090811Penataan 3G Tidak Ditunggangi

 

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menegaskan penataan kanal 3G di frekuensi 2,1 GHz  tidak ditunggangi oleh kepentingan asing, melainkan mengantisipasi  kebutuhan masyarakat terhadap layanan broadband.
“Tidak ada itu penataan karena desakan atau titipan dari investor asing yang kebetulan menguasai saham Axis atau Tri. Penataan ini murni agar masyarakat mendapatkan layanan broadband yang berkualitas,” tegas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono di Jakarta, kemarin.
Anggota Komite lainnya, M. Ridwan Effendi menegaskan, hasil pleno BRTI adalah meminta   Telkomsel   yang telah datang duluan di kanal 4 dan 5 diminta pindah ke kanal 5 dan  6 agar Tri bisa berada di kanal 1 dan 2, sedangkan Axis di 3 dan 4. Posisi  sekarang adalah Tri berada di kanal 1, NTS (3), Telkomsel (4 dan 5), Indosat (7 dan 8), XL (9 dan 10). Sementara kanal nomor 2, 6, 11, dan 12 lowong
Sementara Direktur Penjualan Axis Telekom Syakieb Sungkar meminta semua pihak untuk berkomitmen dalam menjalankan kesepakatan yang ada tanpa harus melempar tudingan ke sana-sini. ”Sudahlah, jika mau berunding lagi, mari berdiskusi. Saling tuding di media, malah membuat kondisi tidak sehat. Sementara investasi yang kami keluarkan untuk membeli perangkat terbuang karena tidak bisa dipasang mengingat kanal kedua belum dimiliki,” kesalnya.
Direktur Government Relations Tri  Sidarta Sidik juga mengaku bingung dengan perkembangan penatan kanal kedua 3G yang berjalan di tempat dan malah memunculkan sentimen isu penguasaan asing di frekuensi. ”Saya tidak habis pikir, kenapa jadi seperti ini. Sementara inti persoalan tidak beres,” sesalnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan enggan untuk pindah kanal karena sudah terlanjur berinvestasi. Jika pun dipaksakan pindah, ada konsekuensi penurunan kulaitas layanan dan harus mengeluarkan dana sekitar 34 miliar rupiah.
Direktur Center For Indonesian Telecommunication Regulation Study (CITRUS) Asmiati Rasyid  menegaskan  Telkomsel tidak  harus pindah kanal karena memiliki kebutuhan yang besar melayani pelanggan dan meminta dilakukan audit frekuensi mengingat sumber daya alam terbatas itu banyak dikuasai pihak asing.[dni]
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s