140911 Kemenhub Buka Peluang Kembangkan Pelabuhan

JAKARTA–Kementrian Perhubungan (Kemenhub) membuka peluang seluas-luasnya bagi pelaku usaha untuk mengembangkan pelabuhan di Indonesia untuk menunjang arus distribusi barang dan meningkatkan daya saing ekonomi.

“Kami membuka peluang bagi  setiap pihak, baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk  mengembangkan pelabuhan umum di seluruh Indonesia. Namun tetap tidak akan ada penunjukkan langsung, sesuai dengan peraturan,” tegas  Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di Jakarta, Rabu (14/9).

Namun, lanjutnya, untuk pihak yang sudah melakukan inisiatif mengembangkan pelabuhan, pemerintah akan memberikan keistimewaan bagi yang memiliki inovasi dan kreatifitas.
“Setiap pihak bisa mengembangkan pelabuhan umum, tetapi tetap tidak ada opsi penunjukan langsung, harus melalui tender,” katanya.

Dikatakannya,  bagi pihak yang sudah lebih dahulu berinisiatif untuk mengembangkan pelabuhan umum, dengan melakukan inovasi dan investasi, akan berhak mendapatkan keistimewaan berupa pemberian hak right to match (hak memberikan penawaran terhadap tawaran terbaik). Selain right to match,  juga dapat diberikan kompensasi berupa margin preference, biasanya sebesar 10 persen. Hak istimewa itu tidak mengurangi kompetisi karena dinilai adil.

Dijelaskannya,  untuk pihak yang akan mengembangkan pelabuhan umum harus melalui proses tender termasuk opsi pemberian right to match bila ada inisiator. Hal ini sesuai dengan peraturan presiden (Prepres) 67/05 jo Perpres 13/10.

Pengecualian dari prosedur sesuai Perpres 13 ini bisa dilakukan dengan menerbitkan perpres penugasan khusus untuk badan usaha, seperti halnya yang sedang diusulkan yaitu perpres penugasan untuk PT Kereta Api Indonesia membangun kereta api bandara jalur Tangerang.

Menurut Bambang, perpres penunjukkan kepada PT KAI ini bisa juga diberlakukan untuk pengembangan Pelabuhan Sorong, Papua yang saat ini diinisiatif oleh PT Pelindo II. “Kita lihat sejauh mana kepentingannya, apakah memang sudah mendesak seperti kereta bandara. Jika memang mendesak, memang lebih baik menggunakan perpres penunjukkan seperti PT KAI,” katanya.

Sebelumnya, PT Pelindo II membentuk konsorsium dengan menggandeng adalah PT Samudera Indonesia Tbk,  PT Meratus Line,  PT Tempuran Emas Tbk,  PT Pelindo IV,  PT Salam Pasific Indonesia Lines,  PT Tanto Intim Line dan PT Pembangunan Perumahan serta Pemkab Sorong untuk pembangunan pelabuhan regional hub di Sorong, Papua.
Presiden Direktur Pelindo II  R.J Lino menyakini  pembangunan pelabuhan yang menelan dana sebesar 700 miliar rupiah itu akan menekan biaya logistik nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia. Pelabuhan itu ditargetkan dapat selesai dibangun pada 2013.

Infrastruktur itu   akan mengkonsolidasikan potensi peti kemas tujuan luar negeri dan dalam negeri sebesar 0,7 juta TEUs yang berasal dari Australia, Papua Nugini, Timor Timur dan Indonesia.Pelabuhan baru tersebut rencananya akan dibangun di atas areal seluas total 10.000 hektare. Untuk tahap pertama, akan dibangun terminal berkapasitas 0,5 juta TEUs dengan panjang dermaga sejauh 500 meter. i pelabuhan ini, akan dilengkapi peralatan QCC (quay Ccontainer crane) sebanyak 4 unit, RTGC (rubber tyred gantry crane) da head truck berikut chassis masing-masing 12 dan 28 unit.[dni]

140911 Migrasi Sistem Penagihan Telkomsel Belum Kelar

JAKARTA–Migrasi sistem penagihan Telkomsel belum selesai dilakukan sehingga masih terjadi beberapa kesalahan tagihan terhadap pelanggan, khususnya pengguna jasa data.

“Saat ini proses migrasi baru selesai dikerjakan 80 persen atau untuk sekitar 80 juta dari 106 juta pelanggan. Pada Juni lalu kami melakukan freezing network, sehingga belum bisa melanjutkan migrasi. Kita harapkan pada November nanti migrasi sistem penagihan selesai dilakukan,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, Rabu (14/9).

Berdasarkan catatan, seiring tender Operating System Software, Billing Software System (OSS, BSS) senilai 1,2 triliun rupiah diselesaikan pada akhir Februari 2011 dengan menunjuk Amdocs sebagai pemenang lelang sedang terjadi proses integrasi ke downstream system . Amdocs juga mengerjakan proyek Customer Relationship Management (CRM) bernilai sekitar 1,8 triliun rupiah. Semulai dijanjikan   pada April migrasi selesai, namun molor menjadi Juni. dan sekarang menjadi November.

Akibat dari migrasi yang belum berjalan mulu, banyak pelanggan data Telkomsel, baik pra atau pascabayar mengalami salah tagih. Misalnya, pelanggan iPhone walaupun sudah mengambil paket unlimited, tetap dikenakan tarif data biasa, sehingga tagihannya membengkak atau pulsa terkuras.

“Bagi pelanggan yang benar mengalami kesalahan tagihan, kami menyiapkan pergantian. Tinggal datang ke pusat pelayanan dan dilihat kasusnya. Kompensasi berupa pulsa yang hilang untuk pemakaian bulan depannya,” jelasnya.
Namun, dia pun meminta pelanggan untuk berhati-hati menggunakan jasa data karena membutuhkan ketelitian dalam setting perangkat. “Sebaiknya setting akses di ponsel dalam kondisi manual. Ini sangat baik bagi pelanggan yang sedang melakukan roaming ke luar negeri. Edukasi yang intensif ini kami lakukan bagi paket layanan Haji karena di Arab Saudi itu tarif roaming-nya salah satu yang mahal,” katanya.

VP Product Lifesycle Management Telkomsel Ririn Widaryanti menambahkan,  untuk paket layanan Haji  hanya dikenakan tarif  6 ribu rupiah per menit dan  2.500 rupiah  per menit untuk menerima telpon, serta SMS seharga 900 rupiah  per SMS. Untuk paket BlackBerry  dikenakan tarif  45.000 ribu rupiah per hari,  130 ribu rupiah per  tiga hari,  300 ribu rupiah seminggu dan  850 ribu rupiah  per 20 hari.

“Kami membuat kebijakan lindung tarif bagi pelanggan yang tidak mendaftar dalam paket dengan membatasi penggunaan hanya 50 ribu rupiah per hari. Ini untuk menjaga agar pulang ke tanah air tagihannya tidak membengkak,” katanya.[dni]

140911 ALU Bidik Pasar Data Center

JAKARTA—Penyedia solusi dan jaringan, Alcatel Lucent (ALU), membidik pasar data center yang sedang bergairah di Indonesia seiring mulai maraknya penggunaan Cloud Computing.

“Pertumbuhan investasi untuk Cloud Computing secara global dalam empat tahun ke depan akan tumbuh lima kali lipat ketimbang pembelian produk teknologi informasi tradisional. Saat ini secara global nilai bisnis cloud computing mencapai 29 miliar dollar AS dan emapt tahun lagi mencapai 55 miliar dollar AS,” ungkap VP of  Enterprise Network Alcatel Lucent Asia Pacific BG poon di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tingginya penggunaan Cloud Computing juga akan membuat kebutuhan data center kian besar. Hal ini terlihat dari banyaknya terjadi merger dan akuisisi dari perusahaan data center serta prediksi pertumbuhan dari bisnis ini hingga 2014 bisa mencapai 13 persen.

“Indonesia sebagai salah satu negara yang telah mengadopsi cloud computing, tentu akan membutuhkan data center. Kami sebagai penyedia solusi akan bermitra dengan para penyedia data center untuk bisa memberikan layanan yang hemat biaya dan berkualitas,” katanya.

Dijelaskannya, dalam mengelola data center terdapat beberapa isu krsuial seperti performa dan skala dari sistem, network kongesti dan arsitektur konektivitias, serta biaya energi, pendingin, dan ruangan. ”Konsumsi energi itu menyerap 50 persen dari investasi data center. Harus diingat, prinsip dari bisnis data center adalah menghasilkan dan menghemat uang. Melalui solusi switching data center kami yang terbaru, semua itu dapat dilakukan,” katanya.

Hal ini karena produk dari ALU ini hanya menelan biaya listrik sekitar 0.10 dollar AS per Kwh dan bisa berinteroperobilitas dengan solusi dari merek lainnya. ”Konsep bisa keterhubungan ini sangat penting karena perusahaan tentu ingin mengamankan investasinya. Terikat pada satu vendor itu justru merugikan karena akan dipasung oleh satu teknologi,” jelasnya.

Diungkapkannya, saat ini segmen yang dibidik untuk solusi data center ini adalah operator telekomunikasi, industri strategis seperti oil and gas,  pemerintahan, serta pendidikan. ”Kami berbicara dengan semua operator telekomunikasi, termasuk   Telkom yang tengah membangun data center,” katanya.

Sebelumnya, Telkom berencana membangun data center seluas 15 ribu meter  dengan investasi  400 miliar rupiah untuk mengembangkan lini bisnis berbasis cloud computing di Indonesia. Pembangunan ini melengkapi dua data center sebelumnya yang telah dibangun di Surabaya dan Serpong.

Lembaga riset Frost & Sullivan memperkirakan Cloud Computing terutama segmen Infrastructure as a Service (IaaS) diyakini akan  tumbuh 53.4 persen  selama periode 2010 – 2014.  65 persen  dari pasar data center di industri BFSI (Banking, Financial Services & Insurance), Manufaktur, dan Telco/IT menyediakan potensi terbesar bagi layanan Cloud (IaaS) di Indonesia.

Lembaga ini memperkirakan nilai pasar data center di Indonesia tahun 2010 diperkirakan mencapai  146,5 juta dollar AS. Sedangkan Sharing Vision memprediksi Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) bisnis ini sebesar  20 persen dengan nilai pasar pada tahun ini sekitar  1,1 triliun rupiah.[dni]

140911 Google Belum Berpaling dari Indonesia

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyakini  raksasa internet asal Amerika Serikat, Google, belum berpaling dari Indonesia dan akan melanjutkan rencana investasinya di negara ini.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, dalam pertemuan terakhir jelang Lebaran lalu, para petinggi Google menyambangi instansinya dan menegaskan tetap akan berinvestasi di Indonesia.

“Rombongan Google kala itu diwakili oleh Mike Orgil yang menjabat sebagai Country Lead Public Policy and Government Affairs Google Southeast Asia Pacific, serta Henky Prihatna, Indonesia Country Consultant Google Inc,” katanya di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, saat pertemuan itu Google tak menyinggung soal pembangunan data centernya, layaknya banyak diberitakan media massa lokal. “Masih sebatas komitmen untuk berinvestasi. Adapun model investasinya seperti apa dan berapa nilainya, Google belum mengungkap,” jelasnya.

Head of Communications and Public Affairs, Google Southeast Asia Myriam Boublil mengungkapkan, jika belajar dari dibangunnya kantor perwakilan Google di Prancis pada 2002, diperkirakan dua-tiga tahun mendatang Indonesia akan memiliki kantor perwakilan sendiri.

“Saat itu Google sudah menyediakan layanan ke Prancis meski belum membangun kantornya. Namun setelah dua-tiga tahun, Google akhirnya mendirikan juga kantornya di Prancis. Kehadiran Eric Schmidt (CEO Google) ke Indonesia, secara tidak langsung menunjukkan indikasi itu,” ujarnya.

Indonesia Country Consultant Google, Henky Prihatna, juga tidak bisa mengungkapkan secara detil rencana ekspansi Google ke Indonesia. Menurutnya, Google telah melihat Indonesia sebagai pasar yang besar dan punya potensi hebat jika bisa memaksimalkan penggunaan internet.

“Indonesia itu pasar terbesar keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang. Tujuan kami di sini ialah untuk membantu orang Indonesia agar lebih maju lagi dengan bekal internet,” ucapnya.

Google sendiri di Indonesia sedang aktif berjualan   browser Chrome besutannya yang menawarkan   kecepatan, kemudahan, dan keamanan. Google Chrome mulai hadir dalam versi beta September 2008, dan release version Desember tahun itu juga. Pada ajang Google I/O di 2010, Chrome telah memiliki lebih dari 70 juta pengguna aktif. Dan di ajang I/O 2011 ini, angka tersebut sudah berlipat ganda menjadi 160 juta pengguna aktif.[dni]

140911 Sulitnya Menaklukkan RIM

Research in Motion (RIM) bisa dikatakan salah satu pemasok perangkat yang menjadi incaran dari pemerintah Indonesia. Pasalnya, diperkirakan  pada tahun depan penjualan BlackBerry di Indonesia   akan menembus 4 juta unit dengan nilai rata-rata  300 dollar AS per unit. Ini tentu nominal yang menggiurkan.

Pemerintah sendiri melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah beberapa kali berusaha menundukkan RIM agar mau lebih banyak berkontribusi bagi industri telekomunikasi di tanah air,  alias tidak hanya dijadikan sebagai pasar untuk berjualan.

Sayangnya, aksi yang dilakukan Kemenkominfo seperti membentur tembok raksasa. Lihat saja, masalah pembangunan server atau data center di Indonesia, pembukaan purna jual,   klarifikasi pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi serta kewajiban  Universal Service Obligation (USO) yang masih terkatung-katung hingga sekarang.

Jika pun ada permintaan dari Kemenkominfo yang diloloskan oleh RIM, hanyalah masalah sensor konten porno dengan setengah hati. Hal ini karena hingga sekarang akses ke beberapa situs porno masih bisa dilakukan melalui BlackBerry. Pembukaan purna jual pun ternyata tidak setara dengan di Singapura, bahkan untuk perbaikan barang masih dibawa ke negeri tetangga itu.

Namun, sepertinya aksi terakhir dari RIM telah membuat gusar tidak hanya Kemenkominfo. RIM mendirikan pabrik di Penang, Malaysia, pada Juli lalu untuk memenuhi produksi di Asia Pasifik. Bayangkan, Malaysia hanya memiliki 400 ribu pelanggan BlackBerry, sementara Indonesia yang menjadi pasar utama dengan 4 juta pelanggan tidak dianggap.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengaku kecewa dengan aksi RIM dan meminta  pemerintah untuk menyikapi hal tersebut, salah satunya dengan pemberlakuan disinsentif seperti tarif perpajakan dengan mengenakan PPnBM.

Menurut Gita hal tersebut wajar dilakukan untuk   perusahaan-perusahaan yang memiliki pangsa pasar besar di Indonesia tetapi enggan membangun pabrik di Indonesia, serta industri yang masih mengekspor barang mentah.

Menteri Perindustrian MS Hidayat  menyatakan usulan pemberian disinsentif atas produk impor yang mendominasi pasar dalam negeri bisa dilakukan meski saat ini ada aturan-aturan World Trade Organization (WTO) yang membatasi kebijakan seperti disinsentif suatu negara.

“Free trade agreement (FTA) harus mengutamakan kepentingan nasional. Pemberlakuan disinsentif merupakan strategi untuk melindungi industri dalam negeri. Saat ini, pemerintah dan prinsipal sedang mencari titik persamaan untuk bisa duduk bersama. Amerika Serikat yang mbahnya kapitalisme berani memberlakukan disisentif untuk melindungi kepentingan nasional,”  tegasnya.

Ekonom senior Indef, Didik J Rachbini,  mendukung ide atau rencana pemberian disinsentif. Produsen jangan seenaknya memanfaatkan pasar dalam negeri yang besar, namun negara tidak memperoleh devisa.

“Barangnya laku diserap pasar dalam negeri, tapi negara tidak mendapat keuntungan, dalam hal ini serapan tenaga kerja. Kalau mereka tidak memberi kita keuntungan, mereka harus dikenakan disisentif seperti apa bentuknya, nanti biar ditentukan pemerintah dengan timnya,” kata Didik.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Chris Kanter mengatakan keputusan RIM  memilih Malaysia sebagai basis produksi harus menjadi cermin bagi pemerintah Indonesia untuk segera menyelesaikan persoalan-persoalan terkait UU Ketenagakerjaan 13/2008 dan infrastruktur.

Praktisi Telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai   pembangunan pabrik RIM di Malaysia membuat Indonesia kehilangan potensi  pertumbuhan sektor riil. Apalagi, Indonesia dinilai selama ini tidak mendapatkan keuntungan financial dari hadirnya RIM.

“Jika ada kerjasama dengan universitas lokal untuk mengembangkan platform, itu  justru RIM yang diuntungkan karena turut memiliki hasil riset dan aplikasi apapun yang dihasilkan pengembang di Indonesia,” katanya.

Namun, diingatkannya, jika diterapkan  disinsentif bagi RIM , justru makin merugikan masyarakat karena barang selundupan akan semakin membanjir masuk ke pasar. “Saya rasa hal yang realistis adalah mendesak pembangunan data center sekarang di Indonesia. Jika menunggu tahun depan, itu sudah terlambat, karena bisa saja ketika sudah selesai dibangun, tren BlackBerry sudah hilang,” katanya.

Sebenarnya, jika pemerintah memang ingin memberikan pelajaran kepada RIM tanpa harus melakukan disinsentif pun bisa.  Cukup menegakkan aturan yang ada di Indonesia secara konsisten dan tegas. Misalnya, masalah purnajual yang tidak sesuai standar undang-undang konsumen atau  mensertifikasi perangkat lebih ketat sesuai UU Telekomunikasi. Bahkan bisa juga memakai UU Persaingan Tidak Sehat jika RIM dianggap Penyedia Jaringan Internet (PJI). Hal ini karena sebagai PJI, RIM telah menguasai koneksi secara end to end. Nah, sekarang tergantung pemerintah. benarkah mau memberikan pelajaran ke RIM atau sekadar gertak sambal, karena kecolongan oleh Malaysia?[dni]

140911 Adu Gengsi Demi BlackBerry

Para analis atau  lembaga riset boleh saja memaparkan tentang mulai redupnya penjualan perangkat Research in Motion (RIM), BlackBerry, secara global. Namun tidak demikian kondisinya di Indonesia.

Perangkat yang memiliki keunikan pada fitur BlackBerry Messenger (BBM) dan paket data yang ekonomis itu ternyata masih menjadi daya tarik bagi masyarakat. Operator yang menjadi mitra pun masih memposisikan BlackBerry sebagai ajang adu gengsi ditengah makin derasnya gempuran perangkat berbasis sistem operasi Android atau iOS.

Simak yang terjadi awal September ini. Dirilisnya BlackBerry Bold 9900 (Dakota) dijadikan oleh tiga mitra RIM sebagai sarana unjuk gigi paling agresif menjual perangkat tersebut layaknya yang terjadi dua tahun lalu.

Ketiga operator itu adalah Telkomsel yang membuka pre order hingga 22 September, XL yang menutup pre order pada 16 September, dan Indosat yang telah melakukan pre order sejak 15 Agusutus lalu. Satu lagi mitra yang menjual Dakota adalah Axis, namun karena hanya mendapatkan jatah seribu unit, anak usaha Saudi Telecom ini tidak mau terlalu aktif komunikasi pemasarannya.

Secara produk,  BlackBerry Dakota mengandalkan keyboard QWERTY, Touch-sensitive controls, trackpad optik, kamera 5 megapixel dengan perekam video HD, flash, dan image stabilization, kapasitas 4GB, 768MB of RAM, dan dioperasikan dengan BlackBerry OS 7.

Selain Dakota, produk baru dari RIM yang akan keluar tak lama lagi dengan sistem operasi BlackBerry OS 7 adalah  Apollo, Sedona,  Curve Touch, Torch 9850, dan Torch 9810. Indosat dan XL dalam pre order-nya ternyata juga menawarkan tipe Apollo dan Monza walau baru akan dirilis pada Oktober nanti. Sementara Telkomsel menawarkan Torch 2.

Hal yang unik dari penjualan seri terbaru BlackBerry kali ini adalah walaupun operator yang menjadi mitra dari RIM terlibat adu cepat merilis ke pasar. Namun realita di lapangan, penjualan pertama kali justru dilakukan oleh perbankan yang menawarkan paket 5,9 juta dengan sistem kontrak melalui pembayaran kartu kredit.

Pola ini pertama kali terjadi karena biasanya RIM merilis resmi terlebih dulu, baru setelah itu para mitra berjualan ke pasar. Di sentra-sentra ponsel sendiri Dakota dijual dengan harga 6,2 juta (garansi toko) karena stok barang belum resmi tersedia.

Berdasarkan catatan, BlackBerry pada tahun lalu digunakan 2,63 juta pengguna atau menguasai 50 persen pasar smartphone. Pada tahun ini enam operator yang menjadi mitra RIM memperkirakan akan ada 6 juta pengguna pada akhir tahun nanti. Saat ini Telkomsel memimpin dengan 2,5 juta pengguna, XL (1,4 juta pengguna), disusul Indosat ( 1 juta pengguna).

Alat Mendongkrak
GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro mengungkapkan, munculnya varian baru dari BlackBerry dimanfaatkan oleh operator untuk alat mendongkrak pengguna perangkat dan layanan BlackBerry Internet Service (BIS). ”Kami terpaksa merevisi target pengguna BlackBerry dari 2,5 juta menjadi 3 juta pengguna pada akhir tahun nanti. Kita optimistis target ini tercapai karena adanya varian-varian baru sebelum tutup tahun,” katanya.

Menurutnya, strategi pre order sebenarnya sudah lazim dilakukan operator khususnya jika ada varian baru. ”Bedanya Telkomsel dengan   operator adalah kami memberi bukti bukan janji. Contohnya ada operator yang iklan pre order di media pada 9 September lalu. Tapi kami pada tanggal yang sama  memberikan bukti yang pertama menyerahkan kepad pelanggan,  bukan janji pre order,” jelasnya.

Ditegaskannya, hal yang sama juga dalam penawaran produk dimana barang yang akan keluar di tawarkan pre order sehingga masyarakat tidak menunggu lama.”Contohnya tipe Monza yang baru keluar Oktober nanti. Kita tidak menawarkannya, Telkomsel  lebih memilih Torch 2 yang segera rilis ketimbang pelanggan menunggu lama,” ungkapnya.

Direktur Marketing XL Joy Wahjudi mengatakan, penyerahan  BlackBerry Dakota baru dilakukan pada 13 September 2011 sebagai  penyerahan tahap awal bagi sebagian dari ribuan calon pelanggan yang telah melakukan pemesanan.

”Untuk tipe Dakota, XL menyiapkan  sekitar 50000 unit sampai akhir tahun 2011. Pelanggan bisa mendapatkannya melalui outlet-outlet yang ditunjuk secara resmi oleh XL di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan kota-kota lainnya,” katanya.

Sementara Direktur Penjualan Axis Syakieb A Sungkar mengambil sikap realistis dalam berjualan Dakota karena hanya dialokasi seribu unit dan BIS baru digunakan 150 ribu pelanggan. ”Jika melihat unit tersedia dan biaya promosi, tentu tidak realistis jika komunikasi pemasaran digembar-gemborkan layaknya tiga besar,” katanya.

Regulator Heran
Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengaku heran dengan aksi dari para mitra RIM yang masih terlihat bersemangat menjual produk RIM padahal  di lapangan posisi Service Level Agreement (SLA) antara kedua belah pihak sangat lemah.

Misalnya, untuk layanan BBM tidak ada ukuran jaminan kecepatan pengiriman pesan atau situs-situs yang dianggap masuk dalam BIS dan tidak. ”Banyak kejadian pelanggan masuk ke situs tertentu dikenakan biaya akses data biasa bukan ala carte BIS. Operator dalam posisi yang lemah bernegosiasi dengan RIM, apalagi jika jumlah pelanggan BIS kian besar dimana harus terus menambah kapasitas ke server RIM di Kanada,” jelasnya.

Kabar terbaru, lanjutnya, bahkan untuk negosiasi model revenue sharing dalam mengelola pelanggan masih maju mundur. Akibatnya, hingga sekarang operator harus membayar 7 dollar AS per bulan per pelanggan ditambah lagi sewa untuk bandwitdh di server RIM, diluar trafik yang harus dibawa sendiri oleh operator. ”

Pada kesempatan lain Pengamat Gadget Agung Wijanarko mengakui dengan menggunakan  chipset  MSM 8655 Snapdragon 1.2 Ghz, BlackBerry Dakota mampu menjalankan  multitasking secara mulus dan cepat.

Penggagas milis BlackBerry Abul A’la Almaujudy  juga mengakui secara hardware BlackBerry Dakota akan mampu bersaing dengan perangkat lainnya berbasis sistem operasi Android atau iOS. ”Pekerjaan rumah RIM adalah membenahi eksositem dari layanan perangkat ini secara menyeluruh. Mulai dari harga paket data, bentuk kerjasama dengan pengembang aplikasi, bisnis aplikasi, serta kemudahan lainnya,” katanya.

Sedangkan menurut Praktisi telematika Faizal Adiputra keluarnya BlackBerry versi Dakota wujud dari harapan RIM ingin mengulang cerita sukses larisnya BlackBerry Bold di Indonesia.

“Secara desain produk ini elegan dan ada perubahan yang cukup siginifikan   di layar sentuh serta  bentuk yang tipis.  Sayangnya mengorbankan daya tahan baterai karena layar sentuh membutuhkan  power lebih besar,” katanya.

Praktisi telematika lainnya, Bayu Samudiyo melihat aktifnya operator memasarkan varian baru BlackBerry tak bisa dilepaskan dari tekanan RIM yang meminta mitranya kembali turun gunung untuk menaikkan citra produk.

”Setahun belakangan operator lebih konsentrasi berjualan BIS bukan perangkat. Sayangnya, RIM seperti melupakan operator dengan membiarkan bank merilis terlebih dulu Dakota ke pasar. Ini tentu akan melukai perasaan operator karena sejatinya merekalah mitra setia RIM,” katanya.[dni]