180811 T-Cash, Baru Sebatas Pencitraan


Layanan dompet digital milik Telkomsel, T-Cash, yang telah berusia empat tahun hingga kini belum mampu berbicara banyak di pasar. Padahal, diawal kemunculannya pada November 2007  produk yang memungkinkan ponsel  berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash) sehingga bisa  digunakan untuk bertransaksi keuangan  itu menyimpan asa yang luar biasa.
Produk ini diharapkan bisa menjadi andalan untuk micropayment  yang bisa dilakukan oleh  person to person, membayar tagihan, atau membeli aplikasi di dunia maya. T-Cash digadang-gadang akan menjadi pesaing kuat  dari  produk sejenis milik perbankan dalam menggarap micro payment.
Untuk diketahui, pangsa pasar micro payment lumayan gurih. Diperkirakan  uang berputar di segmen ini mencapai 200 – 293 triliun rupiah, di mana pada saat ini 77 persen transaksi retail masih dilakukan secara cash.
Kala itu Telkomsel  optimistis dalam waktu singkat produk yang menelan investasi hingga 50 juta dollar AS itu akan digunakan sekitar 2,5 juta pelanggan. Harapannya, jika ada transaksi sebanyak tiga hari sekali, dalam dua tahun investasi akan kembali. Namun apa yang terjadi? Tujuh bulan T-Cash berjalan hanya 10 ribu pelanggan yang didapat.
Namun Telkomsel tidak menyerah. Beberapa langkah mempersolek T-Cash dilakukan. Misalnya,  mengoptimalkan izin Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) dari Bank Indonesia. Berikutnya, mengenalkan   Sim Card dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan transaksi pembayaran dengan menyentuhkan ponsel ke alat pembaca. Produk ini dinamakan Tap-Izy.
Sayangnya, pembelian untuk SIM Card RFID diterpa isu tak sedap yakni penggelembungan biaya produksi 1 unit SIM card seharusnya kurang dari 1 dolar AS, namun harganya ditetapkan sampai 12 dolar AS per unit. Komite audit Telkom sempat turun menyelidiki, dan hingga kini tak diketahui hasilnya.
Saat ini  merchant yang bisa melayani T-Cash  sebanyak 471 mitra dan terminal yang disebar 12.204 unit. Pengguna T-Cash yang teregister  sekitar 5,5 juta pelanggan, sementara yang aktif hanya 1,5-2 persen atau 110 ribu pelanggan dengan nilai transaksi per orang sekitar 90 ribu rupiah. Bandingkan dengan Flazz BCA yang memiliki 2,4 juta pelanggan aktif dengan transaksi sebesar 35 ribu rupiah per pelanggan.
Kenapa pengguna yang aktif sangat kecil sehingga kesan yang muncul produk ini hanya sebatas pencitraan Telkomsel memiliki e-money? Pemicunya adalah kombinasi dari beberapa faktor.
Pertama, kurangnya edukasi ke pelanggan dan frontliner merchant. Kedua  infrastruktur yang tidak matang seperti mengganti modem menjadi host to host untuk lima ribu terminal di salah satu merchant andalan, Indomaret, yang menuai banyak keluhan tanpa perencanaan nan matang.
Ketiga, kualitas akses data dari Telkomsel yang sering bermasalah. Keempat, minimnya tempat untuk melakukan cash in  atau pencairan. Kelima, kurangnya koordinasi di internal khususnya tentang strategi komunikasi dan memanfaatkan momentum memasarkan produk ini.
Suara dari pelanggan juga mendukung asumsi di atas. ”Kasir tidak mau menggunakan T-Cash karena jaringan Telkomsel lambat. Bahkan ada kasir di merchant yang tidak tahu produk T-Cash walau logonya terpajang,” keluh seorang pelanggan Sandy.
”Saldo T-Cash saya 500 ribu rupiah, sementara Tap Izy 20 ribu rupiah. Transaksi tidak bisa dilakukan karena minimal saldo 20 ribu rupiah. Metode yang diterapkan Telkomsel sangat membingungkan pelanggan, ungkap pengguna lainnya, Chandra.
Menanggapi hal ini, GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengakui terjadinya gangguan untuk bertransaksi di Indomaret dimana tengah terjadi pergantian terminal.
Sementara Deputi Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia E Marinto menegaskan, secara komersial T-Cash siap digunakan. ”Jika ada masalah teknis di lapangan harus diteliti kasusnya secara teliti, bisa saja nomor bermasalah atau kasir kurang teredukasi,” katanya.
Benarkah? Waktu yang akan menjawab perjalanan produk ini dimana hakimnya adalah para pelanggan Telkomsel. Kita tunggu saja.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s