180811 Menangkap Peluang di Era Digital

 

Penetrasi akses internet di Indonesia menunjukan percepatan yang cukup berarti sejak 2005 seiring maraknya penggunaan sosial media di Indonesia. Saat ini diperkirakan 19,1 persen atau sebanyak 55 juta jiwa dari  total populasi  240 juta jiwa telah menjadi   pengguna internet. Pada 2014 nanti pemerintah menargetkan penetrasi internet bisa mencapai 50 persen dari total populasi.
GM Mobile Data Service Channel Development XL Handono Warih mengungkapkan, kian tingginya pengguna internet di Indonesia memunculkan kelompok digital native yakni anak-anak muda yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi.
“Kelompok ini akan menjadi ujung tombak perubahan di masyarakat. Ciri khas dari kelompok ini adalah terbiasa berkomunikasi memanfaatkan inovasi terbaru dari telekomunikasi, misalnya instant messaging atau social media,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, seiring semakin dominannya kelompok anak muda digital ini, akan mendorong berkembangnya aktivitas online, terutama transaksi online yang  bisa mempermudah masyarakat dalam berbelanja. ”Nantinya semua yang biasa dilakukan offline akan menjadi online. Tinggal menunggu waktu saja booming-nya,” katanya.
Ditegaskannya, XL tak ingin ketinggalan menangkap peluang dari era digital. Hal itu ditunjukkan dengan menggandeng situs social commerce, Multiply, agar bisa berdagang produk di dunia maya.
Agar bisa membuka  toko online di multiply, perseroan menggandeng  distributor gadget dan ponsel terbesar di Indonesia yakni Erafone.  Barang-barang yang dijual terdiri dari berbagai produk bundling, baik smartphone, modem, maupun tablet.  Transaksi dan pembayaran dilakukan dengan cara online melalui penggunaan KlikBca, ATM BCA, transfer BCA atau bank Mandiri.
“Kami ingin menangkap peluang yang ditawarkan oleh dunia digital. Kami berharap hingga akhir tahun akan terjadi sekitar 10 ribu transaksi penjualan. Kita yakin ini bisa tercapai karena minat masyarakat terhadap perangkat bergerak terus naik, terutama untuk kategori smartphone,” ungkapnya.
Dikatakannya, XL  juga berencana memperluas  kerjasam dengan Multiply dalam  mengembangkan pola pembayaran dengan e-money melalui produk XL Tunai yang tengah diuji coba di Yogyakarta. ”Jika model pembayaran kian beragam, maka e-commerce makin maju,” kata Warih.
Kian Marak 
AVP Marketing Communication Multiply Edward K. Suwignyo mengakui belanja secara online kian marak  berkat jaringan internet yang bisa diandalkan, metode pembayaran yang aman,  dan jasa pengiriman yang terpercaya.
“Berbelanja secara online semakin banyak peminatnya di Indonesia. Bahkan situs seperti multiply.com mengubah platform-nya didorong oleh perilaku dari masyarakat di Indonesia dan Philipina yang makin keranjingan berjualan di dunia maya. Saya perkirakan dalam kurun dua-tiga tahun mendatang ini akan booming,” katanya.
Diungkapkannya, beberapa tahun lalu situs multiply lebih sebagai social media dimana menjadi tempat berinteraksi bagi pemilik akun. Namun, karena masyarakat di Indonesia atau Philipina yang senang berjualan melalui akun yang dimilikinya, membuat perusahan ini menggabungkan antara social media dan e-commerce atau lebih dikenal dengan social commerce.
Social commerce adalah berbelanja dengan interaksi dalam e-commerce yang memberikan solusi secara komprehensif. Solusi itu adalah mencari, memilih, membayar, pengiriman, dan membagi informasi penjual-pembeli barang.  Di Social Commerce ini masalah sumber informasi yang kredibel memegang peranan selain  user generated content untuk membangun rasa kepemilikan.
Dikatakannya, saat ini multiply memiliki 2 juta akun, dimana jumlah pengunjung mencapai 7 juta, dan page view 70 juta per bulan. Ranking dari situs ini di peringkat Alexa pada nomor 24 yang dikunjungi di Indonesia. Sedangkan pemilik akun yang membuat toko online sebanyak 45 ribu toko, dimana barang yang dijual dominan adalah baju dan perlengkapan bayi.
“Umumnya nilai transaksi sebulan itu sekitar 100-200 ribu rupiah. Hanya 10-20 persen dari total transaksi yang bisa mencapai lima juta rupiah sebulan. Sekarang kami ingin meningkatkan transaksi dengan menggandeng XL membuka toko online untuk menjual perangkat bergerak. XL adalah  operator  pertama membuka toko di multiply,” ungkapnya.
Bangun Ekosistem
Pada kesempatan lain, CEO Belibu.com Fanda Soesilo mengatakan, hal yang dibutuhkan untuk mendorong belanja online marak adalah dibangunnya ekosistem antara penjual, pembeli, dan pengelola situs agar tumbuh kepercayaan untuk melakukan transaksi. ”Masalah kepercayaan ini adalah syarat mutlak bertransaksi di dunia maya. Karena itu belibu.com tidak buru-buru membuka pintu transaksi,  tiga bulan lagi baru kami buka untuk e-commerce,” ungkapnya.
Dijelaskannya, Belibu.com s adalah social share commerce dimana para wirausaha dan keluarga dapat saling berinteraksi, berbagi, dan berjual beli. Saat ini situs tersebut memiliki 150 ribu akun dimana 10 persen diantaranya mulai rajin mempromosikan produknya. Sebanyak 5 ribu unique visitor mengunjungi situs ini per harinya.
”Sejak berubah dari direktori bisnis pada Juni lalu, sekarang belibu.com lebih konsentrasi mengumpulkan para wirausaha di situs ini.Kami ingin mereka saling mengenal terlebih dahulu,” katanya.
Secara terpisah, Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengaku tidak khawatir kian maraknya situs-situs e-commerce besutan lokal atau luar negeri  akan menganggu Plasa.com yang sedang berjuang untuk bangkit agar bisa bersaing di bisnis ini.
”Kami akan re-launch Plasa.com sebentar lagi. Kami mencoba mengadopsi  package engine yang sudah proven dengan beberapa  modifikasi dan  model pembayaran yang lebih lengkap. Intinya kita ingin bangun pengalaman belanja online yang mudah, berkualitas, dan terpercaya. Harus diingat budaya belanja online masih awal karena orang belum sepenuhnya percaya, umumnya baru pada tahap mencari produk dan info jual-beli,” jelasnya.
Sementara  praktisi telematika Mochammad James Falahuddin mengungkapkan, kondisi e-commerce di Indonesia saat ini  masih terbatas dalam metode pembayaran. Sedangkan untuk pengembangannya dibutuhkan  kolaborasi,  harga produk yang ramah kantong, dukungan ekosistem, dan adanya kepercayaan.
”Hal yang utama adalah program pemasaran untuk membuat situs e-commerce ramai dikunjungi calon pembeli atau penjual melalui strategi komunikasi yang jitu. Di dunia maya masalah ranking situs adalah kunci sukses berbisnis. Percuma situsnya bagus jika tidak ada pengunjung,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s