220811 Evaluasi Semester I: Pertumbuhan industri melambat. Pasar Memang Sudah Jenuh

Tiga operator yang menjadi penguasa pasar telekomunikasi Indonesia telah mengumumkan kinerja keuangannya selama semester I 2011. Ketiga operator itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk (Indosat), dan PT XL Axiata Tbk (XL).
Telkom membukukan pendapatan usaha  pada semester I 2011 sebesar 34,46 triliun rupiah atau naik  2,2 persen dari periode sama 2010 sebesar 33,71 triliun rupiah.
Sedangkan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) mengalami penurunan 3,7 persen dari sebelumnya 18,76 triliun menjadi 18,07 triliun rupiah.  Sementara laba bersih  turun sebesar 1,5 persen dari 6,03 triliun menjadi 5,94 triliun rupiah.
Pemasok 65 persen total omset bagi Telkom Grup, Telkomsel, belum mampu berbicara banyak selama semester I 2011 dimana  hanya membukukan omset sebesar 23,2 triliun rupiah atau naik 4,8 persen dari periode sama sebelumnya 22,1 triliun rupiah.
Pertumbuhan omset ditopang pertumbuhan pelanggan sebesar 15 persen dari 88,3 juta menjadi 102,3 juta pelanggan. Namun, Average Revenue per User (ARPU) turun sebesar 11,6 persen menjadi 38 ribu dari 43 ribu rupiah.
EBITDA Telkomsel hanya naik satu persen dari 12,99 triliun menjadi 13,12 triliun rupiah. Laba usaha turun tiga persen dari 8,3 triliun menjadi dari 8,2 triliun rupiah. Laba bersih naik satu persen menjadi 5,98 triliun daru 5,92 triliun rupiah.
Berikutnya Indosat  berhasil membukukan omset sebesar 10.049,5 triliun rupiah pada semester I 2011  atau tumbuh empat persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 9.661,8 triliun rupiah.
Sedangkan untuk laba bersih yang diraih anak usaha Qatar Telecom (Qtel) pada semester I 2011 sebesar 681,9 miliar rupiah atau melesat 137,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara   EBITDA mengalami penurunan sebesar 2,1 persen dari 4.594,6 triliun rupiah menjadi 4.499, 6 triliun rupiah. EBITDA margin juga mengalami penurunan sebesar 2,8 persen dari 47,6 persen pada semester I 2010 menjadi 44,8 persen pada semester I 2011.
Terakhir, XL   memiliki  pendapatan usaha 9,1 triliun rupiah pada semester I 2011 atau meningkat 8 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 8,5 triliun rupiah.  Sedangkan   normalisasi laba bersih sebesar  1,6 triliun rupiah atau naik 18 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 1,3 triliun rupiah.
Sementara  EBITDA mencapai  4,8 triliun rupiah atau naik 7 persen dibandingkan periode sama 2010  dan EBITDA margin stabil di level 52 persen pada akhir Juni 2011.
Jika dibandingkan yang dialami oleh ketiga operator  selama semester 2010, dapat dipastikan terjadi pelambatan. Pada tahun lalu Telkomsel mengalami pertumbuhan omset sebesar 8 persen, Indosat (5,8%), dan XL  (35 %).
 
 
 
 
Memang Jenuh
Menurut Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah  fenomena pelambatan kinerja di industri mengonfirmasi sinyal yang dilemparnya ke pasar sejak tahun lalu. “Kami sudah bicara sinyal kejenuhan ini sejak tahun lalu, tetapi karena masih ada operator yang tumbuh dobel digit, banyak yang tidak percaya. Sekarang tidak bisa dibantah lagi pasar sudah jenuh,” katanya.
Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi  mengakui pasar  sudah mulai jenuh seiring tercapainya penetrasi sebesar 100 persen dari semua pemain baik berbasis teknologi Global System for Mobile (GSM) atau Code Division Multiple Access (CDMA). “Pasar sudah tersaturasi, sangat sulit mencari pelanggan yang benar-benar baru. Tetapi kami masih berharap di semester II karena ada momentum lebaran dimana terjadi lonjakan trafik,” katanya.
 
Dijelaskannya, akibat kondisi pasar yang jenuh, operator lebih mengejar pelanggan yang berkualitas dan memberikan produk  baru ke pelanggan yang ada. “Inilah yang terjadi di XL selama semester I 2011. Pada akhir 2010, XL memiliki 40,1 juta pelanggan, kuartal I 2011 menjadi 39,3 juta pengguna, dan semester I 2011 tinggal 38,9 juta pelanggan,” jelasnya.
Direktur Marketing XL Joy Wahjudi mengatakan, fokus dari perseroan saat ini adalah mendapatkan pertumbuhan bekelanjutan dari pelanggan yang produktif sehingga sebisa mungkin menghindari perang harga di pasar.
Sementara Presiden Direktur  Indosat Harry Sasongko optimistis  jika kondisi nilai tukar kurs tetap stabil, maka pada akhir tahun nanti perseroan bisa mengalami pertumbuhan omset di atas rata-rata industri yakni 7-8 persen. “Tentunya kami juga akan menekan beban usaha dengan efisiensi. Jika pada tahun lalu beban usaha bisa ditekan hingga 250 miliar rupiah, tahun ini diharapkan bisa naik efisiensinya sebesar 10-15 persen,” katanya
Praktisi telematika Teguh Prasetya menyarankan, agar selamat dari krisis di masa kejenuhan operator mulai ancang-ancang untuk merger agar jumlah pemain berkurang sehingga skala ekonomis tercapai. “Selain itu perang tarif harus segera dihentikan agar industrinya sehat kembali. Jangan berfikir karena menyasar segmen bawah, harga dibanting. Segmen ini punya kemampuan membayar asal tarifnya wajar,” katanya.
Praktisi lainnya, Bayu Samudiyo menilai makin cepatnya kondisi kejenuhan di pasar tak bisa dilepaskan dari aksi Telkomsel sebagai pemimpin pasar yang ikut-ikutan perang tarif. “Jika pemimpin pasar sudah turun gunung, pemain lain pasti akan sesak nafas,” katanya.
Disarankannya, agar tetap bisa berkompetisi operator menawarkan layanan yang berkualitas dengan konsisten meretensi pelanggan. Selain, itu mulai aktif mencari peluang lain. Misalnya mengembangkan jasa data. “Sayangnya perang tarif mulai merembet di jasa data. Padahal masih banyak potensial mendapatkan margin  besar dari jasa data,” katanya.
Sementara menurut Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro pertumbuhan industri sebesar 8 persen pada tahun ini sesuatu yang realistis. “Kondisi di industri telekomunikasi memang sudah jenuh, wajar rasanya jika pertumbuhan rata-rata hingga akhir tahun nanti hanya 8 persen,” katanya.
Disarankannya, untuk mengamati secara obyektif dari kinerja operator dalam kondisi pasar yang jenuh adalah melihat besaran absolut yang diambil dari kue pertumbuhan tersebut. “Jangan hanya melihat besaran persentase pertumbuhan atau pelanggan yang dikumpulkan. Dua faktor ini dalam kondisi pasar yang jenuh tidak valid sebagai representatif kinerja operator,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s