160811 Mengubah Paradigma Pemasaran Produk


Jasa fixed broadband milik Telkom melalui poduk Speedy selama semester I 2011 mencatat kinerja lumayan menggembirakan. Omset yang diraih sekitar  1,964  miliar rupiah dengan dua juta pelanggan.
Menurut Head of Corporate Communication and Affair Telkom Eddy Kurnia, keberhasilan Speedy tak bisa dilepaskan dari strategi  pemasaran berbasis manajemen pendidikan pelanggan yang diterapkan oleh perseroan. Konsep ini diyakini tidak hanya mengubah paradigma menjual produk,   tetapi memberikan manfaat terhadap akselerasi pendidikan dan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
“Pemikiran  ini secara akademis berhasil saya pertahankan dalam disertasi “Strategi Pemasaran Berbasis Manajemen Pendidikan Pelanggan: Manfaatnya bagi Akselerasi Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap Kinerja Perusahaan” untuk meraih gelar doktoral bidang keilmuan Administrasi Pendidikan dari Indonesia (UPI) Bandung, pada akhir Juli lalu,” katanya di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, dalam memasarkan produk seperti Speedy dimana sebenarnya memiliki banyak fungsi selain sebagai akses internet,  tidak bisa hanya bermain tarif karena masa perang tarif telah lewat.
“Pelanggan itu perlu dipintarkan. Intinya,  ke depan produsen perlu memberikan perhatian  kepada pelanggan agar rasa memiliki terhadap produk muncul dari mereka. Dalam kasus Speedy,  perlu sekali memeperhatikan kepentingan pelanggan agar mereka merasa dipintarkan dalam pengertian luas, artinya bukan hanya memberikan pemahaman product knowledge tetapi juga benefitnya dengan adanya internet berkecepatan tinggi itu,” jelasnya.
 .
Masih menurutnya, meski pertumbuhan akses broadband  di Indonesia cukup menjanjikan tetapi persoalan di Indonesia adalah terjadinya kesenjangan digital (digital divide). Digital divide adalah  kesenjangan antara komunitas yang efektif mengakses informasi melalui teknologi digital dan yang tidak dapat mengakses informasi secara digital.
Kondisi Ini menunjukan adanya ketidakseimbangan sumberdaya manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses informasi yang berupa digital tersebut. Wujudnya nyata dari program pemasaran Speedy berbasis pendidikan pelanggan adalah dengan  diarahkan untuk mengatasi kesenjangan ini  dengan membentuk komunitas pendidikan melalui berbagai kegiatan kepedulian sosial yang dilakukan oleh perusahaan, antara lain program kesenjangan digital antara guru dan murid melalui pelatihan guru, pelatihan santri dan pelatihan usaha kecil dan menengah.
Kedua, Speedy sebagai broadband access, yaitu layanan internet berkecepatan tinggi yang memberikan manfaat kepada masyarakat untuk mendapatkan kemudahan akses mengikuti perkembangan pendidikan secara dalam menambah pengetahuan maupun mengikuti perkembangan pendidikan, baik formal, nonformal maupun informal.
Ketiga, implementasi pemasaran Speedy dalam rangka menjadi market leader di Indonesia dilaksanakan dengan mempercepat pembangunan infrastruktur, membuat paket pemasaran, melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan pendidikan informal, baik melalui media massa, pertujukan seni, kegiatan keagamaan, lembaga-lembaga, dunia kerja dan lingkungan lainnya.
“Jika akselerasi pendidikan semakin merata maka masyarakat informasi yang cerdas akan semakin  meluas sehingga pengguna akses broadband  semakin meningkat dan pada gilirannya akan berpengaruh positif terhadap kinerja bisnis perusahaan, karena masyarakat berbasis informasi yang diwujudkan itu tak bisa dilepaskan dari Speedy,” katanya.
Diungkapkannya, tantangan dari konsep ini adalah produsen biasanya  selalu ingin  mendapatkan hasil yang cepat dan melupakan  pemahaman itu sebuah proses. “Bagi pelanggan, pengalaman itu sangat penting karena dalam konteks filosofis, pengalaman adalah pembelajaran dan pembelajaran itulah yang akan menentukan pelanggan menentukan pilihannya,” jelasnya.
Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengatakan konsep yang dijalankan Telkom memasarkan Speedy sudah tepat mengingat ada kecendrungan di masyarakat akses internet digunakan bukan untuk sesuatu yang produktif.
“Saat ini kita lebih bangga menjadi negara terbesar menggunakan social media, tetapi melupakan e-education, e-health, atau e-government. Padahal yang mendorong berdampaknya penetrasi broadband bagi pendapatan satu negara adalah jika digunakan untuk hal yang produktif,” katanya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s