160811 Garuda Bidik Rp 1,5 triliun dari Pasar Korporasi

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membidik omset dari segmen korporasi melesat lebih dari 100 persen pada tahun ini dibandingkan 2010 mengingat perseroan kian agresif menggarap pasar tersebut.
Hingga saat ini Garuda telah melaksanakan kerjasama corporate sales dengan sekitar 1200 perusahaan besar di Indonesia dengan total pendapatan dari pasar korporasi lebih dari  580 miliar rupiah. Pada tahun 2011   Garuda   menargetkan untuk menjalin kerjasama dengan 1.250 ‘corporate partner’ dengan target pendapatan dari pasar korporasi sebesar 1.5 triliun rupiah.
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjelaskan,  untuk meningkatkan pangsa pasar penumpang maupun kargo pada rute domestik dan internasional di segmen tersebut  perseroan  menggandeng Senayan City  melaksanakan  Corporate Sales.
“Kerjasama ini membuat   seluruh karyawan Senayan City beserta keluarga akan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia baik pada rute domestik maupun internasional dengan harga dan layanan khusus berupa special net corporate fare, priority reservation, city check-in, cargo dan layanan dalam bidang perhotelan serta jasa pendukung lainnya yang disediakan oleh Garuda Indonesia dan anak perusahaannya,” katanya di Jakarta, Senin (15/8).
Menurutnya,  dengan jumlah  karyawan, tenant, resident dan pengguna office sebanyak 12.000 orang, maka Senayan City merupakan pasar potensial yang harus digarap oleh Garuda Indonesia.
Dikatakannya, sejalan dengan pengembangan market korporasi ke depan, Garuda Indonesia terus berupaya untuk memberikan kemudahan akses  bagi para partner korporasinya misalnya melalui fasilitas Garuda Online Booking Corporate dan fasilitas kemudahan lainnya. Selain di dalam negeri, Garuda juga melakukan penggarapan atas potensi pasar korporasi di kantor cabang – kantor cabang di luar negeri.
CEO Senayan City Handaka Santosa menyambut baik kolaborasi tersebut  karena bisa membuat mobilitas manajemen dan karyawan Senayan City – termasuk para tenant, resident dan pengguna officenya – akan semakin terjamin dan tentunya akan lebih hemat dan efisien.
“Dengan jaringan penerbangan yang lebih luas, frekuensi yang lebih banyak, serta penerbangan yang lebih reliable, maka bisnis kami akan semakin lancar dan tentunya akan tumbuh semakin baik”, kata Handaka.
Negoasiasi Pilot
Sementara itu, berkaitan dengan negosiasi antara manajemen Garuda Indonesia dengan Asosiasi Pilot Garuda (APG) yang di mediasi oleh Menneg BUMN Mustafa Abubakar pada Senin (15/8) pagi ini, Emirsyah mengungkapkan, menelurkan hasil yang positif setelah kedua belah pihak membuka diri.
“Hasil pertemuan hari ini sangat positif bagi kedua belah pihak. Nanti kita lanjutkan diskusinya,” katanya.
Secara terpisah, Presiden APG Captain Stephanus Gerardus Rahadi mengakui telah terjadi pembicaraan dengan manajemen Garuda. “Kita menyambut baik upaya Menneg BUMN untuk melakukan mediasi. Belum ada kesepakatan dengan pihak manajemen dari hasil tadi. Dalam waktu dekat akan ada pertemuan lagi,” katanya.
Ditegaskannya, para pilot yang bernaung di bawah APG tak mengubah tuntutan kepada manajemen terkait penggunaan pilot asing dan standar kesejahteraanya. “Tuntutan kami tidak berubah karena itu agenda organisasi,” katanya.
Seperti diketahui, APG menuntut ada kewajaran kompensasi antara pilot lokal dan asing di Garuda, serta meminta manajemen untuk lebih matang dalam perencanaan armada dengan melihat ketersediaan kru. APG mengungkapkan selama ini pilot-pilot di Garuda sudah overload jam terbang karena mengejar frekuensi penerbangan sehingga bisa berdampak kepada aspek keselamatan mengingat jadwal istirahat tidak ideal. Garuda sendiri melalui Quantum Leap berencana memiliki154 pesawat hingga 2015 nanti.
Perseroan   telah melaksanakan kerjasama dan merekrut penerbang-penerbang baru dari sekolah seperti PLP Curug dan Bali International Flight Academy sebanyak 150 orang. Garuda sendiri sebenarnya membutuhkan tambahan 150-200 pilot per tahun. Namun, persoalannya setiap tahun sekolah pilot di Indonesia hanya mampu meluluskan sekitar 300-400 penerbang.
Berdasarkan data dari manajemen Garuda, gaji pilot lokal perbulan 47,7 juta rupiah sedangkan pilot asing 68,8 juta rupiah. Flight allowance untuk pilot lokal 10 juta rupiah dengan asumsi 60 jam terbang, namun penerbang asing tidak dapat.
Selain itu, masih ada benefit cash seperti THR dan lain-lain untuk pilot lokal sebesar 3,5 x gaji per tahun atau 13,9 juta rupiah per bulan. Sementara  pilot asing tak mendapatkannya.
Total monthly cash 71 juta rupiah (pilot lokal) dan sebesar 68,8 juta rupiah (pilot asing). Sedangkan annual cash senilai 860 juta rupiah diperuntukkan untuk penerbang lokal, tetapi yang asing mendapat lebih kecil sebesar 826 juta rupiah.
Masih ada lagi benefit non cash seperti Jamsostek, tunjangan pensiun, kesehatan dan lain-lain sebesar 12,3 juta rupiah setiap bulan untuk pilot lokal. Dan pilot asing cuma mendapat 2,25 juta rupiah perbulannya.
Khusus untuk pilot asing memang diberi tunjangan perumahan atau tempat tinggal sebanyak 10 juta rupiah per bulan. Kendati pilot lokal tak mendapatkan tapi pilot asing hanya dikontrak selama 12 kali gaji (satu tahun).[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s