180811 SKY Aviation Beli 12 Pesawat Sukhoi

 

JAKARTA—Maskapai swasta nasional, PT Sky Aviation, memperkuat armadanya dengan membeli 12   pesawat Sukhoi Super Jet 100 (SSJ 100)  senilai 380.4 juta dollar AS dari  Sukhoi  Civil Aircraft Company (SCAC).
“Kami sangat berharap pesawat  bisa diterima pada  17 Agustus 2012. Kami telah mempersiapkan sejumlah rute baik domestik, maupun rute regional Internasional untuk pengoperasian pesawat SSJ 100, ungkap,” Direktur Utama Sky Aviation Krisman Tarigan di Jakarta, Rabu (17/8).
Diungkapkannya, pesawat SSJ 100 akan dioperasikan di rute-rute merata di Indonesia Bagian Barat (Sumatera dan  Jawa), Indonesia Bagian Tengah (Kalimantan,Sulawesi, Bali dan NTT) serta Indonesia  Bagian Timur (Maluku dan Papua).
 “Dengan Armada SSJ 100,  Sky Aviation akan membuka rute-rute penerbangan antar kota di Kalimantan yang selama ini tidak dilayani serta siap melayani masyarakat di pulau-pulau Sulawesi, NTT, Maluku dan Papua. Selain pesawat SSJ 100, kami juga akan  menambah armad  dengan pesawat Sky Lander (kapasitas 19 penumpang) sebanyak 10 buah,” jelasnya.
Dijelaskannya, pembiayaan pembelian pesawat senilai 380.4 juta dollar AS  tersebut menggunakan skema pinjaman ekspor-impor dari bank Rusia yang didukung dan dijamin Pemerintah Rusia dengan  bunga khusus bukan komersial. “Saat ini kami.masih dalam pembahasan dengan pihak  bank dibantu pihak SCAC,” katanya.
PT. Sky Aviation yang merupakan salah satu unit Group Petroneks Energy adalah perusahaan penerbangan yang relatif baru, mengantongi AOC 135 -144 dari Kementerian Perhubungan pada 14 Mei 2009 dan Surat Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal pada 8 Maret 2010.
Armada pesawat yang dimiliki Sky Aviation saat ini 2 (dua) Grand Caravan berkapasitas 9 penumpang, 3 (tiga) Fokker 50 (F 50) berkapasitas 50 penumpang dan 2 (dua) Cirrus SR 20 dan SR 22 berkapasitas 3 penumpang.
Selain menerbangi rute-rute penerbangan baru yang menghubungkan beberpa Kabupaten, Sky Aviation juga mulai  berkiprah di domestik angkutan jemaah haji di tahun 2011 ini, yaitu angkutan jemaah haji Kabupaten Rengat (330 jemaah) dan Kabupaten Indragiri Hilir (800 jemaah) ke Embarkasi Batam.
Presiden Sukhoi Civil Aircraft Company  Vladimir Prisyazhnyuk mengaku sangat gembira  bekerja sama dengan  Sky Aviation. “Performa dari  Sukhoi Superjet 100 akan mendukung pengembangan network-rute Sky Aviation. Kami optimistis pesawat bisa dikirim pada Agustus 2012,” tegasnya.
Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) adalah pesawat berjelajah regional berkapasitas 100 tempat duduk yang didisain dan diproduksi Sukhoi Civil Aircraft Company (SCAC) yang bekerjasama dengan Alinea Aeronautica. Sukhoi Civil Aircraft Company merupakan  salah satu  unit dari United Aviation Corporation yang memproduksi pesawat sipil. Sementara Sukhoi unit militernya  sudah sangat terkenal dengan pesawat tempur yang memiliki kemampuan bermanuvernya. Indonesia telah memiliki beberapa pesawat tempur produksi Sukhoi.
Pesawat SSJ 100 telah berhasil menjalani penerbangan perdananya pada Mei 2008. Pesawat ini  mempunyai kemampuan kecepatan terbang maksimum 0.81 kecepatan suara (Mach 0.81) dan mencapai ketinggian 40.000 feet. SSJ 100 dapat beroperasi (take off and landing) di bandara yang memiliki  panjang landasan 1.731 meter (versi basic range) dan  sampai 2.052 meter (versi long range).
Pada Februari 2011 lalu SSJ 100 telah meraih Sertifikat Type (Type Certification) dari Otoritas Sertifikasi Rusia (the Russian Certification Authority IAC AR) dan diharapkan sertifikasi dari Otoritas Penerbangan Uni Eropa (EASA) akan  diperoleh pada 2011 ini. Produksi pertama SSJ 100 telah diserahkan pada 19April 2011 kepada Armavia Airline, satu perusahaan penerbangan sipil di Armenia.
Di Indonesia, ada dua maskapai yang telah menjalin kerjasama dengan SCAC yakni Kartika Airlines dan  PT Merukh Ama Coal sebagai pemilik   PT Dirgantara Air Service dan PT Sabang Merauke Air Charter (SMAC).
Kartika rencananya membeli 30 Sukhoi SuperJet 200 senilai 840 juta dollar AS , sayangnya hingga sekarang tidak jelas kabarnya. Sementara Merukh berniat membeli 12 unit Sukhoi SSJ 100 yang menelan investasi  30-33 juta  doolar AS dan rencananya sebagian datang pada tahun ini.[dni]

180811 Garuda Optimistis Kinerja Positif

 

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) optimistis kinerja keuangannya hingga akhir tahun nanti mencatat pembukuan positif mengingat hanya selama Juli 2011 berhasil membukukan  laba usaha (operating profit) sebesar  459.5 miliar rupiah,  laba bersih (Rp 320 miliar), dan pendapatan usaha ( Rp 2,453 trilun) berkat mengangkut  1,642 juta penumpang.
”Kinerja selama satu bulan lalu (Juli) berhasil menutup performa kurang menggembirakan pada semester I 2011. Jika harga avtur stabil, kami yakin kinerja Garuda akan positif hingga akhir tahun nanti. Apalagi penerbangan Haji akan dimulai September nanti,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, kemarin.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, dalam posisi Year to Date, keuangan perseroan untuk pendapatan usaha sebesar 12,992 triliun rupiah, laba usaha (Rp 11,1 miliar), dan laba bersih ( Rp.133,4 milliar).
Posisi ini jauh berbeda dengan kondisi selama semester I 2011 dimana maskapai pelat merah ini menderita rugi komprehensif yang diatribusikan ke pemilik entitas induk atau rugi bersih 186,57 miliar rupiah. Sedangkan   pendapatan usaha  sekitar  11,21 triliun rupiah.
Emirsyah menjelaskan, faktor utama pendorong kinerja positif hanya selama satu bulan karena perseroan  mengurangi penawaran tiket promosi, meningkatkan efisiensi dan utilitas armada, harga avtur yang mulai turun, dan musim lonjakan penumpang memang terjadi selama Juli.
“Bisnis transportasi ini seasonal. Biasanya pada Juli dan Desember selalu ada lonjakan penumpang,” katanya.
Elisa menambahkan, salah satu faktor keberhasilan Garuda yang mendorong kinerja positif adalah   meningkatnya utilisasi armada yang mencapai 11: 23 jam per hari, dibanding periode yang sama tahun lalu, sebesar 10:23 jam per hari.
Selain itu, berkat penggunaan armada baru maka konsumsi bahan bakar mengalami penurunan sebesar 37 persen dibandingkan periode Juli lalu. Pada Juli 2011 harga avtur sekitar 92.79 sen dollar AS, sementara  Juni 2011, sebesar 120 sen dollar AS.
Tambah Kapasitas
Lebih lanjut  Emirsyah mengungkapkan, untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama arus mudik nanti, perseroan telah menambah kapasitas dengan menambah  99 penerbangan extra pada rute – rute gemuk seperti  Jakarta – Denpasar (36 penerbangan ekstra), Jakarta – Singapura (30 penerbangan ekstra), Jakarta – Padang (17 penerbangan ekstra), Jakarta – Jogjakarta (8 penerbangan ekstra), dan Denpasar – Surabaya (8 penerbangan ekstra).
Selain melaksanakan penambahan penerbangan ekstra, Garuda juga mengoperasikan pesawat berbadan lebar pada rute atau penerbangan tertentu dalam mengantisipasi terjadinya lonjakan penumpang pada lebaran tahun ini. Jumlah tambahan kursi yang disiapkan Garuda melalui penerbangan ekstra dan penggantian pesawat besar  tersebut sebanyak 24.930 kursi.
Penambahan sebanyak 24.930 kursi tersebut dilaksanakan Garuda, disamping peningkatan kursi dari penerbangan regular (selama periode H-7 sampai H+7 tahun 2011) yang telah meningkat sebanyak 176. 442 kursi dibanding periode yang sama tahun 2010. Jumlah produksi Garuda pada periode H-7 sampai H+7 tahun 2011 mencapai  891.697 kursi, sementara jumlah produksi pada periode yang sama tahun lalu hanya sebesar 715.255 kursi.[dni]

180811 Regulator Setujui DPI Incumbent

 

JAKARTA— Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akhirnya menyetujui
Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI) yang diajukan oleh dua operator incumbent di pasar telepj tetap dan seluler,  Telkom dan Telkomsel.
Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gatot S. Dewa Broto mengungkapkan, pada DPI ini terdapat beberapa perubahan, di antaranya perubahan tarif interkoneksi sesuai dengan hasil perhitungan biaya interkoneksi tahun 2010.
Pada perhitungan tersebut, biaya interkoneksi layanan jaringan tetap lokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas (Fixed Wireless Access/FWA) telah dihitung secara terpisah dari biaya interkoneksi layanan jaringan tetap lokal (PSTN).
“Dan ini telah siap diimplementasi sesuai dengan Peraturan Menkominfo No. 16/PER/M.KOMINFO/06/2011 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.35 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas,” jelasnya di Jakarta, Rabu (17/8).
Dikatakannya, dalam memberikan persetujuan terhadap DPI yang dimaksud, BRTI dikatakan telah melakukan tahapan evaluasi yang terdiri dari verifikasi sistematika DPI dan verifikasi materi DPI.
Verifikasi sistematika DPI merupakan evaluasi terhadap sistematika penyajian dokumen DPI sesuai dengan Petunjuk Penyusunan Dokumen Penawaran Interkoneksi (P2DPI). Sementara verifikasi materi DPI merupakan evaluasi terhadap kelengkapan materi dan uji kesesuaian dari setiap materi dalam DPI terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Setelah melalui tahapan evaluasi tersebut, maka dengan ini diumumkan bahwa BRTI telah menyetujui Dokumen Penawaran Interkoneksi milik PT Telkom dan PT Telkomsel, dan ditetapkan dalam Keputusan Dirjen Penyelenggaran Pos dan Informatika No. 201/KEP/DJPPI/KOMINFO/7/2011 tanggal 29 Juli 2011.
Selanjutnya, untuk penyelenggaraan interkoneksi yang transparan dan tidak diskriminatif, para penyelenggara telekomunikasi diminta untuk mempublikasikan DPI-nya dalam situs internet masing-masing.
Sebelumnya, berdasarkan pendapatan kotor (gross revenue) lebih dari 25 persen secara industri, Telkom dianggap sebagai penyelenggara dominan untuk telepon tetap lokal, Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) dan Sambungan Langsung Internasional (SLI). Sementara Telkomsel adalah penyelenggara dominan untuk jaringan bergerak seluler.
Keduanya lalu diminta untuk menyampaikan usulan perubahan Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI) kepada BRTI untuk mendapat persetujuan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 08/Per/M.KOMINFO /02/2006 tentang Interkoneksi.[dni]]

180811 Citilink Genjot Transaksi Elektronik

 

JAKARTA—Maskapai penerbangan berbasis biaya rendah, Citilink, berusaha menggenjot transaksi elektronik pembelian tiket agar efisiensi bisa tercapai sehingga harga yang ditawarkan ke penumpang makin kompetitif.
”Konsep dari Low Cost Carrier (LCC) itu adalah bisa mengefisiensikan biaya. Melalui transaksi elektronik di internet, itu signifikan menekan biaya operasional. Karena itu Citilink menggandeng PermataBank  dan   PT. Jati Piranti Solusindo (Jatis Solutions)  sebagai switching company membangun sistem pada Citilink bagi kemudahan bertransaksi secara online,” ungkap Direktur Keuangan Garuda Indonesia yang juga VP. SBU Citilink Elisa Lumbantoruan di Jakarta, kemarin.
Diungkapkannya, secara keseluruhan pembelian tiket melalui elektronik pada Citilink baru mencapai 39 persen. Kota yang mendominasi pembelian elektronik adalah Jakarta (52%) dan Surabaya (42%) berkat infrastruktur internet yang kuat dan masyarakatnya yang terbiasa melakukan transaksi elektronik.
“Kendala dari transaksi elektronik di Indonesia adalah masyarakat masih cash based society. Masyarakat tidak percaya begitu saja memberikan nomor kartu kredit melalui dunia maya. Kita menyadari hal itu dan memodifikasi transaksi elektronik terutama metode pembayarannya,” jelasnya.
Dikatakannya, melalui kerjasama dengan PermataBank  para calon penumpang dan agen Citilink   semakin mudah melakukan pembayaran tiket Citilink secara langsung dan seketika (online real time) melalui 640 PermataATM yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga melalui PermataMiniATM (EMA), PermataNet dan PermataMobile. Selain itu, transaksi pembayaran tiket Citilink juga dapat dilakukan melalui lebih dari 37.000 jaringan ATM Bersama, ATM Prima, ALTO, ATM VisaPlus, Visa Electron dan MC.
“Jadi, sekarang tidak perlu harus memberikan nomor kartu kredit. Penumpang bisa melakukan pembayaran di ATM yang menjadi mitra dari Citilink dengan batas pembayaran 90 menit setelah booking. Jika pembayaran selesai dilakukan, tiket elektronik akan dikirimkan melalui email ke penumpang,” katanya.
Citilink sebagai unit bisnis milik Garuda Indonesia  pada semester I 2011 berhasil mengangkut 730 ribu penumpang dengan omset sekitar 219 miliar rupiah. Pada Juli lalu Citilink berhasil mengangkut  1,2 juta penumpang.  Akhir tahun ini Citilink ditargetkan  mengangkut dua juta penumpang.[dni]
 .

180811 Telkom Dukung Program SabakMoE

 

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom)  menyerahkan seperangkat komputer tablet   berikut konektivitas dan platform-nya sebagai bentuk dukungan terhadap proyek Sabak Ministry of Education (SabakMoE).
SabakMoE   merupakan program Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) bersama Telkom untuk mengembangkan sistem pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui konsep integrasi   Device, Network, Application & Content (DNA).
“SabakMoE merupakan pemikiran strategis Mendiknas RI bahwa standarisasi pendidikan dan penyebarluasan pendidikan hanya bisa ditempuh dengan penggunaan TIK pendidikan. Telkom akan mengembangkan sistem pembelajaran elektronik berbasis SabakMoE,” ujar Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, Rabu (17/8).
Dijelaskannya,  istilah sabak mengacu sarana tulis-menulis yang terbuat dari semacam batu tipis yang dibingkai dengan kayu dengan Grip sebagai alat tulisnya. Sabak pun ber-evolusi dan kembali ke tangan siswa dalam bentuk komputer tablet  (Sabak Elektronik) yang siap menjadi alat bagi siswa berselancar di dunia ilmu pengetahuan untuk meraih prestasi.
Kemendiknas dan Telkom akan mengembangkan tablet PC tersebut sebagai alat bantu proses pembelajaran bagi siswa yang terintegrasi dengan Learning Management System (LMS), yang berfungsi juga sebagai perangkat akses konten sumber belajar multimedia dan interaktif, perangkat akses ke sistem informasi pembelajaran, jadwal, silabus, kurikulum, tugas, penilaian, hasil penilaian, pelaporan hasil belajar, perangkat untuk berkomunikasi dan berkolaborasi.
SabakMoe bisa dikatakan sebagai  alat akses Portal Rumah Belajar, sebagai media pembelajaran interaktif siswa (Lembar Kerja Siswa); dan sebagai catatan portofolio siswa.
Keunggulan SabakMoE, perangkat ini mampu mencari informasi dan menjadi media kolaborasi antar siswa maupun antar siswa dengan komunitas lainnya; dapat digunakan menyimpan ribuan buku elektronik (e-book) pelajaran maupun pengayaan siswa serta aplikasi belajar.
Selain itu SabakMoE juga memberikan kemudahan bagi sekolah, dinas dan kementerian, diantaranya dalam menerapkan TIK di dunia pendidikan, dan diharapkan akan memperbaiki indeks penerapan TIK Indonesia di dunia, alat bantu pemerataan kualitas pengajaran, menuju penjaminan standar mutu pendidikan, memudahkan sistem laporan dan evaluasi, transparansi dan akuntabilitas proses pembelajaran.
”Kita harapkan program ini  dapat mendukung fleksibilitas kegiatan belajar siswa dan kegiatan mengajar guru,” katanya.[dni]

180811 T-Cash, Baru Sebatas Pencitraan


Layanan dompet digital milik Telkomsel, T-Cash, yang telah berusia empat tahun hingga kini belum mampu berbicara banyak di pasar. Padahal, diawal kemunculannya pada November 2007  produk yang memungkinkan ponsel  berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash) sehingga bisa  digunakan untuk bertransaksi keuangan  itu menyimpan asa yang luar biasa.
Produk ini diharapkan bisa menjadi andalan untuk micropayment  yang bisa dilakukan oleh  person to person, membayar tagihan, atau membeli aplikasi di dunia maya. T-Cash digadang-gadang akan menjadi pesaing kuat  dari  produk sejenis milik perbankan dalam menggarap micro payment.
Untuk diketahui, pangsa pasar micro payment lumayan gurih. Diperkirakan  uang berputar di segmen ini mencapai 200 – 293 triliun rupiah, di mana pada saat ini 77 persen transaksi retail masih dilakukan secara cash.
Kala itu Telkomsel  optimistis dalam waktu singkat produk yang menelan investasi hingga 50 juta dollar AS itu akan digunakan sekitar 2,5 juta pelanggan. Harapannya, jika ada transaksi sebanyak tiga hari sekali, dalam dua tahun investasi akan kembali. Namun apa yang terjadi? Tujuh bulan T-Cash berjalan hanya 10 ribu pelanggan yang didapat.
Namun Telkomsel tidak menyerah. Beberapa langkah mempersolek T-Cash dilakukan. Misalnya,  mengoptimalkan izin Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) dari Bank Indonesia. Berikutnya, mengenalkan   Sim Card dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan transaksi pembayaran dengan menyentuhkan ponsel ke alat pembaca. Produk ini dinamakan Tap-Izy.
Sayangnya, pembelian untuk SIM Card RFID diterpa isu tak sedap yakni penggelembungan biaya produksi 1 unit SIM card seharusnya kurang dari 1 dolar AS, namun harganya ditetapkan sampai 12 dolar AS per unit. Komite audit Telkom sempat turun menyelidiki, dan hingga kini tak diketahui hasilnya.
Saat ini  merchant yang bisa melayani T-Cash  sebanyak 471 mitra dan terminal yang disebar 12.204 unit. Pengguna T-Cash yang teregister  sekitar 5,5 juta pelanggan, sementara yang aktif hanya 1,5-2 persen atau 110 ribu pelanggan dengan nilai transaksi per orang sekitar 90 ribu rupiah. Bandingkan dengan Flazz BCA yang memiliki 2,4 juta pelanggan aktif dengan transaksi sebesar 35 ribu rupiah per pelanggan.
Kenapa pengguna yang aktif sangat kecil sehingga kesan yang muncul produk ini hanya sebatas pencitraan Telkomsel memiliki e-money? Pemicunya adalah kombinasi dari beberapa faktor.
Pertama, kurangnya edukasi ke pelanggan dan frontliner merchant. Kedua  infrastruktur yang tidak matang seperti mengganti modem menjadi host to host untuk lima ribu terminal di salah satu merchant andalan, Indomaret, yang menuai banyak keluhan tanpa perencanaan nan matang.
Ketiga, kualitas akses data dari Telkomsel yang sering bermasalah. Keempat, minimnya tempat untuk melakukan cash in  atau pencairan. Kelima, kurangnya koordinasi di internal khususnya tentang strategi komunikasi dan memanfaatkan momentum memasarkan produk ini.
Suara dari pelanggan juga mendukung asumsi di atas. ”Kasir tidak mau menggunakan T-Cash karena jaringan Telkomsel lambat. Bahkan ada kasir di merchant yang tidak tahu produk T-Cash walau logonya terpajang,” keluh seorang pelanggan Sandy.
”Saldo T-Cash saya 500 ribu rupiah, sementara Tap Izy 20 ribu rupiah. Transaksi tidak bisa dilakukan karena minimal saldo 20 ribu rupiah. Metode yang diterapkan Telkomsel sangat membingungkan pelanggan, ungkap pengguna lainnya, Chandra.
Menanggapi hal ini, GM Corporate Communication Telkomsel Ricardo Indra mengakui terjadinya gangguan untuk bertransaksi di Indomaret dimana tengah terjadi pergantian terminal.
Sementara Deputi Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia E Marinto menegaskan, secara komersial T-Cash siap digunakan. ”Jika ada masalah teknis di lapangan harus diteliti kasusnya secara teliti, bisa saja nomor bermasalah atau kasir kurang teredukasi,” katanya.
Benarkah? Waktu yang akan menjawab perjalanan produk ini dimana hakimnya adalah para pelanggan Telkomsel. Kita tunggu saja.[dni]

180811 Menangkap Peluang di Era Digital

 

Penetrasi akses internet di Indonesia menunjukan percepatan yang cukup berarti sejak 2005 seiring maraknya penggunaan sosial media di Indonesia. Saat ini diperkirakan 19,1 persen atau sebanyak 55 juta jiwa dari  total populasi  240 juta jiwa telah menjadi   pengguna internet. Pada 2014 nanti pemerintah menargetkan penetrasi internet bisa mencapai 50 persen dari total populasi.
GM Mobile Data Service Channel Development XL Handono Warih mengungkapkan, kian tingginya pengguna internet di Indonesia memunculkan kelompok digital native yakni anak-anak muda yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi.
“Kelompok ini akan menjadi ujung tombak perubahan di masyarakat. Ciri khas dari kelompok ini adalah terbiasa berkomunikasi memanfaatkan inovasi terbaru dari telekomunikasi, misalnya instant messaging atau social media,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, seiring semakin dominannya kelompok anak muda digital ini, akan mendorong berkembangnya aktivitas online, terutama transaksi online yang  bisa mempermudah masyarakat dalam berbelanja. ”Nantinya semua yang biasa dilakukan offline akan menjadi online. Tinggal menunggu waktu saja booming-nya,” katanya.
Ditegaskannya, XL tak ingin ketinggalan menangkap peluang dari era digital. Hal itu ditunjukkan dengan menggandeng situs social commerce, Multiply, agar bisa berdagang produk di dunia maya.
Agar bisa membuka  toko online di multiply, perseroan menggandeng  distributor gadget dan ponsel terbesar di Indonesia yakni Erafone.  Barang-barang yang dijual terdiri dari berbagai produk bundling, baik smartphone, modem, maupun tablet.  Transaksi dan pembayaran dilakukan dengan cara online melalui penggunaan KlikBca, ATM BCA, transfer BCA atau bank Mandiri.
“Kami ingin menangkap peluang yang ditawarkan oleh dunia digital. Kami berharap hingga akhir tahun akan terjadi sekitar 10 ribu transaksi penjualan. Kita yakin ini bisa tercapai karena minat masyarakat terhadap perangkat bergerak terus naik, terutama untuk kategori smartphone,” ungkapnya.
Dikatakannya, XL  juga berencana memperluas  kerjasam dengan Multiply dalam  mengembangkan pola pembayaran dengan e-money melalui produk XL Tunai yang tengah diuji coba di Yogyakarta. ”Jika model pembayaran kian beragam, maka e-commerce makin maju,” kata Warih.
Kian Marak 
AVP Marketing Communication Multiply Edward K. Suwignyo mengakui belanja secara online kian marak  berkat jaringan internet yang bisa diandalkan, metode pembayaran yang aman,  dan jasa pengiriman yang terpercaya.
“Berbelanja secara online semakin banyak peminatnya di Indonesia. Bahkan situs seperti multiply.com mengubah platform-nya didorong oleh perilaku dari masyarakat di Indonesia dan Philipina yang makin keranjingan berjualan di dunia maya. Saya perkirakan dalam kurun dua-tiga tahun mendatang ini akan booming,” katanya.
Diungkapkannya, beberapa tahun lalu situs multiply lebih sebagai social media dimana menjadi tempat berinteraksi bagi pemilik akun. Namun, karena masyarakat di Indonesia atau Philipina yang senang berjualan melalui akun yang dimilikinya, membuat perusahan ini menggabungkan antara social media dan e-commerce atau lebih dikenal dengan social commerce.
Social commerce adalah berbelanja dengan interaksi dalam e-commerce yang memberikan solusi secara komprehensif. Solusi itu adalah mencari, memilih, membayar, pengiriman, dan membagi informasi penjual-pembeli barang.  Di Social Commerce ini masalah sumber informasi yang kredibel memegang peranan selain  user generated content untuk membangun rasa kepemilikan.
Dikatakannya, saat ini multiply memiliki 2 juta akun, dimana jumlah pengunjung mencapai 7 juta, dan page view 70 juta per bulan. Ranking dari situs ini di peringkat Alexa pada nomor 24 yang dikunjungi di Indonesia. Sedangkan pemilik akun yang membuat toko online sebanyak 45 ribu toko, dimana barang yang dijual dominan adalah baju dan perlengkapan bayi.
“Umumnya nilai transaksi sebulan itu sekitar 100-200 ribu rupiah. Hanya 10-20 persen dari total transaksi yang bisa mencapai lima juta rupiah sebulan. Sekarang kami ingin meningkatkan transaksi dengan menggandeng XL membuka toko online untuk menjual perangkat bergerak. XL adalah  operator  pertama membuka toko di multiply,” ungkapnya.
Bangun Ekosistem
Pada kesempatan lain, CEO Belibu.com Fanda Soesilo mengatakan, hal yang dibutuhkan untuk mendorong belanja online marak adalah dibangunnya ekosistem antara penjual, pembeli, dan pengelola situs agar tumbuh kepercayaan untuk melakukan transaksi. ”Masalah kepercayaan ini adalah syarat mutlak bertransaksi di dunia maya. Karena itu belibu.com tidak buru-buru membuka pintu transaksi,  tiga bulan lagi baru kami buka untuk e-commerce,” ungkapnya.
Dijelaskannya, Belibu.com s adalah social share commerce dimana para wirausaha dan keluarga dapat saling berinteraksi, berbagi, dan berjual beli. Saat ini situs tersebut memiliki 150 ribu akun dimana 10 persen diantaranya mulai rajin mempromosikan produknya. Sebanyak 5 ribu unique visitor mengunjungi situs ini per harinya.
”Sejak berubah dari direktori bisnis pada Juni lalu, sekarang belibu.com lebih konsentrasi mengumpulkan para wirausaha di situs ini.Kami ingin mereka saling mengenal terlebih dahulu,” katanya.
Secara terpisah, Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo mengaku tidak khawatir kian maraknya situs-situs e-commerce besutan lokal atau luar negeri  akan menganggu Plasa.com yang sedang berjuang untuk bangkit agar bisa bersaing di bisnis ini.
”Kami akan re-launch Plasa.com sebentar lagi. Kami mencoba mengadopsi  package engine yang sudah proven dengan beberapa  modifikasi dan  model pembayaran yang lebih lengkap. Intinya kita ingin bangun pengalaman belanja online yang mudah, berkualitas, dan terpercaya. Harus diingat budaya belanja online masih awal karena orang belum sepenuhnya percaya, umumnya baru pada tahap mencari produk dan info jual-beli,” jelasnya.
Sementara  praktisi telematika Mochammad James Falahuddin mengungkapkan, kondisi e-commerce di Indonesia saat ini  masih terbatas dalam metode pembayaran. Sedangkan untuk pengembangannya dibutuhkan  kolaborasi,  harga produk yang ramah kantong, dukungan ekosistem, dan adanya kepercayaan.
”Hal yang utama adalah program pemasaran untuk membuat situs e-commerce ramai dikunjungi calon pembeli atau penjual melalui strategi komunikasi yang jitu. Di dunia maya masalah ranking situs adalah kunci sukses berbisnis. Percuma situsnya bagus jika tidak ada pengunjung,” tegasnya.[dni]