110811 Manufaktur Lokal Bukan Pemicu WiMax Stagnan

JAKARTA—Pelaku manufaktur Industri Dalam Negeri (IDN) menegaskan mandeknya perkembangan Broadband Wireless Access (BWA) berbasis teknologi WiMax bukan karena ketidakmampuan anak bangsa mengembangkan perangkat sesuai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).
“Jika WiMax belum digelar walau lelang sudah usai 3 tahun lalu,  itu bukan kesalahan IDN. Kami sudah mengembangkan perangkat sesuai regulasi yang diminta oleh pemerintah dan berinvestasi puluhan miliar rupiah. Harusnya balik ditanya, bagaimana komitmen operator pemenang BWA menggunakan perangkat lokal,” tegas VP Teknologi Riset Global (TRG) Achmad Sariwijaya di Jakarta, Rabu (10/8).
Diungkapkannya, selama ini para operator pemenang tender BWA tidak memiliki kepercayaan kepada produk lokal walaupun sudah sesuai standar yang diinginkan pemerintah. “Jika ada yang beli produk lokal, itu cuma syarat lulus Uji Laik Operasi (ULO). Produk lokal itu kesulitan memenuhi keinginan operator yang meminta diberikan fasilitas pembiayaan seperti perangkat asing, itu inti masalahnya,” ungkapnya.
Dijelaskannya, perangkat asing yang umumnya menggunakan perangkat standar  802.16e (16e) untuk Mobile Wimax menawarkan masa garansi lima tahun dengan rentang tagihan memasuki tahun ketiga. Itu pun mulai dihitung penagihan jika regulasi sudah memungkinkan dengan kata lain operator nyaris tidak mengeluarkan investasi untuk instalasi perangkat.
“Sekarang regulasi diubah menjadi teknologi netral. Kami tidak pernah diajak bicara, tiba-tiba beberapa waktu lalu disosialisasikan oleh salah satu Staf Khusus Menkominfo bahwa standar WiMax berubah. Kalau sudah diputuskan buat apa diajak diskusi dan sosialisasi. Itu namanya mencari pembenaran,” ketusnya.
Dikatakannya, akibat perubahan regulasi yang tengah dirancang oleh pemerintah tersebut, perangkat WiMax   802.16d (16d) untuk Nomadic WiMax yang sudah dibuat vendor lokal   menjadi mubazir karena operator tentunya akan memilih perangkat dengan teknologi terkini, yaitu 16e.
“Saya yakin jika nanti dilepas ke teknologi netral, yang dikembangkan oleh operator adalah menjadi penyedia WiFi atau langsung ke Time Duplex Long Term Evolution (LTE). Tantangannya, di spektrum 2,3 GHz itu masih kotor alias banyak interferensi,” katanya.
Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot S. Dewa Broto mengakui jika hingga saat ini diskusi terkait penggunaan standar teknologi ini masih terus berlangsung.
Terakhir, pemerintah telah bertemu dengan pihak pendukung standar 16d sekitar minggu lalu. Acara tersebut mengagendakan pembahasan kesiapan dari vendor terkait untuk menggelar layanan Wimax di Tanah Air. “Dan mereka mengaku siap,” tegasnya.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s