090811 Berjualan di Pasar Freemium

Lembaga riset Gartner memperkirakan pendapatan dari jasa data secara global pada akhir tahun ini mencapai 314.7  miliar dollar AS atau naik  22,5 persen dibadnig 2010 sebesar 257 miliar dollar AS. Pada akhir 2011 diperkirakan ada 5,6 miliar pengguna jasa telekomunikasi bergerak atau naik 11 persen dari  5 miliar pengguna.
Menurut Principal research analyst  Gartner Jessica Ekholm penggunaan mobile data akan terus naik seiring pembangunan jaringan kian cepat. ”Kendalanya pendapatan dari jasa data  tumbuh lebih rendah dari trafik,” katanya.
Disarankannya, operator harus mengaji kembali  pentarifan di jasa data seperti  tiered pricing, a la carte, dan usage-based plans, serta berhati-hati  menambah fitur bagi pengguna data.
Sementara para pengembang aplikasi juga mendapatkan tantangan yang sama dengan para operator mengingat pengguna jasa data telah terbiasa dengan sesuatu yang gratis alias free.
”Pengembang aplikasi tantanganya lebih berat lagi. Jika diberikan sesuatu yang gratis, pengguna ramai. Begitu diberikan pentarifan, maka aplikasi ditinggalkan. Pengembang harus bisa mengembangkan diri kearah freemium yakni dimana untuk tahap tertentu ada gratisnya, tetapi untuk sesuatu yang lebih bernilai dikenakan biaya,” jelas Chief Architect?Director Risto Mobile Wvgen Wong di Jakarta, belum lama ini.
Risto Mobile adalah perusahaan pengembang aplikasi dari Singapura. Risto telah bermain di  pasar Indonesia sejak setahun yang lalu,dengan merilis aplikasi gratisan dan berbayar. Aplikasi besutan perusahan  ini disediakan  bekerja sama dengan empat operator telekomunikasi Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan Bakrie Telecom.
“Tak mudah untuk berjualan software aplikasi mobile di Indonesia. Dengan jumlah pengguna telekomunikasi 200 juta, pasarnya memang sangat besar. Namun hanya segelintir saja yang dinilai mau membelanjakan uangnya,” katanya.
Dikatakannya, berdasarkan pengalaman  saat aplikasi itu gratis, penggunanya akan datang berbondong-bondong. Namun begitu aplikasi itu berbayar, mayoritas pengguna di Indonesia akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uangnya. ”Mereka merasa lebih baik pergi ke Ambassador atau Roxy untuk inject aplikasi jail break dengan biaya murah,” katanya.
Meski dianggap sulit, namun Risto tidak menyerah mengeluarkan mainan barunya yakni   aplikasi Gift & Take untuk platform sosial di Facebook dan BlackBerry Messenger (BBM). Gift&Take adalah platform aplikasi mobile gift untuk mengirim bingkisan pesan secara personal melalui jaringan sosial media seperti Facebook dan platform Blackberry Messenger 6 (BBM 6) dari Research in Motion, yang memungkinkan pengguna mengirim pesan personal kepada kontak BBM.
Aplikasi Gift & Take yang baru akan dirilis resmi di Indonesia pada 15 Agustus 2011 mendatang ini menawarkan pengiriman pesan ucapan dengan grafis animasi. Pesan ini disediakan dengan dua skema, gratis dan berbayar mulai harga  500 hingga  5000 rupiah yang ditagihkan pada pulsa pelanggan.
“Kami  optimistis aplikasi ini  setiap bulannya diunduh 20 ribu sampai 50 ribu pengguna. Server kami sendiri disiapkan secara kustomisasi dimana kapasitasnya naik seiring banyaknya penggun,” ungkapnya.
Menurutnya, Indonesia  pasar yang unik. Meskipun pengguna tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli aplikasi, tapi banyak yang bersedia membayar untuk item-item tertentu. Saat main game di Farmville, misalnya, memang aplikasinya gratis, tapi ada yang mau membayar untuk peralatan di dalamnya.
Dijelaskannya, alasan perseroan untuk melepas aplikasi ini di pasar Indonesia karena masyarakat negeri ini sangat sosial dalam penggunaan ponsel dan suka berbagi. “Di Indonesia isu nasional bisa bergerak dari pesan-pesan instant messengger seperti BBM. Kesenangan berbagi ini menjadi peluang bagi aplikasi kami karena tentunya pengguna ingin sesuatu yang unik kala mengirimkan sesuatu pada komunitasnya,” katanya.
Secara terpisah, Deputy Director of Solution Sales Div   Huawei Tech Investment Dani K. Ristandi mengakui, para pengembang aplikasi merupakan salah satu pendorong kebutuhan broadband karena hasil kreasinya berjalan di atas jasa data.
“Kadang-kadang para pengembang aplikasi dan platform malah dianggap sebagai saingan bagi para operator karena hingga saat ini belum ada model bisnis yang ideal antara kedua belah pihak,” katanya.[dni]

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s