140911 Adu Gengsi Demi BlackBerry

Para analis atau  lembaga riset boleh saja memaparkan tentang mulai redupnya penjualan perangkat Research in Motion (RIM), BlackBerry, secara global. Namun tidak demikian kondisinya di Indonesia.

Perangkat yang memiliki keunikan pada fitur BlackBerry Messenger (BBM) dan paket data yang ekonomis itu ternyata masih menjadi daya tarik bagi masyarakat. Operator yang menjadi mitra pun masih memposisikan BlackBerry sebagai ajang adu gengsi ditengah makin derasnya gempuran perangkat berbasis sistem operasi Android atau iOS.

Simak yang terjadi awal September ini. Dirilisnya BlackBerry Bold 9900 (Dakota) dijadikan oleh tiga mitra RIM sebagai sarana unjuk gigi paling agresif menjual perangkat tersebut layaknya yang terjadi dua tahun lalu.

Ketiga operator itu adalah Telkomsel yang membuka pre order hingga 22 September, XL yang menutup pre order pada 16 September, dan Indosat yang telah melakukan pre order sejak 15 Agusutus lalu. Satu lagi mitra yang menjual Dakota adalah Axis, namun karena hanya mendapatkan jatah seribu unit, anak usaha Saudi Telecom ini tidak mau terlalu aktif komunikasi pemasarannya.

Secara produk,  BlackBerry Dakota mengandalkan keyboard QWERTY, Touch-sensitive controls, trackpad optik, kamera 5 megapixel dengan perekam video HD, flash, dan image stabilization, kapasitas 4GB, 768MB of RAM, dan dioperasikan dengan BlackBerry OS 7.

Selain Dakota, produk baru dari RIM yang akan keluar tak lama lagi dengan sistem operasi BlackBerry OS 7 adalah  Apollo, Sedona,  Curve Touch, Torch 9850, dan Torch 9810. Indosat dan XL dalam pre order-nya ternyata juga menawarkan tipe Apollo dan Monza walau baru akan dirilis pada Oktober nanti. Sementara Telkomsel menawarkan Torch 2.

Hal yang unik dari penjualan seri terbaru BlackBerry kali ini adalah walaupun operator yang menjadi mitra dari RIM terlibat adu cepat merilis ke pasar. Namun realita di lapangan, penjualan pertama kali justru dilakukan oleh perbankan yang menawarkan paket 5,9 juta dengan sistem kontrak melalui pembayaran kartu kredit.

Pola ini pertama kali terjadi karena biasanya RIM merilis resmi terlebih dulu, baru setelah itu para mitra berjualan ke pasar. Di sentra-sentra ponsel sendiri Dakota dijual dengan harga 6,2 juta (garansi toko) karena stok barang belum resmi tersedia.

Berdasarkan catatan, BlackBerry pada tahun lalu digunakan 2,63 juta pengguna atau menguasai 50 persen pasar smartphone. Pada tahun ini enam operator yang menjadi mitra RIM memperkirakan akan ada 6 juta pengguna pada akhir tahun nanti. Saat ini Telkomsel memimpin dengan 2,5 juta pengguna, XL (1,4 juta pengguna), disusul Indosat ( 1 juta pengguna).

Alat Mendongkrak
GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro mengungkapkan, munculnya varian baru dari BlackBerry dimanfaatkan oleh operator untuk alat mendongkrak pengguna perangkat dan layanan BlackBerry Internet Service (BIS). ”Kami terpaksa merevisi target pengguna BlackBerry dari 2,5 juta menjadi 3 juta pengguna pada akhir tahun nanti. Kita optimistis target ini tercapai karena adanya varian-varian baru sebelum tutup tahun,” katanya.

Menurutnya, strategi pre order sebenarnya sudah lazim dilakukan operator khususnya jika ada varian baru. ”Bedanya Telkomsel dengan   operator adalah kami memberi bukti bukan janji. Contohnya ada operator yang iklan pre order di media pada 9 September lalu. Tapi kami pada tanggal yang sama  memberikan bukti yang pertama menyerahkan kepad pelanggan,  bukan janji pre order,” jelasnya.

Ditegaskannya, hal yang sama juga dalam penawaran produk dimana barang yang akan keluar di tawarkan pre order sehingga masyarakat tidak menunggu lama.”Contohnya tipe Monza yang baru keluar Oktober nanti. Kita tidak menawarkannya, Telkomsel  lebih memilih Torch 2 yang segera rilis ketimbang pelanggan menunggu lama,” ungkapnya.

Direktur Marketing XL Joy Wahjudi mengatakan, penyerahan  BlackBerry Dakota baru dilakukan pada 13 September 2011 sebagai  penyerahan tahap awal bagi sebagian dari ribuan calon pelanggan yang telah melakukan pemesanan.

”Untuk tipe Dakota, XL menyiapkan  sekitar 50000 unit sampai akhir tahun 2011. Pelanggan bisa mendapatkannya melalui outlet-outlet yang ditunjuk secara resmi oleh XL di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan kota-kota lainnya,” katanya.

Sementara Direktur Penjualan Axis Syakieb A Sungkar mengambil sikap realistis dalam berjualan Dakota karena hanya dialokasi seribu unit dan BIS baru digunakan 150 ribu pelanggan. ”Jika melihat unit tersedia dan biaya promosi, tentu tidak realistis jika komunikasi pemasaran digembar-gemborkan layaknya tiga besar,” katanya.

Regulator Heran
Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengaku heran dengan aksi dari para mitra RIM yang masih terlihat bersemangat menjual produk RIM padahal  di lapangan posisi Service Level Agreement (SLA) antara kedua belah pihak sangat lemah.

Misalnya, untuk layanan BBM tidak ada ukuran jaminan kecepatan pengiriman pesan atau situs-situs yang dianggap masuk dalam BIS dan tidak. ”Banyak kejadian pelanggan masuk ke situs tertentu dikenakan biaya akses data biasa bukan ala carte BIS. Operator dalam posisi yang lemah bernegosiasi dengan RIM, apalagi jika jumlah pelanggan BIS kian besar dimana harus terus menambah kapasitas ke server RIM di Kanada,” jelasnya.

Kabar terbaru, lanjutnya, bahkan untuk negosiasi model revenue sharing dalam mengelola pelanggan masih maju mundur. Akibatnya, hingga sekarang operator harus membayar 7 dollar AS per bulan per pelanggan ditambah lagi sewa untuk bandwitdh di server RIM, diluar trafik yang harus dibawa sendiri oleh operator. ”

Pada kesempatan lain Pengamat Gadget Agung Wijanarko mengakui dengan menggunakan  chipset  MSM 8655 Snapdragon 1.2 Ghz, BlackBerry Dakota mampu menjalankan  multitasking secara mulus dan cepat.

Penggagas milis BlackBerry Abul A’la Almaujudy  juga mengakui secara hardware BlackBerry Dakota akan mampu bersaing dengan perangkat lainnya berbasis sistem operasi Android atau iOS. ”Pekerjaan rumah RIM adalah membenahi eksositem dari layanan perangkat ini secara menyeluruh. Mulai dari harga paket data, bentuk kerjasama dengan pengembang aplikasi, bisnis aplikasi, serta kemudahan lainnya,” katanya.

Sedangkan menurut Praktisi telematika Faizal Adiputra keluarnya BlackBerry versi Dakota wujud dari harapan RIM ingin mengulang cerita sukses larisnya BlackBerry Bold di Indonesia.

“Secara desain produk ini elegan dan ada perubahan yang cukup siginifikan   di layar sentuh serta  bentuk yang tipis.  Sayangnya mengorbankan daya tahan baterai karena layar sentuh membutuhkan  power lebih besar,” katanya.

Praktisi telematika lainnya, Bayu Samudiyo melihat aktifnya operator memasarkan varian baru BlackBerry tak bisa dilepaskan dari tekanan RIM yang meminta mitranya kembali turun gunung untuk menaikkan citra produk.

”Setahun belakangan operator lebih konsentrasi berjualan BIS bukan perangkat. Sayangnya, RIM seperti melupakan operator dengan membiarkan bank merilis terlebih dulu Dakota ke pasar. Ini tentu akan melukai perasaan operator karena sejatinya merekalah mitra setia RIM,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s