060911 Akses Internet Idealnya 3 Mbps

JAKARTA—Kecepatan akses internet yang ideal untuk memenuhi tuntutan gaya hidup digital saat ini adalah minimal 3 Mbps, sehingga  konsumen dapat menikmati upload maupun download, streaming video, dan musik, tanpa buffering yang mengganggu.

”Idealnya kecepatan akses internet itu memang 3 Mbps. Apalagi sekarang pelanggan telah terbiasa melakukan streaming yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi,” ungkap Sales Director First Media Dicky Moechtar di Jakarta, kemarin.

Dijelaskannya, menyadari tren tersebut perseroan  meningkatkan kecepatan akses internet yang mereka tawarkan. Kecepatan akses yang disediakan melalui tiga paket FastNet ditingkatkan hingga dua kali lipat. Layanan FastNet Express yang sebelumnya diberikan kecepatan 2 Mbps, kini naik menjadi 3 Mbps.

Sementara FastNet Premium, dari 3 Mbps naik jadi 6 Mbps. Dan layanan FastNet Professional, dari 6 Mbps kini naik menjadi 12 Mbps. Adapun kecepatan untuk paket FastNet Family yakni 1 Mbps dan FastNet Ultimate 20 Mbps tetap. Dari sisi tarif, tidak ada peningkatan harga berlangganan untuk seluruh akses tersebut.

“Misalnya, layanan FastNet Express, tarifnya tetap 335 ribu rupiah per bulan, dan pengguna diharapkan dapat mulai menikmatinya awal September ini,” kata Dicky.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, perseroan tak hanya memikirikan kapasitas bandwitdh di dalam negeri tetapi juga penyaluran akses ke luar negeri karena kebanyakan konten yang diakses milik asing.

“Telkom   menyiapkan layanan broadband dengan bandwith mencapai 300 Gbps untuk akses ke luar negeri. Sebanyak 100 Gbps dialokasikan bagi akses internet Speedy, 20 Gbps untuk Telkomsel Flash, sisanya disewakan ke pihak ketiga. Kita rencananya akan tingkatkan kapasitas tersebut hngga akhir tahun nanti menjadi 400 Gbps yang menelan investasi 50 miliar rupiah,” ungkapnya.

Selanjutnya dikatakan, Telkom  juga telah melakukan peningkatan kapasitas Broadband Remote Acces Server (BRAS) di beberapa lokasi (Jakarta, Jawa Barat, Batam, Semarang, Medan & Pontianak) untuk meningkatkan kecepatan Acces pelanggan Speedy dalam mengantisipasi jumlah pelanggan Speedy.

Berdasarkan data kecepatan Internet dunia per Maret 2011, dari sekitar 200 lebih negara dan wilayah, Indonesia berada di posisi 146 dalam kategori kecepatan akses, khususnya download. Kecepatan akses Internet di Indonesia rata-rata hanya 1,34Mbps, jauh di bawah Korea Selatan (33Mbps), Jepang (16,33Mbps), dan Singapura (17,62Mbps).[dni]

 

 

 

 

060911 Multiply Bebaskan Biaya Transaksi

JAKARTA—Situs jual beli online, Multiply.com membebaskan biaya transaksi bagi para penjual di tokonya mulai 26 Agustus 2011 hingga 31 Januari 2012 yang menggunakan fitur payment gateway Multiply Commerce.

CEO Multiply.com Peter Pezaris mengungkapkan, sejak periode tersebut  biaya transaksi sebesar 3.9 persen bagi penjual ditiadakan agar gairah belanja secara online makin meningkat.

“Tidak hanya biaya transaksi yang dibebaskan, penjualjuga tidak dikenakan biaya buku toko ataupun melakukan listing produk. Kita harapkan ini akan membuat para penjual semakin bergairah mengembangkan usahanya bersama Multiply Commerce,” katanya di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, situsnya juga memberikan pilihan pengiriman yang terintegrasi, stockroom (gudang) yang mempermudah pengaturan penjualan dan inventarisasi agar penjual selalu dapat memenuhi pesanan, serta fasilitas mendaftarkan diri ke Multiply Trust yang memberikan kenyamanan bagi pembeli kala berbelanja karena toko yang terdaftar dijamin oleh multiply.

AVP Marketing Communication Multiply Edward K. Suwignyo mengatakan, sebagai situs yang bertransformasi dari   social media menjadi social commerce, inovasi akan terus dilakukan.

Social commerce adalah berbelanja dengan interaksi dalam e-commerce yang memberikan solusi secara komprehensif. Solusi itu adalah mencari, memilih, membayar, pengiriman, dan membagi informasi penjual-pembeli barang.  Di Social Commerce ini masalah sumber informasi yang kredibel memegang peranan selain  user generated content untuk membangun rasa kepemilikan.

Dikatakannya, saat ini multiply memiliki 2 juta akun, dimana jumlah pengunjung mencapai 7 juta, dan page view 70 juta per bulan. Ranking dari situs ini di peringkat Alexa pada nomor 24 yang dikunjungi di Indonesia. Sedangkan pemilik akun yang membuat toko online sebanyak 45 ribu toko, dimana barang yang dijual dominan adalah baju dan perlengkapan bayi.

“Umumnya nilai transaksi sebulan itu sekitar 100-200 ribu rupiah. Hanya 10-20 persen dari total transaksi yang bisa mencapai lima juta rupiah sebulan,” ungkapnya.[dni]

060911 Operator Jatuhkan Pilihan ke Wimax 16e

JAKARTA—Operator Broadband Wireless Access (BWA) yang memenangkan tender tiga tahun lalu lebih conong memilih teknologi Wimax 16e seiring dikeluarkannya kebijakan penggunaan teknologi netral oleh pemerintah di  frekuensi 2,3 GHz  untuk  2360 – 2390 MHz.

”Berdasarkan hasil rapat terakhir yang dilakukan belum lama ini. Tiga operator sepertinya akan memilih Wimax 16e, satu masih bimbang, dan sisanya tetap pada dokumen tender yakni di Wimax Nomadic,” ungkap juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, kemarin.

Ditegaskannya, pemerintah tidak akan memaksakan kehendak terhadap pilihan teknologi yang diambil oleh para operator. Hal yang menjadi perhatian adalah penggelaran jaringan sesuai batas waktu yakni Uji Laik Operasi (ULO) minimal pada November nanti, dan tambahan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi sebesar sekitar 8-10 persen untuk tahun ketiga dan seterusnya jika yang dipilih teknologi netral.

Misalnya, untuk pemenang tender area Jabodetabek yang pada tahun pertama dan kedua membayar BHP sebesar 110,033 miliar rupiah, jika memilih teknologi netral pada tahun ketiga dan seterusnya  merogoh kocek sebesar  119,435 milar rupiah.

Direktur Berca Hardaya Perkasa Duta Sarosa dan Direktur Jasnita Sammy Pangerapan  mengaku tidak keberatan dengan keharusan merogoh kocek lebih dalam asalkan bisa menerapkan Wimax 16 e.

Sementara Sekretaris Perusahan Indosat Mega Media (IM2) Andri Aslan mengatakan, teknologi Wimax 16 e adalah pilihan yang realistis karena sudah memiliki skala ekonomis.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengaku masih berpegang pada dokumen tender kala lelang dilakukan yakni Wimax Nomadic. “Kami terus terang belum berubah pendiriannya. Kita lihat saja nanti dinamika pasar,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI)  Sarwoto Atmosutarno mengaku, teknnologi Wimax terlepas apapun pilihannya bisa menjadi solusi bagi operator 3G untuk meng-overload kapasitasnya agar jaringan tidak terbebani. “Bisa saja terjadi kerjasama antara pemain 3G dan BWA dalam membawa trafik akses ke pelanggan. Tinggal skema bisnisnya saja dibuat saling menguntungkan,” katanya.[dni]

060911 Operator BWA Harus Gandeng PJI

JAKARTA—Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengingatkan operator Broadband Wireless Access (BWA) yang berada di frekuensi 2,3 GHz untuk menggandeng Penyedia Jasa Internet (PJI) dengan mengalokasikan 20 pesen dari kapasitas terpasang yang digelar.

”Sesuai dokumen tender kala lelang tiga tahun lalu, para pemenang diwajibkan membuka 20 persen kapasitasnya bagi PJI. Kami ingin memastikan operator BWA yang akan menggelar layanan secara komersial setelah keluarnya aturan penggunaan teknologi netral untuk melakukan hal tersebut,” ungkap Wakil Ketua Umum APJII Sammy Pangerapan di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, mekanisme untuk pemanfaatan atau pembukaan alokasi kapasitas bagi PJI belum diatur secara detail. Posisi APJII lebih mendorong aturan tersebut  konsisten dilakukan karena menguntungkan kedua belah pihak. Sedangkan masalah teknis diserahkan negosiasi B to B antara operator dengan PJI.

”Jumlah PJI itu ada 328 perusahaan. Kebijakan ini  akan menggairahkan bisnisnya, sementara operator BWA yang baru bermain di industri akan terbantu menjual produknya. Kita mengharapkan, nantinya alokasi kapasitas itu bisa ditingkatkan menjadi 30-40 persen,” katanya.

Diperkirakannya, implementasi WiMax berstandar teknologi terbuka akan mampu melayani 23 juta pelanggan dengan nilai bisnis sekitar 5,75 triliun rupiah dalam setahun.

Menurutnya,  dengan kapasitas yang ada saat ini, dan dengan nilai total biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi sebesar 235 miliar rupiah , maka jumlah pelanggan yang bisa ditampung operator WiMax saat ini adalah sekitar 23 juta pelanggan dalam setahun, atau penambahan 2 juta setiap bulannya.

Terkait dengan harga BHP yang mahal, Sammy mengatakan biaya itu tidak mahal, karena berdasarkan perhitungan, biaya yang dikeluarkan operator untuk bayar lisensi per pelanggan per bulan adalah hanya 10 ribu rupiah  dengan average revenue per user (ARPU) adalah sebesar 250 ribu rupiah.

“Saya optimistis hadirnya WiMax akan mendorong penetrasi broadband sebesar 50 persen dari total populasi.  Saat ini baru ada 50 juta penggunanya atau  penetrasi 20 persen,” katanya..

Direktur Berca Hardaya Perkasa Duta Sarosa mengaku tak keberatan harus mengalokasikan 20 persen kapasitasnya kepada PJI yang meminta.”Alokasi  20 persen itu  dari total zona sesuai jumlah kecamatan. Berca sendiri menargetkan pada November nanti sudah menjalankan Uji Laik Operasi (ULO), agar tahun depan bisa komersialisasi dengan standar WiMax 16e di Medan, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Pekanbaru, Batam, Pontianak, dan Lampung,” katanya.

Sekretaris Perusahaan Indosat Mega Media (IM2) Andri Aslan juga menyatakan siap menggelar WiMax 16e pada tahun depan. ”Kita memilih teknologi yang sudah memenuhi aturan saja. Tahun depan sudah komersial,” tegasnya.

Secara terpisah, Direktur Utama Xirka Darma Persada (Penyedia perangkat WiMax 16e) Sylvia Sumarlin, optimistis mampu memenuhi tingkat kandungan lokal untuk base stasion dan customer premise equipment (CPE) sesuai aturan. ”Kami menargetkan bisa memproduksi 100 ribu unit hingga akhir tahun nanti untuk dua perangkat tersebut. Produk Xirka sudah terpasang di Berca dan  First Media untuk uji coba. Kami juga membidik pemain lain seperti Indosat dan Jasnita,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengeluarkan kebijakan diizinkannya digelar teknologi netral oleh operator  pemenang tender BWA 2009 di frekuensi 2,3 GHz dengan syarat jika yang dipilih bukan standar WiMax 16d, maka pembayaran  BHP frekuensi mulai  tahun ketiga dua kali lipat dibandingkan standar yang disepakati tiga tahun lalu itu.

Langkah pemerintah ini bagi sebagian pelaku usaha dianggap angin segar karena sejak lelang dilakukan, tak ada satupun operator yang berani mengkomersialkan layanan dengan alasan standar WiMax 16d bukan teknologi yang berkelanjutan.

Namun, suara tak puas juga dilontarkan oleh Telkom dan manufaktur lokal yang terlanjur berinvestasi mengembangkan standar 16d karena   menilai pemerintah tidak konsisten dalam mendukung manufaktur lokal.[dni]

 

 

060911 Nama Besar Bukan Jaminan

Telkomsel pada Lebaran kali ini dipastikan meraup keuntungan yang besar hanya dari jasa pesan singkat (SMS). Lihat saja, pada  29 Agustus  terkirim 924 juta SMS, 30 Agustus (1,2 miliar SMS), lalu Hari H lebaran  (967 juta SMS).

Untuk diketahui, tarif SMS dari Telkomsel adalah 150 rupiah per SMS. Diperkirakan pada 29 Agustus hanya dari SMS didapat omset sekitar 138,6 miliar rupiah, pada 30 Agustus ( 180 miliar rupiah), dan 31 Agustus ( 145,05 miliar rupiah). Angka ini murni menjadi milik Telkomsel karena penagihan SMS masih berbasis Sender Keep All (SKA) dan periode 27 Agustus – 2 September 2011, skema bonus SMS bagi pengguna kartu prabayar simPATI dan As dihentikan oleh operator ini.

Berdasarkan catatan, pengguna simPATI memiliki program gratis SMS tergantung lokasi pelanggan. Misalnya, di Jabodetabek untuk siang atau malam hari ada gratis SMS bervariasi sesuai paket yang dipilih dengan mengirimkan 5,7, 10,atau 12 SMS berbayar, maka akan menerima 100 – 500 SMS. Sementara kartu As juga memiliki bonus. Misalnya pelanggan As Ekstra Ampuh cukup mengirim 5 SMS akan menerima 5 ribu SMS.

GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra menjelaskan, langkah menghentikan bonus SMS untuk menjamin kelancaran pelanggan berkomunikasi dan pengumuman penghentian itu sudah dilakukan melalui situs resmi operator tersebut.

Bagi sebagian kalangan langkah Telkomsel ini dinilai membingungkan mengingat di awal Ramadan operator ini mengklaim telah  mengantisipasi kenaikan trafik SMS dengan meningkatkan kapasitas dari 80.000 SMS per detik pada lebaran tahun lalu, menjadi sanggup memproses 83.750 SMS per detik di lebaran tahun ini.

Apalagi, secara teknis operator telekomunikasi telah menerapkan konsep pooling system pada jaringan dalam menghadapi lonjakan trafik. Konsep ini memungkinkan besaran kapasitas dibuat fleksibel tergantung area yang mengalami kenaikan trafik.

Jika pun pertimbangannya soal jaringan, kemungkinan besar tim teknis Telkomsel tidak percaya diri dengan dimensi kapasitas signalling. Peningkatan kapasitas signalling ini perhitungannya tidak semudah menaikkan kemampuan  SMS center.

Dugaan lainnya, Telkomsel tidak ingin mengulangi cerita pahit akhir tahun 2006 dimana jaringannya tumbang karena tidak mampu mengukur bonus bagi pelanggan. Kala itu, Telkomsel diharuskan memberikan sejumlah kompensasi bagi pelanggannya.  Kejadian ini menjadi pelajaran pahit bagi setiap operator dimana dalam menggelar jaringan harus memiliki kontigency plan dan tidak bisa hanya mengandalkan nama besar yang disandang.

Jika Telkomsel mengambil langkah aman, tidak demikian dengan Indosat, XL atau Axis yang merasa percaya diri menggelar bonus SMS selama Lebaran lalu. ”Kami tidak menghentikan bonus SMS. Jika itu dilakukan, namanya bikin malu dan melukai perasaan pelanggan yang telah menaruh kepercayaan pada Axis,” tegas Direktur Penjualan Axis Telekom Syakieb A Sungkar.

Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini menegaskan, persiapan jaringan dilakukan oleh tim XL sejak dini dan bonus diberikan secara terukur. ”Kami tidak mau muncul kesan dari pelanggan, XL mengambil momentum Lebaran untuk mengeruk keuntungan. Bagi kami melayani lonjakan trafik selama Lebaran  bagian dari layanan,” katanya.

Group Head Segment Management Indosat Insan Prakarsa mengungkapkan, SMS masih menjadi andalan bagi pelanggannya untuk bersilahturahmi sehingga diambil keputusan tidak menghentikan bonus yang dijanjikan.

”Kami menawarkan program pemasaran tidak hanya untuk satu bulan Ramadan saja. Program yang dibuat berkelanjutan karena Indosat ingin menekan angka pindah layanan. Tantangan setelah Ramadan ini adalah membuat pelanggan yang baru memiliki Indosat tidak berpindah karena masih ada momen Lebaran Haji, Natal, dan Tahun Baru,” katanya.

Sementara Anggota Komite  Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan,   sejak kejadian tumbangnya jaringan Telkomsel pada akhir 2006, selalu ditekankan  promosi tidak diberikan saat trafik berpotensi terjadi anomali, seperti  Lebaran dan Tahun Baru agar kualitas tetap terjaga.

”Dalam kasus penghentian bonus SMS oleh Telkomsel ini yang kita sayangkan adalah pengumumannya tidak semassif berjualannya. Kalau hanya melalui situs, seberapa banyak pelangganya yang masuk ke halam itu. Minimal melalui broadcast SMS jelang bonus dihentikan agar pelanggan tidak kecele,” ketusnya.[dni]

 

060911 Trafik Telekomunikasi Naik Dobel Digit Selama Lebaran

Operator telekomunikasi berhasil menepati janjinya untuk menyalurkan trafik komunikasi selama Lebaran 2011. Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa operator, terjadi lonjakan trafik hingga dobel digit untuk jasa suara, pesan singkat (SMS), dan data.

Telkomsel yang menjadi penguasa pasar dengan 106 juta pelanggan mengalami peningkatan lonjakan trafik data hingga 101 terabyte atau naik  33 persen dibandingkan trafik di hari normal. Situasi yang sama juga terjadi pada penggunaan layanan  SMS  yang mencapai 1,2 miliar SMS atau meningkat 39 persen dari jumlah SMS di hari normal yang berkisar 864 juta SMS per hari.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, peningkatan trafik SMS  mulai terjadi pada tanggal 29 Agustus (924 juta SMS), H-1 lebaran tanggal 30 Agustus (1,2 miliar SMS), lalu Hari H lebaran tanggal 31 Agustus (967 juta SMS).

“Tercatat 99,63 persen dari semua SMS yang dikirim pelanggan Telkomsel saat Idul Fitri sukses sampai di nomor penerima, di mana 85,63 persen di antaranya tiba dalam waktu tidak lebih dari 30 detik. Lonjakan trafik SMS tersebut telah diantisipasi Telkomsel dengan meningkatkan kapasitas dari 80.000 SMS per detik pada lebaran tahun lalu, menjadi sanggup memproses 83.750 SMS per detik di lebaran tahun ini,” katanya di Jakarta, kemarin.

Dikatakannya, penggunaan layanan komunikasi untuk menelepon (voice) juga mengalami kenaikan, di mana trafik yang sukses dilayani sebesar 1,03 miliar menit atau meningkat 3 persen dibanding trafik suara pada hari normal yang berkisar 1 miliar menit. Di samping itu, pemanfaatan layanan BlackBerry Telkomsel yang mencakup aplikasi chatting, browsing, dan social media juga meningkat hingga 2.3 Gbps, dibandingkan hari normal yang mencapai 1.9 Gbps.

Head Of Corporate Communciation Indosat Djarot Handoko mengungkapkan, pada hari H-1 trafik voice dari  47,3 juta pelanggannya mengalami peningkatan menjadi sekitar 412,3 juta menit, atau naik sekitar 28,2 persen  dibandingkan dengan trafik voice reguler pada pertengahan bulan Juli 2011.

Sedangkan trafik SMS di hari H-1 meningkat menjadi  sekitar 958,5 juta SMS , atau naik 33,1 persen dibandingkan trafik SMS pada pertengahan bulan Juli 2011. Keberhasilan kirim antar pelanggan Indosat lebih dari 96,01 persen yang berarti tidak ada permasalahan yang signifikan dalam pengiriman SMS internal jaringan Indosat. Sedangkan tingkat keberhasilan pengiriman SMS ke antar operator mencapai sekitar 96,9 persen  walau terjadi  kepadatan jalur pengiriman antar operator. Kenaikan tertinggi trafik SMS terjadi di Jawa Tengah (55,7%), Jawa Barat (55,6%), Sumatera Selatan (35,9%), Jawa Timur (32,3%), Kalimantan (30,1%), Jabodetabek (16,2%) dan Sumatera Utara (13,5%)

Untuk trafik data di hari H-1 meningkat menjadi sekitar  28,6 Terabyte/day, atau naik 10,7 persen dibandingkan trafik data pada pertengahan bulan Juli 2011.

Sementara pada hari H Lebaran, trafik voice Indosat  mengalami peningkatan menjadi sekitar 402,9 juta menit, atau naik sekitar 25,3 persen  dibandingkan dengan trafik voice reguler pada pertengahan bulan Juli 2011.  Trafik SMS di hari H meningkat menjadi  sekitar 895,7 juta SMS , atau naik 32,8 persen  dibandingkan trafik SMS pada pertengahan bulan Juli 2011.  Sedangkan trafik data di hari H meningkat menjadi sekitar  26,5 Terabyte/day, atau naik 2,6 persen dibandingkan trafik data pada pertengahan bulan Juli 2011.

Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira mengungkapkan, perseroan  yang memiliki 38,9 juta pelanggan pada hari biasa memiliki trafik percakapan 530 juta menit, SMS  (630 juta SMS), dan data 33 terabytes per hari.

Pada   30  Agustus 2011 terjadi   sebanyak 640 juta menit percakapan  atau naik 20,8 persen dibandingkan hari biasa.Untuk SMS   sebanyak  800 juta SMS  atau naik 27 persen  dan  layanan data  sebesar  38,5 terabytes  atau naik 16,7 persen dibandingkan hari biasa. Sementara pada saat Lebaran   trafik percakapan mencapai 620 juta menit (naik 17%), SMS sebanyak 780 juta SMS (naik 23,8%)  dan  data 34,5 terabytes (naik 4,5%).

Operation Vice President Public Relations Agina Siti Fatimah juga mengungkapkan, jaringan  Telkom sukses melayani pelanggan saat menjelang, selama dan setelah  Idul Fitri 1432 H tanpa mengalami gangguan yang berarti.

Dijelaskannya, pada segmen fixed wireless access Telkom Flexi, terjadi peningkatan panggilan pada hari Lebaran yang mencapai 33 juta call per hari atau 46  juta menit, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 23 persen  dari hari biasanya. Sedangkan SMS pada hari lebaran mencapai 42 juta SMS, naik 25 persen dari hari biasa.

Diungkapkannya, trafik packet data melalui layanan FlexiNet Unlimited pada tahun ini mengalami kenaikan sebesar 32 persen  pada hari Lebaran yakni mencapai 16 terrabyte. Pelanggan Flexi saat ini mencapai 18,5 juta pelanggan.

Sementara untuk periode 25 Agustus s.d 31 Agustus 2011 trafik akses internet melalui Speedy justru terlihat menurun dan mencapai titik terendah pada hari H (31 Agustus 2011).

Trafik Speedy pada hari raya Idul Fitri tercatat 72.09 Gbps atau terjadi penurunan sebesar 46 persen  dibanding sebelum Idul Fitri yang mencapai 134 Gbps dan berangsur naik pada 1 September 2011 seiring dengan kembalinya aktivitas sebagian besar masyarakat.

Tak mau kalah, operator medioker juga mengungkapkan terjadi lonjakan trafik kala Lebaran lalu. Sayangnya, data yang diberikan tidak detail. Misalnya, Axis yang mengklaim  terjadi  peningkatan trafik layanan suara  lebih dari 40 persen dan   SMS sekitar 20 persen dibandingkan kondisi pada hari normal tanpa menyebutkan angka pembanding.

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengakui layanan telekomunikasi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam menyambut lonjakan trafik Lebaran.

”Operator jauh lebih siap sekarang.  Kami sendiri sudah memberikan prediksi akan ada sekurang-kurangnya 2 miliar layanan pesan singkat (SMS) pada H-1 hingga H+1 lebaran tahun ini. Sedangkan percakapan   akan berlangsung  sebanyak minimal 2,5 miliar menit dan  data digunakan  minimal 250 terabyte,” katanya.

Pengamat telematika Abimanyu Wachjoewidajat  menghimbau bersilahturahmi melalui jasa telekomunikasi dilestarikan karena bisa mengurangi kemacetan lalu lintas. ”Jangan malah dihimbau oleh pemerintah untuk menghindari broadcast message. Seharusnya dihimbau operator untuk meningkatkan kapasitas data agar silahturahmi bisa melalui video conference yang hemat biaya,” katanya.[dni]

 

050911 Pelaku Usaha Tolak Implementasi Agen Inspeksi

JAKARTA—Para pelaku usaha tetap menolak implementasi agen inspeksi yang dijalankan secara  efektif  mulai 4 September 2011 karena dinilai bisa mengurangi daya saing perekonomian nasional.

”Sesuai dengan kesepakatan dari organisasi yang terafiliasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, kami tetap menolak implementasi agen inspeksi atau regulated agent (RA) karena bisa menganggu perekonomian nasional,” tegas Direktur Eksekutif H Syarifuddin Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Indonesia (Asperindo) di Jakarta, Minggu (4/9).

Regulated Agent merupakan badan hukum Indonesia yang melakukan kegiatan usaha dengan badan usaha angkutan udara yang memperoleh izin dari Direktur Jenderal untuk melaksanakan pemeriksaan keamanan terhadap kargo dan pos.

Dijelaskannya, terdapat tiga alasan para pelaku usaha menolak implementasi RA. Pertama, aturan yang membawahi RA berlawanan dengan regulasi dari International Civil Aviation Organization (ICAO) dan Peraturan Menteri Perhubungan. Kedua, aturan tentang RA tidak dikoordinasikan dengan instansi terkait lainnya seperti Bea dan Cukai, Karantina, serta Kementrian Perindustrian atau Perdagangan.

”Saya dengar dua instansi itu akan meminta ke Kementrian Perhubungan untuk mencabut surat kepetusan terkait RA tersebut,” katanya.

Terakhir, masalah penetapan tarif yang mengalami kenaikan berlipat-lipat dari awalnya 60 rupiah per kilogram. Kenaikan tarif ini jika dipaksakan oleh pelaku usaha akan dibebankan ke konsumen sehingga bisa menganggu arus distribusi barang yang berujung pada menurunnya daya saing perekonomian Indonesia.

”Pemerintah tidak bisa melihat kelancaran arus barang hanya pada hari ini atau  Senin (5/9). Soalnya para produsen belum optimal berproduksi mengingat masih suasana Lebaran. Pada Selasa (6/9), kita tidak tahu apa yang terjadi, bisa saja kejadian kala Juli lalu terulang,” katanya.

Sementara itu, Senior General Manager PT Angkasa Pura II (Persero) cabang Bandara Soekarno-Hatta, Sudaryanto mengungkapkan, pihaknya   resmi mengantongi izin  RA dengan  mengoperasikan jasa tersebut mulai  3 September 2011.

Pengoperasian keagenan inspeksi tersebut merujuk pada Surat Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan No: AU/9392/DKP.926/VII/2011 tertanggal 25 Agustus 2011, tentang Pemberian Izin AP II sebagai RA sementara berlaku selama tiga bulan, terhitung sejak tanggal penerbitan.

Dijelaskannya,  kurun waktu tiga bulan tersebut diberikan seiring dilakukannya pembentukan badan hukum baru berbentuk perseroan terbatas (PT) oleh AP II sebagai pengelola RA ke depan. Saat ini, status badan hukum RA yang dikelola AP II adalah unit bisnis strategis (SBU) yang berada di dalam struktur organisasi Kantor Cabang Bandara Soekarno-Hatta.

Diungkapkannya, selama masa awal pengoperasian hingga maksimal enam bulan ke depan, AP II akan mengenakan tarif jasa inspeksi dengan harga paket promosi sebesar  250 rupiah per kg.

Tarif yang dilegitimasi Dirjen Perhubungan Udara tersebut, antara lain mencakup biaya Security Charge, biaya loading/unloading, biaya penggunaan fasilitas, serta biaya distribusi dari area inspeksi ke Gudang Lini 1.

Lokasi Regulated Agent AP II berada di area Gudang Duty Free, di dalam kawasan Pergudangan Bandar Udara Soekarno-Hatta.  Dalam satu waktu pemeriksaan sekaligus, kapasitas kegiatan inspeksi AP II di Bandara Soekarno-Hatta tersedia untuk lima kendaraan.

Khusus pemeriksaan antara pukul 20.00 – 05.00 WIB yang merupakan masa-masa padat (peak), pemeriksaan kargo yang dilayani adalah kargo dari agent/shipper yang telah melakukan pemesanan (konfirmasi) pemeriksaan selambatnya 1 jam sebelum melakukan pemeriksaan dilaksanakan. Selanjutnya, pemeriksaan akan dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditetapkan pada saat pemesanan, serta melihat kapasitas area inspeksi yang tersedia agar tidak terjadi penumpukan.

“Kami belum menargetkan kontribusi dari bisnis RA ini bagi total omset perseroan. Saat ini kita hanya melayani kargo domestik saja,” katanya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Udara Herr Bakti S Gumay menegaskan, implementasi RA secara efektif akan berlaku  mulai 4 September 2011.

Semula aturan pemeriksaan keamanan terhadap kargo dan pos ditunda dari pemberlakuan pada 16 Agustus 2011. Penundaan dilakukan untuk lebih mempersiapkan sarana dan prasarana serta alur lalu lintas kendaraan pengangkut di pergudangan.

Saat ini sudah ada tiga perusahaan yang telah memiliki izin sebagai RA yaitu PT Duta Angkasa Prima Kargo yang berlokasi di kawasan kargo Bandar Udara Soekarno-Hatta dan Kota Bandung, PT Fajar Anugerah Semesta yang berlokasi di kawasan industri Cibitung, Cikarang (khusus untuk known consignor/shipper); dan PT. Ghita Avia Trans yang berlokasi di Mangga Dua, Rawa Bokor dan kawasan kargo Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Sementara perusahaan yang telah mengajukan permohonan adalah sebanyak 11 perusahaan, yakni PT Wahana Senareksa (RPX), PT Birotika Semesta (DHL Express), PT Pajajaran Global Service, PT. Gapura Angkasa, PT Jasa Angkasa Semesta, PT Pos Indonesia, PT Restu Mitra, PT Cardig Logistic, PT Wahana Dirgantara. PT Surveyor Indonesia, dan PT Angkasa Pura II.

Dari 11 perusahaan yang telah mengajukan permohonan tersebut, tiga perusahaan yang siap disertifikasi dalam waktu dekat adalah PT Birotika Semesta (DHL Express) yang berlokasi di Slipi; PT Pajajaran Global Service yang berlokasi di Kelapa Gading; PT. Angkasa Pura II (Persero) yang berlokasi di lini 2 (gudang duty free) kawasan kargo Bandar Udara Soekarno-Hatta.[dni]