220811 Regulasi Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara Disahkan

JAKARTA—Pemerintah mensahkan hadirnya regulasi tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara yang dituangkan dalam  Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77/2011.

Regulasi tersebut ditandatangani oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi  dimana salah satu  diantaranya mewajibkan maskapai untuk membayar ganti rugi tunai atas keterlambatan pesawat lebih dari 4 jam sebesar 300 ribu rupiah.
Regulasi tersebut mengatur enam hal pokok, yakni pertama, penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap dan luka-luka. Kedua, hilang atau rusaknya bagasi kabin. Ketiga, hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat. Keempat, hilang, musnah, atau rusaknya kargo. Kelima, keterlambatan angkutan udara, dan keenam, kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.
“Setelah ditandatangani oleh Menhub, aturan ini tinggal disosialisas,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti S. Gumay di Jakarta, Selasa (23/8).
Dikatakannya,  ketentuan baru ini mewajibkan maskapai penerbangan untuk mengganti rugi tunai atas keterlambatan pesawat atau delay, ganti rugi korban meninggal dan cacat total serta penggantian kerusakan dan kehilangan bagasi dan kargo.
Dalam PM No.77 disebutkan jumlah ganti rugi penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena kecelakaan diberikan 1,25 miliar rupiah, jumlah yang sama juga diberikan kepada orang yang cacat tetap menurut ketentuan dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 hari.
Sedangkan untuk tanggung jawab pemberian ganti rugi atas keterlambatan pesawat atau delay, pada pasal 10 disebutkan keterlambatan lebih dari 4 jam diberikan ganti rugi 300 ribu rupiah per penumpang.
Pada pasal 5 disebutkan jumlah ganti rugi terhadap penumpang yang mengalami kehilangan, musnah atau rusaknya bagasi tercatat diganti 200 ribu rupiah  per kilogram dan paling banyak 4 juta rupiah  per penumpang. Selanjutnya pada pasal 7 disebutkan untuk ganti rugi kehilangan kargo, diganti 100 ribu rupiah   per kg kepada pengirim, dan jika rusak diganti 50 ribu rupiah   per kg.
Menurut Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Edward Alexander Silooy   besaran atas santunan korban meninggal dan cacat tetap akibat kecelakaan pesawat udara ini sesuai dengan konvensi Montreal 1999.
“Kita sebenarnya sudah ketinggalan dengan negara-negara lainnya, Singapore Airlines sudah menerapkan besaran satu miliar rupiah sejak tahun 2000, mereka sudah meratifikasi,” kata Silooy.
Sebelumnya, Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA)   Tengku Burhanuddin mengatakan selama ini keterlambatan atau delay telah diatur dalam Peraturan Menhub No. KM 25/2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara, sehingga tidak perlu lagi diatur dengan regulasi tambahan.
Sesuai KM 25/2008,   maskapai wajib memberikan kompensasi makanan ringan dan minuman jika pesawat delay 30 menit – 90 menit. Maskapai wajib menambah makanan berat hingga memberikan akomodasi untuk diangkut penerbangan hari berikutnya jika pesawat terlambat lebih dari 180 menit atau maskapai membatalkan penerbangan.

Menurutnya,  keputusan memberikan kompensasi keterlambatan bergantung pada masing-masing maskapai.

“Hal ini karena ada maskapai yang full service dan low cost carrier atau berbiaya rendah, tidak semua bisa diganti uang,” tuturnya.[dni]

220811 Posko Mudik 2011 Dibuka

JAKARTA— Kementerian Perhubungan secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2011 untuk menjamin kelancaran aktifitas tahunan yang dilakukan oleh masyarakat itu.
“Penyelenggaraan angkutan Lebaran merupakan kegiatan berskala besar berdimensi luas dan kompleks. Masalah angkutan Lebaran tidak hanya sebatas urusan penyelenggaraan transportasi, yaitu memindahkan orang dan barang dari suatu daerah ke daerah lain. Lebih dari itu, angkutan lebaran juga memiliki dimensi sosial, budaya, keagamaan, bahkan implikasi politik. Kita harus kelola ini dengan baik,” ungkap Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Selasa (23/8)
Diungkapkannya, untuk memantau kegiatan mudik tersebut telah disebar sekitar 231 unit Circuit Close Television (CCTV)  di setiap lokasi obyek vital terkait penyelenggaraan mudik di Indonesia.
“Kelancaran penyelenggaraan angkutan lebaran sudah menjadi tuntutan publik yang secara sungguh-sungguh harus dipenuhi. Petugas posko harus secara cermat melakukan pemantauan mulai dari gangguan lalu lintas, seperti pasar tumpah, lokasi wisata, atau kegiatan pemungutan sumbangan di jalan,” katanya.
Menurutnya, hal yang perlu dicermati juga, peningkatan jumlah penggunaan sepeda motor sebagai angkutan mudik dan balik, yang berdampak kerawanan kecelakaan.
Selain itu, pengaturan dan pengawasan kegiatan mudik angkutan laut, sesuai keselamatan pelayaran bagi penumpang dan kapal Ro-ro, utamanya di pelabuhan yang kerap kelebihan muatan.
Tidak ketinggalan, perhatian juga harus diberikan pada ketertiban dan dan kelancaran pelayanan masuk keluar penumpang di stasiun, pelabuhan dan bandar udara.
“Saya harap dengan pelayanan yang paling optimal disertai ketulusan hati akan membuat masyarakat merasa aman dan nyaman melakukan perjalanan. Jangan sampai penyelenggaraan posko hanya sekedar rutinitas tahunan belaka,” katanya.
Sejumlah permasalahan yang diprediksikan menjadi hambatan terhadap kelancaran lalu lintas angkutan lebaran diantaranya, adanya pasar tumpah di 88 lokasi pada ruas jalan pantai utara Jawa, perlintasan sebidang antara jalan rel dengan jalan raya pada jalur utama simpang Pejagan, Cicalengka, Sumpiuh, Karanganyar dan Prupuk. Selain itu, kegiatan pembangunan jembatan dan perbaikan ruas jalan di beberapa tempat yang belum tuntas hingga peningkatan jumlah pemudik sepeda motor.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan selaku ketua Posko Angkutan Lebaran Terpadu Suroyo Alimoeso mengatakan atas dasar evaluasi tahun sebelumnya, pelaksanaan Posko Angkutan Lebaran Terpadu telah dilakukan perbaikan baik dari sisi sarana, prasarana maupun penggunaan sistem teknologi informasi.
“Diharapkan, posko ini dapat menyajikan informasi yang cepat, tepat dan akurat tentang berbagai hal yang terjadi saat berlangsungnya angkutan Lebaran,” kata Suroyo.
Dijelaskannya, untuk monitoring kondisi lalu lintas dan angkutan jalan akan dilakukan menggunakan fasilitas CCTV yang ditempatkan di beberapa lokasi terpilih dan terhubung secara online dengan pos koordinasi harian angkutan Lebaran Terpadu di lantai 7 Gedung Cipta, Kementerian Perhubungan.
Penggunaan Global Positioning System (GPS) juga diharapkan semakin menambah tingkat akurasi dan validitas data.
Pihak swasta juga tak ketinggalan mendukung mensosialisasikan informasi dari Posko mudik seperti yang dilakukan oleh  situs jual beli online terbesar di Indonesia Tokobagus.com bekerjasama dengan sentra komunikasi (senkom) yang menjadi  mitra Polri menggelar program pemantauan mudik dari 23 Agustus 2011 hingga 7 September 2011.
“Tokobagus bersama Senkom membangun lebih dari 50 tenda di titik-titik yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia yang akan dilalui pemudik. Dalam tenda disiapkan peta mudik, obat-obatan, hingga layanan pijat gratis. Harapan kami, pemudik bisa manfaatkan posko untuk sekedar beristirahat,” kata Pimpinan Tokobagus.com Arnold Sebastian Egg.
Dikatakannya, untuk mensosialisasikan kegiatan PAM Lebaran 2011 juga disosialisasikan di situs Tokobagus.com baik versi desktop maupun versi mobile atau m-tokobagus.com. Informasi yang disajikan kondisi real time tentang situasi jalur-jalur mudik, serta keadaan keamanan yang terjadi.

“Saat ini Tokobagus.com memiliki 1,2 juta anggota yang aktif. Sedangkan page view mencapai 700 ribu pengunjung per hari. Adanya informasi mudik tentu akan membantu mereka,” katanya.[dni]

Posko Mudik 2011 Dibuka
JAKARTA— Kementerian Perhubungan secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2011 untuk menjamin kelancaran aktifitas tahunan yang dilakukan oleh masyarakat itu.
“Penyelenggaraan angkutan Lebaran merupakan kegiatan berskala besar berdimensi luas dan kompleks. Masalah angkutan Lebaran tidak hanya sebatas urusan penyelenggaraan transportasi, yaitu memindahkan orang dan barang dari suatu daerah ke daerah lain. Lebih dari itu, angkutan lebaran juga memiliki dimensi sosial, budaya, keagamaan, bahkan implikasi politik. Kita harus kelola ini dengan baik,” ungkap Menteri Perhubungan Freddy Numberi di Jakarta, Selasa (23/8)
Diungkapkannya, untuk memantau kegiatan mudik tersebut telah disebar sekitar 231 unit Circuit Close Television (CCTV)  di setiap lokasi obyek vital terkait penyelenggaraan mudik di Indonesia.
“Kelancaran penyelenggaraan angkutan lebaran sudah menjadi tuntutan publik yang secara sungguh-sungguh harus dipenuhi. Petugas posko harus secara cermat melakukan pemantauan mulai dari gangguan lalu lintas, seperti pasar tumpah, lokasi wisata, atau kegiatan pemungutan sumbangan di jalan,” katanya.
Menurutnya, hal yang perlu dicermati juga, peningkatan jumlah penggunaan sepeda motor sebagai angkutan mudik dan balik, yang berdampak kerawanan kecelakaan.
Selain itu, pengaturan dan pengawasan kegiatan mudik angkutan laut, sesuai keselamatan pelayaran bagi penumpang dan kapal Ro-ro, utamanya di pelabuhan yang kerap kelebihan muatan.
Tidak ketinggalan, perhatian juga harus diberikan pada ketertiban dan dan kelancaran pelayanan masuk keluar penumpang di stasiun, pelabuhan dan bandar udara.
“Saya harap dengan pelayanan yang paling optimal disertai ketulusan hati akan membuat masyarakat merasa aman dan nyaman melakukan perjalanan. Jangan sampai penyelenggaraan posko hanya sekedar rutinitas tahunan belaka,” katanya.
Sejumlah permasalahan yang diprediksikan menjadi hambatan terhadap kelancaran lalu lintas angkutan lebaran diantaranya, adanya pasar tumpah di 88 lokasi pada ruas jalan pantai utara Jawa, perlintasan sebidang antara jalan rel dengan jalan raya pada jalur utama simpang Pejagan, Cicalengka, Sumpiuh, Karanganyar dan Prupuk. Selain itu, kegiatan pembangunan jembatan dan perbaikan ruas jalan di beberapa tempat yang belum tuntas hingga peningkatan jumlah pemudik sepeda motor.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan selaku ketua Posko Angkutan Lebaran Terpadu Suroyo Alimoeso mengatakan atas dasar evaluasi tahun sebelumnya, pelaksanaan Posko Angkutan Lebaran Terpadu telah dilakukan perbaikan baik dari sisi sarana, prasarana maupun penggunaan sistem teknologi informasi.
“Diharapkan, posko ini dapat menyajikan informasi yang cepat, tepat dan akurat tentang berbagai hal yang terjadi saat berlangsungnya angkutan Lebaran,” kata Suroyo.
Dijelaskannya, untuk monitoring kondisi lalu lintas dan angkutan jalan akan dilakukan menggunakan fasilitas CCTV yang ditempatkan di beberapa lokasi terpilih dan terhubung secara online dengan pos koordinasi harian angkutan Lebaran Terpadu di lantai 7 Gedung Cipta, Kementerian Perhubungan.
Penggunaan Global Positioning System (GPS) juga diharapkan semakin menambah tingkat akurasi dan validitas data.
Pihak swasta juga tak ketinggalan mendukung mensosialisasikan informasi dari Posko mudik seperti yang dilakukan oleh  situs jual beli online terbesar di Indonesia Tokobagus.com bekerjasama dengan sentra komunikasi (senkom) yang menjadi  mitra Polri menggelar program pemantauan mudik dari 23 Agustus 2011 hingga 7 September 2011.
“Tokobagus bersama Senkom membangun lebih dari 50 tenda di titik-titik yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia yang akan dilalui pemudik. Dalam tenda disiapkan peta mudik, obat-obatan, hingga layanan pijat gratis. Harapan kami, pemudik bisa manfaatkan posko untuk sekedar beristirahat,” kata Pimpinan Tokobagus.com Arnold Sebastian Egg.
Dikatakannya, untuk mensosialisasikan kegiatan PAM Lebaran 2011 juga disosialisasikan di situs Tokobagus.com baik versi desktop maupun versi mobile atau m-tokobagus.com. Informasi yang disajikan kondisi real time tentang situasi jalur-jalur mudik, serta keadaan keamanan yang terjadi.

“Saat ini Tokobagus.com memiliki 1,2 juta anggota yang aktif. Sedangkan page view mencapai 700 ribu pengunjung per hari. Adanya informasi mudik tentu akan membantu mereka,” katanya.[dni]

220811 Kapasitas Angkutan Laut Terjamin

JAKARTA—Pemerintah   menjamin ketersediaan kapasitas angkutan laut selama mudik Lebaran 2011 mengingat telah tersedia  daya angkut sebesar 3,19 juta penumpang dengan jumlah total armada 733 unit kapal yang menghubungkan sejumlah wilayah di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Leon Muhammad mengatakan, moda laut memang tidak menjadi primadona angkutan Lebaran seperti halnya pesawat udara. Hanya saja, moda laut menjadi kebanggaan tersendiri di Indonesia sebagai identitas bangsa maritim.
“Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan moda laut, dapat menjangkau wilayah yang mungkin belum terjangkau oleh moda udara atau darat. Khususnya, di wilayah Kawasan Tengah dan Timur Indonesia (KTI). Selain itu, tarif juga relatif lebih terjangkau,” katanya, di Jakarta, Selasa (23/8).
Dalam data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik yang akan mempergunakan jasa transportasi laut pada masa Angkutan Lebaran ini diprediksi akan mencapai 1.050.721 orang atau mengalami peningkatan jumlah penumpang sebanyak 59.475 orang atau 6 persen  dibanding realisasi jumlah penumpang tahun 2010 sebanyak 991.246 orang.
Guna mengantisipasi kenaikan penumpang tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah menyiapkan armada kapal sebanyak 733 unit dengan kapasitas daya angkut sebesar 3,19 juta orang penumpang, terhitung dari H-15 sampai dengan H+15.
Armada angkutan laut tersebut masing-masing terdiri armada kapal pelni sebanyak 27 kapal, armada kapal perintis sebanyak 60 unit kapal, armada kapal Ro-Ro milik PT Dharma Lautan Utama sebanyak 10 unit kapal, PT Prima Vista Surabaya sebanyak 6 unit kapal, PT Prima Eksekutif sebanyak 2 unit kapal, PT Bukit Merapin Nusantara Lines sebanyak 3 unit kapal, PT Citra Niaga Mandiri sebanyak 1 unit kapal, PT Rusianto Bersaudara sebanyak 2 unit kapal, PT Sumber Sumatera Raya sebanyak 3 unit kapal, PT Tanjung Selamat sebanyak 1 unit kapal, kapal ferry swasta sebanyak 13 unit kapal serta kapal swasta jarak dekat sebanyak 600 unit kapal.
Selain hal tersebut, untuk memberikan keamanan serta kenyamanan bagi penumpang yang menggunakan jasa transportasi laut maka Direktorat Perhubungan Laut juga akan mengadakan Posko Angkutan Laut dari H-15 (15 Agustus 2011) sampai dengan H+15 (31 Agustus 2011) yang akan memantau 52 pelabuhan strategis yang diperkirakan mengalami peningkatan penumpang cukup tajam.
Adapun 52 pelabuhan yang akan dipantau, Belawan, Tanjung Balai Asahan, Sibolga, Pekanbaru, Dumai, Sei Pakning, Selat Panjang, Tanjung Balai Karimun, Batam, Tanjung Batu, Tanjung Uban, Tanjung Pinai, Sei Kolak Kijang, Kuala Tangkal, Palembang, Teluk Bayur, Tanjung Pandan, Pangkal Balam/Muntok, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Gresik, Benoa, Lembar, Kupang, Pontianak, Kumai, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Nunukan, Makassar, Pare-pare, Bau-bau, Siwa, Kendari, Pantoloan, Gorontalo, Bitung, Menado, Ternate, Sanana, Ambon, Tual, Namlea, Sorong, Manokwari, Biak,  Jayapura, Merauke.
Beberapa upaya yang dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terkait dengan pelaksanaan Angkutan Laut Lebaran 2011/1432 H : melaksanakan sosialisasi ke beberapa pelabuhan yang diperkirakan mengalami lonjakan penumpang (Pontianak, Kumai, Sampit, Banjarmasin, Batam, Balikpapan, dan Makassar), dengan melibatkan Kantor Syahbandar, Otoritas Pelabuhan, Adpel, Kanpel Batam dan UPP setempat serta pihak BUMN dan swasta. Diharapkan dalam sosialisasi pelaksanaan angkutan laut Lebaran berjalan lancar, tertib dan aman, serta menghimbau kepada pihak perusahaan BUMN dan swasta agar dalam pemberian THR kepada karyawannya dapat dilaksanakan jauh hari sebelum hari H. Kepada karyawan untuk melakukan arus mudik tidak dalam waktu yang bersamaan.
Leon juga mengingatkan, Pelindo II  untuk mempercepat penataan area  terminal dengan telah selesai  perbaikan di areal parkir terminal penumpang harus selesai H-7 Lebaran.
 “Saya sudah minta kepada PT Pelindo II, agar mempercepat pengerjaan areal parkir di terminal penumpang. Paling tidak, pada H-7, dimana puncak arus mudik angkutan laut,  areal parkir itu sudah bisa digunakan,” katanya.
Terkait tingkat isian penumpang, pemerintah pun menetapkan dispensasi sebesar 30 persen bagi operator pelayaran. Meski begitu, Leon menegaskan tidak memberikan toleransi terhadap pelanggaran  keselamatan.
“Kami berikan dispensasi angkutan sebesar 30 persen, tapi jangan sampai mengabaikan keselamatan pelayaran,” katanya.

Ditegaskannya, pemerintah  akan  memberikan tindakan tegas bagi operator kapal yang melakukan pelanggaran saat mengangkut penumpang. Ditjen Hubla  telah membentuk tim khusus untuk melakukan pemantauan di lapangan, sehingga setiap pelanggaran yang terjadi bisa dideteksi.[dni]

220811 Telkom Fokuskan CSR untuk Pendidikan

JAKARTA—PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) akan memfokuskan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) pada dunia pendidikan dengan segera membangun dan merehabilitasi gedung-gedung sekolah yang rusak akibat bencana alam beberapa waktu lalu.

“Sesuai dengan tema CSR TelkomGroup, ‘Membangun Indonesia Cerdas’ maka bantuan difokuskan kepada pembangunan sarana pendidikan,” tegas Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, perseroan telah berhasil menghimpun dana untuk kegiatan sosial sebesar 8,9 miliar rupiah. Rinciannya,
penggalangan dana dengan tema “TelkomGroup & Partners for Indonesia” pada 12 November 2010
yang menghimpun
dana sebesar
7,9 miliar rupiah,
donasi masyarakat yang disalurkan masing-masing melalui SMS 5000 dan *811# Telkomsel terkumpul
787,5 juta rupiah,
dan SMS 5000 Flexi terkumpul sebesar
319,4 juta rupiah.

Khusus donasi yang melalui Telkomsel, sebesar
100 juta rupiah telah disalurkan melalui PMI Pusat sedangkan sisanya digabungkan untuk membangun dan merehabilitasi sekolah di
lokasi bencana.

Dijelaskannya sekolah-sekolah yang segera dibangun dan direhabilitasi tersebut adalah SD YPK Rado di Kecamatan Wasior, SMK Negeri 1 Salam, Kabupaten Magelang, SD Negeri Bronggang Baru, Cangkringan Sleman, SD Negeri 2 Balerante, Klaten dan SD Negeri di Desa Malakopa di Mentawai.

Pembangunan dan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dimaksud meliputi gedung baru SD YPK Rado di Kecamatan Wasior, Kabupaten Teluk Wondama,
Papua Barat terdiri dari enam ruang kelas, ruang guru, KM/WC, perlengkapan meubelair dan penataan halaman sekolah.

Di kawasan bencana Merapi, Telkom menyalurkan bantuan untuk tiga kabupaten yang terkena dampak bencana alam, masing-masing di Kabupaten Magelang,
merenovasi asrama dan fasilitas SMK Negeri 1 Salam, Mungkid, Kabupaten Magelang terdiri dari ruang asrama, ruang tamu, teras, dapur, delapan KM/WC dan penggantian meubelair.

Di Kabupaten Sleman, Telkom membangun gedung baru
SD Negeri Bronggang Baru di Desa Argomulyo, Cangkringan Sleman, terdiri dari enam ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), gudang, laboratorium, perpustakaan, ruang tata usaha, KM/WC, mushola, meubelair dan penataan halaman sekolah.

Di Kabupaten Klaten, Telkom merenovasi SD Negeri 2 Balerante, Klaten berupa rehabilitasi tiga ruang kelas, ruang guru, ruang
kepala sekolah, rumah dinas, meubelair dan penataan halaman sekolah.

Sedangkan si Mentawai, segera dibangun gedung baru SD Negeri di Desa Malakopa, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, terdiri dari enam ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, KM/WC dan meubelair.[dni]

220811 First Media Tingkatkan Bandwitdh

JAKARTA—Penyedia internet broadband dan TV berbayar berbasis kabel, First Media, meningkatkan standardisasi kapasitas bandwidth pelanggan menjadi 3 Mbps di 500 ribu home pass hingga akhir 2011 untuk memberikan kenyamanan bagi pelanggan mengakses layanan.

“Kami berinvestasi sebesar
2,5 juta dollar AS untuk
merealisasikan aksi ini. Dana tersebut digunakan
membeli perangkat
cable modem termination systems (CMTS)
untuk menaikkan kapasitas througput dan speed upgrade melalui lima titik Jabodetabek,” ungkap Wakil Dirut First Media Dicky Moechtar di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, upgrade akan dimulai sejak 24 Agustus ini dan diharapkan rampung akhir tahun seiring penambahan homepass dari 400 ribu menjadi 500 ribu di akhir tahun. First Media sendiri menargetkan bisa menyediakan 1 juta homepass di 2015 nanti.

Saat ini dari 400 ribu homepass yang tersedia, sudah ada 360 ribu yang menjadi pelanggan kami. Tiga ribu di antaranya sudah menggunakan fitur
high definition (HD) untuk siaran TV kabel. Pada akhir tahun diharapkan menjadi 13 ribu pelanggan HD dari posisi 10 ribu pelanggan.

Dikatakannya, walau kapasitas dinaikkan,
pelanggan tidak akan dikenakan biaya tambahan dalam berlangganan. “Ini memang sudah komitmen kami untuk menyediakan akses digital living di rumah-rumah. Bandwitdh 3 Mbps memang sudah menjadi standar dunia,” jelasnya.

Menurutnya,
dari sisi biaya berlangganan, bandwidth yang ditawarkan First Media sudah menyamai kapasitas internet yang disediakan oleh negara tetangga. “Tarif kami untuk 3 Mbps sebesar
335 ribu rupiah.
Ini sama dengan Singapura yang menawarkan biaya 35 dollar Singapura
untuk akses 3 Mbps,” jelasnya.

Selanjutnya dikatakan, tidak hanya bandwidth yang dinaikkan, konten yang disiarkan pun di perbaiki kualitasnya melalui  kerjasama dengan Fox International Channel. Disebutkan ada 15 channel yang sudah HDTV ready dari Fox untuk pelanggan HD First Media.
Di Asia, termasuk Indonesia, Fox mengoperasikan 27 saluran dengan berbagai genre hiburan dan berita seperti Starworld, Fox, National Geographic, Star Movies, V-Channel, dan lainnya.[dni]

220811 Kemenkominfo Minta Akuisisi Reja Dilaporkan

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)  meminta aksi akuisisi yang dilakukan oleh  kelompok usaha Bakrie, melalui salah satu perusahaannya, Capital Manager Asia (CMA) terhadap  Reka Jasa Akses (Reja) dilaporkan ke instansi teknis karena terkait dengan frekuensi yang dikelola di 3,3 GHz sebesar 12,5 MHz.
“Terus terang kami tidak mengetahui sama sekali aksi akuisisi yang dilakukan oleh kelompok usaha Bakrie itu. Kita akan minta klarifikasinya karena ini terkait dengan sumber daya terbatas yang dikuasai oleh Reja di 3,3 GHz sebesar 12,5 MHz,” ungkap juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Senin (22/8).

Dijelaskannya, instansinya berhak untuk mengetahui nasib dari frekuensi yang dikelola oleh Reja karena sesuai regulasi sumber daya terbatas itu tidak bisa diperjualbelikan.

“Aksi akusisi dan merger kian marak di industri telekomunikasi. Sayangnya, pelaku usaha seperti lupa, selain dengan regulasi telekomunikasi dan lebih memperhatikan aturan lain seperti UU Perseroan atau pasar modal dalam melancarkan aksi ini,” keluhnya.

Sebelumnya, Eksekutif Grup Bakrie Anindya N Bakrie mengumumkan CMA telah mengakuisisi
Reja sebagai bagian dari ambisi
mewujudkan Bakrie Telecom, Media & Technology Vision 2015 (Bakrie
TMT) yang telah dicanangkan Grup Bakrie beberapa waktu
lalu.

Anindya menyakini, mengakuisisi Reja yang memiliki
bandwith sebesar 12,5 Mhz yang berjalan di pita frekuensi 3,3 Ghz secara nasional akan membuat salah satu anak usaha lainnya, Bakrie Telecom, menjadi operator 4G yang mampu melayani beragam kebutuhan layanan data pita lebar kepada untuk menjawab kebutuhan data korporasi maupun UMKM, Home Internet,
bahkan kebutuhan operator selular lainnya,

“Kami   mengalokasikan dana guna  akuisisi dan pengembangan lebih lanjut Reja  sebesar 50 juta dollar AS. Seluruh dana akuisisi berasal dari kas internal CMA. Sebanyak 25 persen  dari total dana yang dikeluarkan tersebut untuk akuisisi. Sementara 75 persen sisanya digunakan untuk pengembangan, seperti untuk pengembangan infrastruktur dan jaringan ” jelasnya.[Dni]

220811 Evaluasi Semester I: Pertumbuhan industri melambat. Pasar Memang Sudah Jenuh

Tiga operator yang menjadi penguasa pasar telekomunikasi Indonesia telah mengumumkan kinerja keuangannya selama semester I 2011. Ketiga operator itu adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk (Indosat), dan PT XL Axiata Tbk (XL).
Telkom membukukan pendapatan usaha  pada semester I 2011 sebesar 34,46 triliun rupiah atau naik  2,2 persen dari periode sama 2010 sebesar 33,71 triliun rupiah.
Sedangkan Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) mengalami penurunan 3,7 persen dari sebelumnya 18,76 triliun menjadi 18,07 triliun rupiah.  Sementara laba bersih  turun sebesar 1,5 persen dari 6,03 triliun menjadi 5,94 triliun rupiah.
Pemasok 65 persen total omset bagi Telkom Grup, Telkomsel, belum mampu berbicara banyak selama semester I 2011 dimana  hanya membukukan omset sebesar 23,2 triliun rupiah atau naik 4,8 persen dari periode sama sebelumnya 22,1 triliun rupiah.
Pertumbuhan omset ditopang pertumbuhan pelanggan sebesar 15 persen dari 88,3 juta menjadi 102,3 juta pelanggan. Namun, Average Revenue per User (ARPU) turun sebesar 11,6 persen menjadi 38 ribu dari 43 ribu rupiah.
EBITDA Telkomsel hanya naik satu persen dari 12,99 triliun menjadi 13,12 triliun rupiah. Laba usaha turun tiga persen dari 8,3 triliun menjadi dari 8,2 triliun rupiah. Laba bersih naik satu persen menjadi 5,98 triliun daru 5,92 triliun rupiah.
Berikutnya Indosat  berhasil membukukan omset sebesar 10.049,5 triliun rupiah pada semester I 2011  atau tumbuh empat persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 9.661,8 triliun rupiah.
Sedangkan untuk laba bersih yang diraih anak usaha Qatar Telecom (Qtel) pada semester I 2011 sebesar 681,9 miliar rupiah atau melesat 137,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara   EBITDA mengalami penurunan sebesar 2,1 persen dari 4.594,6 triliun rupiah menjadi 4.499, 6 triliun rupiah. EBITDA margin juga mengalami penurunan sebesar 2,8 persen dari 47,6 persen pada semester I 2010 menjadi 44,8 persen pada semester I 2011.
Terakhir, XL   memiliki  pendapatan usaha 9,1 triliun rupiah pada semester I 2011 atau meningkat 8 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 8,5 triliun rupiah.  Sedangkan   normalisasi laba bersih sebesar  1,6 triliun rupiah atau naik 18 persen dibandingkan periode sama 2010 sebesar 1,3 triliun rupiah.
Sementara  EBITDA mencapai  4,8 triliun rupiah atau naik 7 persen dibandingkan periode sama 2010  dan EBITDA margin stabil di level 52 persen pada akhir Juni 2011.
Jika dibandingkan yang dialami oleh ketiga operator  selama semester 2010, dapat dipastikan terjadi pelambatan. Pada tahun lalu Telkomsel mengalami pertumbuhan omset sebesar 8 persen, Indosat (5,8%), dan XL  (35 %).
 
 
 
 
Memang Jenuh
Menurut Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah  fenomena pelambatan kinerja di industri mengonfirmasi sinyal yang dilemparnya ke pasar sejak tahun lalu. “Kami sudah bicara sinyal kejenuhan ini sejak tahun lalu, tetapi karena masih ada operator yang tumbuh dobel digit, banyak yang tidak percaya. Sekarang tidak bisa dibantah lagi pasar sudah jenuh,” katanya.
Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi  mengakui pasar  sudah mulai jenuh seiring tercapainya penetrasi sebesar 100 persen dari semua pemain baik berbasis teknologi Global System for Mobile (GSM) atau Code Division Multiple Access (CDMA). “Pasar sudah tersaturasi, sangat sulit mencari pelanggan yang benar-benar baru. Tetapi kami masih berharap di semester II karena ada momentum lebaran dimana terjadi lonjakan trafik,” katanya.
 
Dijelaskannya, akibat kondisi pasar yang jenuh, operator lebih mengejar pelanggan yang berkualitas dan memberikan produk  baru ke pelanggan yang ada. “Inilah yang terjadi di XL selama semester I 2011. Pada akhir 2010, XL memiliki 40,1 juta pelanggan, kuartal I 2011 menjadi 39,3 juta pengguna, dan semester I 2011 tinggal 38,9 juta pelanggan,” jelasnya.
Direktur Marketing XL Joy Wahjudi mengatakan, fokus dari perseroan saat ini adalah mendapatkan pertumbuhan bekelanjutan dari pelanggan yang produktif sehingga sebisa mungkin menghindari perang harga di pasar.
Sementara Presiden Direktur  Indosat Harry Sasongko optimistis  jika kondisi nilai tukar kurs tetap stabil, maka pada akhir tahun nanti perseroan bisa mengalami pertumbuhan omset di atas rata-rata industri yakni 7-8 persen. “Tentunya kami juga akan menekan beban usaha dengan efisiensi. Jika pada tahun lalu beban usaha bisa ditekan hingga 250 miliar rupiah, tahun ini diharapkan bisa naik efisiensinya sebesar 10-15 persen,” katanya
Praktisi telematika Teguh Prasetya menyarankan, agar selamat dari krisis di masa kejenuhan operator mulai ancang-ancang untuk merger agar jumlah pemain berkurang sehingga skala ekonomis tercapai. “Selain itu perang tarif harus segera dihentikan agar industrinya sehat kembali. Jangan berfikir karena menyasar segmen bawah, harga dibanting. Segmen ini punya kemampuan membayar asal tarifnya wajar,” katanya.
Praktisi lainnya, Bayu Samudiyo menilai makin cepatnya kondisi kejenuhan di pasar tak bisa dilepaskan dari aksi Telkomsel sebagai pemimpin pasar yang ikut-ikutan perang tarif. “Jika pemimpin pasar sudah turun gunung, pemain lain pasti akan sesak nafas,” katanya.
Disarankannya, agar tetap bisa berkompetisi operator menawarkan layanan yang berkualitas dengan konsisten meretensi pelanggan. Selain, itu mulai aktif mencari peluang lain. Misalnya mengembangkan jasa data. “Sayangnya perang tarif mulai merembet di jasa data. Padahal masih banyak potensial mendapatkan margin  besar dari jasa data,” katanya.
Sementara menurut Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro pertumbuhan industri sebesar 8 persen pada tahun ini sesuatu yang realistis. “Kondisi di industri telekomunikasi memang sudah jenuh, wajar rasanya jika pertumbuhan rata-rata hingga akhir tahun nanti hanya 8 persen,” katanya.
Disarankannya, untuk mengamati secara obyektif dari kinerja operator dalam kondisi pasar yang jenuh adalah melihat besaran absolut yang diambil dari kue pertumbuhan tersebut. “Jangan hanya melihat besaran persentase pertumbuhan atau pelanggan yang dikumpulkan. Dua faktor ini dalam kondisi pasar yang jenuh tidak valid sebagai representatif kinerja operator,” katanya.[dni]

220811 Indosat (Belum) Kembali Bersinar?

PT Indosat Tbk (Indosat) menunjukkan sinyal kembali bersinar selama semester I 2011. Laba bersih yang diraih anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itu pada semester I 2011 sebesar 681,9 miliar rupiah atau melesat 137,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hal ini berbanding terbalik dengan tahun lalu dimana Indosat membukukan laba bersih
semester
I 2010
sebesar 287,1 miliar rupiah
atau turun 71,5 persen dibandingan periode sama
2009 yang mencapai
1,01 triliun rupiah.

“Kinerja Indosat selama semester I 2011 lumayan menggembirakan.
Hal ini bisa dilihat dari jasa seluler dimana mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen jika dibandingkan Year on Year, sementara jika dilihat secara pertumbuhan kuartal I dan II, Indosat mengalami pertumbuhan di atas industri yakni 7,5 persen, sementara industri hanya 6 persen,” ungkap Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko.

Lantas sudah pantaskah dinyatakan Indosat kembali bersinar? Pasalnya, sejak diakuisisi Qtel beberapa tahun lalu, walau dari sisi jumlah pelanggan berada di posisi nomor dua, tetapi jeroan keuangannya
dalam kondisi sempoyongan. Banyak kalangan menilai Indosat belum bisa memancarkan sinar
benderang pada tahun ini,
jika melihat dengan seksama kinerja seluler dan broadband yang dimilikinya justru yang muncul
kekhawatiran.

Untuk diketahui, jasa seluler menjadi andalan pemasok omset bagi Indosat dengan berkontribusi sekitar 82 persen bagi total pendapatan. Seluler Indosat pada semester I 2011 mengalami kenaikan sebesar 6,3 persen dari 7,73 trilun menjadi 8,22 triliun rupiah.

Indosat tercatat memiliki 47,3 juta pelanggan pada semester I 2011 dengan Average Revenue Per User (ARPU) 29.290 rupiah. Angka ini terendah diantara pemain besar lainnya karena Telkomsel memiliki ARPU sebesar 38 ribu rupiah dan
XL (Rp 32 ribu).

Potret ARPU yang terlalu rendah itu memunculkan isu tak sedap yakni jumlah pelanggan yang besar sebenarnya tidak produktif alias banyak nomor bodong dimana tidak digunakan pelanggan.

Faktor ini bisa karena tiga hal yakni masa aktif yang sengaja dipanjangkan, tarif yang kemahalan, atau diler dipaksa membanjiri pasar.
Jika menggunakan asumsi normal, seharusnya ARPU yang dimiliki Indosat melebihi XL mengingat tarif yang dimiliki lebih tinggi.

”Manajemen Indosat tidak konsisten dengan visi pertama kala menduduki posisi jabatan yang menginginkan medapatkan pelanggan berkualitas tinggi. Buktinya ARPU yang didapat rendah. Kecuali manajemen mengubah strategi menjadi mengutamakan volume dengan ARPU rendah,” ungkap Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro.

Praktisi telematika lainnya Teguh Prasetya mengingatkan, pekerjaan rumah lain yang belum terselesaikan oleh manajemen Indosat adalah pelanggan broadband yang terus turun sejak kuartal I 2011. Pada semester I 2011 pelanggan broadband turun 32,6 persen atau hanya 506,8 ribu pelanggan.

Hal ini tentu menjadi aneh mengingat di Telkom selama semester I 2011 pelanggan broadband tumbuh 63,7 persen yakni mencapai 7,2 juta pelanggan dan meraup omset 4,161 miliar rupiah. Hal yang sama juga terjadi di XL dimana jasa data
memberikan kontribusi sebesar 21 persen terhadap total pendapatan atau sekitar 1,91 triliun rupiah.
”Indosat kehilangan banyak pelanggan broadband sehingga potensial pendapatan dari pengguna berkualitas menjadi hilang. Satu hal lagi, saya perkirakan pelanggan yang mengakses data melalui GPRS bukan dari anak usaha Indosat Mega Media (IM2) belum jelas dicatat dimana omsetnya. Pada tahun lalu segmen ini berkontribusi
20 persen bagi total omset,” katanya.

Menanggapi hal ini Harry mengatakan, perseroan tengah melakukan konsolidasi terhadap pelanggan broadband dengan menarik jasa ini dari IM2 sehingga tidak terjadi pemborosan biaya dan lebih berorientasi kepada konsumen.

Sayangnya, hingga saat ini tidak ada ketegasan dari manajemen tentang
strategi mengembangkan
broadband atau besaran alokasi belanja modal untuk produk yang dianggap sebagai andalan di masa depan itu. ”Sinyal besaran belanja modal memang belum ada dari Qtel, walau hingga
semester satu sudah keluar investasi sekitar 2,558 triliun rupiah,” katanya.

Hal ini tentu berbeda dengan Telkomsel yang telah memastikan dana sebesar 3,6 triliun rupiah
atau XL sebesar 3 triliun rupiah untuk jasa data pada 2011. Jika demikian, tentu akan menarik ditunggu realitas di akhir 2011.
Akankah Indosat kembali bersinar terang?[dni]