utama dengan dukungan Direktorat Marketing, Sales, Network, Teknologi Informasi, Keuangan, Sumber Daya Manusia, Perencanaan dan Transformasi. Selain itu juga ada lembaga CEO Office yang mengurusi manajemen menara, new business seperti Digital Music and Content Management, Digital Money, dan lainnya.

Sebagai konsekuesi reorganisasi akan ada pelantikan sekitar 54 pejabat baru untuk menduduki posisi Vice President  dan General Manager. Rencananya, Surat Keputusan (SK) untuk para  pejabat tersebut dibagikan saat Rapim, namun entah kenapa ditunda. Kabar beredar mengatakan pembagian SK menunggu diumumkannya Direktur Utama yang baru.

Telkom sendiri  telah melakukan penjaringan dari kalangan internalnya untuk menduduki posisi Direktur Utama Telkomsel. Nama-nama yang masuk dalam pantauan adalah Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono, Dirut Telkom Vision Elvizar, Dirut Metra Alex Sinaga, Dirut Telkom Sigma Rizkan Chandra, dan EVP Sales Operation  Telkomsel Hendri Mulja Sjam.

Sementara Kementrian Badan Usaha Milik Negara juga memiliki usulan agar Komisaris Utama diduduki oleh perwakilannya. Sosok yang dipersiapkan adalah Deputi Bidang Usaha Jasa Kementrian BUMN, Parikesit Suprapto. Untuk posisi Direktur Keuangan tengah dipersiapkan eksekutif dari Bank BNI atau BRI.[dni]

220911 NBP Datangkan Tambahan Investasi Rp 450 Triliun

JAKARTA—National Broadband Plan (NBP) berpotensi mendatangkan investasi tambahan untuk ekonomi nasional hingga 2014 nanti sebesar 450 triliun rupiah dari target Produk Domestik Bruto (PDB) nominal 10.854 triliun rupiah atau 1,206 miliar dollar AS.

Sesmenko Perekonomian Eddy Abdurrahman menjelaskan, NBP adalah program telematika untuk mendukung realisasi visi Indonesia 2025. Sebagai infrastruktur dasar,  NBP memiliki dua fungsi utama yaitu membentuk konektivitas dunia maya dan mempercepat terciptanya ekonomi berbasis pengetahuan.

Diungkapkannya, menyesuaikan dengan format Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, skenario NBP dibuat dalam tiga kategori besar. Pertama, pembangunan proyek berbasis nasional terdiri atas tiga proyek yakni jaringan backbone, core, data center, dan central office. Berikutnya pengembangan ekosistem nasional, termasuk SDM dan industri jasa. Terakhir, pabrikan perangkat terminal.

Kedua, pembangunan proyek berbasis koridor ekonomi terdiri atas jaringan akses beserta backhaul, network operation center, dan customer support. Ketiga, pembangunan program khusus terdiri atas international gateway di Batam, Menado, dan Merauke, dimana sistem back up dipusatkan di Banjarmasin. Berikutnya showcase TIK di Bali, pabrikasi chipset perangkat terminal di Jawa, dan pusat pengembangan ekosistem lokal di setia koridor ekonomi.

“Masuknya Indonesia ke era broadband ekonomi diperkirakan akan mendatangkan tambahan investasi ke dalam perekonomian nasional sebesar 96 hingga 169,5 triliun rupiah tergantung dari mekanisme pembangunan yang dipilih,” katanya di Jakarta, Rabu (21/9).

Menurutnya, jika konsep sharing dapat diterapkan secara ideal, maka potensi penghematan biaya sampai 73,5 triliun rupiah diperkirakan dapat dicapai.  “Diharapkan sumber dana dialokasikan dari dana APBN sebesar 8 persen dari total investasi sementara 92 persen lainnya dari dana swasta atau Public Private Partnership (PPP),” ungkapnya.

Menkominfo Tifatul Sembiring menambahkan, saat ini sedang dipacu keluarnya payung hukum pemanfaatan dana ICT Fund yang berasal dari pungutan Universal Service Obligation (USO) operator digunakan untuk mendukung broadband ekonomi.

“Sekitar 15 persen dari dana ICT Fund itu rencananya akan digunakan untuk pembangunan jaringan. Pungutan dana USO ini lumayan besar, sekitar satu triliun rupiah setiap tahunnya,” ungkapnya.[dni]

220911 Pansel BRTI Harus Kredibel

JAKARTA—Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) diharapkan diisi oleh personal yang memiliki kredibilitas dan independensi agar bisa menjaring enam kandidat wakil masyarakat berkualitas untuk duduk di lembaga tersebut.

“Kunci dari mendapatkan anggota Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT) yang berkualitas itu dari keanggotaan Pansel. Jika Pansel isinya hanya sekadar duduk dan isi absen kehadiran, maka kandidat yang dijaring tentu seadanya saja, sehingga sangkarut tetap terjadi di industry telekomunikasi,” tegas Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala di Jakarta, Rabu (21/9).

Menurutnya, industri telekomunikasi harus bisa menerima kenyataan BRTI yang ada sekarang tidak ideal, baik dari sisi struktural ataupun keanggotaan. “Tetapi jika BRTI tidak ada itu juga akan masalah. Sekarang tinggal dijaga proses penjaringan kandidat saja untuk meminimalisir resiko paling buruk dari yang buruk,” katanya.

Disarankannya, Menkominfo Tifatul Sembiring membuka kesempatan bagi perwakilan dari masyarakat di industri telekomunikasi untuk memberikan penilaian secara obyektif bagi para kandidat, terutama anggota lama dari BRTI periode 2009-2011 yang ingin mencalonkan diri kembali.

“Jika mau fair, anggota lama itu mempresentasikan hal-hal yang diklaim telah dicapai dan biarkan publik menilai. Budaya merasa tidak mampu lagi juga harus digalakkan jika kenyataan memang tidak mampu. Jangan dipaksakan ingin dua periode kalau kenyataanya selama periode 2009-2011 tidak menghasilkan apa-apa bagi industri telekomunikasi,” ketusnya.

Berdasarkan catatan, empat   anggota KRT periode 2009-2011 kembali mendaftar lagi menjadi anggota BRTI periode 2012-2015. Keempat orang itu adalah Danrivanto Budhijanto,  Nonot Harsono, M. Ridwan Effendi, dan Iwan Krisnadi. KRT periode 2009-2011 akan  berakhir masa jabatannya  pada tanggal 3 Maret 2012.  Jumlah pendaftar seleksi BRTI periode 2012-2015 hingga saat ini   266 orang dengan batas pendaftaran 28 September 2011.[dni]

220911 Indonesia Kurang Tegas Menggandeng Investor Asing

JAKARTA—Indonesia dinilai kurang tegas dalam menunjukkan semangatnya menggandeng investor asing, sehingga banyak perusahaan luar negeri yang mengalihkan investasinya ke negara tetangga.

“Kita kurang tegas mengedepankan semangat menggandeng investasi dari luar negeri. Akhirnya kelabakan sendiri kala investor dari luar itu mengalihkan investasinya keluar negeri,” keluh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan  di Jakarta, Rabu (21/9).

Dicontohkannya, kasus yang terjadi dengan Research in Motion (RIM) dimana sebelumnya telah terjadi pembicaraan antara BKPM dengan perusahaan asal Kanada tersebut mempertimbangkan Indonesia sebagai basis produksi.

“Dulu saya bertemu langsung dengan para pimpinan RIM dan mereka mengaji membangun pabrik di sini. Namun, karena kurangnya semangat menggandeng perusahaan ini dengan keluarnya pernyataan yang berlawanan dengan ajakan berinvestasi, membuat mereka berfikir ulang. Akhirnya Malaysia yang dipilih sebagai basis produksi,” keluhnya lagi.

Ditegaskannya, berita pembukaan pabrik RIM itu valid dan tidak perlu diragukan. “Jika ada pejabat yang meragukan, itu artinya ingin mendengar sesuatu yang baik dari siapapun yang ingin didengarnya,” tegasnya.

Selanjutnya diungkapkan, saat ini juga telah terjalin komunikasi antara pimpinan Google dengan BKPM dan juga mempertimbangkan untuk berinvestasi di Indonesia dengan mendirikan PT Google Indonesia. “Google mengajukan dua syarat. Pertama, data center  tidak harus di Indonesia. Kedua, diperbolehkannya Google Indonesia mencari pendapatan dari iklan online. Kedua hal ini sudah saya koordinasikan dengan kemenkominfo, soalnya Google ini perusahaan blue chip global,” ungkapnya.

Ditegaskannya, pemerintah memiliki kepentingan agar setiap produk yang merupakan kebutuhan atau biasa digunakan secara umum oleh masyarakat mendirikan basis produksinya di Indonesia. Untuk menarik investasi asing telah diberikan Tax Holiday dan revisi beberapa aturan terkait penanaman modal asing. “Tetapi jika tidak ada keinginan untuk berinvestasi, kami pun siap bereaksi  menyiapkan hambatan fiskal dan non fiskal yang tidak bergesekan dengan aturan internasional,” tegasnya.

Ragukan RIM
Pada kesempatan sama, Menkominfo Tifatul Sembiring justru meragukan infromasi yang berkembang di masyarakat tentang dibukanya pabrik RIM di Malaysia. “Duta Besar dari Kanada berbicara langsung kepada saya dan menyatakan masih akan mengecek tentang informasi itu. Sebaiknya jika ada informasi seperti ini dikonfirmasi langsung, jangan percaya berita Hoax di internet,” ketusnya.

Ditegaskannya, Kemenkominfo tetap mendesak RIM memenuhi komitemnya terhadap regulasi telekomunikasi Indonesia seperti pembangunan data center, sensor konten porno, dan pendirian purna jual. “Kita jangan terlalu berharap dan terkesan mengemis meminta RIM membangun pabrik di Indonesia. mereka itu semua pedagang, hal yang penting kita mengejar kepatuhan kepada regulasi saja,” katanya.

Diakuinya, perusahaan Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi  (TIK) asing lainnya ada yang berencana berinvestasi di Indonesia seperti  Google dan Oracle.
“Kami sudah ajak CEO Google bertemu dengan Menteri Koperasi. Kita harapkan Google mau menggandeng  Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia agar bisa   cepat go international,” katanya.

Tifatul optimis kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan asal California bisa segera terlaksana.Saat ini pun telah membentuk tim untuk mengkaji mekanisne kerjasama yang akan menentukan nilai kerjasama. “Kita mengharapkan makin banyak investor asing bidang TIK masuk Indonesia. Pada tahun lalu nilai bisnis TIK itu sekitar 300 triliun rupiah dan naik menjadi 350 triliun rupiah tahun ini,” katanya.[dni]