220811 Indosat (Belum) Kembali Bersinar?

PT Indosat Tbk (Indosat) menunjukkan sinyal kembali bersinar selama semester I 2011. Laba bersih yang diraih anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itu pada semester I 2011 sebesar 681,9 miliar rupiah atau melesat 137,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hal ini berbanding terbalik dengan tahun lalu dimana Indosat membukukan laba bersih
semester
I 2010
sebesar 287,1 miliar rupiah
atau turun 71,5 persen dibandingan periode sama
2009 yang mencapai
1,01 triliun rupiah.

“Kinerja Indosat selama semester I 2011 lumayan menggembirakan.
Hal ini bisa dilihat dari jasa seluler dimana mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen jika dibandingkan Year on Year, sementara jika dilihat secara pertumbuhan kuartal I dan II, Indosat mengalami pertumbuhan di atas industri yakni 7,5 persen, sementara industri hanya 6 persen,” ungkap Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko.

Lantas sudah pantaskah dinyatakan Indosat kembali bersinar? Pasalnya, sejak diakuisisi Qtel beberapa tahun lalu, walau dari sisi jumlah pelanggan berada di posisi nomor dua, tetapi jeroan keuangannya
dalam kondisi sempoyongan. Banyak kalangan menilai Indosat belum bisa memancarkan sinar
benderang pada tahun ini,
jika melihat dengan seksama kinerja seluler dan broadband yang dimilikinya justru yang muncul
kekhawatiran.

Untuk diketahui, jasa seluler menjadi andalan pemasok omset bagi Indosat dengan berkontribusi sekitar 82 persen bagi total pendapatan. Seluler Indosat pada semester I 2011 mengalami kenaikan sebesar 6,3 persen dari 7,73 trilun menjadi 8,22 triliun rupiah.

Indosat tercatat memiliki 47,3 juta pelanggan pada semester I 2011 dengan Average Revenue Per User (ARPU) 29.290 rupiah. Angka ini terendah diantara pemain besar lainnya karena Telkomsel memiliki ARPU sebesar 38 ribu rupiah dan
XL (Rp 32 ribu).

Potret ARPU yang terlalu rendah itu memunculkan isu tak sedap yakni jumlah pelanggan yang besar sebenarnya tidak produktif alias banyak nomor bodong dimana tidak digunakan pelanggan.

Faktor ini bisa karena tiga hal yakni masa aktif yang sengaja dipanjangkan, tarif yang kemahalan, atau diler dipaksa membanjiri pasar.
Jika menggunakan asumsi normal, seharusnya ARPU yang dimiliki Indosat melebihi XL mengingat tarif yang dimiliki lebih tinggi.

”Manajemen Indosat tidak konsisten dengan visi pertama kala menduduki posisi jabatan yang menginginkan medapatkan pelanggan berkualitas tinggi. Buktinya ARPU yang didapat rendah. Kecuali manajemen mengubah strategi menjadi mengutamakan volume dengan ARPU rendah,” ungkap Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro.

Praktisi telematika lainnya Teguh Prasetya mengingatkan, pekerjaan rumah lain yang belum terselesaikan oleh manajemen Indosat adalah pelanggan broadband yang terus turun sejak kuartal I 2011. Pada semester I 2011 pelanggan broadband turun 32,6 persen atau hanya 506,8 ribu pelanggan.

Hal ini tentu menjadi aneh mengingat di Telkom selama semester I 2011 pelanggan broadband tumbuh 63,7 persen yakni mencapai 7,2 juta pelanggan dan meraup omset 4,161 miliar rupiah. Hal yang sama juga terjadi di XL dimana jasa data
memberikan kontribusi sebesar 21 persen terhadap total pendapatan atau sekitar 1,91 triliun rupiah.
”Indosat kehilangan banyak pelanggan broadband sehingga potensial pendapatan dari pengguna berkualitas menjadi hilang. Satu hal lagi, saya perkirakan pelanggan yang mengakses data melalui GPRS bukan dari anak usaha Indosat Mega Media (IM2) belum jelas dicatat dimana omsetnya. Pada tahun lalu segmen ini berkontribusi
20 persen bagi total omset,” katanya.

Menanggapi hal ini Harry mengatakan, perseroan tengah melakukan konsolidasi terhadap pelanggan broadband dengan menarik jasa ini dari IM2 sehingga tidak terjadi pemborosan biaya dan lebih berorientasi kepada konsumen.

Sayangnya, hingga saat ini tidak ada ketegasan dari manajemen tentang
strategi mengembangkan
broadband atau besaran alokasi belanja modal untuk produk yang dianggap sebagai andalan di masa depan itu. ”Sinyal besaran belanja modal memang belum ada dari Qtel, walau hingga
semester satu sudah keluar investasi sekitar 2,558 triliun rupiah,” katanya.

Hal ini tentu berbeda dengan Telkomsel yang telah memastikan dana sebesar 3,6 triliun rupiah
atau XL sebesar 3 triliun rupiah untuk jasa data pada 2011. Jika demikian, tentu akan menarik ditunggu realitas di akhir 2011.
Akankah Indosat kembali bersinar terang?[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s