060911 Operator BWA Harus Gandeng PJI

JAKARTA—Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengingatkan operator Broadband Wireless Access (BWA) yang berada di frekuensi 2,3 GHz untuk menggandeng Penyedia Jasa Internet (PJI) dengan mengalokasikan 20 pesen dari kapasitas terpasang yang digelar.

”Sesuai dokumen tender kala lelang tiga tahun lalu, para pemenang diwajibkan membuka 20 persen kapasitasnya bagi PJI. Kami ingin memastikan operator BWA yang akan menggelar layanan secara komersial setelah keluarnya aturan penggunaan teknologi netral untuk melakukan hal tersebut,” ungkap Wakil Ketua Umum APJII Sammy Pangerapan di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, mekanisme untuk pemanfaatan atau pembukaan alokasi kapasitas bagi PJI belum diatur secara detail. Posisi APJII lebih mendorong aturan tersebut  konsisten dilakukan karena menguntungkan kedua belah pihak. Sedangkan masalah teknis diserahkan negosiasi B to B antara operator dengan PJI.

”Jumlah PJI itu ada 328 perusahaan. Kebijakan ini  akan menggairahkan bisnisnya, sementara operator BWA yang baru bermain di industri akan terbantu menjual produknya. Kita mengharapkan, nantinya alokasi kapasitas itu bisa ditingkatkan menjadi 30-40 persen,” katanya.

Diperkirakannya, implementasi WiMax berstandar teknologi terbuka akan mampu melayani 23 juta pelanggan dengan nilai bisnis sekitar 5,75 triliun rupiah dalam setahun.

Menurutnya,  dengan kapasitas yang ada saat ini, dan dengan nilai total biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi sebesar 235 miliar rupiah , maka jumlah pelanggan yang bisa ditampung operator WiMax saat ini adalah sekitar 23 juta pelanggan dalam setahun, atau penambahan 2 juta setiap bulannya.

Terkait dengan harga BHP yang mahal, Sammy mengatakan biaya itu tidak mahal, karena berdasarkan perhitungan, biaya yang dikeluarkan operator untuk bayar lisensi per pelanggan per bulan adalah hanya 10 ribu rupiah  dengan average revenue per user (ARPU) adalah sebesar 250 ribu rupiah.

“Saya optimistis hadirnya WiMax akan mendorong penetrasi broadband sebesar 50 persen dari total populasi.  Saat ini baru ada 50 juta penggunanya atau  penetrasi 20 persen,” katanya..

Direktur Berca Hardaya Perkasa Duta Sarosa mengaku tak keberatan harus mengalokasikan 20 persen kapasitasnya kepada PJI yang meminta.”Alokasi  20 persen itu  dari total zona sesuai jumlah kecamatan. Berca sendiri menargetkan pada November nanti sudah menjalankan Uji Laik Operasi (ULO), agar tahun depan bisa komersialisasi dengan standar WiMax 16e di Medan, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Pekanbaru, Batam, Pontianak, dan Lampung,” katanya.

Sekretaris Perusahaan Indosat Mega Media (IM2) Andri Aslan juga menyatakan siap menggelar WiMax 16e pada tahun depan. ”Kita memilih teknologi yang sudah memenuhi aturan saja. Tahun depan sudah komersial,” tegasnya.

Secara terpisah, Direktur Utama Xirka Darma Persada (Penyedia perangkat WiMax 16e) Sylvia Sumarlin, optimistis mampu memenuhi tingkat kandungan lokal untuk base stasion dan customer premise equipment (CPE) sesuai aturan. ”Kami menargetkan bisa memproduksi 100 ribu unit hingga akhir tahun nanti untuk dua perangkat tersebut. Produk Xirka sudah terpasang di Berca dan  First Media untuk uji coba. Kami juga membidik pemain lain seperti Indosat dan Jasnita,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengeluarkan kebijakan diizinkannya digelar teknologi netral oleh operator  pemenang tender BWA 2009 di frekuensi 2,3 GHz dengan syarat jika yang dipilih bukan standar WiMax 16d, maka pembayaran  BHP frekuensi mulai  tahun ketiga dua kali lipat dibandingkan standar yang disepakati tiga tahun lalu itu.

Langkah pemerintah ini bagi sebagian pelaku usaha dianggap angin segar karena sejak lelang dilakukan, tak ada satupun operator yang berani mengkomersialkan layanan dengan alasan standar WiMax 16d bukan teknologi yang berkelanjutan.

Namun, suara tak puas juga dilontarkan oleh Telkom dan manufaktur lokal yang terlanjur berinvestasi mengembangkan standar 16d karena   menilai pemerintah tidak konsisten dalam mendukung manufaktur lokal.[dni]

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s