250811 Telkom Tak Gentar Persaingan di BWA 3,3 GHz

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) optimistis masih menguasai pasar Broadband Wireless Access (BWA) di frekuensi 3,3 GHz walaupun   kelompok usaha Bakrie, melalui salah satu perusahaannya, Capital Manager Asia (CMA) baru saja mengakuisisi  Reka Jasa Akses (Reja) yang menguasai  frekuensi   3,3 GHz sebesar 12,5 MHz.

“Telkom tidak pernah takut berkompetisi. Kami siap saja bersaing. Sejauh ini Telkom yang paling serius mengembangkan BWA di 3,3 GHz,” tegas Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, kemarin.
Diungkapkannya, pasar BWA di frekuensi 3,3 GHz banyak ditujukan bagi segmen korporasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). ”Kami memiliki keunggulan karena tidak hanya memberikan akses bagi pelanggan, tetapi mulai dari backbone, backhaul, hingga solusi. Ini merupakan paket paling komplit dengan harga kompetitif,” katanya.
Berdasarkan catatan, di frekuensi 3,3 GHz, Indosat grup adalah penguasa alokasi sebesar 25 MHz dengan cakupan nasional, Starcom 12,5 MHz (15 zona), dan Telkom sebesar 12,5 MHz (7 zona). Sementara Reja walau menguasai 12,5 MHz hanya beroperasi di Jabodetabek dan Jawa Barat. Perusahaan ini  memiliki lisensi Jaringan Tertutup dan belum masuk kategori 4G.
Kabar beredar mengatakan Grup Bakrie akan menggunakan anak usaha Bakrie Connectivity sebagai reseller dari bandwitdh yang dimiliki Reja nantinya untuk melayani beragam kebutuhan layanan data pita lebar  bagi segmen korporasi maupun UMKM, Home Internet,  bahkan kebutuhan operator selular lainnya,
Grup Bakrie   mengalokasikan dana guna  akuisisi dan pengembangan lebih lanjut Reja  sebesar 50 juta dollar AS. Seluruh dana akuisisi berasal dari kas internal CMA. Sebanyak 25 persen  dari total dana yang dikeluarkan tersebut untuk akuisisi. Sementara 75 persen sisanya digunakan untuk pengembangan, seperti untuk pengembangan infrastruktur dan jaringan.
Secara terpisah, Direktur CITRUS Asmiati Rasyid mengatakan, pemerintah harus lebih memperhatikan frekuensi 3,3 GHz karena ini salah satu sumber daya terbatas yang lumayan seksi untuk pengembangan teknologi data. “Tidak bisa dipakai alasan karena frekeunsi ini pindahan dari 3,5 GHz, lantas dibiarkan saja pembagiannya secara serampangan. Seharusnya yang diutamakan itu alokasinya bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s