130911Teknologi yang (Tidak) Netral

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akhirnya memilih penerapan teknologi netral di frekuensi 2,3 Ghz. Secara harafiah, pemilihan teknologi netral berarti pemberian izin tidak dikaitkan dengan satu inovasi, industri memiliki hak untuk memilih.

Jika merujuk ke pengertian tersebut, standar WiMax  16d,  WiMax16e, mobile wimax, bahkan Time Duplex  Long Term Evolution (TD-LTE) sekalipun, bebas dijalankan oleh para pemenang tender Broadband Wirless Access (BWA) 2009 lalu.Spektrum yang ideal untuk LTE adalah di  700 MHZ dan 2,6 GHz dengan lebar pita 20 MHz.  Namun, LTE juga bisa berjalan di  1.800 MHz, atau  2,3 GHz, seperti   di  China dan India.

Namun, sinyal yang dilontarkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring berkata lain. “Kita sadar teknologi itu tidak dapat dipasung. Pilhan teknologi netral itu antara wiMax 16d atau wiMax 16e. Sedangkan untuk LTE baru akan dilaksanakan tender dua tahun lagi,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

VP Teknologi Riset Global (TRG) Achmad Sariwijaya menegaskan kebijakan yang diambil Kemenkominfo tidak adil dan tidak konsisten kepada semua ekosistem “Teknologi yang sudah ditetapkan saja masih megap-megap, apalagi disuruh teknologi netral. Memangnya mudah pindah teknologi. Hal lain yang mengesalkan bagaimana nasib investasi kami sebesar 60 miliar rupiah,” kesalnya.

Ditegaskannya,  mandeknya perkembangan BWA  berbasis teknologi WiMax bukan karena ketidakmampuan anak bangsa mengembangkan perangkat sesuai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

“Jika WiMax belum digelar walau lelang sudah usai 3 tahun lalu,  itu bukan kesalahan IDN. Kami sudah mengembangkan perangkat sesuai regulasi yang diminta oleh pemerintah dan berinvestasi puluhan miliar rupiah. Harusnya balik ditanya, bagaimana komitmen operator pemenang BWA menggunakan perangkat lokal,”

Diungkapkannya, selama ini para operator pemenang tender BWA tidak memiliki kepercayaan kepada produk lokal walaupun sudah sesuai standar yang diinginkan pemerintah. “Jika ada yang beli produk lokal, itu cuma syarat lulus Uji Laik Operasi (ULO). Produk lokal itu kesulitan memenuhi keinginan operator yang meminta diberikan fasilitas pembiayaan seperti perangkat asing, itu inti masalahnya,” ungkapnya.

Dijelaskannya, perangkat asing yang umumnya menggunakan perangkat standar  802.16e (16e) untuk Mobile Wimax menawarkan masa garansi lima tahun dengan rentang tagihan memasuki tahun ketiga. Itu pun mulai dihitung penagihan jika regulasi sudah memungkinkan dengan kata lain operator nyaris tidak mengeluarkan investasi untuk instalasi perangkat.

Direktur Utama Xirka Darma Persada Sylvia W Sumarlin mengungkapkan, sebagai pembuat chipset wiMax 16e siap memenuhi kebutuhan operator karena produksi mencapai 100 ribu unit hingga akhir tahun nanti.

“Kami menggandeng Huawei untuk produksi. Sejauh ini beberapa operator yang akan membeli produk Xirka adalah Berca, First Media, Jasnita, dan Indosat,” katanya.

Sementara Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono menilai langkah yang diambil Kemenkominfo menetapkan teknologi netral akan berdampak kepada pemain lain yang menduduki frekuensi sekelas BWA seperti di 2,1 GHz. “Bisa saja pemain 3G meminta dibebaskan menggunakan Long Term Evolution (LTE) karena selama ini membayar BHP berbasis pita seperti pemain di 2,3 GHz,” katanya.

Menurutnya, hal lain yang dilupakan Kemenkominfo nasib perusahaan manufaktur lokal yang telah berinvestasi mengembangkan standar 16d. “Ini kan mencla-mencle namanya. Apa tidak dipikir nasib investasi pemain lokal itu. Saya juga tidak yakin jika nantinya teknologi netral yang dikembangkan WiMax, bisa jadi para pemain itu malah memilih TD-LTE. Hal ini karena di dunia WiMAX sudah kalah pamor,” katanya.

Pengamat telematika lainnya Soemitro Roestam meminta polemik tentang pilihan teknologi dilupakan karena Indonesia sudah mengalami banyak kerugian akibat BWA belum berjalan. ”Jika menggunakan asumsi setiap 10 persen penterasi Broadband menumbuhkan PDB 1,38 persen, maka setiap tahun Indonesia kehilangan potensi sekitar 138 triliun rupiah. Kita harapkan kehadiran teknologi baru ini bisa mengangkat penterasi broadband Indonesia yang masih rendah,” katanya.[dni]

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s