190911 Regulator Wajibkan Maskapai Terapkan SMS

JAKARTA—Regulator penerbangan   sipil nasional mewajibkan seluruh maskapai penerbangan untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan (safety management system/SMS) dalam operasional perusahaannya.

“Penerapan SMS itu mutlak karena Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) juga mewajibkan seluruh anggotanya untuk mengadopsi sistem itu untuk meminimalkan kecelakaan penerbangan,” tegas Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub Diding Sunardi di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, untuk mensukseskan jalannya SMS,   Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membangun pusat data (data base)  yang terintegrasi dari seluruh maskapai penerbangan nasional. Sistem SMS yang terpusat itu akan mengumpulkan hasil laporan dari seluruh operator penerbangan di Indonesia. Setelah itu, pemerintah akan meneliti apakah maskapai tersebut sudah memenuhi standar dalam sistem SMS tersebut.

Ditegaskannya, regulator akan memberikan sanksi tegas bagi maskapai yang tidak memenuhi standar sistem SMS yang diterapkan maskapai bersangkutan. Sanksi pertama dan kedua bentuknya teguran, sedangkan sanksi terakhir bisa berupa pencabutan izin operasi. Untuk kewajiban hukum itu, Kemenhub tidak akan memberikan toleransi.

Dijelaskannnya,  regulator akan menyediakan  beberapa daftar kejadian yang akan dimasukkan ke dalam tiga kategori besar, yaitu kecelakan serius, kecelakaan biasa, dan kondisi laten. Maskapai akan melaporkan setiap kejadian yang dialami dan memasukan ke dalam tiga kategori tersebut. Pusat data ini nantinya akan dipublikasikan dan bisa diakses publik.

Menurutnya, hasil kajian  Heinrich Review,  sebuah kecelakaan serius di awali 10 kecelakaan biasa yang juga diawali dengan 30 kondisi laten.  Namun demikian, Kemenhub dan maskapai penerbangan akan bersepakat dulu mengenai jumlah toleransi kecelakaan per tahun yang dialami sebuah maskapai. Kemenhub dalam diskusi bersama para maskapai akan menawarkan batas toleransi yaitu tiga kecelakaan serius per tahun, kecelakaan biasa sejumlah 30 dan kondisi laten sejumlah 50.

“Hasil akhirnya adalah kesepakatan, kami akan lihat sejauh mana kesanggupan maskapai karena tiap maskapai punya masalah sendiri. Selanjutnya, nanti akan keluar aturan yang mengatur hal tersebut, misalnya peraturan menteri perhubungan (permenhub) yang akan mulai dibuat bulan depan. Semua ini kami lakukan tak sebatas memenuhi ketentuan ICAO, namun juga kami ingin meningkatkan keamanan dan keselamatan penerbangan,” katanya.

Direktur Operasi  Airfast Indonesia Erlangga Suryadarma mengatakan, penerapan sistem SMS hendaknya tidak hanya sebatas teori. Namun  bisa menjadi budaya bagi seluruh sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi operator maupun regulator.

“Di Indonesia bisa saja diwajibkan, karena kalau tidak diwajibkan nanti Indonesia tidak lulus audit ICAO. Tapi kalau SMS masih sebatas teori, tidak jadi budaya juga percuma. Misalnya, ada kecelakaan, maskapai lain yang tidak kecelakaan acuh  saja tidak mau mengecek kondisi pesawatnya, itu tidak  akan efektif untuk menekan kecelakaan,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s